Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
DHEA SADAR DIRI


__ADS_3

Dhea ikut mengekor, kala Ramlan menuju pemakaman. Karena jujur selain menghirup udara segar, ia sudah lama tak berkunjung. Tapi saat itu Ramlan malah mengajaknya menuju butik, dan itu adalah milik istrinya.


Zia! Dia adalah wanita cantik, yang sangat dicintai Ramlan. Patutlah Ramlan sangat mencintainya, mereka telah mengenal selama tujuh tahun dan berencana menikah. Hanya saja penyakit bipolar Zia baru diketahui Ramlan satu tahun belakangan ini.


"Mas, siapa dia?" ujar Zia.


"Eheeum!"


"Nyonya! permisi saya adalah .. asisten Tuan! yang akan membantu nyonya jika ada sesuatu. Kebetulan saya berada dibawah Sam, hanya saja maaf saya hari ini..." terdiam Dhea saat pria itu memotongnya.


"Aku berencana menempatkan dia di mansion Zoya. Sebagai pengasuh, ah tepatnya pembantumu jika kamu butuhkan. Bagaimana?" ujar Ramlan.


Hal itu membuat mata Dhea amat menyakitkan, hatinya bagai berdarah darah tapi tak ada yang peduli. Ia sadar, jika dirinya menikah karena ia membutuhkan materi, tapi jika satu atap. Pemandangan ini membuat Dhea sadar, jika ia adalah benalu yang sama saja dengan julukan pelakor apapun alasannya.


'Aku adalah pelakor pencetak anak, yang hanya dibutuhkan tanpa dicintai. Tapi aku terlanjut menyayangi sosok pria berhati iblis ini.' batin Dhea.


***


Esok Harinya.


“Apa ada orang yang tidur siang sambil berbicara?” suara bariton milik Ramlan tiba-tiba terdengar di belakang Mery.


Dhea sedikit terkejut, matanya membulat begitu melihat Ramlan berjalan menghampirinya dengan ekspresi menakutkan, persis seperti harimau yang ingin menerkam mangsa.


Dhea berdehem, kemudian menaruh bingkai foto ke atas nakas dan Ramlan sempat melihat benda itu sejenak. Sebelum akhirnya pria itu menatap Dhea dengan tatapan datar.


“Ada apa?”


“Bersiaplah, kita akan pergi,” kata Ramlan dengan suara dingin. Lantas melirik arloji.


“Aku beri waktu lima menit.”


“Pergi?” ulang Dhea sembari mengerutkan kening.


“Pergi ke mana?”


“Bodoh. Bukankah hari ini hari kematian ayahmu?”


Ah… ternyata pria itu masih mengingatnya. Dhea pikir, Ramlan tidak mencerna apa yang beberapa minggu lalu, ia katakan sebelum merapikan pecahan piring di lantai.


“Maksudnya kita akan pergi ke makam?”

__ADS_1


“Apa ucapanku kurang jelas?” berang Ramlan tak sabaran.


Nada suaranya tidak pernah merendah di hadapan Dhea.


“Tapi jangan terbawa perasaan dengan sikapku ini. Aku mau mengantarmu ke sana bukan karenamu. Tapi karena bertanggung jawab sudah memecahkan piring makananmu saat kita makan bersama dengan Zia istriku. Hanya itu."


Dhea manggut-manggut. “Baiklah. Hati saya kebal kok, saya bukan orang yang mudah baper. Jadi Anda jangan khawatir tentang hal itu!"


Suasana di dalam mobil terasa hening dan agak mencekam. Bahkan untuk bernapas saja Dhea khawatir setiap tarikan napasnya akan terdengar berisik dan mengganggu ketenangan Ramlan.


Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Ramlan duduk tegak sambil melipat tangan. Tatapan tajamnya tertuju ke depan. Tak sedikit pun ia menoleh kepada Dhea, seakan-akan. Dhea hanyalah makhluk tak kasat mata baginya, hanya istri simpanan yang setelah misi akan dibuang.


Dhea semakin tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Ia bukan orang yang menyukai kesunyian dan suasana yang kaku. Tapi mau bagaimana lagi, pria di sampingnya bukanlah orang yang bisa diajak bercanda. Bisa-bisa Dhea terkena amukannya karena berisik.


“Berhenti di depan!” titah Ramlan pada sang sopir.


Mobil seketika terhenti. Dhea sempat mengaduh karena dahinya terantuk ke kursi depan.


“Kenapa kita berhenti di sini?” tanya Dhea sembari mengusap-usap dahi.


Ramlan tak bersuara. Ia hanya mengedikkan dagu pada toko bunga di seberang jalan. Dhea langsung mengerti apa maksud sikap Ramlan tersebut, kemudian menyunggingkan senyuman samar. Ia tak menduga pria kejam dan dingin seperti Ramlan akan membelikan bunga untuk mendiang ayahnya.


Satu detik.


Tiga detik.


“Kenapa diam saja?” suara Ramlan terdengar dingin.


“Huh?” mata Dhea mengerjap lembut. Lalu menatap Ramlan dan toko itu secara bergantian. “Saya… yang keluar?”


“Apa harus aku?” desis Ramlan tak suka.


Kemudian mendengus kasar. “Yang akan kamu kunjungi adalah ayahmu, bukan ayahku!”


Jemari Dhea meremas ujung kain rok untuk melampiaskan kekesalannya. Dengan perasaan dongkol lantas ditatapnya Ramlan dengan mata terpicing tajam, hanya sesaat. Sebelum akhirnya Dhea keluar dari mobil, lalu bersiap siap menyebrang.


“Aku bisa… aku bisa,” gumam Dhea menyugesti diri sendiri, sebelum akhirnya kakinya berlari kencang ketika jalanan agak lengang.


TIIIN!!!


“Aaaa…!”

__ADS_1


Dhea berteriak ketika ada sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan. Jarak dirinya dan mobil itu tersisa kurang dari lima meter. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menggenggam tangannya dan menariknya dengan cepat.


“Apa kamu sudah bosan hidup?!” bentak Ramlan penuh amarah.


“Kalau tidak bisa kenapa berlagak bisa menyebrang, hah?!”


Dhea yang masih terkesima pun langsung tersentak oleh bentakan pria itu. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha tetap tenang, tanpa memasukkan seruan Ramlan ke dalam hati.


Sebenarnya menyebrangi jalan adalah sesuatu yang Dhea takuti sejak dulu.


“Maaf,” ucap Dhea yang tak mau berdebat panjang lebar.


“Dan terima kasih sudah menolong saya.”


“Tentu saja kamu harus berterima kasih. Kalau aku tidak menolongmu, kamu sudah jadi mayat sekarang,” balas Ramlan tanpa belas kasih.


“Sekarang masuklah!”


Dhea tetap bergeming, membuat kening Ramlan berkerut dalam. “Kenapa diam saja?”


Dagu Dhea menunjuk ke arah tangan Ramlan yang masih menggenggam tangannya cukup kuat. Seakan tersadar, Ramlan langsung mengempaskan tangan Dhea dengan kasar. Sebelum akhirnya Dhea masuk ke toko bunga tersebut.


Dhea menaburkan kelopak bunga di atas tanah makam yang kering. Kemudian memanjatkan do’a dan bercerita panjang lebar di depan nisan ayahnya, meski Dhea sadar sang ayah tidak mungkin mendengar semua keluh kesahnya.


“Maafkan aku yang sudah memilih jalan ini, Yah,” lirih Dhea sembari mengelap air mata yang jatuh ke pipi.


“Semoga Ayah nggak kecewa sama aku. Tapi aku berjanji akan menjadi istri dan ibu yang baik.”


Tangan Dhea mengelus batu nisan di hadapannya. Air mata tanpa henti mengaliri pipi.


“Aku kangen banget sama Ayah. Ibu juga. Asal ayah tahu, kami akan selalu mencintai Ayah sampai kapanpun.”


Setelah puas menumpahkan semua beban hatinya di ‘depan’ sang ayah, Dhea kembali lagi ke dalam mobil. Ramlan ada di dalam sana masih dengan ekspresi datar seperti semula, yang berbeda hanyalah kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya.


Ramlan sempat melirik Dhea selama kurang dari dua detik. “Apa gunanya menangisi seseorang yang sudah meninggal?” komentar Ramlan sembari mendengus pelan.


“Anda tidak akan tahu bagaimana rasanya, karena mungkin Anda belum merasakan kehilangan orang tua. Terlebih makam ibuku, ia meninggal dalam keadaan sakit berada di laut. Aku tidak bisa menjenguk makamnya seperti ayahku."


Rahang Ramlan seketika mengeras, gigi-giginya menggemeretak. “Walaupun sudah mati, orang tua tidak pantas ditangisi.” ujar Ramlan, membuat bola mata Dhea menoleh dengan tajam.


"Kau tidak punya hati. Tuan, apakah kekayaanmu membuatmu tidak bisa bersimpati sedikitpun?" ucap Dhea.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2