Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
Bab 48


__ADS_3

Teng ....


Tepat jam 12.00 malam, suami istri ini juga baru saja terlelap.


Tak! Tak!


Suara seperti batu yang di lemparkan ke jendela, Lily langsung terbangun karena suara tersebut begitu nyaring hingga membuatnya terkejut.


“Sayang, bangun. Aku mendengar suara,” ujar Lily membangunkan Andre dengan menggoyangkan lengan suaminya dengan kuat.


Andre langsung duduk sembari mengusap kedua matanya yang masih terasa lengket.


Tak ....


Batu kembali di lempar oleh oknum yang tidak di kenal, kali ini batu tersebut lebih besar. Namun, tidak mampu memecahkan dinding kaca tersebut.


“Kamu tetap disini, biarkan lampunya mati.” Andre perlahan melangkah dengan merangkak, ia hendak mengintip. Namun, sialnya tidak terlihat sama sekali dari kamarnya.


“Kita turun,” ujar Andre menarik pelan tangan Lily untuk menemui pamannya yang ternyata semalam menginap di rumahnya.


Karena mendapat ancaman, pamannya sedikit cemas dengan mereka berdua.


Tok ... Tok ...


“Paman,” panggil Andre sembari mengetik pintu dengan tidak sabar.


Ceklek ...


“Iya, Andre. Ada apa?” tanya pamannya dengan suara parau ciri khas bangun tidur.


“Paman, sepertinya orang sama kembali berulah lagi. Sepertinya ada yang melempar batu ke kamar kami, tapi aku tidak melihat siapa dia.”


Paman Ridwan mengangguk.


Ia mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di nakas, lalu menghubungi seseorang.


Paman Ridwan mengangguk saat berbicara pada seseorang tersebut.


“Kita tunggu sebentar. Aku sudah meminta anak buahku untuk berjaga di luar, mereka sengaja membiarkan pelaku tersebut. Karena mereka sudah masuk jebakan, karena pelakunya lebih dari satu orang.”


Andre mengangguk mengerti.


“Siapa kira-kira mereka? Apa yang mereka dapat dengan mengganggu kita seperti ini?” tanya Lily terlihat berpikir keras.


Mereka saat ini tengah duduk di ruang tengah, menunggu kabar dari anak buah paman Ridwan tang bertugas menjaga mereka di luar rumah.


Ting ....


Pesan masuk ke ponsel milik paman.


“Bos, pelakunya sudah kami tangkap dan mereka berjumlah tiga orang.”


“Bawa masuk,” balas pamannya.


“Andre, buka pintunya. Pelakunya sudah tertangkap,” perintah pamannya.


Dengan gerak cepat, Andre langsung membuka pintu. Terlihat anak buah dari pamannya membawa tiga orang pelaku yang di duga melempar batu tadi, dengan wajah yang masih tertutup dengan topeng.


Mereka masuk ke dalam, lalu pelaku tersebut di dorong hingga tersungkur k lantai, tepat di depan paman Ridwan.


“Buka topengnya,” ujar paman dengan nada suara yang terdengar sangat tajam.


Pelaku tersebut tidak berdaya dan pasrah saja, apalagi tangan mereka ter borgol ke belakang hingga mereka tidak bisa berkutik.


Pelaku pertama seorang pria bertato di seluruh wajahnya, dari wajahnya terlihat jika pria itu berasal dari kota itu.


Yang kedua, sekarang pria juga. Tapi, pria ini terlihat jika dia berasal dari tanah air Indonesia.


Yang ketiga, seorang perempuan. Sama seperti yang pertama kaki, lengan dan wajahnya di penuhi dengan tato juga.

__ADS_1


“Siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian?” tanya pamannya terlihat murka.


“Jawab!” sentaknya.


Mereka masih bungkam, paman Ridwan mengambul senjata api dari anak buahnya dan meletakkannya di kepala wanita itu.


Mereka berdua terlihat panik, karena melihat wanita yang bersama mereka telah ditodongkan senjata api.


“Kami akan memberitahu siapa yang membayar kami, tolong jauhkan senjata itu. Karena dia sedang hamil,” sela pria bertato itu dalam bahasa Inggris.


“Hm ... oke baik. Bagaimana kalau denganmu?!” ujar paman Ridwan meletakkan kembali ke pria itu.


“Kami di suruh oleh seseorang. Kami di bayar, kami sangat tergiur karena uang tersebut bisa kami pergunakan untuk biaya istriku melahirkan.” Menunjuk wanita yang ada di sampingnya.


Semua orang menatap wanita itu, karena ia berpakaian besar hingga tidak melihat jika wanita itu sedang hamil.


“Periksa,” ucap pamannya.


“Biar aku saja, karena dia seorang perempuan.” Lily langsung melangkah mendekati wanita itu, menarik pelan untuk berdiri agar sejajar dengannya.


Lily mulia meraba perutnya, ia merasa pria itu tidak berbohong. Karena memang benar adanya jika wanita itu yang di duga istrinya kini tengah mengandung, Lily merasakan tendangan bayi tersebut.


“Berapa bulan?” tanya Lily.


Karena mereka berada di negeri orang, setiap harinya mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris.


“Delapan bulan,” sahutnya.


Lily mengangguk pada pamannya.


“Kami bisa memberimu uang lebih dari yang orang itu berikan pada kalian, asalkan kamu mau bekerja sama untuk kami. Pekerjaannya cukup mudah, kalian hanya perlu membawanya kalian itu kemari. Setelah itu tugas kalian selesai,” ujar paman Ridwan memberi usul.


Mereka langsung mengangguk, karena memang saat ini dia lagi butuh uang. Sehingga tanpa ragu untuk menerima tawaran tersebut.


“Hanya kalian berdua!” menunjuk dua pria itu.


Mereka tampak berpikir.


“Tunggu apa lagi?!” kesal paman Ridwan, menurutnya mereka terlalu lambat untuk berpikir.


Dengan tekanan dari paman, akhirnya mereka mengangguk.


“Bagus. Bawa mereka berdua dan awasi dari kejauhan, jika mereka berkhianat. Wanita yang ada di rumah ini yang menjadi korbannya!” ancam pamannya.


Membuat mereka bertiga yang mendengarnya menelan salivanya dengan kasar.


“Cepat! Tunggu apa lagi?!” bentak paman Ridwan.


Mereka langsung bergegas keluar dari rumah itu beserta anak buahnya lima orang.


Sementara wanita itu menatap kepergian suaminya dan rekannya yang pergi, terlihat dirinya sangat berharap mereka kembali untuk menjemputnya.


“Kemari, duduk di sofa saja.” Lily mengajak wanita itu.


Lily meminta izin pada pamannya untuk membuka ikatan tali dari tangan wanita itu.


“Ini minumlah,” ujarnya memberikan air padanya.


Terlihat ia sangat kehausan, Lily tidak tega melihatnya apalagi dengan perut yang sudah besar.


Andre dan paman menggelengkan kepalanya melihat Lily yang terlihat begitu perhatian dengan penjahat. Mungkin karena dia wanita yang semoga mengandung, sehingga hati Lily terenyuh apalagi setelah mendengar jika dirinya terpaksa karena untuk biaya persalinan.


“Istrimu itu punya hati seperti malaikat, lihat dia malah bicara asyik dengan penjahat itu!”


Andre hanya terkekeh mendengarnya.


Satu jam masih belum ada kabar dari anak buahnya, mereka masih mengintai dari kejauhan.


“Ck ... lama sekali! Awas saja jika mereka berbohong!” geram pamannya dengan mengepal tangan kuat.

__ADS_1


Dua jam menunggu, akhirnya anak buahnya menghubungi dirinya untuk mengatakan jika dalang di balik pelemparan batu itu sudah berada dengan mereka.


“Kerja bagus! Cepat bawa dia kemari!” perintah paman Ridwan.


Setelah jam lagi menunggu, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.


Andre segera membuka pintu, terlihat anak buahnya membawa pelaku tersebut ternyata seorang wanita.


Namun Andre masih belum bisa melihat wajahnya, karena di tutup oleh mereka dengan kain.


Mereka melepaskan kain penutup wajah wanita yang menjadi otak dari semuanya, bahkan Lily berdiri di belakang suaminya sedikit mengintip.


Alangkah terkejutnya mereka, ternyata wanita itulah mantan kekasih Andre yaitu Laura.


“kamu lagi!” menunjuk Laura dengan geram.


Ia tidak menyangka setelah dua tahun lamanya Laura masih mengganggu mereka.


“Apa kamu sudah gila?! Berani sekali dirimu mengusik kehidupan kami! Rupanya kamu ingin mengantar nyawamu kemari!” geram Andre langsung mencekik leher Laura, hingga membuatnya kesulitan bernapas.


“Andre! Lepaskan, aku mau membunuhnya?!” kesal pamannya melihat tindakan Andre yang menurutnya terlalu gegabah.


“Sayang. Lepaskan dia,” ujar Lily mencoba menarik tangan suaminya dari leher Laura.


Andre langsung melepaskannya, terlihat Laura terbatuk-batuk sembari memegang lehernya yang terasa sakit.


“Apa maumu? Kenapa kamu mengganggu keponakanku? Aku sangat kenal dengan orang tuamu, aku pastikan bisnis kalian hancur besok!” ancam paman Ridwan pada Laura.


“Jangan Paman. Aku mohon, jangan lakukan ini. Aku yang bersalah, hukum aku saja Paman!” ujar Laura memohon.


Ia juga tidak menyangka jika tindakannya ini lebih cepat di ketahui oleh Andre dan pamannya.


“Tidak! Ini sudah keterlaluan, kamu sudah mengusik kehidupan kami. Maka dari itu orang tuamu yang akan ikut menanggungnya, sebelumnya kamu harus berpikir dulu sebelum bertindak!” geram paman Ridwan, ia menatap Laura dengan tajam.


“Salahkan juga keponakan Paman, dia yang memutuskan hubungan kami tanpa sebab demi membela wanita itu!” menunjuk ke arah Lily.


“Heh! Berani sekali kamu menyalahkan istriku! Kamu cari mati?!” geramnya hendak menampar Laura lagi.


Beruntung Lily dan salah satu dari anak buahnya menahan Andre, agar tidak kasar dengan wanita.


Laura tampak terkejut, karena baru mengetahui jika Andre dan Lily sudah menikah.


“Hah, istri?” gumam Laura.


Ia terduduk lemas, harapan untuk memiliki Andre sudah pupus.


Tiga pelaku yang tadi, tampak bingung. Karena mereka tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.


“Kenapa? Kamu baru tahu bukan, jika kami sudah menikah! Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kematian. Apalagi wanita sepertimu!” menatap rendah Laura.


“Kita tidak bisa main hakim sendiri. Bawa saja di ke kantor polisi, yang penting kita tahu dalang di baliknya. Bebaskan mereka bertiga dan ancam saja jika mereka berani melakukan kejahatan lagi, dan beri mereka uang sesuai perjanjian tadi.” Perintah paman pada asistennya yang ternyata juga menyusul mereka ke rumah Andre.


“Ayo cepat berdiri!” ujar salah satu anak buahnya pada Laura yang tengah terduduk lemas, menarik tangan Laura paksa dan menyeretnya ke mobil mereka.


Paman Ridwan tidak mau menunggu lagi, karena sudah muak dengan kelakuan Laura yang terus menerus mengganggu keponakan kesayangannya.


Karena Andre sejak di tinggal oleh kedua orang tuanya, dirinya yang berperan besar untuk menjaga Andre, termasuk menjaga dirinya dari orang jahat.


“Kalian tenang sekarang, tidak ada lagi yang mengganggu kalian lagi. Laura biar Paman yang mengurusnya, Paman ingin memberinya efek jera!” memegang bahu Andre.


“Iya, Paman. Berhati-hati, Laura bukan wanita sembarangan.”


“Iya, aku tahu itu. Kalau tidak ada uang, tidak akan ada yang berpihak padanya. Paman akan memberi pelajaran padanya dan pada orang tuannya, mungkin itu yang memberi efek jera pada mereka menjadi jatuh miskin!” geram pamannya, karena membiarkan anaknya berbuat kejahatan.


Tidak ada korban dari tindakan Laura, niatnya awal hanya ingin menakuti Lily saja, karena ia melihat Andre dan Lily semakin dekat tanpa ia ketahui jika mereka ternyata sudah menikah di luar negeri.


Setelah mengatakan itu, paman berpamitan pulang, apalagi jam sudah menunjukkan hampir pagi.


***

__ADS_1


__ADS_2