Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
ISTRI SAH MURKA


__ADS_3

"Kau adalah perusak rumah tanggaku, kau sadar kau itu wanita hah?" teriak Zia, mendorong Dhea.


"Maafkan saya mbak! Saya tidak tahu, tapi lepas dari itu. Maafkan saya, saya akan pergi setelah semua batas waktu itu berakhir. Meski jujur saya menaruh hati pada mas Ramlan."


"Dasar wanita pe-laa-cuur. Tak bisakah kau cari pria single! Aku pastikan, akan membuat Ramlan satu satunya membencimu dan mengusirmu!" teriak Zia, tepat kala itu, Sam datang melepaskan jambakan Dhea saat itu dan berusaha melerai.


Setelah Dhea yang acak acakan, ia dibawa Sam ketempat yang diminta Ramlan aman dari jangkauan istri sah nya.


Ingatan Dhea sadar, ia bukan istri simpanan tapi hanya pengganti rahim untuk sebuah alasan saling menguntungkan, akan tetapi Dhea merasa kecewa telah dibohongi, belum lagi ia telah jatuh cinta pada pria beristri. Tapi memberontakpun tak bisa.


Amarah Ramlan, tidak memperbolehkan Dhea berada di dapur membuat Dhea terdiam. Terlebih saat Ramlan turun menggunakan piyama, tanpa kaos dibaliknya, dan sedikit terbuka. Bulu halus kaki dan belahan, membuat Dhea merasakan kegilaan pria itu ternyata tampan, meski sikapnya bagai iblis.


"Aku akan mengajakmu ke mansion, keluarga Zoya! pastikan kau hamil, dan ingat jaga sikapmu ketika melihat istriku Zia!"


Itu adalah peringatan kembali, bagi Dhea saat ini. Ia benar Ramlan adalah pria menyebalkan. Yang terus saja mengingatkan dirinya sebagai pencetak anak.


Setelah pertengkaran Ramlan dan Dhea hari itu, Ramlan tak pernah kembali. Hanya ada Dhea dan Mery di rumah besar itu. Rumah pemberian Ramlan yang tidak semewah dan seluas mansion keluarga Zoya yang di isi oleh istri sah Ramlan bersama keluarga Ramlan, tentu saja. Hanya rumah dua tingkat di komplek perumahan elit. Dengan satu kolam renang di belakang dan halaman yang muat dua mobil di depan rumah.


Namun bagi Dhea semua itu sudah terlalu mewah. Perbedaannya bagai langit dan bumi dengan rumah sederhana yang ia tempati bersama adiknya dulu. Bahkan setiap kali hujan, Dhea dan dua adiknya sibuk menaruh baskom untuk menampung air bocor dari atap. Tapi Dhea sangat bahagia kala itu.


“Nona lebih baik istirahat saja, biar saya yang masak.” Mery tampak khawatir ketika melihat Dhea sibuk sendiri di dapur.


“Kamu takut Tuan marah?” tanya Dhea seraya melirik Mery sekilas.


“Bukan hanya memarahi saya, tapi Tuan Ramlan juga akan memarahi Nona.”


Dhea terkekeh kecil. “Sudah tiga hari aku tinggal di sini, tapi dia nggak pernah datang. Jadi nggak usah khawatir Mery, karena Tuan Ramlan nggak akan tahu.”


“Tapi—”


“Memangnya kamu bisa bikin gado-gado dan tempe mendoan, Mery?” sela Dhea.


Ia bertanya karena sejak tadi Mery bersikeras ingin menggantikannya memasak. Padahal Dhea tak yakin Merry bisa memasak makanan tersebut.


Bukan negative thinking, tapi Dhea pernah mendengar cerita dari Merry bahwa dia sudah bekerja dengan Ramlan sejak remaja, menggantikan ibunya yang sudah sakit-sakitan. Jadi bisa dipastikan, yang bisa Mery buat hanya makanan yang biasa dimakan Ramlan.


“Maaf, Nona, kalau itu saya tidak ahli,” aku Mery sambil meringis.


Dhea kembali terkekeh. Sudah ia duga.

__ADS_1


"Makanya biar aku saja. Hari ini aku lagi pengen makan makanan kesukaan almarhum ibu dan ayah, sekaligus aku mau antar makanan ini melalui gojek untuk adikku di rumah citra buana.”


"Rumah citra buana." lirih Mery.


“Oke. Selesai,” gumam Dhea sambil melepas celemek dan menggantungnya pada hanger.


Lalu memerintahkan Mery, untuk mengirimkan pada ojek yang tersedia di depan yang telah menunggu. Lalu Dhea kembali membuat lagi beberapa porsi untuknya dan bibi Mery.


Ia membawa sepiring gado-gado dan tempe mendoan ke meja makan. Setelah menaruhnya, ia kembali ke dapur lalu menuangkan saus ke dalam mangkuk kecil sambil bersenandung, menyanyikan soundtrack film hantu yang semalam ia tonton. Lagu itu masih terngiang-ngiang di telinganya.


“Makanan macam apa yang akan kamu makan?”


“Aaa… hantu!” pekik Dhea yang terkejut kala mendengar suara mengerikan di belakang telinganya. Mangkuk berisi saus di tangannya seketika terlempar entah ke mana.


Jantung Dhea berdebar-debar, ia tak berani menengok ke belakang karena takut akan melihat sosok hantu yang semalam ia tonton itu. Suara pria barusan persis seperti hantu, terdengar dingin dan menyeramkan.


“Hantu?” desis Ramlan sembari menggertakkan giginya.


“Siapa yang kamu maksud dengan hantu?”


“Mas, eh. Tu-tuan Ramlan?” Dhea langsung berbalik. Detik itu juga Dhea terkesiap saat melihat noda merah di pipi Ramlan yang dibalut kemeja putih.


“Ke-kenapa ada saus di situ?”


“Menurutmu siapa yang melakukannya?” desis Ramlan lagi dengan marah.


“A-aku?” Jari telunjuk Dhea menunjuk sendiri.


“Apa aku yang barusan melakukannya, tumpahan saus mengenai anda."


“Dasar bodoh. Cepat bersihkan!” suara Ramlan terdengar menggelegar, terasa menusuk indra pendengaran Dhea.


Tidak ingin membuat pria itu semakin marah, buru-buru Dhea mengambil beberapa lembar tisu dari atas meja. Kemudian mengelap pipi Ramlan lebih dulu dengan hati-hati.


Wah, kulitnya mulus sekali. Tidak ada satupun pori-pori yang terlihat. Warna kulit Ramlan memang termasuk tipe sawo matang, tapi bersih dan mulus. Bulu-bulu halus yang tumbuh di rahangnya menjadi paket lengkap. Seakan-akan Ramlan diciptakan saat Tuhan sedang ‘tersenyum’.


Pandangan Dhea naik pada sepasang mata hitam pekat milik Ramlan, yang saat itu juga tengah menatapnya dengan dalam dan lekat. Bukan tatapan meremehkan atau tajam seperti beberapa saat yang lalu. Namun detik berikutnya, sorot mata elang itu kembali terlihat menakutkan.


“Berhenti menatapku!” suara Ramlan terdengar dingin.

__ADS_1


Dhea langsung tersadar lalu membersihkan kemeja putih Ramlan yang pasti harganya mahal.


“Selain miskin dan tidak menarik, ternyata kamu juga sangat ceroboh.”


Dhea menarik napas dalam-dalam dan tidak memasukkan kata-kata hinaan itu ke hatinya.


“Itu karena Anda yang membuat saya terkejut, Tuan,” ujarnya membela diri. “Anda tiba-tiba datang tanpa mengucapkan permisi atau mengetuk pintu.”


“Ini rumahku. Aku bebas melakukan apapun di sini.”


“Tapi tetap saja Anda harus mengucap—”


“Berisik!” sela Ramlan sembari melepaskan tangan mungil Dhea.


“Jangan mengaturku! Aku tidak suka perempuan berisik dan ceroboh.”


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Ramlan langsung berlalu dari hadapan Dhea dan naik ke lantai atas.


Dhea merutuki dirinya sendiri yang terlalu ceroboh. Ia terkadang heran dengan tangannya yang sering memecahkan gelas atau piring. Bahkan baru tiga hari tinggal di sini, Dhea sudah memecahkan dua gelas tanpa sengaja. Dan hari ini ia melemparkan saus ke tubuh suaminya.


Tak lama kemudian Ramlan yang sudah mengganti pakaiannya pun menghampiri Dhea sambil menenteng tas. Di lantai atas memang ada sebuah ruangan khusus Ramlan. Dan Dhea dilarang masuk ke sana.


“Tuan, ada perlu apa Anda datang ke rumah ini?”


“Sudah kubilang ini rumahku! Apapun yang kulakukan bukan urusanmu sama sekali.”


Dhea menaruh sepiring gado-gado di meja seberangnya untuk Ramlan, yang ia bagi dua dengan miliknya. Ia sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan pria itu.


“Bukan begitu. Selama tiga hari Anda tidak datang ke sini, jadi saya pikir sangat aneh ketika hari ini Anda tiba-tiba datang.”


“Ini kedatangan terakhirku ke sini,” balas Ramlan, sembari memperhatikan makanan di atas meja dengan tatapan jijik. Ia datang ke sini hanya untuk mengambil tas yang ia pegang.


“Jadi pastikan dirimu hamil dan lakukan tugasmu dengan baik!”


Dhea sempat terdiam, lalu mengerutkan kening sambil menatap Ramlan yang masih berdiri. “Tapi sepasang suami istri tidak boleh terpisah terlalu lama, kan? Dan saat istri hamil, seorang suami harus menemani selama kehami—”


“Itu tidak berlaku dalam hubungan kita!” sela Ramlan dengan cepat.


“Ingat, Dhea! setelah kamu dinyatakan hamil, tidak ada seorang pria pun datang kemari, termasuk kedua adikmu datang! kau hanya akan ditemani Mery. Terus panggil aku Tuan, agar kau terbiasa ketika aku ajak ke mansion kelurga Zoya! mengenalkanmu pada Zia istriku, jika kau adalah pengasuh atau kerabat jauh. Itu pun jika sewaktu waktu urgent, aku harus siaga melihat kelahiran anakku."

__ADS_1


Dhea terdiam, ada rasa sakit tapi ia tidak bisa berbuat apapun.


Tbc.


__ADS_2