
Dhea menatap sosok sahabatnya yang sedang menangis tersedu sedan. Helaan nafas kasar berulang kali dihembuskan oleh Dhea.
"Dhea, aku tanya sekali lagi. Kamu ada masalah apa sampai menangis seperti ini?" tanya Lena, sambil memegang kedua bahu sahabatnya itu.
Dhea mengangkat kepalanya, menatap sendu wajah Lena yang sudah dipoles oleh makeup.
"Jujur aku tidak sanggup, Lena. Aku rasanya ingin bunuh diri!"
"Jaga ucapanmu, istighfar Dhea!"
Kemudian Dhea, bangkit dari duduknya. Matanya berkeliaran ke sekeliling kamar sewaan sahabatnya.
"Kita bukan kenal hanya beberapa bulan, Dhea. Tetapi, kenapa kamu malah tidak mempercayai aku untuk menjadi pendengar terbaikmu." Lena menatap nanar ke atap dengan pandangan kosong. Dhea pun menghirup napas dalam-dalam.
"Belakangan ini, kamu juga selalu menghindari aku. Apakah aku punya salah padamu tanpa aku tahu?" tanya kembali Lena.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa mengatakannya kali ini. Aku hanya sedih, adikku Bagas. Ia memintaku pulang! hanya saja, aku terjerat Lena. Perkataan adikku kemarin, membuat aku sadar. Apakah aku harus pergi, kabur sejauh mungkin. Aku telah salah melangkah sejauh ini."
Lena tidak percaya apa yang dikatakan Dhea. Ia menerka nerka, jika sahabat baiknya itu mempunyai masalah sangat serius.
"Kau tidak percaya padaku?" ujar Lena.
"Baiklah, aku mau katakan. Tapi janji, jangan kasih tahu siapapun."
"Aku janji Dhea. Aku itu kan.." Lena terkejut kala suara ponsel Dhea berdering.
Saat Dhea ingin bercerita, tak lama Sam menelpon. Ia berkata sudah ada di pagar jarak satu kilo dari kediaman Lena. Sam, meminta Dhea kembali jangan sampai Lena curiga.
'Astaga, apakah diriku dipasang cctv. Baru saja aku mau bercerita, seolah pengintai terasa dekat dan tahu.' batin Dhea.
"Lena, aku pulang dulu ya! sorry. Nanti kita lanjut." mengambil tas.
__ADS_1
"Eh, makan dulu. Yah, banyak loh tadi kita beli makanan ini." cetus Lena.
"Buat kamu aja, sama adik kamu. Bye." senyum Dhea dengan cepat.
***
DI RUMAH VILLA.
"Saya hanya bisa antar sampai sini, tuan Ramlan bicara akan segera sampai." ujar Sam, ia berlalu pergi meninggalkan Dhea.
Tak berapa lama, Dhea memberontak saat tangan dan kakinya kembali diikat oleh orang-orang suruhan Ramlan. Sekuat tenaga Dhea, menjerit meminta tolong, namun villa milik Ramlan berada di pinggiran kota yang jaraknya lumayan jauh dari pemukiman masyarakat.
Ramlan terlihat acuh, tidak peduli saat tubuh Dhea diangkat dan dibawa keluar dari ruangan. Tubuhnya masih memberontak. Namun mau sekeras apapun ia mencobanya, tenaga Dhea akan tetap kalah orang orang-orang suruhannya itu.
Ramlan ikut keluar dari villa itu dan masuk ke dalam mobil miliknya, diikuti Zia.
Dua mobil itu pun melaju menuju rumah sakit, perjalanannya sekitar 20 menit, tubuh Dhea kembali dipaksa untuk turun dari mobil. Ia sudah menyerah dan membiarkan tubuhnya di bawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter obgyn, tangan dan kakinya sudah dilepaskan, kini di ruangan itu hanya ada dirinya, Ramlan, dan juga Zia.
"Selamat, istri anda hamil, usia kandungannya sudah 7 minggu," tutur sang dokter, rasanya kiamat sudah benar-benar berada di hadapannya.
Zia mengepalkan tangannya kuat-kuat mencoba menahan tangisannya. Karena madunya benar benar hamil, sementara wajah Ramlan terlihat senang. Akan tetapi ia kesal, kenapa harus dari wanita miskin.
Tidak ada jawaban dari Ramlan, setelah suster dan dokter itu pergi dari ruang pemeriksaan tadi.
Barulah Zia murka. Rahangnya terlihat mengeras, kesabarannya sudah benar-benar habis. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa masih membiarkan wanita murahan seperti Dhea tinggal di rumahnya dan menjadi istri kedua suaminya?
"Honey, dia hamil. Lalu aku tidak, aku harus apa? berapa lama lagi aku menjadi ibu dari anak itu." ujar Zia, menatap kesal pada Dhea yang menunduk.
"Sayang! bersabarlah. Aku akan biarkan Dhea tinggal di atap keluarga Moza. Please! hanya rumah kita aman. Aku takut jika dia berada jauh, paman dan sepupuku akan berniat jahat. Semua ini demi kita kan?" ujar Ramlan merayu istri sahnya.
Dhea tidak habis pikir, Ramlan sangat tunduk pada istrinya itu. 'Jika di kantor ia bagai iblis, tapi dihadapan istrinya sangat takut. Itu benar cinta suami pada istrinya, tapi aku. Benar adikku bilang, suaminya akan kembali pada istri sahnya.' batin Dhea.
__ADS_1
Sedangkan Dhea masih duduk mematung, sama sekali tidak berani menatap pasangan suami istri. Air matanya sudah tidak bisa terbendung, ia menangis terisak dengan kenyataan pahit yang harus ia terima.
"Dasar wanita licik! Kamu terus saja menipuku, padahal aku sudah berbaik hati membiarkanmu tinggal di rumah Keluarga Moza," murka Zia.
Dhea merasakan tangannya bergetar, dan mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan ketakutannya.
"Tapi saya juga tidak tahu. Aku tidak tahu kalau saya hamil, saya memang akan datang ke rumah sakit untuk mengurus hal ini," jawab Dhea dengan terbara-bata, suaranya bergetar, ia memberanikan diri menatap istri sah Ramlan.
Zia berdecih, mendekat ke arah Dhea dan menatapnya dengan dingin.
"Kamu sengaja menangis seperti ini agar aku merasa kasihankan, kamu tahu rasanya jadi istri sah yang dimadu. Terlebih harus menerima kenyataan kau wanita miskin hamil, dan aku jadi ibu sahnya?" tanya Zia sembari mendengus dan tertawa kecil, menertawai tipu daya Dhea, yang berusaha membuat Ramlan terkelabui dan membenci.
Ramlan menarik tangan Zia dan mendekatkan wajahnya, hingga jarak mereka kini hanya beberapa senti saja. Bahkan hembusan nafas Ramlan dapat Zia rasakan dipermukaan kulitnya. Terlebih Dhea hanya bagai empedu pahit, perusak segala hal.
"Sayang! please terima dia. Aku akan mengirimu ke luar kota. Asalkan jangan hancurkan rencanaku. Aku butuh dia untuk segera melahirkan keturunanku."
"Honey! aku sakit, aku tidak rela dimadu. Huhuuu." Zia menangis.
"Aku akan memberimu saran, jika kamu ingin menetap di rumah Keluarga Moza Ramlan, jalan satu-satunya adalah kau harus menjadi pelayanku, bayi yang ada di dalam kandunganmu tidak boleh ada yang tahu itu milik Ramlan. Hingga tiba waktunya, kau harus tetap diam tak boleh bicara dengan penghuni keluarga Moza!"
Mendengarnya, tangis Dhea kembali pecah. Meski ia tidak menginginkan bayi di dalam kandungannya, tapi tetap saja bayi ini adalah darah dagingnya dan Dhea tidak akan tega untuk menjualnya. Tapi ia bisa apa, kala dirinya harus berhadapan dengan keluarga berpenguasa. Andai Dhea terlahir kaya, mungkin nasibnya tidak serumit ini.
"Baik! saya minta maaf. Karena ada dibagian hidup anda nyonya. Lagi pula setelah dinyatakan hamil, Tuan Ramlan tidak akan menyentuh saya lagi. Itu hanya dilakukan beberapa kali, setelah itu tidak pernah datang lagi. Hanya datang memperingati dirinya segera hamil." jelas Dhea.
"Ah! dasar wanita sampah." ujar Zia pergi, dan Ramlan mengejar istrinya itu yang marah.
Kini hanya ada Dhea yang masih terduduk di atas lantai, sembari mengelus lembut perutnya sendiri. Mencoba memberi dirinya dan juga bayi di dalam kandungannya kekuatan. Hingga Sam, ia datang setengah jam berikutnya.
"Nona Dhea, ayo pulang! Tuan Ramlan memerintah saya mengantar anda." ujar Sam, membuat mata Dhea berkaca kaca.
Tbc.
__ADS_1