Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
GANTI RUGI


__ADS_3

Seminggu Kemudian.


Dhea pikir, Ramlan seperti tidak menyukai orang tuanya. Tetapi saat ia bertanya ketika di mobil siang itu, Ramlan malah tidak menjawab dan tidak bersuara lagi setelah itu.


Dhea jadi penasaran di mana dan siapa orang tua Ramlan. Tapi Dhea sadar ia tidak berhak untuk tahu lebih banyak, karena Ramlan tidak mengizinkannya.


“Dhea? Bisa kamu antar berkas ini ke ruangan arsip di lantai dua belas?”


Suara manajer keuangan di tempat Dhea bekerja, berhasil membuyarkan lamunan Dhea.


Ya, Dhea sudah kembali bekerja. Ketika tiba di rumah sepulangnya dari pemakaman, Dhea sempat meminta izin kepada Ramlan untuk pergi bekerja karena ia sudah terlalu lama cuti.


Ramlan mengizinkannya, tapi dengan ancaman, “Kamu diizinkan bekerja. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu dengan perutmu yang menyebabkanmu tidak hamil, kamu harus menanggung semua kerugianku!”


Kerugian apa memangnya yang harus Dhea tanggung? Ini kan perutnya sendiri, rahimnya sendiri.


“Dhea?! Kenapa diam saja?”


"Ah, iy baiklah." ia pun pamit, meninggalkan tatapan Ramlan dan Sam dibelakangnya yang menunduk. Seolah ia tak bisa berkutik, benar Sam sangat membantunya menjaga kedua adiknya. Sehingga ia masih diperbolehkan bekerja.


***


Tiba Dikantor.


BUKKK!!!


“Shit!” umpat seorang pria ketika tanpa sengaja Dhea menabraknya.


Dhea terkesiap. Semua ordner di tangannya pun terjatuh ke lantai. “Ma-maafkan saya, Pak. Saya nggak sengaja. Ya Tuhan, Anda nggak apa-apa?”


“Apa menurutmu saya baik-baik saja?!” berang pria itu dengan nada kesal.


Namun saat melihat yang menabraknya adalah seorang perempuan, dia lantas berdehem dan kembali berkata dengan suara yang lebih rendah.


“Sorry, maksud saya, saya nggak baik-baik saja. Ada luka di sini.” Pria itu menunjukkan luka berdarah di lengannya.


Dhea menelan saliva dan merasa takut. Masalahnya, pria yang Dhea tabrak ini terlihat seperti seorang eksekutif di perusahaan ini. Kalau ia berbuat salah dan pria itu tidak terima, Dhea khawatir ia akan dipecat.


“Maafkan saya, Pak. Biar saya obati lukanya. Tapi saya mohon, jangan pecat saya,” ucap Dhea sembari menangkupkan kedua telapak tangan.

__ADS_1


“Memecat kamu?” Pria itu seketika tergelak.


“Tenang saja, saya bukan pimpinan di perusahaan ini. Jadi saya nggak berhak memecat siapapun.”


Dhea menghela napas lega sembari mengatur nafas. “Syukurlah,” katanya, kemudian mengambil ordner yang tergeletak di lantai.


“Sekarang memang bukan. Tapi sebentar lagi aku akan jadi pemimpin di sini,” gumam pria itu, yang tak terdengar jelas oleh Dhea. “Oh ya, dengan cara apa kamu akan mengobati luka saya? Kamu nggak bawa apa-apa sekarang.”


Dhea kembali bangkit dan berdiri di hadapan pria berkulit putih itu. “Kalau begitu kita pergi ke klinik sa—Oh, tunggu sebentar.”


Seakan teringat sesuatu, Dhea lantas merogoh saku celana bahannya dan mengeluarkan tiga lembar plester. “Untuk sementara Anda bisa pakai ini.”


“Kamu selalu bawa plester ke mana-mana?”


“Cuma hari ini saja.” kemudian mengacungkan jari kelingkingnya yang dibalut plester, akibat tergores pisau saat sedang memasak tadi pagi.


“Jari saya terluka, jadi perlu bawa persediaan plester.”


“Ah… oke.” Pria itu manggut-manggut.


Setelah menaruh ordner di anak tangga yang ada di samping mereka, Dhea lantas membersihkan darah di lengan pria itu menggunakan tisu, sebelum akhirnya menutupinya menggunakan plester.


Meski sempat terkejut, Dhea akhirnya menerima jabatan tangan Raja dengan ragu.


“Dhea,” balasnya.


“Baiklah, Dhea. Sampai jumpa lagi. Senang bertemu denganmu”


Dhea langsung berlalu pergi tanpa memberi kesempatan kepada Dhea untuk membalas ucapannya. Begitu pun dengan Dhea, ia segera melanjutkan langkahnya lagi menuju lift.


Ketika tiba di lantai 12, Dhea sudah bisa melihat plang ruangan arsip dari kejauhan.


Akan tetapi, sebuah pemandangan di dekat dinding kaca berhasil menarik perhatian Dhea. Ada sofa melingkar di sana, dan ada seorang pria berkemeja putih tengah memarahi seorang karyawan wanita yang berdiri di hadapannya sambil menunduk.


Detik itu juga Dhea terkesiap.


“Tu-tuan Ramlan?” gumam Dhea dengan mata membelalak. “Bukannya itu dia? Tapi kenapa ada di sini dan memarahi Angel?”


Dhea buru-buru mendekat karena Ramlan terlihat sangat murka kepada Angel—wanita yang satu divisi dengan Dhea. Air mata Angel tampak berlinang ketika Ramlan terus memarahi dia dengan suara rendah, hingga Dhea tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


Tepat saat tangan Ramlan terangkat dengan posisi seperti ingin menampar wanita di hadapannya, Dhea langsung berlari sambil melemparkan barang di tangannya ke atas sofa.


“Tuan, jangan menampar Angel!” seru Dhea, dengan sigap dia menarik tangan Ramlan yang semula terangkat dan belum sempat menampar wanita itu.


Seruan Dhea yang keras itu sontak mengundang banyak perhatian dari orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Namun Dhea tak peduli.


“Tuan, apa yang sedang Anda lakukan di sini?” bisik Dhea sambil berjinjit untuk menggapai telinga pria itu.


“Kamu,” desis Ramlan dengan suara dingin.


“Pergi dari—”


“Kenapa Anda memarahi dan mau menampar teman saya?” sela Dhea, “Bukankah laki-laki tidak boleh menampar atau bersikap kasar pada wanita?”


Iris hitam pekat Ramlan menyorot tajam ke arah Dhea, seolah-olah tengah menguliti wajah perempuan itu. Rahang tegasnya tampak berkedut sembari menggertakkan gigi-giginya.


“Jangan ikut campur urusanku dan menjauhlah dariku!” desis Ramlan lalu mendorong Dhea agar menjauhi dirinya.


Ramlan baru akan memarahi Angel lagi, tetapi lengannya kembali ditahan oleh Dhea. Ramlan geram. Ia semakin murka dan napasnya terlihat memburu.


Ramlan lantas mencengkeram pergelangan tangan Dhea dan membawanya menjauhi Angel.


“Dhea, bisakah kamu berhenti bersikap bodoh?!” berang Ramlan sambil mengempaskan tangan Dhea dari genggamannya.


“Sa-saya rasa, saya nggak melakukan hal yang bodoh, Tuan,” ralat Dhea tergagap.


“Saya cuma nggak mau Anda membuat keributan di perusahaan ini. Kalau pimpinan di sini tahu Anda berbuat kasar kepada salah seorang karyawannya, Anda bisa terkena masalah.”


Dhea menjelaskan panjang lebar tentang kekhawatirannya. Ramlan akan mendapat masalah di sini. Pasalnya, Dhea pernah mendengar bahwa pimpinan GM Group sangat kejam dan tidak pandang bulu.


“Apa kamu lupa dengan surat perjanjian kita?” desis Ramlan sambil berkacak pinggang.


“Saya nggak lupa.” Dhea menggeleng cepat.


“Tapi Tuan jangan khawatir, di tempat ini mungkin nggak ada yang mengenali Anda. Dan saya juga akan menjelaskan sama Angel kalau kita nggak saling kenal. Jadi nggak usah khawatir, status kita nggak akan ketahuan.”


"Bodoh! aku membiarkan kau bekerja ditempat lain, bukan perusahaan lain. Bukan berarti aku orang lain disini. Kau pergi, sekarang juga. Aku ada dimanapun, bukan berarti kau ikut campur! jika tidak, kau harus ganti rugi dalam perjanjian yang kau tanda tangani!" ujar Ramlan, dengan rahang mengeras dan berlalu pergi.


Dhea amat kesal, suami iblisnya benar benar selalu menekan. Sebentar bentar ganti rugi. Hingga ia menarik nafas, dan melihat pria itu lagi menatapnya dari arah balkon.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2