
Jessica membesuk ayahnya di sel tahanan dengan membawa putranya, ia membawakan makanan dan kebutuhan ayahnya selam di dalam penjara.
“Ayah,” panggil Jessica saat melihat ayahnya menghampiri mereka.
“Opa,” panggil Raka.
Antoni meneteskan air matanya saat mendengar cucunya memanggil dirinya.
“Ayah apa kabar?” tanya Jessica.
“Ayah baik,” sahutnya tapi netra selalu tertuju pada Raka yang sedang bermain.
“Maafkan Ayah, nak. Karena diriku, kalian juga menanggung akibatnya.” Antoni tertunduk malu di hadapan putrinya.
Demi bisnisnya ia rela ingin menikahkan putrinya sendiri pada pria tua, Antoni mengutuk dirinya karena telah termakan hasutan dari rekannya tersebut. Apalagi ia di janjikan keuntungan berkali lipat, membuatnya tidak pikir panjang menerima tawaran tersebut.
“Jangan meminta maaf, Ayah. Aku tahu, pasti Ayah melakukan ini hanya karena terpaksa!” Antoni tak henti-hentinya menangis di depan putri dan cucunya.
Saat ini Jessica berpikir akan membangun lagi bisnis ayahnya Kembali, dengan meminta bantuan kepada mantan suaminya. Namun, ia masih ragu untuk mengatakannya pada Nova, takut akan membuka luka lama karena sebelumnya permasalahan dirinya dengan Nova dulu.
“Jessica. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu sejak lama, tapi aku takut kamu akan meninggalkan dan membenciku.”
“Katakan saja, Ayah. Aku siap mendengarkan dan tidak akan meninggalkan Ayah.”
Sebenarnya Jessica sudah menebak apa yang ayahnya ingin bicarakan padanya.
“Sebenarnya, kamu ....” Antoni menggantungkan ucapannya, ia seperti tidak sanggup untuk melanjutkan lagi ucapannya.
“Sebenarnya, aku adalah bukan anak kandung, Ayah!” sela Jessica.
Antoni mendongakkan kepalanya, menatap nanar wajah putrinya.
Ia tidak menyangka, jika putrinya lebih dulu mengetahuinya sebelum dirinya mengatakan kepadanya yang sebenarnya.
“Jessica, kamu ....”
“Ayah jangan takut. Walaupun aku bukan anak kandungmu, tapi aku tetap menjadi putrimu. Terima kasih sudah menyayangiku dan memberi aku kasih sayang sejak dari bayi. Mas Nova yang memberitahu, bahkan aku sudah bertemu dengan kedua orang tuaku dan ternyata mereka adalah adik sepupu dari Ayah juga.”
Antoni mengangguk sembari meneteskan air mata, ia mengambil tangan putrinya dan menciumnya berulang kali seperti sering ia lakukan sejak Jessica masih kecil.
“Maafkan aku, sudah memisahkan mu dari orang tuamu. Maafkan aku,” ujarnya menangis hingga tersedu-sedu.
“Ayah, jangan seperti ini.” Jessica mengambil tisu lalu mengusap air mata ayahnya.
“Aku akan mencari pengacara untuk membebaskan Ayah dari sini dengan jaminan, Ayah tidak perlu khawatir.”
“Jangan! Ayah tidak mau. Biarkan aku menjalani hukuman ini, karena semua ini memang perbuatanku. Ayah hanya minta, kalian selalu membesuk Ayah dan sebulan sekali. Agar aku tidak lupa dengan wajah cucuku,” ujarnya menggendong cucunya dengan mencium pipi Raka berulang kali, tampak jelas jika Antoni sangat menyayangi putra dari Jessica itu.
Jam untuk membesuk telah habis, Jessica dan Raka kembali ke mobil mereka. Di dalam mobil sudah ada Nova yang menunggu mereka, karena sebelumnya ia di antar oleh Nova untuk membesuk ayahnya.
Nova memang sengaja tidak ikut masuk, karena tidak tega. Sebab dirinya yang menjebloskan mantan ayah mertuanya ke penjara, karena itu sesuai dengan perbuatannya.
“Sudah?” tanya Nova saat melihat Jessica masuk ke dalam mobil.
Jessica mengangguk.
“Bagaimana kabar Ayah? Maaf, aku terpaksa melakukan ini. Tapi, karena memang itu salah,” ujar Nova merasa bersalah.
“Tidak perlu meminta maaf. Ayah menyadarinya kalau itu salah, ia juga menolak untuk mencari pengacara. Ayah ingin menjalani hukuman atas perbuatannya sendiri,” sahut Jessica sembari membenarkan duduknya yang sedang memangku putranya.
Nova mengangguk mengerti.
Tujuan mereka saat ini adalah, berkunjung ke tempat orang tuanya dengan membawa Raka ke sana. Beberapa hari yang lalu ia sudah berjanji untuk datang kembali ke rumah dengan membawa Raka putranya.
Sembari menyetir, tangan Nova bermain dengan tangan putranya.
“Sebaiknya aku saja yang membawa mobil, kamu bermain saja dengan Raka. Kalian sudah lama bukan bertemu dan bermain bersama?” usul Jessica.
Nova tampak berpikir.
“Memang boleh? Kamu tidak keberatan jika kamu menyetir sendiri?” tanya Nova tampak ragu, karena membiarkan wanita menyetir sendiri.
“Keberatan kenapa? Memangnya kamu ku gendong? Sehingga keberatan!” celetuk Jessica.
Nova terkekeh.
__ADS_1
“Dulu kamu selalu berada di atasku, aku tidak keberatan,” gurau Jessica.
Namun, ia segera menutup mulutnya. Ia baru sadar, saat ini mereka sudah bukan lagi suami istri.
“Maaf, aku tidak bermaksud ....”
Nova langsung menepikan mobilnya, ia menatap Jessica dengan raut wajah yang tidak terbaca.
Jessica tampak merasa bersalah, telah bergurau sepertinya itu. Bahkan ia mengutuk mulutnya sendiri, karena berbicara tanpa di saring terlebih dahulu.
Nova tersenyum melihat mimik wajah mantan istrinya yang terlihat bersalah, lalu ia tertawa lepas di dalam mobil tersebut, sehingga Raka pun ikut tertawa melihat ayahnya tertawa.
Namun tidak dengan Jessica, ia mengernyit heran melihat mantan suaminya itu tertawa.
“Wajahmu sangat lucu. Hahaha ... aku hanya bercanda tadi, lihat putramu saja mengejekmu.” Memang benar adanya, posisi Raka tertawa sembari melihat dirinya seakan tertawa mengejek.
“Dasar! Kalian ini,” kesal Jessica meninju pelan bahu Nova.
“Aw ... sakit. Lihat Raka, Ibumu memukul Ayah, Nak,” ujar Nova berpura-pura menangis.
Terlihat Raka juga ikut menangis, sembari memberontak.
“Ayah itu hanya pura-pura saja, Sayang. Mas, kamu jahat banget! Lihat Raka marah padaku!” kesal Jessica pada mantan suaminya.
“Raka, Ayah hanya bercanda Sayang.” Menarik putranya dan memeluknya.
Mereka sama-sama keluar dari mobil karena berganti posisi tempat duduk, kini giliran Jessica yang menyetir.
Nova telaten memberi putranya susu, setelah menghabiskan satu botol Raka tampak tertidur di pangkuan ayahnya.
“Raka tidur,” ucapnya pada Jessica.
“Iya, memang jamnya Raka untuk tidur siang, karena seusianya dia masih tidur siang dua sampai tiga kali,” sahut Jessica tanpa menoleh, karena fokus sembari menyetir mobil.
Nova mengangguk, ia mengelus kepala putranya.
Di dalam mobil Kembali hening, Nova masih menatap wajah putranya, sedangkan Jessica masih fokus menyetir mobil menuju ke tempat tujuan mereka.
“Mas, apa aku boleh meminta bantuanmu lagi?” tanya Jessica berhati-hati.
“Mm ... itu. Aku minta bantuan, untuk mengelola perusahaan Ayah kembali. Saat ini kamu pasti tahu bisnis Ayah sedang di ujung tanduk, walaupun kecil kemungkinan bisa di selamatkan. Tapi, aku yakin dengan kemampuanmu. Aku kewalahan sendiri, harus mengurus butik dan Raka di rumah.”
“Tapi, aku tidak memaksamu, Mas. Kalau masalah upah, kita bisa bicarakan,” ujar Jessica, terlihat dia sangat berharap.
Walaupun ia malu meminta tolong kembali pada mantan suaminya.
“Aku hanya orang biasa. Mana mungkin aku bisa menyelesaikan masalah sebesar itu di perusahaanmu,” sahut Nova dengan santai.
“Jangan merendah. Kita menikah sudah cukup lama, walaupun pernikahan itu gagal karena diriku. Aku menyadari itu, aku minta maaf untuk itu. Tapi, sedikit banyak aku tahu kemampuanmu. Aku sangat berharap padamu, Mas,” ujar Jessica menahan malu.
Nova tidak menjawab lagi, ia masih bermain di wajah putranya dengan telunjuknya. Jessica menghela napas berat, karena gagal untuk meminta bantuan pada Nova.
Tak lama mereka tiba di rumah orang tua kandungnya, bersamaan dengan terbangunnya Raka saat mobil berhenti.
“Mama ...” panggil Raka dengan menangis.
“Uhh ... anak Mama kok nangis sih. Ayo kita turun, Sayang.” Menggendong putrinya untuk keluar mobil.
Sementara Nova menghela napas berat, ia masih mempertimbangkan Jesica yang meminta bantuan padanya.
“Huftt ... aku sangat bingung!” gumamnya dalam hati.
Ia keluar dan mengambil barang dari bagasi mobilnya untuk di berikan kepada orang tua Jessica.
“Eh nak Nova. Masuk,” ajak wanita setengah baya itu.
“Kalian kok tidak memberi kabar kalau mau datang kemari?” tanya ayahnya Jesica.
“Kejutan,” sahut Jessica diiringi dengan senyumnya.
Pria tua itu menggendong Raka cucunya, untuk pertama kalinya ia melihat wajah Raka.
“Jessica, dia sangat mirip denganmu. Tapi, matanya dan bibirnya kok mirip dengan Nova ya?” ujarnya melihat Nova sekilas lalu kembali ke Raka lagi.
“Uhuk ... uhuk ... Nova kala itu sedang meminum air, langsung tersedak.”
__ADS_1
“Dia memang putra kandung Mas Nova, kami sudah bercerai beberapa bulan yang lalu. Tapi, kami tetap berteman demi anak kami,” sahut Jessica tampak menunduk.
Nova juga mengangguk pelan, karena ayah dari Jessica menatapnya meminta penjelasan.
“Oh. Berarti habis jodoh, tetaplah bersilahturahmi kalau kalian sudah bukan suami istri lagi,” ucapnya.
Nova dan Jessica mengangguk.
Sore harinya, mereka harus kembali lagi ke rumah mereka. Karena besok mereka harus kembali bekerja lagi.
Hingga malam hari merek baru tiba di depan rumah Jessica, Raka Kembali tertidur dalam perjalanan pulang.
“Aku akan memanggil susternya untuk membawa Raka masuk,” ujar Jessica setengah berlari, karena ia sudah tidak bisa menahan buang air besarnya lagi.
hanya menggelengkan kepalanya, melihat mantan istrinya dari hingga sekarang tidak pernah berubah.
Nova membawa putranya masuk ke dalam rumah dan perlahan menaiki tangga sembari menggendong putranya.
Terlihat suster datang hendak mengambil alih, tapi Nova menahannya dan membiarkan dirinya untuk membawa putranya ke kamar.
Di dalam kamar, perlahan Nova meletakkan putranya di tempat tidur. Raka menggosokkan kedua matanya karena silau oleh lampu kamarnya.
Nova mencari saklar lampu untuk menonaktifkan cahayanya , namun cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar, Nova menutup pintu kamar tersebut ia hanya menghidupkan lampu tidur saja.
Ceklek ...
Pintu kamar mandi terbuka lebar, terlihat Jessica bernapas lega telah menuntaskan hajatnya. Namun ia tidak menyadari jika ada mantan suaminya di dalam kamar, setahunya suster yang ada sama kamar karena sebelumnya ia meminta suster untuk mengambil putranya. Di dalam kamar juga minim penerangan, karena Raka tidak bisa tidur dengan lampu menyala.
“Raka tidur lagi , Sus?” tanya Jessica sembari melepaskan pakaiannya, karena merasa sangat gerah hanya menyisakan baju kaosnya saja.
Nova membelalakkan matanya, karena Jessica melepaskan pakaiannya di hadapannya.
Nova menelan salivanya dengan kasar, apalagi ia melihat jelas bagian belahan dada yang keluar.
“Ekhem ....” ujar Nova berdeham.
Jessica membulatkan matanya mendengar suara pria, setahunya hanya ada suster di dalam kamarnya tersebut.
Jessica langsung menekan saklar lampu, ia terkejut ternyata di dalam kamar tersebut ada mantan suaminya.
“Maaf,” ujar Nova melangkah mendekati pintu.
Namun, sialnya dirinya tersandung kakinya sendiri. Refleks Jessica menolong suaminya agar tidak terjatuh ke lantai, karena beratnya tubuh Nova, Jessica malah ikut terjatuh dan posisi Jessica tepat di bawah mantan suaminya.
Bruk ...
“Aw ...” keluh Jessica karena kepalanya terbentur lantai.
“Maaf,” ujar Nova mengusap kepala Jessica, tapi posisinya masih di atas tubuh mantan istrinya.
Netra mereka saling bertatapan, entah siapa yang memulai duluan. Mereka sama-sama memajukan bibir mereka, tampak bibir keduanya saling menyatu.
Jessica menutup matanya menikmatinya, ******* itu semakin ganas. Apalagi keduanya sudah lama tidak melakukan hubungan tersebut, setelah berpisah.
Entah kenapa, Nova begitu bernafsu dan ingin melakukan lebih pada Jessica begitupun sebaliknya.
Karena mendengar Raka merengek, Jessica hanya mematikan saklar lampu tersebut yang ada di jangkaunya tanpa melepaskan pagutannya.
Nova semakin ganas, ia melepaskan pakaian Jessica yang tersisa. Apalagi dirinya sangat ingin melepaskan hasratnya, begitupun sebaliknya.
Pertama kalinya mereka melakukan di lantai, bahkan saat ini mereka sepertinya tidak peduli dengan apa yang telah mereka melakukannya tanpa ikatan atau sudah bercerai, yang terpenting hasrat mereka tersalurkan pikir mereka.
Jessica langsung tertidur pulas di atas tubuh Nova, perlahan Nova mengangkat tubuh istrinya untuk memindahkannya ke atas tempat tidur.
Cup ....
Nova memberi kecupan di pipi Jessica.
“Maafkan aku, entah kenapa kali ini aku tidak bisa menahannya. Aku akan bertanggung jawab,” gumam Nova pelan.
Ia segera mengenakan pakaiannya, sebelum ia keluar kamar ia mengecup pipi putranya yang masih tertidur pulas.
“Sayang anak Ayah. Sebentar lagi kita akan berkumpul kembali Nak, Ayah akan bertanggung jawab atas apa yang Ayah dan Ibumu lakukan. Jangan meniru perbuatan ini ya Nak,” ujar Nova dalam hati.
Setelah mengatakan itu, ia langsung keluar dari kamar tersebut. Tanpa ia sadari, jika Jessica sudah bangun dan mendengar ucapan suaminya. Jessica tampak tersenyum meraba pipinya yang beri kecupan oleh Nova.
__ADS_1
***