
Dhea kembali menangis memikirkan sang ibu yang dalam gelap di sana. Ia ikut sesak merasakan sesak dan gelap yang dirasakan ibunya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi sekarang jika mereka berbeda alam sekarang. Yang bisa Dhea lakukan adalah menemani ibunya dengan lantunan doa setelah ia menyelesaikan setiap sholatnya. Karena hanya itu yang dibutuhkan ibunya sekarang. Bukanlah tangisan pilunya yang terdengar.
"Hari akan mulai gelap, Dhea. Kamu nggak bisa sendiri di sini. Mari kita pulang. Kamu juga perlu istirahat karena kondisi kamu yang sedang tidak baik-baik saja," bujuk dokter Fahri menenangkan.
Setelah lama diam, akhirnya Dhea mau membuka mulutnya untuk membalas kalimat dokter Fahri. "Dhea ingin menemani sang ibu agar tak sendirian, Dok. Jadi Dhea harap, dokter mau ninggalin Dhea sendirian di sini."
Fahri menggeleng. "Aku tidak bisa ninggalin kamu begitu saja, Dhea. Jadi mari aku antar kamu pulang."
Dhea masih saja bungkam. Tubuhnya enggan bergerak walau hanya sejengkal saja. Berat jika harus menanggung kesedihan ini sendirian tanpa bahu untuk bersandar.
Di tengah lamunannya yang berpencar kemana kemana, sebuah panggilan menariknya paksa dari dari lamunan itu.
"Dhea.." panggil seseorang.
Fahri maupun Dhea refleks menoleh, melihat siapa tamu yang kembali datang berziarah.
Dhea menatap nanar pada Sam, yang berjalan menghampirinya. Kilatan rasa benci tergambar jelas pada wajah Dhea saat ini. Perasaannya campur aduk tidak bisa terlukiskan.
"Dhea. Maaf aku baru datang," ucap Sam pelan. Dhea sendiri tersenyum sinis mendengar suara Sam yang dibuat-buat itu.
Seolah dia sedang bersandiwara di depan dokter yang menangani ibunya. Apa yang bakal lelaki dapat? Sungguh memalukan. Dhea segera membuang mukanya, enggan menatap Sam, yang sudah berdiri di sampingnya dengan kaca mata hitamnya.
"Kenapa kamu ke sini? Puaskan kamu melihat ibuku yang sudah terbujur menjadi mayat saat ini? Ini kan yang kamu inginkan? Puas kamu, puas?" seru Dhea dingin.
Bahkan air matanya tak bisa dia bendung, mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Dia menunduk untuk menyembunyikan tangisnya dari Sam agar pria itu tidak menganggapnya wanita lemah.
__ADS_1
Sam diam. Lalu segera duduk di samping pusara dan sejenak memanjatkan doa untuk mendiang ibu temannya. Meskipun dia belum pernah bertemu sebelumnya, namun dia yakin bahwa beliau orang baik. Karena dia pernah mendengar cerita dari Fahri jika ibu Dhea termasuk pasien yang tidak pernah rewel, bahkan sangat lembut. Semangat juangnya tinggi untuk menuju kesembuhan. Tapi sayangnya takdir berkata lain.
Sam, menunduk dan berdoa dengan Khusu', mengabaikan dengusan Dhea yang nampak tak suka atas kehadirannya saat ini.
"Maaf, aku saat ini sibuk. Menjadi supir Tuan Moza, kali ini aku akan menjadi asisten putra pewarisnya. Aku janji, akan sering berkunjung dan menengok kedua adikmu Dhea. Maafkan aku terlambat membantu!" jelas Sam.
"Dhea!!" tegur Fahri. Dia merasa tak enak pada Sam, karena dia lah yang menjadikan Dhea dekat pada Sam.
"Tak seharusnya kamu_" Fahri menghentikan kalimatnya saat melihat Sam, mengangkat tangannya seolah memberikan dia kode untuk diam.
Sam ingin tau bagaimana Dhea marah kepadanya. Karena selama dia mengenal Dhea, Dhea termasuk wanita yang cengeng. Sama sekali tidak ada tantangan baginya.
"Biar. Biarkan dia mengeluarkan unek-uneknya, Fahri," potong Sam.
Dia memasukkan tangannya dan menatap pada Dhea, yang menatapnya tak suka. Dia ingin tau sejauh mana Dhea akan terus marah padanya.
Bahkan Dhea melupakan itu, perjanjian terkutuk yang membuat hidupnya kelak akan sengsara. Memikirkannya saja Dhea merinding, apalagi harus menjalaninya dengan penuh drama. Dhea lupa kala ia ditawarkan oleh sang paman untuk meminjam rahim, demi pengobatan dan pendidikan kedua adiknya, belum lagi Mira yang seperti ibunya lemah imun. Agar Dhea tidak berhutang budi pada Sam.
Dhea membuang rasa takutnya, dan dengan berani menatap mata Sam, dengan tatapan nyalanya , "Ibuku sudah meninggal, jadi kalau kamu mau membatalkan perjanjian ini saya akan menerimanya."
Sam tergelak seketika, lalu wajahnya berubah menyeramkan ketika Dhea yang mengatakan itu tanpa rasa berdosa sama sekali.
"Fahri. Katakan pada wanita di depanku ini berapa biaya total semua yang sudah aku keluarkan untuk mengurus ibunya sampai di pemakaman sekarang," ucap Sam, tanpa melihat Fahri yang berada di belakangnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi wanita tak tau diri di hadapannya ini setelah mendengar jawaban dokter yang merawat ibunya selama ini.
Fahri mengangguk, "Dhea, total semua yang dikeluarkan Sam, untuk perawatan ibumu sampai di pemakaman adalah hampir enam ratus juta rupiah. Belum Mira, dan Rizal."
__ADS_1
Dhea menganga mendengar ucapan Fahri.
"Enam ratus juta? Serius, dok?" tanya Dhea dengan sorot mata tak percaya.
"Hheemm!!" Fahri mengangguk pasti. "Apa kamu lupa jika ibumu di rawat di rumah sakit di kamar nomer satu dengan peralatan lengkap dan pelayanan nomor satu. Apalagi ibumu perharinya hampir puluhan juta untuk perawatan dan obat-obatan saja."
Dhea lemas seketika mendengar pernjelasan Fahri. Dia tak menyangka perawatan ibunya begitu mahalnya. Apakah dia akan akan sanggup membayar semua jika dia membatalkan pernikahannya dengan Sam.
Sam tersenyum tipis melihat wajah Dhea yang sudah berubah pucat pasi. Bahkan bibir Dhea masih terbuka dengan tatapan kosong.
"Kenapa kamu diam? Bagaimana? Apa kamu masih ingin membatalkan pernikahan kita? Saya tak masalah, asalkan kamu harus membayar hutang rumah sakit saat ini juga."
Sontak Dhea langsung menatap Sam, dengan rasa terkejut yang luar biasa. Yang benar saja jika Dhea harus membayar saat ini juga? Dia mau pake apa sedangkan gajinya saja tidak akan cukup untuk membayar walaupun seumur hidup dia mencicilnya.
Sam tersenyum tipis melihat wajah terkejut Dhea. Membuat dia makin suka membuat Dhea tersiksa dengan pernikahan mereka.
Setelah lama berpikir, akhirnya Dhea mengalah dan mengakui kekalahannya. Karena uang adalah segalanya. "Ba_baiklah. Aku ikut pulang denganmu, sekarang."
Dhea segera berjalan mendahului Sam, dan Fahri. Dia terlalu malu jika harus mendengar ejekan Sam lagi pada dirinya. Biarlah dia akan menerima resiko pernikahan ke depannya. Karena dia ingat pesan sang ibu jika harus berbakti pada suami agar hidupnya mudah dan berkah. Dan Dhea akan menuruti wasiat terakhir sang ibu, meskipun dia sendiri tak yakin dia akan hidup bahagia bersama Sam kelak.
Dhea! teriak paman.
"Paman. Ada apa paman?"
"Aku sudah bilang, jangan minta bantuan pada Sam lagi. Paman tahu, paman akan mengenalkanmu pada tuan Moza Ramlan. Dia pasti bisa merubah keadaan kita. Ayo ikut paman sekarang Dhea! setidaknya pikirkan." ujar paman, membuat Sam terkejut nama Moza Ramlan seperti nama bosnya.
__ADS_1
Tbc.