Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
NERAKA BAGI DHEA


__ADS_3

Kelopak mata Dhea terlihat bergetar lalu perlahan-lahan terbuka. Sorot mata cokelat terang itu tampak lemah. Langit-langit berwarna putih menjadi pemandangan pertama yang Dhea lihat saat ini.


‘Apa ini? Apa aku benar-benar sudah di surga?’ batin Dhea, matanya mengerjap pelan dan mengamati langit-langit ruangan dengan lekat.


‘Sepertinya iya. Aku sudah mati dan sekarang ada di surga.’ Dhea kembali membatin. ‘Lalu di mana Ayah? Aku mau ketemu sama Ayah di sini. Bisakah? Banyak hal yang harus aku sampaikan.’


Bola mata Dhea bergerak ke kiri dan kanan, berusaha mencari-cari keberadaan ayahnya. Ibunya selalu bilang, bahwa ayah Dhea sudah berada di surga sejak ia berusia 15 tahun.


Dhea benar-benar merindukan kehangatan dan kasih sayang dari sang ayah, cinta pertama Dhea yang tidak pernah hilang dari hatinya. Pria sempurna dan penuh kasih. Namun sayang, Tuhan mengambil nyawanya begitu cepat, membuat Dhea remaja kehilangan sosok ayah dalam sekejap.


Tunggu dulu!


Dhea terkesiap ketika pandangannya tertuju ke arah kanan.


‘Sepertinya ini bukan surga. Tapi neraka!’ batin Dhea menjerit. Karena tidak mungkin pria bernama Ramlan itu ada di surga, bukan? Ya, ini pasti neraka.


Ya Tuhan… dosa apa yang dilakukan Dhea di masa lalu? Sampai-sampai di neraka pun ia harus melihat wajah menyeramkan pria itu. Sorot mata Ramlan terlihat seperti sedang menguliti tubuh Dhea.


“Berhenti menatapku! Tatapanmu membuat aku muak!”


Dhea menahan tawa. “Wow! Bahkan di neraka pun dia bisa berbicara sangat kasar dan menyakitkan,” gumam Dhea, “Kenapa Tuhan nggak menyiksa dia? Aku senang kalau lidahnya itu dipotong jadi beberapa bagian. Kalau perlu ditusuk dengan bara yang sangat panas.”


“Apa kamu bilang?” desis Ramlan dengan rahang yang terlihat mengetat. Dia maju satu langkah, lalu merundukkan badan, mendekatkan wajahnya ke wajah Dhea sambil menjepit dagu gadis itu.


“Kamu pikir, kamu sudah ada di neraka?” Ramlan mendengus. “Baiklah, sebentar lagi kamu memang akan menghuni neraka. Tapi di neraka yang aku ciptakan.”


Mata Dhea seketika membeliak. Hembusan napas hangat pria itu yang menerpa wajahnya, membuat Dhea sadar, bahwa apa yang terjadi saat ini benar-benar nyata.


Dengan sekuat tenaga Dhea mendorong Ramlan jauh-jauh. Saat itulah Dhea terkejut kala melihat jarum infus yang menempel di punggung tangan kanannya.


Seakan ingin memastikan sesuatu, Dhea kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata ia berada di ruang rawat.


Tetapi Dhea tahu, ruangan ini bukan berada di rumah sakit. Seingatnya, ruangan rawat inap VVIP di rumah sakit pun tidak semewah ini.


Kemudian tangan gadis itu meraba hidungnya yang ternyata saat ini dipasangi selang. Dhea merasa lega saat menyadari dirinya masih hidup.

__ADS_1


“Di mana saya sekarang?”


“Di gerbang neraka!”


Air muka Ramlan tampak keruh. Entah apa yang dipikirkan pria itu, Dhea sulit menebaknya. Mungkinkah Ramlan marah dengan ucapan Dhea beberapa saat yang lalu? Entahlah. Dhea tidak mau tahu dan tidak peduli.


Dhea lantas tersenyum pahit. “Kenapa Anda membiarkan saya hidup? Bukannya lebih baik saya ini mati?”


“Bukankah sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cepat!” suara Ramlan terdengar dingin.


“Kamu ingat? Hutangmu tidak sedikit, kamu harus membayarnya dengan melahirkan anak laki-laki untukku!”


Ah, kata-kata itu lagi. Entah sudah berapa puluh kali Dhea mendengar kata ‘anak laki-laki’ dari mulut Ramlan. Yang membuat Dhea sadar, bahwa jalan hidupnya benar-benar menyedihkan.


“Kalau begitu, apa Anda sudah mempertimbangkan syarat dari saya?”


Alih-alih menjawab, Ramlan malah menekan sebuah tombol di dinding dekat ranjang. Kemudian duduk di sofa dengan mulut terkatup rapat.


Tak lama kemudian, datang seorang pria berpakaian kasual yang sempat menunduk hormat pada Ramlan, lalu menghampiri ranjang pasien.


Dhea menatapnya dengan kening berkerut. Pria itu terlihat jauh lebih muda daripada Ramlan. Ekspresinya pun tampak ramah saat tersenyum kepada Dhea dan menyapanya.


“Anda dokter?” tanya Dhea setengah tak percaya sembari mengamati penampilan Chika, yang tidak seperti dokter pada umumnya.


Chika tersenyum sebelum menempelkan stetoskop di hati Senna. “Kamu meragukan saya? Karena penampilan saya yang santai ini?”


Dhea meringis, kemudian mengangguk. “Anda terlihat seperti anak muda yang mau pergi nongkrong.”


“Kamu terlalu jujur.” Chika terkekeh. “Saya memang bekerja untuk Tuan Ramlan. Bisa dibilang, saya dokter pribadinya yang akan stand by dua puluh empat jam,” jelas Chika, yang membuat Dhea mengangguk paham.


Dhea sempat melirik ke arah Ramlan yang tengah menatap mereka dengan tatapan tajam. Bahkan dalam diamnya pun, Ramlan terlihat sangat arogan dan angkuh, pikir Dhea.


“Dokter, ada di mana saya sekarang? Saya rasa, ini bukan rumah sakit,” tanya Dhea setengah berbisik.


Chika melepas stetoskop dari telinganya, lalu menjawab, “Memang bukan. Ruangan ini adalah ruang rawat khusus yang ada di mansion Tuan Moza Ramlan.”

__ADS_1


Helaan napas Dhea terasa berat usai mendengar jawaban Chika. Rupanya dia masih berada di mansion yang sudah seperti penjara ini.


“Berapa lama a—”


“Apa kalian pikir ini cafe atau bar yang bisa dijadikan tempat mengobrol sesuka hati?”


Pertanyaan bernada tajam itu sontak membuat Dhea dan Chika langsung menatap ke arah Ramlan yang sudah beranjak dari sofa. Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan kedua tangan bersembunyi di saku celana.


“Mohon maaf, Tuan, saya hanya—”


“Kalau sudah selesai memeriksa perempuan itu, segera keluar dari sini!”


Chika akhirnya mengangguk. Setelah menjelaskan kondisi Dhea yang sudah sedikit membaik, ia lantas keluar dari ruangan itu sesegera mungkin.


Pada saat bersamaan muncul sosok Sam, dengan ekspresi datar. Pria itu menyerahkan sebuah map kepada Ramlan, sebelum akhirnya keluar lagi dari ruangan tersebut. Meski sesekali Sam, menatap wajah Dhea.


Kini Ramlan menatap Dhea dengan tatapan sulit diartikan, lalu berkata, “Besok kita menikah.”


Dhea terhenyak. Ucapan Ramlan memang singkat dan dingin, tetapi memiliki efek yang cukup luar biasa bagi Dhea. Ia tahu, dirinya memang memberikan syarat itu kepada Ramlan. Namun saat mendengarnya secara langsung dari lisan pria itu, tetap saja Dhea merasa terkejut.


“Me-menikah?”


“Ya. Tapi bukan karena aku ingin menikahi wanita sepertimu!” tegas Ramlan, “aku hanya butuh rahimmu untuk mengandung anakku. Hanya itu.”


Dhea terdiam seketika. Ada rasa perih di hatinya ketika sadar ia harus menggadaikan harga diri demi uang. Akan tetapi, ketika membayangkan adiknya bisa kembali sembuh dan mereka menjalani hari bersama-sama lagi. Dhea akhirnya mengangguk mengiakan ucapan Ramlan tanpa berkata-kata.


“Bagus. Aku suka gadis penurut.”


Ramlan tersenyum miring. Lagi-lagi senyuman itu terlihat merendahkan di mata Dhea. Pria itu lantas melemparkan map yang tadi diberikan Sam, ke atas perut Dhea yang kini sudah terduduk ditutupi selimut.


“Kalau begitu tanda tangani semua lembaran di dalam map itu!” titah Ramlan.


“Itu beberapa berkas untuk pernikahan kita, dan ada dua lembar surat perjanjian pernikahan. Tanda tangani secepatnya, maka aku akan langsung menyuruh pihak rumah sakit untuk segera memproses penyembuhan adikmu Mira. Bagas adikmu sedang mencarimu dan meminta pertolongan di universitas. Bahkan aku tidak mau dua adikmu menginjak mansion ini, sampai kau menyerahkan anak laki laki!"


‘Penyembuhan Adikku?’ batin Dhea, ia sakit mendengar ucapan Ramlan. Ia rindu kedua adiknya tapi apalah daya, ia menatap Sam. Dhea tahu, jika Sam selama ini tulus. Dan berpura pura acuh, di depan Tuan Ramlan.

__ADS_1


'Sam, aku harus berterimakasih padamu setelah aku berhasil kembali kerumah! aku tahu, kau selama ini menjaga kedua adik adikku.' batin Dhea.


Tbc.


__ADS_2