Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
MENOLONG ZIA


__ADS_3

Dhea merasakan sakit, ia kembali pulang setelah pertemuan terkahir dengan Ramlan. Tidak benar, ia seperti asing. Namun saat berada di mansion, ia bingung kenapa istri sah mas Ramlan tiba dirumahnya.


"Bu Zia." lirih Dhea, sehingga Zia menoleh dan senyum.


"Ah, kamu Dhea. Aku kemari, sedikit pening. Aku lupa, jika sepertinya suamiku punya kontrakan di rumah ini. Kamu penghuninya kan." ujar Zia.


"Penghuni kontrakan. Ah! iya benar, saya penyewanya. Ada apa ya?"


"Begini, saya kehabisan vitamin. Jadi karena saya harus rehat, jadi saya menunggu di teras ini. Menunggu asisten saya kembali."


"Begitukah, kalau begitu masuk saja!"


Entah dasar apa, Dhea merutug menambah masalah. Karena istri sah masuk ke dalam rumahnya. Hingga beberapa hal, ia lupa kala barang barang Ramlan ada di nakas ruang tamu.


"Ini, mirip buku suamiku, dan ini mirip sekali tulisannya. Boleh saya baca?"


"Ah! maaf bu. Ini privasi perusahaan, saya kan juga bekerja di salah satu anak perusahaan mas ..Ehm! Tuan Ramlan. Jadi terkadang saya meminta bantuan pak Sam, untuk menulisnya." rebut Dhea, karena itu adalah benar tulisan Ramlan soal perjanjian.


"Privasi. Baiklah, semoga kedepannya kita tidak bertemu dengan konflik berat ya! jika itu terjadi, aku tidak nyaman dan pasti akan menyingkirkan." senyum Zia sinis.


Sehingga asistennya pamit, Zia pun pergi. Sementara Dhea, ia mematung bagai empedu. Peringatan suami istri, benar benar membuat hidupnya terancam.


Beberapa Hari Kemudian.


Ramlan tak tahu entah apa yang membuat istrinya Zia marah, usai mendengar ucapan terakhir. Ia pergi ke tempat Dhea untuk menenangkan. Seakan-akan perempuan itu tidak membutuhkan dirinya dan malah mengusirnya.


Took! Took.


“Ada apa? Apa ada sesuatu yang tertinggal?” tanya Dhea dengan ekspresi penuh tanya.


Ramlan tak menjawab. Ia melangkah mendekati Dhea dan mengamati pergelangan kaki perempuan itu baik-baik yang tampak sedikit membengkak.


Tanpa sadar, tangan Ramlan kembali terkepal kuat. Ia marah, tentu saja. Hidup Dhea sudah ia beli selama satu tahun ke depan, setidaknya sampai melahirkan anak laki-laki untuknya. Dhea adalah miliknya. Dan Ramlan tidak suka jika ada orang lain yang melukainya, selain dirinya sendiri. Hanya Ramlan yang boleh melakukan hal itu kepada Dhea, pikirnya.


“Aku tidak percaya pada ucapanmu.”


“Huh? Ucapan saya yang mana?” Dhea mengernyit bingung.

__ADS_1


“Semuanya,” jawab Ramlan sembari menaikkan pandangannya dari kaki ke arah mata Dhea.


“Aku tidak mempercayai semua kata-katamu. Aku juga tidak percaya pada anak buahku, karena mereka pernah kecolongan saat kamu mencoba kabur.”


‘Kalau nggak percaya kenapa menyuruh mereka mengawasi aku di sini?’ gerutu Dhea, tentu saja dalam hati. Akan jadi masalah besar kalau sampai ia menyuarakannya di depan Ramlan.


“Jadi aku akan tetap diam di sini, sampai benar-benar memastikan kamu tidak akan kabur.”


“Baiklah.” Dhea mengangguk.


“Saya nggak akan melarang, tapi pastikan Mas Ramlan nggak bosan selama menunggu.”


"Apa..?" teriak spontan.


"Maksud saya, Tuan." Dhea membenarkan.


“Jangan mengaturku!” ketus Ramlan, kemudian duduk di sebuah kursi tepat di samping Dhea. Karena hanya itu kursi yang kosong di sana.


Dhea ikut duduk di sampingnya, ia menoleh, tatapannya menyusuri sosok pria itu yang duduk dengan tegak sambil bersedekap. Otot di lengannya tercetak dengan jelas.


Wah, Dhea heran, apa Ramlan merasa nyaman dengan posisinya yang terlihat kaku itu? Dalam diamnya saja Ramlan terlihat angkuh dan arogan. Dhea menahan diri untuk tidak bersuara dan mengomentari apapun, atau pria itu akan murka karena dirinya terlalu berisik.


Dhea menguap, ia terlalu bosan dan akhirnya mengantuk. Kini ditatapnya Ramlan dengan tatapan penuh tanya.


“Berhenti menatapku! Aku tidak suka dengan tatapanmu,” ucap Ramlan dingin.


Dhea kembali duduk di kursinya. Berkali-kali ia menguap karena semalam tidurnya tidak berkualitas. Terlebih ingin mengatakan soal istri sah Ramlan mengawasinya, tapi ia tak berani bicara.


Dhea menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap bersabar. "Atas perbuatan saya di kantor siang itu. Saya benar-benar nggak tahu kalau Amroza Raden Moza Ram itu Anda," ucap Dhea penuh penyesalan, karena ia tahunya Moza Ramlan dengan nama singkat.


Ramlan sempat terdiam sambil menatap Dhea dengan tatapan sulit diartikan. Kenapa perempuan itu mudah sekali mengucapkan kata maaf? Ramlan bertanya-tanya dalam hati, karena istrinya Zia tidak selembut dan setakut Dhea saat bersamanya.


"Kenapa, anda melihatku seperti itu?" Mata Dhea mengerjap lembut saat menatap Ramlan. Mereka sempat beradu pandang selama beberapa detik, sebelum kemudian Ramlan membuang muka dengan ekspresi mengeras.


"Bukan urusanmu!"


Dhea akhirnya mengangguk. Kalau Ramlan sudah seperti itu berarti Dhea tak berhak tahu, pikirnya. Dhea kembali meluruskan pandangan dan matanya semakin terasa mengantuk. Kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk bantal.

__ADS_1


"Bisakah, saya memanggil anda Mas. Bukan Tuan, jika di rumah ini?"


"Mas, aneh. Tapi terserahlah." lirih Ramlan, kembali asing.


"Mas," panggil Dhea beberapa saat kemudian.


Ramlan tidak menjawab. Namun Dhea tetap melanjutkan kalimatnya, “Apa yang membuat Anda tidak percaya dengan ucapan saya?”


Mulut Ramlan, tetap terkatup rapat. Seolah-olah pertanyaan Dhea hanya angin lalu.


“Dan, apa yang membuat Anda tidak percaya bahwa saya sebagai seorang istri tidak akan kabur dari Anda, dari pernikahan ini?”


“Karena hal itu sangat mustahil,” timpal Ramlan tiba-tiba, masih dengan ekspresinya yang datar dan dingin.


“Perempuan kalau sudah diberi apa yang mereka mau, uang atau apapun itu, mereka pasti akan pergi. Apalagi wanita miskin sepertimu.” ujar Ramlan.


Dhea terkekeh-kekeh. Ramlan merasa heran karena Dhea tidak marah sama sekali dengan hinaan yang ia lontarkan.


“Anda selalu menghina saya. Apa Anda tidak takut anakmu akan kecewa karena ibunya selalu di hina?” mata Dhea memicing ke arah Ramlan.


Rahang pria itu tampak berkedut dan mengeras. “Dia, tidak akan pernah tahu bahwa wanita sepertimu adalah orang yang melahirkannya,” desis Ramlan tanpa perasaan.


Dhea pun kembali sabar dan menerima perkataan Ramlan lebih sabar lagi.


Namun detik berikutnya, Ramlan sempat terhenyak dan ada setitik rasa bersalah di hatinya begitu melihat air muka Dhea tiba-tiba tampak sendu. Hanya sesaat. Sebelum akhirnya Dhea kembali terkekeh kecil, entah apa maksudnya. Apa wanita itu tidak sakit hati? pikir Ramlan.


“Apa menurut Anda semua wanita seperti itu? Hanya memanfaatkan laki-laki kemudian pergi?”


“Hanya satu orang yang tidak begitu.”


“Siapa?”


“Bukan urusanmu.”


Dhea mengangguk. Ia yakin satu orang itu bukan dirinya, karena Ramlan sama sekali tidak mempercayainya. Ia hanya percaya Zia istri sah yang diakuinya, dan keluarganya. Jadi biarkan saja, rasa sakit itu ia alami seorang diri.


“Tapi Anda salah, Mas. Tidak semua wanita seperti yang anda kira.” lirih Dhea, ia pamit pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Sementara itu, Ramlan menatap dan mengekor Dhea, yang terlihat sedih.


Tbc.


__ADS_2