Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
YANG KEDUA


__ADS_3

Dhea menatap cermin, ia merasa perlu masuk ke dalam istri sah Ramlan. Seberusaha mungkin setelah Ramlan menikahinya, ia akan mendekati Zia. Ia tidak mau anaknya lahir di asuh oleh ibu yang berpenyakitan, salah satunya ia menjadi pengasuh anaknya kelak. Dan Zia harus menerima dirinya ibu pengganti karena dia tak bisa hamil, tapi Ramlan amat mencintainya.


'Sungguh kejam, dan benar ini adalah awal neraka yang diciptakan Ramlan.' batin Dhea.


Ramlan mendengus kasar. Air mukanya tetap terlihat datar, namun sorot matanya terasa menakutkan. “Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena mau menikahi perempuan sepertimu, Dhea. Jadi terima saja dengan hati lapang semua syarat yang kubuat dalam surat perjanjian itu.”


Tangan Dhea, terkepal di atas paha. Ia merutuki kebodohannya karena tidak teliti sebelum menandatangani surat perjanjian tersebut, yang menurutnya sangat tidak adil.


“Kenapa Anda tidak mengatakannya sejak awal?”


“Bodoh!” cibir Ramlan, “Seharusnya sejak awal kamu sudah tahu, menjadi ibu pengganti berarti kamu harus pergi meninggalkan anak yang kamu kandung setelah melahirkan.”


“Tapi seorang anak butuh kasih sayang dari ibunya!” timpal Dhea dengan cepat. Rasa sesak tiba-tiba mengimpit, membuat setiap tarikan napasnya terasa menyakitkan.


“Dia harus dibesarkan dengan penuh kasih sayang, bukan cuma dari ayahnya, tapi juga dari ibunya. Kenapa bisa Anda setega itu kepada anak sendiri?” tambah Dhea lagi.


Ramlan sempat terdiam. Sorot matanya yang semula datar, kini terlihat sulit diartikan saat menatap Dhea.


Namun detik berikutnya, Ramlan langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan air muka yang semakin mengeras, rahangnya tampak berkedut.


“Itu bukan urusanmu!” suara Ramlan terdengar dingin. “Pastikan saja rahimmu sehat agar bisa mengandung anakku,” katanya seraya melipat tangan kedalam saku celana.


“Setelah melahirkan, kamu akan terbebas dariku, tapi kamu juga harus pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanku dan anak itu. Tidak perlu khawatir soal uang, aku akan menempati janji, memberimu kompensasi dalam jumlah banyak sesuai yang tertera dalam surat perjanjian itu.”


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Ramlan langsung merampas semua berkas dari tangan Dhea. Tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk merebutnya kembali.


“Ingat, Dhea. Anak yang akan kamu kandung nanti sepenuhnya adalah milikku!” tegas Ramlan, “Kamu sama sekali tidak punya hak atas anak itu sedikit pun.”


Dhea pun termangu.

__ADS_1


Kepalan tangan Dhea terlihat bergetar hingga urat-uratnya tampak menonjol. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang terasa berkecamuk, hingga ia tidak sadar bahwa di ruangan itu hanya tinggal dirinya seorang.


Dhea nyaris tidak percaya di dunia ini ada pria sekejam dan seegois seperti Moza Ramlan. Bagaimana bisa pria itu membuat perjanjian yang sangat konyol?


Dalam surat perjanjian tersebut ada beberapa poin yang membuat leher Dhea terasa seperti dicekik.


Pertama, status pernikahan akan disembunyikan dari siapapun. Jika sampai orang lain tahu mengenai pernikahan mereka, maka Dhea adalah orang pertama yang akan disalahkan.


Kedua, Ramlan tidak terikat dengan pernikahan itu. Namun Dhea sebaliknya. Sebelum melahirkan, Dhea akan berada dalam pengawasan ketat.


Ketiga, pembuahan hanya akan dilakukan dengan berhubungan badan. Bukan inseminasi atau bayi tabung. Karena proses bayi tabung pernah dilakukan dan gagal saat itu.


Keempat, semua biaya pengobatan, kuliah kedua adik Dhea akan ditanggung oleh Ramlan. Selain itu, ia pun akan mendapat uang bulanan dan uang 10 milyar setelah melahirkan, juga tempat tinggal.


Kelima, Dhea dilarang menampakkan diri di hadapan Ramlan dan anaknya satu hari setelah melahirkan. Dhea tidak memiliki hak sedikit pun atas anak itu. Namun jika anak yang lahir adalah perempuan, maka Dhea harus mengandung lagi sampai mendapatkan anak laki-laki.


“Pria nggak punya hati,” gumam Dhea sambil menatap pintu yang sudah tertutup.


Umumnya Dhea ingat sebutan pelakor, pelakor sangat digilai oleh pria beristri. Tapi hal seperti Dhea, apakah termasuk. Kini Dhea rela mengorbankan masa mudanya dengan menikah dan memiliki anak demi kesembuhan salah satu adiknya yang sakit, dan Bagas yang menuju kuliah hingga tamat mendapatkan pekerjaan baik untuk hidupnya.


“Aku akan berusaha membuat pernikahan ini bertahan selamanya. Selain itu aku yakin suatu saat kamu akan menyukaiku, Tuan. Akan aku buat kamu jatuh cinta padaku,” gumam Dhea penuh percaya diri. Meski ia harus menjadi istri diatas penderitaan wanita lain, tapi Dhea merasakan sisi kebaikan Ramlan, jika dia tipe setia tidak mungkin dia melakukan hal ceroboh untuk mencetak anak dengan wanita lain.


'Ah, rasanya aku jahat. Bagaimana Mira dan Bagas tahu, jika kakaknya sebagai pelakor dan mencintai pria beristri karena satu kesalahan, semoga saja mereka tidak pernah tahu. Akan sakit hati mereka, jika ia mempunyai kakak sepertiku.' batin Dhea.


Orangtua Dhea, tidak pernah mengajarkan dirinya sebagai wanita perebut kebahagian wanita lain. Tapi kasus ini sama sama membutuhkan, aku akan mendampingi anakku sampai benar benar Zia istri sah Ramlan menerima anakku dengan lapang, dan dia dinyatakan sembuh dari bipolarnya. Karena Dhea takut, anaknya kelak menjadi sasaran amukan istri sah Ramlan.


"Ya, aku harus mendekati Zia. Setelah anak ini lahir, setidaknya menjadi pengasuh." lirih Dhea.


***

__ADS_1


Sore ini Dhea menghabiskan waktunya duduk di balkon kamar setelah melahap habis makan malamnya. Selera makannya memang hilang, tetapi Dhea tidak ingin menyakiti dirinya lebih banyak lagi dengan menyiksa perut sendiri.


Seseorang datang, mengetuk pintu.


Langkah Dhea seketika terhenti, matanya terpicing pada Sam. “Kenapa? Aku mau menemui Mira sendiri. Bukan mau kabur.”


“Tuan Ramlan akan datang ke sini sebentar lagi.”


Dhea menelan saliva dengan susah payah.


“Ma-mau apa?” tanyanya tergagap, kemudian berdehem untuk menormalkan suaranya. “Sampaikan sama dia, aku nggak akan kabur, jadi nggak perlu mengawasiku dengan datang ke sini. Aku ingin melihat adikku. Sam! setelah itu aku akan dilarang kan, setidaknya aku ingin menitipkan Mira pada Bagas. Bagas harus tahu, jika aku akan beralasan pergi keluar kota."


Sam mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas hitamnya. Kemudian menunjukkan dua buku nikah kepada Dhea. “Anda dan Tuan Ramlan sudah resmi menikah. Nona pasti mengerti untuk apa Tuan Ramlan datang menemuimu malam ini.”


Mata Dhea membeliak kaget sambil menatap buku nikah itu dengan tatapan tak percaya. Ia mengambil keduanya lalu membukanya satu persatu.


Ah, benar, Dhea nyaris lupa kalau hari ini mereka melangsungkan pernikahan namun tanpa kehadiran dirinya. Mereka memang sempat mendiskusikannya kemarin tentang prosedur pernikahan mereka ketika Dhea sudah dibawa pulang ke mansion. Sangat aneh pernikahan mereka memang benar sembunyi.


“Aku kira dia bercanda saat mengatakan akan menikah resmi secepat ini.”


“Tuan tidak pernah bercanda dengan ucapannya.” Sam, mengambil buku nikah milik Ramlan dari tangan Dhea. “Nona bisa menyimpan milik Anda, tapi jangan sampai buku itu diketahui oleh orang lain!” tegas Sam, “Saya pamit.” kembali Sam.


"Sam, tapi .."


"Biar saya akan jelaskan pada adik anda nona." ujar Sam, menutup pintu.


Dhea masih terperangah. Kekuasaan seperti apa yang dimiliki Ramlan, sampai-sampai dengan begitu mudahnya ia mendapatkan buku nikah?


Hm, Dhea jadi penasaran dengan kehidupan pria yang baru saja berstatus sebagai suaminya itu. Selain kejam, Ramlan pun sangat misterius, pikir Dhea. Setiap tatapan dan ekspresinya sulit sekali terbaca dan dipahami. Kedatangannya kadang sering membuatnya gila dan frustasi.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2