
“Dhea, apa kamu perlu bantuan?” tanya Lena dengan raut muka khawatir.
Dhea mengalihkan tatapannya dari kwitansi yang berjajar di atas meja, ke arah Lena, yang berdiri di hadapannya.
“Nggak usah, Len. Kamu pulang aja gih. Udah setengah enam ini. Adik kamu pasti udah nunggu. Aku masih benerin kerjaan aku dari pak Ramlan."
“Dia udah aku titipin di tetangga. Aku bantu ya."
Dhea lantas berdecak kesal sebelum menoyor kepala temannya itu. “Pulang sana. Kasihan Jimy, jangan dititipin kelamaan. Tetangga juga kan kasihan." ujar Dhea.
“Tapi kamu gimana?” tanya Lena, tak enak hati.
“Sebentar lagi selesai kok,” kilah Dhea, padahal progres laporan keuangannya masih lima puluh persen.
Lena akhirnya mau pulang, setelah Dhea meyakinkannya berulang kali. Adik Lena yang masih berumur enam tahun sangat membutuhkan kehadiran kakaknya. Dhea tahu itu. Lena dan Jimy hanya tinggal berdua. Kedua orang tua mereka sudah meninggal.
Mengingat hal itu pun Dhea mengucap syukur. Meski Dhea harus melewati jalan ini demi kesembuhan salah satu adiknya itu.
Pukul sepuluh malam, Dhea masih berkutat dengan laporannya yang belum selesai-selesai. Ia tidak mau dicap sebagai manusia tak berotak seperti yang Ramlan bilang. Maka dari itu Dhea bertekad akan menyelesaikannya malam ini juga.
Ia harus membuktikan bahwa dirinya bisa bekerja dengan benar.
Beranjak dari kursi, Dhea menyeret langkahnya menuju ruang arsip yang ada di ruangan itu, untuk melihat laporan bulan lalu.
Ruangan arsip itu cukup pengap. Dhea berjalan ke salah satu rak terbuka, lantas diambilnya ordner dari jajaran paling atas.
Debu yang menempel pada ordner itu cukup banyak, hingga Dhea terbatuk-batuk karena debu tersebut masuk ke saluran pernapasannya.
Dengan cepat ditaruhnya kembali ordner tersebut ke tempat semula, saat Dhea merasakan mulai sesak. Ia memang tak tahan debu.
Buru-buru Dhea keluar dari ruangan itu dan mencari-cari inhaler di dalam tas.
“Please… please…,” lirih Dhea sambil mengacak-acak isi tasnya. “Ke mana inhaler? Kenapa nggak ada ditas."
Dhea tiba-tiba merasa panik karena tidak menemukan benda itu di dalam tasnya. Di laci meja pun ia tak menemukannya.
__ADS_1
Kepanikan yang melanda Dhea semakin membuat nafasnya terhimpit. Napasnya mulai pendek-pendek. Satu tangan Dhea bertumpu pada meja, sedang tangan yang lainnya menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu.
Dhea pun kembali bekerja, setelah beberapa saat. Sehingga beberapa waktu, ia kembali bekerja sampai menjelang malam, sekitar sebelas malam. Hal itu pun membuat Dhea di hampiri Sam, untuk pulang ke rumah. Terlebih disaat tepat, Sam membawakan inhealer Dhea yang tertinggal.
"Sam, kau datang?"
"Benar bu! Tuan yang menyuruh saya. Meski di kantor ia bagai iblis, tapi hatinya lembut meminta saya untuk mengantar nona pulang!"
Ah! pikiran Dhea tetap saja, ia sudah terbelenggu dalam ikatan keluarga Moza Ramlan. Menyesal juga tidak ada guna, yang jelas ia terperangkap pada pria yang telah beristri. Dhea berharap, ia segera hamil dan cepat putus berurusan dengan keluarga Ramlan.
***
Esok Harinya.
Di sebuah ruangan. Sepasang suami-istri duduk dengan gelisah menghadap seorang dokter berkacamata.
"Apa, Dok?"
Ramlan terkejut mendengar penjelasan dokter. Di sampingnya Zia menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasanya amat pedih tapi inilah kenyataannya.
Ini bukan kali pertamanya dokter mengatakan hal demikian. Ini sudah kesekian kalinya karena memang Ramlan dan Zia sudah beberapa kali konsultasi dengan dokter-dokter yang handal.
Semua mengatakan hal yang sama.
Padahal selama ini Ramlan juga sudah berusaha mengupayakan yang terbaik untuk istrinya, seperti membawa Zia terapi, minum obat herbal, senam, dan bahkan konsultasi dengan dokter-dokter hebat serta rela merogoh kocek lebih dalam.
Semuanya nihil!
Sudah tujuh tahun lamanya Ramlan dan Zia merindukan kehadiran seorang buah hati di tengah-tengah kebahagiaan mereka, tapi Tuhan ternyata belum mempercayakan hal tersebut. Hingga saat Zia tahu, suaminya meminjam rahim dan dimadu, awalnya ia tak ingin hamil.
Tapi ia bersikeras ke dokter kandungan dengan suaminya, jika ia akan hamil dan Ramlan harus mengusir wanita bernama Dhea tanpa sepeserpun. Hal itu, karena Ramlan begitu mencintai istri bipolarnya, ia segera mengiyakan.
Ramlan sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarganya, di tuntut agar segera memiliki keturunan. Bahkan mamanya pernah mengancam bila istrinya tidak segera hamil, mau tak mau Ramlan harus meninggalkan Zia dan menikah dengan wanita lain.
Tentu saja hal itu tidak Ramlan ceritakan pada Zia karena takut Zia terluka. Semuanya Ramlan pendam sendiri dengan rapi, sungguh Ramlan tak ingin menyakiti hati istrinya, hingga suatu hari mau tidak mau ia harus mengatakan kejujuran yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ini mungkin udah jadi takdirku, Mas," kata Zia tiba-tiba setelah keluar dari ruang dokter.
Karena hal itu membuat Ramlan bangun dari lamunannya yang sebenarnya sedang berfikir keras.
"Iya, Sayang. Tapi kamu gak usah khawatir ya. Aku janji, aku akan segera carikan dokter yang lebih bagus dari dokter tadi," ucap Ramlan menghibur Zia.
"Tidak usah, Mas."
Zia berjalan menjauh dari Ramlan, kemudian duduk di kursi tunggu. Ramlan menyusulnya dan berjongkok di hadapan Zia.
Ramlan memandangi wajah Zia yang amat mendung karena kesedihannya yang mendalam. Di mata Ramlan, Zia masih sama seperti saat pertama kalinya Ramlan menjumpainya dulu.
Tidak berubah!
Bahkan cintanya tak berkurang sedikitpun untuk Zia walaupun ia kesulitan untuk hamil. Dan ia menyewa rahim wanita demi keturunan dan asetnya tidak lenyap atas wasiat sang kakek.
"Kamu tidak yakin dengan kata-kataku? Kamu akan hamil, Sayang. Cuma kita tidak bisa pastikan itu kapan, kamu akan hamil. Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha dan bersabar. Kita tidak boleh nyerah gitu aja. Kamu yakin kan sama aku?" Ramlan mengusap punggung tangan Zia dengan lembut kemudian menciumnya.
"Aku sama sekali tidak nyerah dan aku juga percaya denganmu, Mas. Tapi___ sepertinya aku tidak sanggup, jika aku berbagi jiwamu dengan wanita itu! apalagi bukan dengan proses bayi tabung, aku ga sanggup mas."
Zia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak bisa dibendung, air matanya lolos jatuh begitu saja.
"Tapi kenapa?" kejar Ramlan.
"Tapi selama menunggu itu, aku harus ikhlas karena kamu telah menikah dengan wanita lain agar kamu memiliki anak darinya," sambung Zia.
Ramlan terperangah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zia barusan. Baru kemarin ia tidak ingin hamil, saat bicara empat mata. Dan saat paman, sepupunya ingin menyingkirkannya dan berada di perusahaan yang telah ia kembangkan.
Wasiat kakekpun, harus segera Ramlan mempunyai anak laki laki. Jika tidak, akan jatuh pada cucu lainnya. Hal itu tak ingin Ramlan biarkan.
"Sayang! maafkan aku. Aku janji, setelah anak itu lahir. Kamu yang merawat dan sebagai ibunya. Aku akan membuangnya, setelah bayi itu lahir."
"Apa kamu yakin, wanita itu sedang hamil?" tanya Zia.
Tbc.
__ADS_1