Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
HANYA CADANGAN


__ADS_3

Dhea berjalan keluar dari rumah, di mana saat itu aku hanya memakai pakaian tidur yang tipis diterpa angin malam. Aku begitu benci, ternyata semua yang diucapkan Ramlan sebelumnya padaku hanyalah sebuah kebohongan.


Dhea berjalan tak tentu arah. Bahkan aku masih memakai sendal jepit yang aku pakai di dalam rumahku. Saking aku muak, dan kesal karena ditipu oleh pria pembohong itu. Aku memilih untuk segera pergi agar tidak lama-lama melihat wajah sok baik itu.


"Dari mana kamu, semalam ini?" ujar Ramlan.


"Membeli buah." jelas Dhea, dan sang bibi segera pamit, mengambil kantong belanjaan majikannya.


"Saya permisi dulu Tuan."


Ramlan meminta Dhea segera masuk ke kamar, Dhea merasa gugup karena Ramlan tiba tiba manis. Dan sempat memegang perutnya, terlihat dari jendela besar terbuka di rumah sebelahnya. Dhea takut Zia menatapnya.


'Jika aku jadi istri sah, aku pasti tidak akan sanggup suamiku menikah dengan rumah yang berdempetan seperti ini.' batin Dhea.


Hingga malam itu terjadi, Ramlan memperlakukannya manis. Seolah dibuai, Dhea hanyut tak bisa berkutik. Bagaimanapun ia statusnya adalah istrinya. Meski istri kedua sementara, sampai ia melahirkan.


Dhea pun lemas, setelah disampingnya pria iblis yang berada dikantor itu telah terlelap, tapi ketika dirumah sangat berbeda drastis. Hanya bisa menatap wajah pria itu dari samping, dan Dhea mengelus perutnya. Andai saja waktu lebih cepat bertemu, dan ia terlahir dari keluarga kaya.


Dhea pun segera keluar rumah, berusaha berjalan mencari angin. Meninggalkan Ramlan di kamarnya.


Malam semakin larut. Aku mungkin sudah gila. Aku berjalan hampir satu jam, tanpa membawa uang atau barang berharga apapun. Yang paling membuatku semakin jengkel, kenapa langkah kakiku mengarah ke rumah Sam? Apa aku sudah putus asa hingga aku mencari dia di saat aku dikecewakan oleh Ramlan?


Tapi setidaknya Sam, tidak pernah berbohong dalam hal apapun. Dia bahkan jujur padaku jika dia tidak bisa menikahiku karena statusnya. Dhea sadar selama ini, Sam sangat perhatian padanya selalu dan membantunya.


Tiba-tiba saat aku sedang memandangi kamar Sam, hujan deras membasahi bumi. Baru berdiri selama beberapa menit, bajuku sudah basah kuyup. Aku menggigil sampai jadi bodoh. Dalam benakku aku terus menatap ke arah kamar Sam, berharap dia akan tahu jika aku ada di depan rumahnya dan kehujanan di sini menunggunya, karena hanya Sam yang Dhea tahu tempat ia berkeluh kesah.

__ADS_1


"Jika kamu benar-benar sadar dengan keberadaanku di sini, dan membawakan payung untukku. Aku akan memaafkanmu, dan mau kembali menjalin hubungan denganmu lagi. Tapi jika kamu tidak sadar keberadaanku di sini selama satu jam, aku anggap kamu benar-benar bukan jodohku. Aku akan segera melupakanmu, dan menjauh darimu selamanya," ucap Dhea dengan wajah harap harap cemas.


Hampir 15 menit berlalu, tubuhku sudah menggigil kedinginan. Tapi Sam tak kunjung menyadari keberadaanku. Apa aku memang benar-benar harus melupakan dia juga? Batinku merasa kecewa dengan kenyataan kalau pada akhirnya aku sendirian lagi, setelah putus kontrak dengan Ramlan, maka Sam juga akan menghilang.


Sudah setengah jam berlalu, dan aku mulai menyerah. Aku melangkahkan kakiku berjalan pergi menjauh dari rumah Sam. Namun tiba-tiba, suara teriakan keras di tengah hujan, membuat aku menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu sedang apa? Mau mati kedinginan di tengah hujan?" tanya Ramlan menatap tajam dari pagar rumahnya sambil membawa payung di tangannya.


Aku terkejut, tapi juga lega. Ternyata Ramlan yang datang dan mengetahui tentang keberadaanku.


Saat Ramlan berjalan mendekat, aku langsung memeluk tubuh Ramlan. Aku menangis sambil mempererat pelukanku di tubuhnya, berusaha Ramlan tidak curiga jika aku ingin menemui Sam.


Tentu saat itu Ramlan heran, kenapa diriku tiba-tiba datang dan langsung memeluk dia. Aku merasa tidak punya arah tujuan. Langkah kakiku bahkan melangkah ke arah rumah lagi, menandakan hanya Sam, orang yang bisa kuandalkan di saat aku terpuruk seperti ini. Akan tetapi ia bingung untuk menempatkan diri.


"Sudah basah kuyup begini. Kenapa tidak menekan bel? Mana pakai baju tidur tipis keluar rumah. Kamu lihat, pakaian dalammu transparan menerawang. Bagaimana jika ada pria lain yang melihat? Kamu mau pamer pada mereka jika bentuk tubuhmu bagus?" gerutunya sambil membalut tubuhku dengan handuk yang dibawa di tangannya.


Aku tersenyum, walaupun dia memarahiku, tapi terlihat dia begitu perduli padaku. Dia membawaku masuk ke dalam rumah, dan menyiapkan air hangat untuk aku mandi.


"Mandi dulu, jangan sampai masuk angin!" ucapnya sambil memberikan pakaian ganti untukku.


Aku pun mandi, dan mengganti pakaianku yang basah. Aku menatap Ramlan sedang memasak, dan dia juga memberikan segelas susu hangat untukku. Entah angin apa, pria iblis ini manis dan Sam seolah tak nampak sedang menjauhinya. Atau ia tahu, jika dirumah ada Ramlan.


"Minum ini dulu! Aku sedang buat sup ayam, perkedel, dan cumi asam manis. Kamu tunggu di meja makan, habiskan susunya. Aku akan siapkan semuanya secepat mungkin. Oke!" ucap Ramlan sambil tersenyum dan berjalan menuju dapur dengan sangat antusias memasak makanan untukku.


Aku baru melihat sosok dia yang seperti ini. Hangat, baik, dan berbeda dengan Ramlan yang biasanya selalu merendahkan aku.

__ADS_1


Apakah dia sudah berubah? Atau inilah hatinya dan sifat dia yang sesungguhnya. Terlihat dingin, acuh, arogan di luar, tapi begitu hangat di dalam.


Setengah jam kemudian, makanan disiapkan di meja makan. Ramlan memberikan piring berisi nasi padaku. Dia juga menyendok setiap menu masakan yang dia buat di dalam piringku. Apakah dia sungguh ingin aku memakan semua makanan yang dia masak?


"Ayo sayang, makan yang kenyang!" ucap Ramlan, sambil menopang dagunya menatapku yang menyuap makanan ke mulutku.


"Kamu juga makan!" ucapku sambil tersenyum karena melihat pria itu malah antusias melihatku, yang sedang makan.


"Tidak, aku lebih suka melihat kamu makan. Sejujurnya aku terkejut, kamu tidak ada disampingku tadi."


"Maaf." lirih Dhea.


Ramlan tersenyum senang mendengar kata-kata tentang aku yang mengatakan jujur. Apakah dia sangat senang dengan aku yang berada disisinya? Dhea menatap Ramlan yang menggenggam tanganku, lalu mencium lembut tanganku sambil mengusap wajahnya dengan tanganku.


"Sayang, aku sudah tahu, kamu pasti tidak sungguh-sungguh akan meninggalkan aku kan?" ucapnya terlihat sangat bahagia, kala Zia tiba tiba datang, dari arah pintu lain menerobos sang bibi yang berdiri.


Dhea amat muram, kala istri sah datang ke rumahnya. Yang jelas, rumah ini hanya untuk dirinya dan Ramlan.


Bahkan Dhea tak di izinkan ke rumah sebelah, yang mana itu adalah tempat Ramlan dan Zia istri pertama.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Ramlan, kembali acuhi Dhea.


"Why? aku istri sahmu. Dia, itu kan wanita simpananmu. Uuuups! istri simpananmu." ujar Zia menyindir.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2