
Dhea terlihat menggigit bibirnya, antara ingin menceritakan masalahnya atau tidak. Meski Dhea sudah bersahabat dengan Sam belum lama, sejak mereka baru sama-sama masuk ke pabrik, namun Dhea tak pernah menceritakan masalah yang dialaminya.
Dia selalu memendam segala masalahnya sendiri, hanya tangisan dan doa-doanya yang ia panjatkan kepada Sang Maha Kuasa—lah tempatnya mengadu dan bercerita.
Setiap datang dan pulang kerja di pabrik tempat Dhea bekerja di pembuangan limbah, sudah menjadi kebisaan untuk memeriksa segala barang bawaan yang mereka bawa.
Dhea yang tersadar kembali dari lamunannya, ia langsung berjalan kedepan dan menyerahkan tas yang kini dibawanya. Satpam wanita yang bertugas memeriksa itu pun mulai mengeluarkan seluruh barang yang ada di dalam tas Dhea. Setelah merasa tak ada barang yang mencurigakan yang dibawa oleh Dhea, akhirnya satpam tersebut menyuruh Dhea untuk langsung pergi begitu pula dengan Sam.
“Dhea, kamu ada masalah?” tanya Sam, penasaran karena tadi Dhea belum menjawab pertanyaannya.
"Masalah biasa, mas Ramlan terlihat ga baik. Apa kau tau, ibu hamil sepertiku harus dijaga dengan erat oleh suaminya. Tapi lihat mas Ramlan, selalu memerintahkan kau, asistennya yang menjemput istrinya. Taukah, pria normal, suami normal dan sayang tidak mungkin terus membiarkan aku ibu yang melahirkan penerus Moza seperti ini." jelas Dhea.
Sam, manut kala ia tahu isi hati Dhea. Kali ini memang tugasnya bekerja, tapi siapa sangka kecemburuan sikap Dhea, ia telah jatuh hati pada tuannya. Meski sebelumnya ia berkawan dengan Dhea empat tahun lalu.
"Akan aku beri solusi, bersabarlah." ucap Sam, membuat Dhea pergi pulang dengan taksi.
***
Beberapa jam, Dhea bertemu teman baiknya. Tak sampai disitu, ia melihat Imel di bangku taman sambil menangis, maka dari itu Dhea berhenti guna menyapa dan bertanya kenapa Imel menangis sedih.
"Mel, lagi apa?"
__ADS_1
"Dhea, lo disini. Aah, gue malu diliat nangis gini ditengah jalan. Gue pasti dikira menyedihkan." ujar Imel.
Beberapa saat Dhea membelikan minum, hingga maulah Imel bercerita masalahnya dengan suaminya itu.
"Suami gue berhutang Dhea, gue capek." ujarnya.
"Cerita sama gue ya, kita naik taksi. Gue anter lo pulang, atau nginep di tempat gue."
Imel mengagguk, hingga mereka bercerita sampai Dhea mendengarkan.
Curhatan Imel.
Sayang, aku boleh pinjam dua puluh juta lagi, tidak? Rumah sakit sudah menagih….” pinta Yor, kepada istrinya, Imel dengan wajah memelas.
Yor, menerima uang yang diberikan Imel dari sisa tabungan dengan kepala menunduk, mengucapkan terima kasih dengan suara lirih.
Dengan tubuh tinggi dan paras cantik menawan, Imel sungguh pantas dijuluki dengan sebutan wanita idaman, tempatnya bekerja sampingan sebagai pemandu.
Yor, sebenarnya juga merupakan pria yang terbilang cukup tampan. Tapi jika dibandingkan dengan istrinya, dia masih kalah jauh.
Tiga tahun yang lalu, saat baru saja lulus kuliah diploma, sebanarnya Yor juga punya tujuan yang sama seperti anak muda lainnya, yakni mengejar karier demi masa depan yang cerah.
__ADS_1
Akan tetapi saat itu, sang ibu yang telah membesarkannya seorang diri terkena penyakit Uremia.
Di saat Yor, sedang kebingungan memikirkan cara menanggung biaya pengobatan ibunya, gadis yang Yor, sukai selama tiga tahun di SMA, Imel datang kepadanya.
Imel menawarkan Yor, untuk menjadi suaminya, dan kelak mereka akan tinggal bersamanya di rumah orang tua Imel agar dirinya bisa kembali mendapat hak warisan. Jika Yor, setuju, maka Imel akan langsung mengadakan acara pernikahan.
Tak hanya itu, Imel juga berjanji akan memberikan uang mahar dengan jumlah yang tidak sedikit .
Yor, tahu betul Imel tidak pernah mencintai dirinya. Dia juga tahu alasan Imel datang kepadanya adalah karena sesuatu masalah intern keluarga.
Meski begitu, Yor, tetap saja menerima tawaran itu karena dia butuh uang untuk biaya pengobatan sang ibu.
Selama tiga tahun ini Yor, diperlakukan bagai budak perintah keluarga Imel. Hingga perjalanan panjang, Yor meminta berpisah meski Imel bicara, untuknya bertahan dan ia mulai menyukai serius dan impian pernikahannya saat ini. Tapi Yor menolaknya.
"Jadi, apa solusinya Mel?" tanya Dhea.
"Dia minta pisah, karena kakak gue tau kalau kita awalnya pura pura nikah. Padahal gue dan Yor, dah saling klik. Meski rintangan sulit. Dhea lo sebagai sahabat gue, bisa kasih solusi ga?" tanya Imel membuat Dhea kebingungan.
Pasalnya ia juga mengalami berat masalah bersama suaminya dan istri sah suaminya itu.
Imel tidak tahu, jika dirinya saja sebagai istri simpanan yang masanya tiba, akan dibuang dan tak diakui.
__ADS_1
Tbc.