Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
Bab 46


__ADS_3

Tak ... Tak ...


Suara high hels masuk ke butik Lily, semua karyawan tampak menatap wanita yang baru masuk tersebut.


“Ada yang bisa kami bantu, Nona?” tanya salah satu karyawannya dalam bahasa Inggris.


“Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini,” sahutnya langsung duduk dan menyilangkan kakinya.


“Baik. Akan saya panggil,” ucapnya.


Linta melangkah ke arah ruangan Lily.


Linta adalah perempuan berasal dari Indonesia dan menetap di luar negeri setelah menikah dengan suami bulenya. Tapi suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, hingga membuat Linta kesusahan dan beruntung bertemu dengan Lily dan bekerja di butiknya untuk membiayai dirinya dan putranya yang masih duduk di bangku sekolah.


Tok ... Tok ...


Ceklek ...


“Nyonya, ada orang yang ingin bertemu dengan anda,” ucap Linta.


“Ingin bertemu. Siapa? Apakah dia laki-laki atau perempuan?” tanya Lily.


Karena ia sedikit mengalami trauma, karena dua kali dirinya hampir di lecehkan oleh pria.


“Perempuan. Tapi, sepertinya perempuan itu orang Indonesia,” ucap Linta lagi.


“Oke. Aku akan menemuinya, tunggu sebentar.”


Linta menangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Lily merapikan kertas yang berserakan di mejanya, karena ia baru saja menyempurnakan model baju yang akan launcing dalam tahun ini kertas putih tersebut.


Lalu melangkah ke luar ruangannya, untuk menemui tamu yang hendak bertemu dengannya.


“Selamat siang, maaf sudah membuat anda menu----.” Ucapkan Lily langsung terhenti, ketika melihat wanita tersebut.


“Laura,” gumamnya.


Laura menyinggung senyumnya, melihat Lily yang terlihat terkejut dengan kedatangannya.


Laura berdiri sembari mengulurkan tangannya.


“Rupanya anda masih mengingatku. Selamat bertemu kembali,” ujarnya sembari menyeringai.


“Oke, aku tidak mau basa basi lagi. Katanya di sini butik yang paling bagus, aku ingin kamu membuatkannya untukku yang paling bagus dan mahal untuk pertunanganku sebulan lagi. Tapi, sesuai dengan pilihanku. Aku akan mengirim contohnya ke nomormu!” ujar Laura berlalu pergi tanpa permisi.


Tanpa mengiyakan juga, Lily hanya menatap punggung Laura yang melangkah pergi.


“Nyonya mengenali wanita itu? Kenapa dia tidak sopan sekali?!” kesal Linta melihat Laura yang berbicara pada bosnya dengan tidak sopan.


Lily hanya menyungging senyum paksa mendengar Linta berbicara.


Saat membuka pintu butik hendak keluar, bersamaan dengan Andre yang hendak masuk ke butik. Karena sudah jam makan siang, seperti biasa Andre selalu makan siang bersama istrinya.


Netra mereka sejenak saling bertemu, tapi Andre lebih dulu mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam butik.


Laura menghela napas kasar melihat Andre sama sekali tidak ingin melihat dirinya.


“Sayang, kenapa Laura bisa ada di butik ini?” tanya Andre saat masuk ke ruang kerja istrinya.


Lily hanya mengangkat kedua bahunya.


“Lalu kenapa dia ada butik ini?” tanya Andre lagi, karena penasaran dengan kedatangan Laura yakni sudah menjadi mantan kekasihnya.


“Laura memesan gaun untuk acara pertunangannya,” sahut Lily dengan lembut.

__ADS_1


Andre mengangguk mengerti, ia terlihat cemas takut Laura akan melakukan hal membahayakan Lily lagi.


“Syukurlah jika dia tidak mencelakaimu,” ujar Andre menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Cup ....


“Ayo kita makan,” ajak Andre.


Lily mengangguk, seperti biasa Andre selalu menyuapi istrinya makan. Walaupun Lily berusaha menolaknya, tapi Andre tetap memaksa.


Di sela makannya, Lily dan Andre mendengar suara keributan, suara tersebut berasal dari luar.


“Ada apa?” tanya Lily.


Andre mengangkat kedua bahunya, dan melangkah cepat keluar.


“Ada apa ini?” tanya Andre.


“Ada yang melempar batu ke arah dinding kaca itu,” sahut Linta menunjuk dinding kaca yang pecah berserakan dan ada batu besar di tempat tersebut.


“Coba periksa cctv,” ujar Andre.


Andre melihat sekeliling butik itu, tidak ada siapapun disana. Karena pelaku tersebut sudah pergi dari tempat tersebut.


“Saya sudah periksa cctv, Tuan. Pelakunya memakai topeng dan pakaian hitam yang panjang. Tapi, bagian kakinya terlihat jelas. Ia memakai sepatu wanita, besar kemungkinan pelakunya seorang wanita,” ujar Linta memberitahunya.


Andre mengangguk, ia langsung mencurigai Laura. Karena dirinya saja yang terakhir datang kemari.


Andre melihat sebuah kertas di batu yang terikat, ia mengambilnya.


“Ini hanya sebagian peringatan kecil. Bersiaplah, ada yang lebih besar lagi dari ini.”


Andre mengepal kertas tersebut dan membuatnya ke tempat sampah, agar istrinya tidak membaca tulisan tersebut.


“Bereskan ini. Selama tiga hari butik ini di tutup sementara, karena kita harus memanggil ahlinya untuk memperbaiki ini,” ujar Andre.


“Ada apa ini? Kenapa kacanya pecah?” tanya Lily yang baru saja datang.


“Ada yang iseng karena iri dan melempar batu,” sahut Andre.


“Iseng bagaimana?” tanya Lily mengernyit heran.


“Sudah, jangan di pikir. Kita pulang sekarang, biarkan ini di bereskan oleh Linta dan yang lainnya.”


Lily mengangguk.


Sebelum melangkah keluar, Lily lebih dulu mengambil tas miliknya dan ponsel suaminya yang tergeletak di meja.


“Ayo,” ajak Lily sudah kembali dari ruangannya.


Andre menggendeng tangan Lily untuk masuk ke dalam mobilnya, sebelum masuk ke dalam mobil, Andre lebih dulu melihat sekeliling butik lagi.


“Siapa wanita itu? Apa itu Laura?” tanyanya dalam hati.


“Kenapa?” tanya Lily melihat suaminya yang mengedarkan pandangannya.


Andre Kembali menggelengkan kepalanya.


Andre mengantar istrinya untuk pulang ke milik mereka, rumah kaca yang di hadiahkan oleh pamannya untuk mereka.


Setibanya di rumah, Andre langsung merebahkan tubuhnya. Ia masih memikirkan kejadian di butik tadi.


Andre siang ini tidak Kembali lagi ke kantor, ia sudah memberitahu pamannya tentang kejadian barusan melalui pesan singkat.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Lily langsung duduk di atas perut suaminya.

__ADS_1


Andre menggelengkan kepalanya, tangannya langsung berada di tempat favoritnya.


“Sayang, ini masih siang.” Menarik tangan suaminya.


“Kamu yang menggodaku, jadi kamu harus bertanggung jawab.” Menarik istrinya agar berubah posisi.


Andre memulai aksinya tanpa menunggu lama, selama beberapa Minggu ini Andre tidak pernah absen untuk melakukannya dengan istrinya.


Saat di tengah pertempuran panas mereka di siang hari, terdengar suara bell yang berbunyi.


Andre berdecap kesal, namun ia tetap melanjutkan aksinya.


“Sayang, ada yang datang.” Berusaha mendorong tubuh suaminya.


“Biarkan saja. Siapa yang datang di siang hari seperti ini?” tanpa menghentikan aksinya.


Hingga pertempuran mereka selesai, bel tersebut masih berbunyi.


“Ck ... apa dia tidak punya otak? Jika tidak ada yang membuka pintu, kenapa tidak kembali!” kesalnya sembari mengenakan pakaiannya.


“Pakailah pakaianmu,” ujar Andre melempar pakaiannya tersebut ke atas tubuh istrinya, lalu melangkah keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.


Tidak berhentinya menggerutu, Andre langsung membuka pintu rumah dengan perasaan marah.


Seketika amarahnya langsung mereda, ketika melihat pamannya yang datang.


“Lama sekali! Apa kamu tidak tahu, udara di luar sangat panas?!” gerutu pamannya langsung masuk ke dalam rumahnya.


“Maaf, Paman. Aku tidak dengar,” sahut Andre berbohong.


“Banyak alasan. Mana mungkin tidak mendengar, setahu Paman belnya terdengar hingga ke kamar!”


Paman Ridwan langsung duduk di sofa.


“Ambilkan aku air minum,” perintahnya.


“Andre, apa kamu tidak mempunyai pelayan di rumah ini?” tanyanya.


“Ada, tapi sedang libur.”


Pamannya mengangguk mengerti, lalu melanjutkan langkahnya untuk mengambil air minum untuk pamannya.


“Oh ya. Apa sudah mengetahui siapa pelakunya?” tanya pamannya setelah menghabiskan air dingin segelas.


Andre menggelengkan kepalanya.


Paman dan Andre menoleh ke arah tangga, karena mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga.


Rambut Lily di biarkan tergerai, karena sedikit basah.


“Oh, Paman mengerti sekarang. Bukan belnya yang tidak terdengar, melainkan kalian yang sedang itu kan?” goda pamannya.


Andre hanya tersenyum mengangguk, karena memang benar adanya.


“Bilang dong. Sebentar lagi, kalian akan memberiku cucu.”


Andre kembali tersenyum.


“Akh ... kenapa jadi membahas itu. Bagaimana, apa kamu sudah mengetahui identitas pelakunya?”


“Belum, Paham.”


“Jangan cemas, Paman akan membantumu.”


Saat melihat paman Ridwan datang, Lily langsung ke dapur untuk membuatkan camilan untuk mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2