Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
SIKAP ANEH


__ADS_3

"Buka mulutmu!" tak peduli dengan pertanyaan Dhea sebelumnya, justru itu ucapan yang keluar dari bibir Ramlan.


'Haah, dia ini! Maksudnya apa sih?' ujar Dhea yang terpaksa memakan sosis yang sudah memutar-mutar tadi, karena Ramlan sudah menyodorkan di depan bibirnya.


"Enak?"


"Ehm ... enak maksud Anda mas?" ucapan yang keluar dibibir Dhea.


'Haduuh, apa lagi ini? Hah, menyesal aku membuat sosis panggang! Pfffh!' ujar Dhea yang agak kesal, karena Ramlan mengambil sosis dengan ukuran utuh yang tak dipotong oleh Dhea, mempermainkan dimilik Dhea bagian bawah, lalu menggerakkannya memutari disana.


"Sssh!"


Sebelum memasukkan ke dalam lubang kelembutan Dhea.


'Jorok sekali dia, haduh! Itu kan makanan? Maksudnya apa sih?' ujar Dhea ingin protes, tapi


'Sshh .. ukuran sosis itu kecil, tapi kenapa dia pintar sekali, kenapa yang begitu saja bisa membuatku ingin? Hoooh, permainannya tak biasa, tapi kenapa justru membuatku ingin mencicipinya?' Dhea semakin melayang


"Apa kau merasakan sesuatu yang bangun?"


Lagi, Ramlan tak merespon pertanyaan Dhea soal 'enak,' justru sudah mengirimkan pertanyaan lain untuk Dhea.


"Itu ..." Dhea menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu, apa menurutmu kau bisa membuatku tertarik?" tanya Ramlan, dengan mimik wajah yang merendahkan.


"Aku tidak tahu .. apa Kau tidak tertarik padaku sama sekali Mas?" tanya Dhea balik


"Kau pikirlah sendiri!" ucap Ramlan sekenanya.

__ADS_1


"Buka mulutmu!"


"Hpppph! Tapi mas ... itu ..."


"Makan!"


'Aish, rasanya ga karuan sudah bercampur dengan cairan itu ... apa maunya? kenapa dia melakukan ini padaku?' kesal hati Dhea karena dia terpaksa memakan sosisnya, yang tak banyak dikunyah, langsung telan.


"Kenapa kau menatapku begitu? Tak suka dengan kebaikanku menyuapimu?"


'Iya tak suka! Kau kelewatan dan menjijikkan!' ucap Dhea kesal di relung sanubarinya.


"Bukan begitu ..." ucap Dhea di bibirnya sambil menggelengkan kepala.


'Haah, andai aku masih wanita bebas, aku akan menyemprotmu dengan semua makianku!' gundah dalam hati Dhea.


Satu perintah, membuat Dhea melakukannya dengan cepat.


"Duduk kembali di kursimu!" Ramlan mengeluarkan intruksi selanjutnya yang juga dilakukan oleh Dhea tanpa bicara.


"Makan!"


Bagai seekor pudel yang patuh, Dhea mengambil alat makannya dan mulai memotong, memasukkan potongan kecil melewati bibirnya.


"Jadi berhati-hatilah denganku! Aku tak mudah! Kau hanya punya waktu tiga bulan untuk memuaskanku. Ingat apa yang akan terjadi padamu ketika aku tak puas!" Ramlan kembali bicara saat Dhea sudah menyuap satu suapan.


"Tunggu Mas! Bisa kau mejelaskan saja padaku bagaimana caranya memuaskanmu? Kalau aku memikirkan itu sendiri, Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku tidak ingin membuat kesalahan padamu lagi!" ucap Dhea.


Kemudian mencegah Ramlan untuk pergi dengan ikut berdiri ketika Ramlan sudah mengangkat tubuhnya dan kini ditopang oleh kedua kakinya,

__ADS_1


"Ada paper bag di ruang tamu, kau bisa memeriksa isinya dan menggunakannya!"


Dhea mematung, ia benar benar tidak tahu apa yang terjadi pada hidupnya, setelah ditolong pria beristri. Lalu ia segera menghubungi sang paman untuk bertemu, sebelum ia melihat kedua adiknya baik baik saja saat ini, di sekolah asrama.


Hari ini, Dhea kembali ke tempat belajar sang adik. Ia hanya berharap diam diam bisa mengobati kerinduannya. Tapi ada yang aneh dengan perutnya, rasa sakitnya benar benar membuat Dhea merasakan mual dan perih bagai melilit terkena asam lambung. Mungkin karena makanan jorok yang disuapi Ramlan.


"Hey, kau kenapa panggil paman?" Rozak.


"Paman, aku sangat tertekan disana. Bisa jelaskan, kenapa pria itu nikahi Aku, waktu tiga bulan sedangkan aku tidak mengerti. Jika aku pergi akhiri, dia memintaku membayar sebanyak dua milyar belum dengan denda."


"Hahaha, dasar bodoh! kau dalam waktu tiga bulan, buat dia jatuh cinta. Apalagi jika nanti kau hamil, hidupmu berubah Dhea. Lahirkan anak darah dagingnya! ingat, kedua adikmu makmur karenanya. Jika kau kabur, bukan nyawa paman, bibi saja yang tamat oleh ajudannya. Tapi kedua adikmu itu juga, setelah itu kau yang mati setelah melihat mayat kami."


Deeugh!


"Paman tunggu!"


Tanpa belas kasihan, paman Rozak membuat hati Dhea amat kesal. Bagaimana bisa ia diselamatkan dengan cara menyakitkan, tiga bulan membuat pria beristri menyukainya dan hamil anak darah dagingnya.


'Tunggu, dia kan punya istri dan anak. Kenapa aku harus melahirkan anaknya?' batin Dhea kebingungan.


Tlith!


Sebuah foto bahagia, terlihat itu adalah Ramlan dan mungkin disebelahnya adalah istrinya dan anaknya.


[ Jika kau bertemu wanita ini, jauhi dia. Jangan dekat dengannya Dhea ] pesan paman Rozak seolah mengingat, dengan penuh ancaman.


Sementara Dhea! ia sangat terbakar api cemburu, benar mencintai pria yang telah beristri amat menyakitkan. Akan tetapi jika aku hamil, apakah mas Ramlan akan sedikit lebih peduli padaku?! deru batin Dhea.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2