Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
Bab 50


__ADS_3

Kevin menyipitkan matanya karena silau terkena pancaran matahari yang masuk melalui jendela, Kevin melirik ke sampingnya sudah tidak melihat istrinya lagi.


“Akhh ... kepalaku sangat pusing sekali,” gumamnya sembari memijat pelipis kepalanya.


Perlahan Kevin bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di tempat tidur.


Ceklek ...


Pintu kamar terbuka, melihat Viona membawakan makanan ke dalam kamar.


“Sudah bangun?” tanya Viona mulai memasang wajah cemberut.


Kevin mengangguk, tangannya masih memijit pelipisnya.


“Ini minumlah, jeruk hangat. Agar membuatmu lebih segar, setelah banyak minum semalam!” kesal Viona meletakkan gelas tersebut di nakas.


Kevin mencoba mengingat, apa yang telah ia lakukan semalam. Namun, sialnya dirinya tidak ingat apapun.


“Aku minum?” tanya Kevin mengernyit heran menatap istrinya yang juga tengah menatapnya. Tapi, netranya tertuju pada leher Viona yang begitu banyak tanda merah.


“Sayang, kenapa lehermu merah?” tanyanya terlihat panik, ia menarik tangan istrinya agar duduk di kasur.


Ia melihat dengan teliti, jika itu memang tanda merah bekas bibir.


“Viona. Apa yang kamu lakukan? Kenapa lehermu banyak merah seperti ini? Apa aku melakukannya seganas itu?” tanyanya terlihat tidak merasa bersalah.


“Kamu masih bertanya? Ini perbuatan siapa?! Ini karena ulahmu, banyak minum semalam dan hampir saja berhubungan dengan perempuan tidak jelas semalam!” geram Viona memukul bahu suaminya dengan keras, membuat Kevin mengaduh kesakitan.


“Perempuan?” tanyanya terlihat bingung.


Ia mencoba mengingatnya kembali, seingatnya setelah keluar dari hotel ia memang pergi ke klub malam itu karena teman lama yang sudah lama tidak berjumpa dan mengajaknya ke klub. Setelah itu ia lupa dengan apa yang terjadi, ia pun terlihat bingung karena sudah berada di kamar mereka.


“Kenapa? Lupa?” tanah Viona memicingkan matanya.


Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia terlihat malu karena ketahuan oleh istrinya pergi ke klub malam.


“Iya, aku minta maaf. Aku ke tempat itu tanpa memberitahumu, tapi sungguh aku di ajak oleh teman lamanya Kenzi. Sumpah!” ujarnya memperlihatkan dua jari tangannya.


“Lalu, kenapa kamu ke hotel?” tanyanya penuh selidik.


“Oh itu. Aku ke hotel hanya bertemu teman lamaku, karena besok ia akan berangkat pagi. Mungkin akan lama kami bisa berjumpa lagi, disaat aku susah dulu, dia yang paling banyak membantuku.”


“Benarkah? Hanya itu saja?” tanya Viona lagi seakan tidak puas dengan penjelasan suaminya.

__ADS_1


Kevin tampak berpikir, lalu mengangguk pelan.


“Yakin hanya itu?” tanya Viona lagi sembari mengambil gunting di dalam laci, memperlihatkannya pada Kevin.


Nyali Kevin langsung menciut ia tidak bisa membayangkan, jika miliknya di potong kembali.


Viona memainkan kedua alisnya, netra bergantian menatap wajah dan senjata tempurnya.


Lagi-lagi Kevin menelan salivanya dengan kasar, entah kenapa ia baru melihat sisi Viona yang terlihat galak.


“Sayang, sungguh. Setelah minum itu, aku tidak ingat apapun,” ujarnya dengan wajah memelas.


Viona terlihat berpikir, apa suaminya memang tidak mengingat sama sekali kejadian di klub malam itu.


Viona Kembali duduk dan menghela napas panjang, lalu menceritakan kejadian yang di alami olehnya semalam.


Kevin mengernyit heran, siapa yang meletakkan obat perangsang pria ke dalam gelasnya dengan dosis tinggi.


Beruntung istrinya datang tepat waktu, kalau tidak entah apa yang terjadi pada hari ini dengannya.


“Maafkan aku. Sungguh, aku tidak berniat mengkhianatimu. Aku memang ke klub itu, hanya untuk minum saja.”


“Sayang, kamu percayakan sama aku?” tanya Kevin dengan wajah memelas.


“Baiklah. Jangan ulangi lagi, jika aku tidak peduli padamu semalam. Aku akan pergi meninggalkanmu dan membiarkan wanita itu menjamah tubuhmu itu, dan keesokan paginya kamu akan mendapat masalah!” kesal Viona sembari melipat tangannya.


“Iya. Aku janji, akan meminta izin padamu terlebih dahulu. Jangan tinggalkan aku, Sayang.” Menarik Viona ke dalam dekapannya dan mengecup keningnya berulang kali.


Entah kenapa Kevin saat ini terlihat takut akan kehilangan Viona, semenjak mereka kehilangan bayinya.


Saat di rumah sakit, Kevin memberikan surat perjanjian dirinya dengan ayah mertuanya di robek olehnya di depan Viona dan ayah mertuanya. Ia merasa bersalah dan mengembalikan rumah sakit tersebut kepada pemiliknya, Kevin sadar tidak ada yang paling penting selain membahagiakan istrinya.


Melihat itu, Kevin mendapat pelukan pertama dari ayah mertua dan kembali berdamai seperti dulu lagi.


Pada dasarnya manusia memang tempatnya salah, tapi bagaimana cara kita menyikapi dan tidak mengulangi kembali kesalahan tersebut.


“Sayang, apa ini sangat sakit?” tanya Kevin melihat leher istrinya.


“Hm ... tidak.”


“Sebentar,” ujar Kevin melepaskan dekapannya, ia mengambil sebuah obat berbentuk krim di kotak p3knya yang ada di dalam kamar lalu mengoleskannya pada leher putih istrinya.


“Sarapan dulu,” ujar Viona membuka tutup makanan, setelah suaminya selesai memberi krim tersebut di lehernya.

__ADS_1


Sebelum itu, Kevin lebih dulu mencuci wajahnya lalu menyusul istrinya untuk sarapan di balkon.


Disana mereka sarapan salin suap-suapan, Viona tampak merasa sangat bahagia pagi ini. Kevin mau berubah menjadi lebih baik, bahkan ia perlahan sudah mulai melupakan masa lalunya.


kini ia ingin membangun rumah tangga yang bahagia bersama suaminya Kevin, ia sadar jika melihat seseorang itu bukan dari kesalahan yang pernah ia perbuat. Melainkan mencari seseorang yang mau belajar dari kesalahannya dan mau berubah menjadi lebih baik.


“Mulai hari ini aku mengambil cuti untuk seminggu ke depan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Selama pernikahan kita, aku tidak pernah mengajakmu,” ujar Kevin seraya menyuapi istrinya makan.


“Mm ... kemana?” tanya Viona penasaran.


“Kamu akan tahu nanti,” sahutnya.


Viona mengangguk dan tidak bertanya lagi.


Selesai makan, mereka belum berpindah dari tempat duduk mereka.


“Mm ... sayang. Apa aku boleh kembali ke rumah sakit? Aku sangat jenuh di rumah,” tanya Viona dengan berhati-hati.


Kevin masih bungkam, bukan tidak mau istrinya kembali bekerja. Tapi dirinya terlalu cemburu jika Viona berdekatan dengan dokter lain ataupun perawat.


Apalagi paras istrinya yang begitu cantik, pasti banyak pria yang menginginkannya.


“Sayang. Boleh ya,” ujar Viona dengan wajah memelas.


Kevin menghela napas berat menatap istrinya dengan tatapan lembut, menggeleng pelan kepalanya.


“Huftt ... baiklah. Kalau kamu tidak mau, berarti kamu juga tidak mendapatkan jatah dariku!” ancam Viona kesal sembari melipat kedua tangannya.


Kevin membulatkan matanya mendengar ancaman Istrinya, Viona tahu akan kelemahan dirinya yang tidak bisa absen sama sekali menyentuh Viona.


“Oke, oke, baiklah. Kamu boleh kembali ke rumah sakit, tapi ruanganmu harus bersampingan denganku lalu pasang dinding kaca saja sebagai pemisah. Agar aku bisa melihatmu setiap waktu, dengan siapa saja kamu bertemu. Bagaimana?” tanya Kevin balik.


Viona memutar matanya dengan malas.


“Kalau tidak mau, berarti kamu tidak boleh kembali ke rumah sakit!”


“Hadeh. Baiklah,” sahut Viona pasrah. Yang terpenting saat ini bagi Viona adalah, ia bisa kembali bekerja sebagai dokter kandungan yang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu.


Kevin tersenyum mengambang mendengar sahutan istrinya, ia menarik Viona ke dalam dekapannya.


“Aku hanya tidak mau melihatmu berdekatan dengan pria terlalu lama, aku sangat cemburu. Tapi jika kalian berbincang di hadapanku, aku tidak masalah. Maafkan aku terlalu posesif, itu tandanya aku tidak mau kehilanganmu.”


“Hm ...” deham Viona yang masih dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


***


__ADS_2