Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
SUAMI DINGIN


__ADS_3

"Rapikan dirimu dan cepat siapkan makanan! Aku sudah lapar!" kalimat terakhir Ramlan sebelum dia menutup pintu kamar Dhea.


"Huuuuh! Makanan?" Dhea menghembuskan napas panjang dan mengerjapkan matanya ketika pria yang baru saja menginterogasinya sudah keluar dari kamarnya.


'Mau buat makanan apa? Memangnya aku bisa memasak? Hah, merepotkan! Dia kaya, kenapa tak meminta chef menyiapkan makanan untuknya?' Dhea berbicara protes, memikirkan dapur dan masakan, sukses menambah kecemasannya, dan sambil berdecak Dhea berlari ke kamar mandi untuk memenuhi keinginannya di toilet, lalu membersihkan tubuhnya di bawah pancuran shower untuk menghilangkan semua rasa hangover nya.


Nguuuuuung


Dan terakhir, Dhea mengeringkan rambutnya dengan hair dryer setelah untaian membersihkan tubuhnya selesai.


"Aku tidak mungkin memakai celana itu lagi karena sudah kotor!" ucap Dhea yang melihat wardrobe kosong tanpa pakaian.


"Hah, aku ganti dengan yang kering dulu!"


Dhea bicara sambil melepaskan handuk basah dari tubuhnya, mengambil handuk kering dan melilitkannya lagi di tubuhnya. Dhea terpaksa meninggalkan walk in closet hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Bahkan dia tidak menyiapkan bathrobe di sini!" ujar Dhea lagi yang mengomel sebelum membuka pintu kamarnya dan turun ke lantai dasar.


"Permisi Tuan!"


"Makananku sudah siap?" tanya Ramlan yang mengalihkan matanya dari laptop dan menengok pada Dhea.


"Aku baru mau membuatkannya, Mas! Tapi kalau boleh jujur Aku ingin memberitahu Anda kalau aku tidak bisa memasak!"


"Aku hanya ingin makan, aku tidak peduli kau bisa masak atau tidak!"

__ADS_1


'Kalau begitu terima lah apapun yang aku masak nanti, awas saja kalau kau protes!' ujar hati Dhea yang tidak bisa menjawab apapun lagi, dan Ramlan pun sudah tidak lagi fokus kepadanya, pandangan matanya sudah menuju ke arah laptop.


'Waah, tak ada pria yang pernah memperlakukanku sedingin ini! Dia cuek sekali!' ujar Dhea tak menunggu Ramlan lagi, Dhea melangkah menjauh ke arah dapur, mengecek ada apa saja di refrigerator.


"Telur? aku bisa membuat telur mata sapi, kan! Kalau omelet selalu gosong soalnya! Sosis? aku bisa menggoreng dan memanggangnya! Kentang goreng? aku bisa menggorengnya! Ini sudah malam jadi tidak baik untuk minum kopi ataupun teh, jadi sebaiknya aku memberikannya jus, bukan begitu?" ucap Dhea menimbang apa yang ingin dibuatnya. Akhirnya tak menunggu lama, dia mencoba mengeluarkan bahan-bahan yang ingin digunakannya membuat menu yang bisa yang dipikirkannya dan mulai berkreasi.


"Permisi Mas, makanannya sudah siap!" ucap Dhea setelah tiga puluh menit dia bertarung di dapur.


"Aku harap kau tidak mengecewakanku!" Ramlan pun beranjak berdiri menuju ke meja makan.


"Kau tidak makan?" tanya Ramlan sambil mengambil alat makannya.


"Saya boleh duduk bersama dengan Anda?"


Ramlan tidak menjawab hanya langsung memotong makanannya.


"Saya akan bergabung dengan Anda, Mas!"


Dhea pun mengambil piringnya di island table, meletakkan di meja makan, melakukan yang diperintahkan Ramlan.


"Setiap pagi akan ada orang yang membersihkan apartemen ini! Aku sudah menjelaskan kepadamu bukan?"


"Sudah Mas." Dhea menganggukan kepalanya.


'Walaupun aku tak ingat semua yang diutarakannya, hihi!' bisik Dhea dalam hatinya.

__ADS_1


"Hmm ... Ada yang ingin kau tanyakan?"


"Lalu apakah mereka akan melihat saya tanpa pakaian?" Dhea menggunakan kesempatannya.


Ramlan menatap Dhea dengan senyum tipisnya, dia tidak menjawab dan kembali fokus pada makanannya.


"Buka handukmu!" justru itu yang diucapkan Ramlan setelah menyuap makanannya,


"Oh, handuk?"


Dhea menengok pada tubuhnya, dan tangannya melepaskan lilitan handuknya, lalu kembali duduk di hadapan Ramlan.


"Apa begini penampilan yang Anda suka, Mas?"


Dhea kembali bertanya, tapi Ramlan hanya meliriknya sedetik lalu kembali menyuap makanannya.


'Kenapa dia tidak pernah menjawab pertanyaanku sih? Dia boleh melontarkan pertanyaan tapi aku tidak boleh bertanya? Apa itu maksudnya?


Pria yang aneh! Baru kali ini aku harus melayani suami macam dia! Ah bukan, dia bukan suamiku. Mungkin dia menganggapku sebagai budaknya? Lihat saja, dia tak mengizinkan aku berpakaian!' ujar Dhea lagi sambil berdecak dalam hatinya, tapi Dhea tetap menjaga sikap di hadapan Ramlan, tak ingin mengganggu makan malam pria yang sudah memilikinya.


"Kau tahu alasanku kenapa malam ini menemuimu?"


Dhea menggeleng kepalanya. Karena ia juga tidak tahu, bahkan baru kemarin ia bertanya kenapa dia menikahi Dhea, tapi tidak bicara telah mempunyai istri. Hati Dhea sangat marah, terlebih bertemu pamannya mereka menjawab enteng, tak berperasaan.


"A- aku tidak tahy mas." menatap sendu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2