Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
ANCAMAN


__ADS_3

"Kau masih tidak bisa menjawab?" tanya Ramlan.


"Kepuasan?" ujar Dhea spontan.


"Kepuasan? Kau pikir bisa memuaskanku?" tanya Ramlan yang sudah tak lagi memegang alat makannya, pandangannya lurus pada Dhea.


"Aku belum pernah mencobanya. Mungkin, kalau Anda sudah memberikanku kesempatan aku baru tau, tuan Ramlan," Dhea menjawab ragu


"Hahaha!" yang dijawab oleh Ramlan dengan gelak tawa, sebelum memberikan tambahan komentar.


"Sekarang dengarkan pertanyaanku, apa orang sepertiku, kau pikir akan tertarik dengan seorang wanita yang pernah ditiduri oleh pria bersuami?"


Glek.


"Lalu kenapa anda menikahi saya, menolong saya. Saya ingin bertanya, kenapa anda tidak membiarkan saya saat itu, di siksa oleh preman. Hak anda, saya pernah katakan, saya telah menikah tapi saya belum sempat di sentuh, karena suatu kecelakaan. Jika boleh buat, saya ingin semua itu berakhir tidak terjadi pada saya. Anda juga kenapa bersekongkol pada paman saya, anda tahu, saya amat sakit karena anda membohongi menikah saya. Pria yang telah beristri, apa anda tidak memikirkan hati istri anda jika tahu, dia itu wanita?"


"Sulit dijelaskan, aku rasa seiringnya waktu kau akan tahu. Yang jelas aku menolongmu, bukan karena tertarik padamu."


'Kalau tidak tertarik kenapa menyentuhku dan kenapa menyuruhku polosan dihadapanmu begini?' ucapan Ramlan yang membuat Dhea bergumam di dasar hatinya, menatap nanar dan menelan salivanya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Ramlan.


"Mungkin saya harus memperjelas, Mas! Saat saya sedang menstruasi saya tidak melayani anda! Jadi saat di cafe itu yang datang hanya curhat, hingga satu orang membuat saya takut dan lari karena preman ingin meniduri saya, akan tetapi ..."

__ADS_1


"Maksudmu jumlahnya tak seribu?" Ramlan langsung memotong.


"Sepertinya begitu Mas!" Dhea membenarkan.


"Tetap saja kurang atau lebih sedikit, bagiku tetap seribu lebih orang yang sudah menyentuh tubuhmu, kau pikir aku tertarik untuk menyentuh wanita bekas?" tanya Ramlan dengan senyum yang tidak bisa diartikan oleh Dhea.


Dan saat ini Ramlan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, matanya menatap dengan tatapan yang tidak bisa dipahami keinginannya oleh Dhea.


"Kemari!"


'Dia bilang tak menginginkanku, sudah bekas pakai! Kenapa justru memanggilku?' ujar Dhea, yang kini sudah menaruh alat makannya juga, berdiri dan melangkah mendekat pada Ramlan polosan.


"Duduk!" Ramlan bicara sambil menepuk pangkuannya.


"Apa kau merasakan sesuatu yang bangun?"


Ucapan Ramlan, yang refleks dijawab Dhea dengan gelengan kepala.


"Jadi apa menurutmu aku tertarik padamu?"


'Tidak bangun! Milikinya tak menegang? Jadi dia tak tertarik padaku? Begitukah? Atau mungkin dia memang memiliki penjagaan diri yang kuat? Atau mungkin dia penyuka sesama jenis? Atau yang terburuk dia punya kelainan?'


Dhea mencoba mencari jawaban di kepalanya, tapi tak ada kesimpulan yang meyakinkan dipikirannya, hingga Dhea akhirnya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa arti gelengan kepalamu itu?" Ramlan kembali meminta penjelasan


"Mungkin anda tak tertarik padaku, Mas. Tapi aku masih bingung, kenapa anda menikahiku dan bersekongkol dengan pamanku."


"Sure, aku tidak tahu kenapa aku bisa menikahimu. Tapi harusnya kamu bertanya pada pamanmu, tetaplah aturi kau tinggal disini dengan perintahku!" tegas Ramlan.


"Begitukah, keputusanmu?"


Ragu, tapi Dhea kembali mengangguk.


"Kalau begitu, apa aku harus mengembalikanmu ke club cafe dirimu bekerja, jika kau tidak suka dengan caraku."


Pertanyaan yang kembali dijawab cepat dengan gelengan kepala oleh Dhea.


"Tidak Mas! Aku mohon!" tambah Dhea lagi.


"Kalau Anda memang tidak tertarik padaku, lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Anda merasa puas denganku?"


Dhea bicara sambil menatap lurus pada Ramlan, yang kembali di jawab oleh Ramlan dengan senyum dinginnya.


'Apa yang ada dipikirannya? apa yang dia inginkan? kenapa aku tak bisa menerkanya? Sulitnya menembus pikirannya! kenapa dia tak menjawab pertanyaanku? Dan apa maunya? Huh, kenapa dia mengambil sosis itu? Oh, tidak ... tidak ... kenapa dia justru menempelkannya disana? Ssshh!' ucap Dhea yang heran karena Ramlan mengangkat sosis goreng dari piring, menggerakkan dengan gerakan memutar diujung dua kembarnya. Sosis yang sebelum digoreng, dibelah menjadi empat oleh Dhea, tapi tak terputus, sehingga bentuknya seperti kelopak bunga.


"Kau lihat apa?" tajam Ramlan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2