Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
ZIA MENJAMBAK DHEA


__ADS_3

Dhea menuju pasar tradisonal, setelah menuju akan pulang. Rambutnya terasa ditarik, dan semakin keras memutar kepalanya itu.


"Lepasin mbak!"


"Dasar wanita p-el-acu-uran! Kamu itu bisa tidak menyentuh suamiku?" ucapnya.


"Mbak siapa, suami mbak siapa. Saya ga ngerti apa maksud mbak. Lepasin mbak, sakit! Mbak pasti salah orang." teriak Dhea.


"Omong kosong! Hey lihat semuanya. Wanita ini adalah perebut suami orang. Suamiku meninggalkan aku yang sakit bipolar, menikahi dia, diam diam. Lihat wajah dia baik baik, tandai untuk tidak pernah membeli dagangan kalian di pasar ini! Atau suami kalian akan direbutnya." teriak wanita itu.


Sudah banyak makian, jambakan dan membuat seseorang datang memeluk wanita yang sedang marah itu.


Maafkan kami lalai! Ujar seorang bodyguard memaksa membawa pergi.


"Aku Zia istri sah Ramlan. Akan aku balas setelah kita bertemu nanti wanita penggoda, akan aku rusak wajahmu hingga menjemput azal. Sama seperti pria yang mati menikahimu dulu!" teriaknya.


Dhea amat syok, ia lemas berjalan pulang dengan becak dan tak memperdulikan tatapan orang. Hingga suatu sampai rumah, asistennya membawakan belanjaan dan Dhea segera meraih anak tangga. Melihat beberapa barang yang bisa ia temukan, apakah benar ia telah merebut suami orang dan yang dikatakan wanita itu, apa maksudnya mati seperti suami yang menikahiku?!


Terdiam Dhea mengingat mas Rizal yang menikahinya dihari pertama, dan kecelakaan sebelum merasakan malam pengantin.


'Akan aku bicarakan semua kejadian tadi pada mas Ramlan.' batin Dhea berseru, menatap beberapa lembar foto dari meja suaminya lemas gemetar.


***


“Sudah kubilang, aku benci perempuan yang bersikap pura-pura polos!” Ramlan kian mendekat, kaki Dhea secara spontan mundur dua langkah. “Seluruh tubuhmu milikku, Dhea. Berhenti menghindar dan serahkan dirimu padaku malam ini. Aku harus segera memiliki anak.”


Dhea menelan saliva. Akal sehat Dhea ingin sekali mendorong Ramlan saat ini, agar pria itu mengurungkan niatnya. Tapi lagi-lagi Dhea sadar bahwa Ramlan adalah suaminya sekarang. Dan ia sudah berjanji akan memberikan seorang anak. Tapi ia pernah melakukan itu dalam keadaan mabuk, entah cara apa yang dilakukannya. Tapi Mengingat transplatasi cairan milik Ramlan saja membuat ia kesakitan, meski gagal.


Pada akhirnya Dhea mengurai kedua tangannya. Tubuh Dhea tiba-tiba terasa meremang ketika Ramlan membelai rambut panjang miliknya dari atas kepala.


“Rambut yang sangat indah.” suara Ramlan terdengar berat dan serak.


Dhea tak menanggapi, ia seolah kehilangan kata kata saat ini. Tangan Ramlan berhenti di ujung rambut Dhea, lalu bergerak perlahan menyusuri punggung.


Dalam sekejap mata pria itu berhasil menurunkan resleting gaun Dhea dengan mudah, seakan akan Ramlan sudah lihai melakukannya.


“Mana dulu yang harus kulakukan?Menghukummu? Atau melakukan misiku agar kamu segera hamil?”


“Menghukum? Kenapa saya harus dihukum?”

__ADS_1


Pakaian Dhea sudah tergeletak di lantai. Dinginnya hembusan AC terasa menerpa kulit putih mulusnya. Mata elang milik Ramlan tampak berkilat kilat menatap Dhea, seakan gadis bertubuh mungil itu adalah mangsanya.


“Ya, kamu harus dihukum karena sudah membuatku, memaksaku menikah denganmu,” desis Ramlan, lalu menarik tangan Dhea, membawanya lalu mengempaskan tubuhnya di ranjang.


“Kamu tahu? Bagiku pernikahan hanya omong kosong! Mas Ramlan lah, yang akan hancur nantinya, karena mas sendiri yang menginginkan pernikahan ini! Aku sama sekali tidak menginginkannya. Apalagi mas berbohong sudah beristri."


Dhea menggeleng dan merasa terkejut saat mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Ramlan.


Sekarang pria itu menyalahkan Dhea atas pernikahan mereka. Padahal Dhea hanya ingin jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Bagai boomerang, ia melihat sebuah foto mantan suaminya di meja kerja, dan itu bisa di pastikan Ramlan menikahinya karena suatu alasan, rasa bersalah dari jerat hukuman, dan melahirkan anak untuknya demi harta warisan.


“Mereka yang hancur dalam pernikahan, karena tidak bisa menjalankan rumah tangga mereka dengan baik. Seandainya mereka berterus terang, kenapa mas menikahiku. Aku .. Aakh!”


Dhea memekik terkejut ketika Ramlan dengan kasar melepas sisa kain di tubuhnya. Dalam sekejap mata tubuh gadis itu sudah tampil polos di hadapan sang suami.


“Kamu terlalu berisik!” geram Ramlan, kemudian mengunci kedua pergelangan tangan Dhea di atas kepala. Dia menindih gadis itu dan membenamkan bibir di leher jenjangnya.


Tubuh Dhea gemetar. Ia gugup, takut. Namun sulit untuk memberontak. Ada gelenyar asing di tubuhnya, yang baru kali ini Dhea rasakan ketika Ramlan menggoda setiap inci tubuhnya dengan liar.


'Apakah seperti ini rasanya bersentuhan, dengan sadar? tapi kenapa rasanya, aku merasa hampa. Andai dilakukan dengan penuh saling cinta.' batin Dhea.


Namun ada satu hal yang tidak pria itu lakukan. Menciumnya.


Dhea terbangun pagi itu saat cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela. Terasa sangat menyilaukan. Dhea lantas menggeliatkan kedua tangannya ke atas.


Duh, kenapa tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal? Aneh. Padahal sebelumnya Dhea tak pernah sepegal ini ketika bangun tidur. Tapi kini tulang tulangnya terasa remuk bagai dilindas benda berat.


Saat Dhea hendak bangun, ia baru sadar ada tangan yang melingkari pinggangnya dengan erat. Terlihat kekar dengan otot-ototnya yang keras dan terukir sempurna.


Detik itu juga Dhea terkesiap. Dhea baru akan memukuli kepala pria di sampingnya menggunakan bantal saat sadar bahwa dia adalah Ramlan Suaminya.


Dhea menghela napas lega. Kemudian mengusap wajah dengan kasar, ketika ingatannya terlempar pada aktifitas panas mereka tadi malam.


Awalnya Ramlan memperlakukannya begitu kasar. Tapi setelah menembus pertahanan diri Dhea, pria itu tiba-tiba bersikap lembut. Dhea tak tahu entah berapa kali pria itu melakukannya tadi malam. Ramlan terus mengulanginya lagi dan lagi, seolah ia harus hamil saat itu juga.


Perlahan-lahan Dhea turun dari ranjang setelah memindahkan lengan Ramlan, dari tubuhnya. Kemudian masuk ke kamar mandi.


Selepas membersihkan tubuh dan berganti pakaian tiga puluh menit kemudian, Dhea tiba-tiba merasa bingung. Dia berdiri di depan cermin dengan gamang.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Dhea bermonolog.

__ADS_1


Dhea ingat cerita dari ibunya, yang selalu menyiapkan sarapan pagi sebelum ayahnya berangkat kerja.


“Sepertinya aku juga buatkan saja dia sarapan.” Dhea kembali bergumam lalu keluar dari walk in closet.


Suara gemericik air di kamar mandi menandakan Ramlan tengah mandi sekarang. Entah kapan pria itu bangun. Dhea tak tahu.


Turun ke dapur, Dhea menghampiri pelayan bernama Mery yang tengah mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. Pelayan itu terkejut ketika Dhea mengutarakan niatnya untuk membuat sarapan.


“Nona, saya mohon kembalilah ke ruangan Anda. Kalau Tuan Ramlan tahu Nona ada di sini, beliau akan .."


“Dia nggak bakal marah,” sela Dhea percaya diri.


“Aku cuma ingin membuat sarapan untuk suami aku sendiri.”


Mery menggeleng khawatir. “Tapi—”


“Sudah, nggak perlu khawatir. Sekarang bilang apa makanan kesukaan dia?” Lagi-lagi Dhea memotong ucapan bi Mery.


Raut wajah Mery terlihat masih khawatir. Meski begitu, akhirnya bilang bahwa Ramlan terbiasa sarapan dengan salad buah dan campuran biji-bijian, kacang-kacangan, buah kering dan gandum.


Dhea sempat terperangah mendengarnya. Ah, jelas saja sarapan Ramlan dan sarapannya sangat berbeda. Jika Ramlan terbiasa sarapan sehat seperti itu, maka Dhea terbiasa memakan hasil masakan sang ibu yang sederhana tapi lezat.


Dhea pun belajar dari Mery, bagaimana cara membuat makanan campuran itu. Pada saat bersamaan dering telepon terdengar berbunyi. Dhea mengambil alih makanan itu ketika Mery bergegas menghampiri pesawat telepon.


“Apa dia akan kenyang dengan makanan seperti ini?” gumam Dhea sambil menuangkan makanan ke atas piring.


Saat berbalik badan, Dhea sempat memekik terkejut dan nyaris menjatuhkan piring di tangannya, begitu melihat Ramlan sudah bersandar di kusen pintu. Tatapan pria itu terlihat tajam seolah-olah ingin membolongi kepala Dhea.


“Anda sudah rapi,” komentar Dhea basa-basi.


“Apa yang sedang kamu lakukan di dapurku?” desis Ramlan tak suka.


Dhea menaruh piring ke atas meja, lalu menjawab, “Saya mencoba membuatkan sarapan untuk Anda, Tuan. Saya sempat tanya bi Mery kalau ...”


“Siapa yang menyuruhmu?”


“Ya ..?” Dhea menatap Ramlan dengan tatapan penuh tanya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2