
Penyesalan selalu datang di akhir, dua tahu lamanya Nova mencari keberadaan ibunya yang menghilang pasca kebangkrutannya. Namun, tidak menemukan dimana ibunya berada.
Rumah milik ibunya pun sudah di jual, sang pemilik baru juga tidak tahu kemana ibunya pergi.
Di sebuah rumah tempat rehabilitasi, terlihat wanita yang tengah duduk merenungi nasibnya.
Nova menatap wanita tua yang di duga itu adalah ibunya, karena ia mendapat kabar dari dinas sosial jika wanita di duga ibunya berada di tempat dinas sosial.
“Ma,” panggil Nova sembari memegang bahunya.
Ibunya menoleh, menatapnya sejenak.
“Kamu siapa? Kamu mau mengambil hartaku ya?! Dasar maling!” teriak ibunya dengan histeris.
Ia tampak memegang erat tas miliknya dan berlari menjauh.
“Apa benar itu Ibu anda?”
Nova mengangguk.
“Para relawan menemukannya di pinggir jalan, sangat bahaya jika wanita sepertinya apalagi saat itu Ibu anda membawa tas yang berisi uang yang cukup banyak. Kami sudah memeriksanya ke rumah sakit, dan hasil Ibu anda memang positif gangguan kejiwaan atau indikasi orang dalam gangguan jiwa (ODGJ).”
“Dan akan di rehabilitasi di tempat ini. Jika keadaan Ibu anda membaik, kami akan mengembalikannya pada keluarganya,” tambah petugas yang membantu para gangguan jiwa tersebut.
“Apa ada kemungkinan Ibu saya akan sembuh?” tanya Nova.
“Ada, tapi kemungkinan kecil.”
__ADS_1
Nova mengangguk mengerti.
Ia tidak menyangka, ibunya akan menjadi seperti ini.
Jessica dan Nova hampir setiap hari datang untuk menjenguk ibunya, dengan membawa makanan yang berbeda setiap harinya.
Bahkan Jessica mengajak kedua putranya untuk menjenguk ibu mertuanya, di luar dugaan. Raka dan ibunya terlihat akrab bermain dan berbicara seperti orang tidak dalam gangguan jiwa.
Sebulan berturut-turut mereka tidak pernah absen untuk menjenguk dan perubahan ibunya sudah mulai terlihat.
Biasanya ibunya tidak mau sama sekali bertemu dengan Nova, kini mereka terlihat akrab.
Ibunya bahkan menceritakan jika dirinya punya rumah besar, bisnis yang banyak.
Nova hanya terkekeh mendengarnya.
Semakin hari kondisi ibu mereka semakin membaik, bahkan ibunya boleh dibawa pulang, dengan catatan obatnya tidak boleh putus.
“Kita pulang ke rumah Ma,” sahut Jessica.
Ibunya mengangguk.
Setibanya di rumah milik Jessica, karena sebelumnya Nova dan istrinya memutuskan untuk tinggal di rumah Jessica saja.
Ibunya tampak melihat sekeliling rumah tersebut yang sangat mewah, lalu ia memberikan tas miliknya kepada Jessica.
“Tolong simpan uang Mama, nanti ada perampok yang mengambilnya.”
__ADS_1
Menyerahkan tas tersebut pada Jessica, Nova hanya tersenyum kecut melihat keadaan ibunya bahkan ia sempat menangis saat mengetahui kondisi ibunya yang sebenarnya.
“Sekarang Mama istirahat di kamar,” ajak Jessica.
Sejak kemunculan Jessica di rumah rehabilitasi itu, mereka langsung akrab. Bahkan ibunya hanya mendengar apa yang Jessica ucapkan saja.
Sang ibu seakan tidak mengenali dirinya sama sekali, hanya sekilas nanti akan kembali lagi tidak mengenalinya.
Apa begitu sakit hatinya sang ibu pada putra satu-satunya itu, sehingga ibunya tidak mau mengingatnya sama sekali.
Nova bersyukur Jessica selalu berada di sampingnya untuk merawat sang ibu hingga benar-benar membaik, walaupun sulit kemungkinan akan sembuh total.
“Terima kasih sudah mau merawat Mama dan juga anak-anak kita. I love u Sayang,” bisik Nova pada istrinya.
Jessica yang mendengarnya sangat tersentuh, untuk pertama kalinya Nova mengatakan cinta padanya setelah dua tahun lamanya.
“Aku juga sangat mencintaimu, Mas.” Memeluk suaminya dengan erat, bahkan terdengar suara isak tangis di dalam sana.
**Sekian Terima Kasih**.
\*\*\*
Terima kasih banyak sudah mengikuti cerita author hingga sejauh ini.
Semoga rezeki kalian dan kita semua mengalir terus dan terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita author.
__ADS_1
Maaf jika ada tulisan yang salah, karena author juga hanya manusia biasa, sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah.
Tunggu cerita Author selanjutnya ya ... sampai jumpa ....🙏🙏🙏🙏🥰