
Dhea melihat Zia keluar dari kamarnya, setelah menceritakan kenapa ia menerima wanita lain, hanya untuk mengontrak rahimnya saja. Sangat pahit bukan menjadi Zia? lalu apakah menjadi Dhea juga tidak pahit.
Kenanagan pahit itu membuat Dhea ingat, sebelum ia banting tulang menghidupi kedua adiknya. Sedangkan di rumah sakit, Dhea sudah panik bukan kepalang melihat kondisi sang ibu.
"Kenapa, Dhea? Kenapa kamu menangis?" tanya dokter Fahri seraya menyentuh pundaknya
"Ibu, Ibu saya, Dok. Tolong!!" Dhea segera menarik tangan dokter Fahri untuk menuju ke kamar sang ibu untuk melihat kondisi ibunya.
Dengan segera dokter Fahri memeriksa keadaan ibu Dhea yang sudah tak bergerak itu.
"Kamu keluar dulu, Dhea. Biar kami memberi pertolongan untuk ibumu." titah Dokter Fahri karena merasa ada yang tak beres dan memerlukan tindakan dengan segera.
"Tapi saya ingin menemani ibu saya, dok." kekeh Dhea yang tidak ingin keluar meninggalkan sang ibu.
"Tapi biarkan kami melakukan tugas kami, Dhea. Jadi saya harap kamu bisa mematuhinya demi keselamatan ibumu,"
Dia masih ingat jika sang ibu makan dengan lahapnya. Beberapa kali meminta disuapi dan sangat manja. Tak ada firasat apapun tentang apa yang dilakukannya tadi malam. Karena dia sangat menikmati kesembuhan sang ibu.
Dhea juga bisa melupakan sejenak tentang pernikahan rumitnya bersama Rizki yang kecelakaan setelah selesai resepsi, dan berniat akan bercerita dengan sang Ibu setelah dia keluar dari rumah sakit.
Dhea sampai mondar-mandir menunggu pintu terbuka. Dia sudah tak sabar menanti kabar sang ibu.
Ceklek.
Mendengar pintu terbuka, Dhea berhenti dan berbalik. Lalu bergegas menghampiri pintu itu dan muncullah dokter Fahri dari dalam ruangan sang ibu.
"Bagaimana dok keadaan ibu saya?" tanya Dhea tak sabar. Bahkan dia hampir saja merangsek masuk, jika saja dokter Fahri tidak menahannya.
"Maaf, Dhea. Mungkin ini yang terbaik bagi ibumu." Dokter Fahri menunduk dengan wajah sendu. Ada rasa kecewa yang tergambar di sana karena tak berhasil menyelamatkan ibu Dhea. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Takdir berkehendak lain.
__ADS_1
"Ma_maksud, Dokter?" Dhea menatap dokter dengan tatapan tak percaya Dan menyakini dirinya hanya salah dengar dengan ucapan dokter Fahri. Tidak mungkin ibunya meninggalkannya, karena tadi pun masih baik-baik saja.
Dokter itu menghembuskan nafas berat sebelum mengatakan sesuatu pada Dhea.
"Maaf, Dhea. Kami tak bisa menolong ibumu. Ibumu sudah meninggal dan terbebas dari rasa sakitnya saat ini. Yang sabar ya, Dhea!" Ucap dokter Fahri dengan lirih.
Duar!
Bagai tersambar petir rasanya mendengar berita jika sang ibu meninggal. "Nggak, nggak mungkin!!" Dhea menggeleng, masih tak mempercayai apa yang terjadi saat ini.
Tidak mungkin ibunya pergi begitu saja meninggalkannya. Dia sangat yakin jika ini hanya sebuah prank semata.
Dhea menatap dokter Fahri dengan senyum getir, berharap dokter salah mendiagnosa ibunya. "Dokter bercanda, kan? Ini nggak lucu, dok? Ini sama sekali nggak lucu." teriak Dhea tanpa sadar. Meluapkan emosi dihatinya.
Tanpa terasa air matanya pun menetes di pipinya. Dia terlalu sakit menghadapi kenyataan yang menimpa hidupnya saat ini. Kecewa dan sedih karena dia tidak bisa melakukan yang terbaik bagi ibunya.
Dokter Fahri mengusap pundak Dhea yang nampak terpukul itu, "Kamu yang sabar, Dhea. Mungkin itu yang terbaik untuk ibumu. Ibumu sudah sembuh, Dhea. Beliau nggak sakit lagi."
Dhea menangis, ambruk dilantai meratapi nasibnya yang sungguh memilukan. "Ibu!! Jangan tinggalin Dhea, Bu!! Ibu nggak boleh ninggalin Dhea. Ibu harus hidup bersama Dhea, Bu. Adik adik masih terlalu kecil!" Teriaknya histeris.
Wajar saja Dhea seperti itu, karena selama ini hanya ibunya yang dia punya. Dan sekarang ibunya telah tiada, lalu dengan siapa dia akan hidup sekarang bersama kedua adiknya?
Setelah menguatkan hatinya, Dhea masuk ke dalam ruangan sang ibu dengan di papah dokter Fahri. Dengan perlahan dia membuka kain penutup yang menutupi wajah ibunya.
Dia terus menangis seraya memeluk jenazah sang Ibu yang nampak tersenyum cantik itu. Dia berharap ini hanya mimpi, dan ketika dia membuka mata dia melihat ibunya tersenyum indah menatap dirinya. Namun itu hanya angan semata, ibunya tetap terpejam kala dia membuka matanya. Dan saat itulah kesadarannya mulai pulih jika ibunya telah tiada.
Hingga Dhea memandang gundukan tanah merah itu dengan tatapan kosong. Dia masih berat dan tak percaya dengan apa yang menimpanya kini. Ingin sekali dia ikut terkubur bersama sang ibu, agar dia tak menjalani hidup sendiri dan menjadi sebatang kara di dunia ini dengan kedua adiknya.
Dhea lebih memilih mati bersama sang ibu, dari pada harus hidup tanpa wanita yang selalu membuatnya kuat dalam menjalani liku-liku hidup di dunia ini. Wanita yang selalu memberinya semangat kala rasa lelah menerpa hidupnya. Sekarang tiada lagi wanita tanggung yang menopang dirinya kala merasa rapuh.
__ADS_1
Dia sakit, dia sedih bahkan terpuruk ketika sang ibu meninggalkannya. Semangat hidupnya pun ikut terkubur dengan jenazah yang sudah di timbun dengan tanah itu.
Dia memejamkan matanya dan menikmati kesendiriannya. Dia tak ingin di temani siapapun, karena dia hanya ingin bersama ibunya. Hingga sebuah tangan memegang pundaknya, mengelusnya pelan seolah memberi kekuatan.
Dhea mengangkat kepalanya melihat siapa.
"Dokter!!"
Dokter Fahri tersenyum lembut, menutupi rasa iba ketika melihat Dhea, yang sedang terpuruk seperti itu.
Dhea mengangkat tubuhnya dan duduk di samping pusara sang Ibu. Menatap kembali gundukan tanah itu, dan air matanya pun tumpah kembali. Dia tergugu kembali ketika mengingat ibunya.
"Kamu harus kuat, Dhea. Mungkin ini yang terbaik untuk ibumu. Dia sudah tak sakit lagi." Dokter Fahri mencoba menguatkan. Memberi perasaan nyaman agar Dhea kembali tenang.
"Ibu sudah sembuh kemarin, Dok. Ibu sudah sembuh!! Bahkan tadi pagi masih bisa bercanda bersama Dhea. Tapi kenapa ibu sekarang pergi secepat ini? " pungkas Dhea di sela isakan tangisnya.
"Iya, Ibumu sudah sembuh, Dhea. Jadi kamu harus senang, bukan bersedih seperti ini?"
Dhea menggeleng, "Percuma ibu sembuh jika dia ninggalin aku dan adik adik, Dok,"
Tangis Dhea makin pilu ketika mengingat pesan sang Ibu. Dia tak menyangka jika itu adalah pesan terakhirnya sebelum menemui ajalnya. Jika dia tau, pasti dia akan selalu menemani sang ibu tanpa beranjak sedikitpun dari sisinya.
"Rizki, kamar satu lagi harus di putus. Alat sambung dijarinya, maaf! kamu harus tabah ya!" ujar kembali dokter.
Dhea bagai jatuh tertimpa tangga, kekayaan sang ibu telah habis untuk berobat sang ibu dan suaminya yang baru beberapa jam, hingga berbulan bulan ia harus meminta bibinya menjaga kedua adiknya.
Hingga saat itulah tekad Dhea melakukan hal apapun demi kedua adiknya bisa sekolah, sampai bisa menghidupi dirinya sendiri meski ia saat ini seperti wanita perusak dalam rumah tangga orang lain.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku, jika aku menjadi madu. Zia istri sah Ramlan tersakiti tak bisa hamil. Lalu siapa yang mengasihaniku?" lirih Dhea, kala Zia menutup rapat pintu kamarnya.
__ADS_1
Tbc.