Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
TETAP ISTRI SIMPANAN


__ADS_3

Sebelum mengetuk pintu ruangan Ramlan, Dhea mengambil nafas lalu membuangnya, entah kenapa ia merasa takut untuk masuk kedalam ruangannya.


Namun Dhea tidak bisa lagi membuang waktu lama untuk masuk kedalam, ia pun memutuskan untuk masuk kedalam.


Sedangkan Ramlan yang sedari tadi telah menunggu langsung menghela nafasnya setelah melihat kehadiran Dhea disini.


Kenapa wanita itu sangat lama, padahal jarak dari ruangannya menuju kesini tidak jauh, apa yang membuat dirinya membuang waktu sangat banyak? apa dia terlalu banyak senang ditemani Sam, asistenku dikampungnya.


Dhea melangkah perlahan-lahan mendekat ke arah Ramlan yang kini menatap dirinya.


"Iya Mas Ramlan, ada apa memanggil saya kemari?" ucap Dhea.


"Harus ya, saya hubungi dulu baru datang kemari?" ucap Ramlan datar.


"Kemarin bukannya saya sudah mengatakan setelah datang kekantor, setelah selesai dikampung Sam. Kamu untuk langsung menemui saya." ucap Ramlan yang terdengar sekali kesal dengan Dhea.


Ya Tuhan Dhea baru mengingatnya. "M-maaf tapi saya benar-benar lupa."


Bagaimana bisa perkataannya di lupakan begitu saja.


Ramlan membuat tatapannya ke arah lain, lalu kembali menghela nafasnya. "Hari ini saya akan membicarakan masalah kontrak pernikahan kita di depan keluarga Moza, agar anak itu lahir terdaftar dikeluargaku."


Dhea hanya mengangguk kikuk, mengapa terdengar sangat aneh membahas mengenai masalah kontrak pernikahan.


"Mendekat." perintah Ramlan.


Dengan perlahan Dhea mendekat ke arah Ramlan, lalu mulai menduduki kursi yang masih kosong dihadapan Ramlan, suami orang yang ia rebut kebahagiannya.


"Hari ini saya akan membahas mengenai kontrak pernikahan dan penanda tanganan kontrak." jelas Ramlan.


"Pernikahan ini hanya memiliki jangka waktu 6 bulan lagi, setelah semua masalah meredam dan penandatanganan kontrak terjadi, pernikahan ini akan berakhir, kau pahamkan?"


Dhea menganggukkan kepalanya, 6 bulan? Tidak masalah yang terpenting pengobatan adiknya terbayarkan.


Ia berharap Tuhan tidak murka kepadanya, Tuhan pasti tau dirinya melakukan semua ini untuk pengobatan kedua adiknya.


"Kau tidak perlu khawatir untuk masalah uang, semua akan dicantumkan didalam kesepakatan perjanjian pernikahan kontrak."


"Saya hanya membutuhkan waktu 6 bulan, bahkan bila masalah ini mereda dengan cepat pernikahan ini bisa langsung diakhiri." ucap Ramlan kembali.


Cepat sekali pria dihadapannya itu mengambil keputusan, kalau memang ia bisa mengatasi semua itu dengan cepat lalu mengapa ia harus melakukan pernikahan kontrak ini? Kenapa tidak mengatakan saja didepan media bahwa ia telah menikah lagi dan meminta seorang model untuk foto bersamanya menggunakan pakaian pernikahan?

__ADS_1


Tapi bila pria itu tidak menawarkan hal ini padanya, ia pasti tengah mati-matian kesana kemari mencari pinjaman untuk biaya pengobatan adiknya.


Intinya pernikahan yang telah terjadi bukan hanya karena ingin menepiskan berita mengenai Ramlan, tapi juga merupakan salah satu Ramlan agar tidak berpisah dari Zia istri yang mengidap bipolarnya.


Ramlan, sejenak membuka laci kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah map cokelat Ramlan ambil lalu ia letakkan diatas meja, dimana didalam map cokelat tersebut terdapat perjanjian kontrak yang telah ia persiapkan.


"6 Bulan, setelah itu kau bisa menjalani kehidupannu sendiri tanpa melihat bagaimana rupa anak itu lahir, hanya Zia yang bisa menjadi ibu kandungnya."


"Untuk masalah Daddyku, kau tidak perlu khawatir, ia pasti tidak mencampuri masalah saya lebih dalam, ketika saya telah memutuskan sesuatu."


Yang dimaksud Ramlan adalah perpisahan mereka nantinya, Ramlan sudah menjamin Daddynya tidak akan ikut campur terlalu banyak kedalam masalahnya.


Ramlan sudah bersemangat mengeluarkan isi berkas dan sudah tidak sabar untuk memulai perjanjian, namun Ramlan mengurungkan niatnya saat sebuah panggilan masuk diponselnya terdengar.


"Daddy?" gumam Ramlan pelan saat tau yakni Moza, yang menelepon dirinya.


Ramlan pun mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Sekarang datang ke rumah Daddy bersama dengan menantuku, Daddy ingin bicara."


Ramlan mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba sekali Daddynya itu meminta dirinya untuk datang dan berbicara dengannya.


"Sekarang." Perintah Moza yang tidak bisa di ganggu gugat bahkan ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Ramlan kembali menghela nafasnya dengan kasar, untuk apa Daddynya meminta ia dan Dhea menemuinya? sejenak ia menatap Dhea lalu memasukkan kembali map cokelat yang berisi kontrak pernikahan kedalam laci.


"Nanti kita bicarakan lagi masalah ini, saya harus pergi." ucap Ramlan sembari bangkit dari kursinya.


Ramlan telah memutuskan akan menemui Daddynya seorang diri, karena bila Dhea ikut dengannya, bagaimana bila banyak pasang mata yang memperhatikan mereka lalu pernikahan kontraknya dengan Dhea akan terbongkar? Tidak ada yang boleh mengetahui hal ini.


Ramlan pun benar-benar memutuskan pergi, bahkan ia meninggalkan Dhea seorang diri didalam ruangannya ini.


Dhea hanya bisa menyaksikan Boss yakni suami rahasianya itu pergi meninggalkannya seorang diri disini, ia pun pada akhirnya memilih untuk pergi dari ruangan Ramlan dan kembali ke ruangannya sendiri.


***


Ramlan membuka pintu ruangan kerja Daddynya yang berada dirumahnya.


Aura mencekam pun bisa langsung Ramlan rasakan dari ruangan Daddynya.


"Ada apa Daddy meminta Ramlan kemari?" Tanya Ramlan yang langsung to the point sembari mendekat kearah Daddynya.

__ADS_1


Sepanjang Ramlan melangkah tatapan Daddynya, hanya mengarah ke arah dirinya hingga Ramlan duduk dihadapannya. Daddynya itu masih belum mengalihkan tatapannya.


"Menantuku dimana?"


Moza langsung menanyakan keberadaan Dhea, yang tidak terlihat batang hidungnya disini.


"Daddy mengatakan agar kau membawa menantuku tapi kenapa kau tidak membawanya kemari?"


Ramlan menghela nafasnya pelan, "Ramlan tidak mengajak Dhea, karena Ramlan kasihan padanya, acara kemarin terlalu melelahkan untuknya, jadi Ramlan meminta Dhea untuk beristirahat dirumah menjaga kehamilannya saja." bohong Ramlan.


Melelahkan? Sebuah senyum tipis pun Moza perlihatkan, aura mencekam diruangan ini pun perlahan menghilang.


"Maksudnya acara pernikahan itu cukup lama dan itu pasti melelahkan untuk Dhea, jadi Ramlan meminta Dhea untuk tetap berada dirumah untuk beberapa hari. Lagi pula istri sah Ramlan hanya Zia, dia hanya ada karena anak itu." ucap Ramlan, memperjelas ucapannya.


Saat ia merasa pasti Daddynya mensalah artikan perkataannya sebelumnya.


Moza hanya menganggukan kepalanya saja dengan bibir yang masih tersenyum, senyuman yang sudah pasti membuat Ramlan tidak nyaman karena ia yakin pasti Daddynya telah mengiranya ialah yang telah membuat Dhea kelelahan.


"Jadi apa yang membuat Daddy memintaku untuk kemari?" Ramlan, kembali ke topik utama menanyakan mengapa Daddynya mengundangnya kerumahnya ini, mengalihkan pertanyaan yang benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Ramlan hanya memperhatikan Daddynya, yang kini tengah mengambil sesuatu dari dalam laci.


Dua buah kertas Moza letakkan diatas meja kerjanya, yang pastinya kertas itu bukan kertas biasa melainkan dua buah tiket.


"Hadiah dari Daddy untukmu dan juga menantuku Dhea yang berhasil."


Ramlan paham kemana arah tujuan Daddynya itu dengan tiket yang berada diatas meja tersebut.


"Tiket honeymoon kalian berdua." Lanjut Moza kembali.


Ramlan sudah bisa menduga, ia pun mengambil tiket tersebut lalu membaca kemana tempat tujuan tiket tersebut, dan namanya serta Dhea tertera.


Venesia lah kota tujuan pilihan Daddynya, kota yang berada di Italia itu merupakan salah satu tempat destinasi pilihan pasangan baru untuk honyemoon yang dipilih khusus oleh Moza untuk Putranya dan Menantunya yang baginya Dhea, hanya istri simpanan, dan berkahir akan pergi bagai angin.


"Honyemoon? Ini hanyalah pernikahan kontrak bagi aku dan Dhea. Daddy lupa?"


"Dhea akan tetap menjadi keluarga Moza. Lagi pula Zia, istrimu itu tidak bisa hamil. Bipolarnya tidak akan hilang. Bersikaplah adil Ramlan! sebagai penerus, generasi keturunanmu penting!" ujar tuan Moza.


"Apa.. ini pilihan, atau ancaman Daddy?"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2