
Sungguh Zia tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya itu. Mungkinkah suaminya itu ingin menjualnya. Jika benar itu terjadi, Zia benar-benar tidak akan pernah memaafkan suaminya.
“Mas! Mas mau jual aku?” Kali ini Zia menatap Ramlan dengan tajam, masih dengan suara lirih. Tak ingin ke dua orang yang tengah menatapnya kini, mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan.
“Aku nggak jual kamu Zia. Mereka sendiri kok yang mau dan tertarik sama kamu,” tandas Ramlan seolah tak mempedulikan status istrinya kini sedang dipertaruhkan.
“Itu sama aja, Mas jual Aku!” geram Zia, tak tau lagi harus mengatakan apa pada suaminya itu. Entah otak suaminya itu kini telah di isi oleh apa. Mengetahui istrinya yang tengah di minati oleh orang yang tak dikenal pun, seolah tak menjadi beban pikirannya sama sekali.
“Beda Zia! Kalau Mas jual kamu, Mas pasti bakalan bawa kamu ke orang-orang diluar sana yang membutuhkan sentuhan. Ini Mas nggak bawa kamu! Mereka sendiri yang mau, jadi Mas nggak jual kamu ya!”
Masih mencoba membela diri. Dan dengan tak tau malunya Ramlan melemparkan sebuah senyuman kepada ke dua orang yang kini tengah menatapnya, seolah-olah tak ada perdebatan yang terjadi antara Zia dan Ramlan.
“Itu sama aja Mas!” desis Zia, menekankan setiap kata-katanya.
Tidaaak!! Rasanya bagai berkecamuk, ternyata bayangan itu adalah mimpi Zia, ia seolah mimpi buruk jika suaminya Ramlan menjualnya. Konon itu adalah awal kehancuran rumah tangga mereka, ia telah dimadu karena istri kedua suaminya hamil. Zia yang berada dalam pengobatan, ia segera menaruh gelas yang ia minum.
"Mimpi buruk ini, semoga bukan peringatan jika suamiku akan mencintai Dhea setelah anak itu lahir." ujar Zia.
***
Sementara Dhea, ia kini berada dikantor. Benar tugasnya hanya ringan, Ramlan membuat dirinya tidak sibuk. Akan tetapi ia jadi ingat perjuangan dirinya mempunyai suami yang cacat, karena hari pernikahan pertama mereka terjadi kecelakaan. Dan pernikahan kedua, membuat hidupnya seperti empedu.
“Oh ... jadi dia istri mu!” Pria itu kembali ke tempat duduknya dengan kaki yang sudah diangkat naik ke atas kursi yang didudukinya.
“Kau tau kan kenapa aku kemari?” Pria berkepala plontos itu mencoba melemparkan pertanyaan untuk Rizal. Tangannya kini sudah memegang sebatang rokok, mematikan korek api kemudian menyulut rokok tersebut. Kepulan asap yang berbentuk bulat, seperti memang sengaja di buat seperti itu, keluar dari mulut pria berkepala plontos itu ketika mulutnya dengan sangat nikmatnya menyesap rokok. Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh Rizal sebagai jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh pria berkepla plontos itu.
“Sepertinya dia sedang mencoba untuk pura-pura lupa, Brother.”
__ADS_1
Pria berkepala plontos itu terlihat mengajak temannya untuk angkat bicara, setelah dari tadi pria berambut gondrong itu hanya terdiam dan terllihat memainkan ponselnya.
“Ha ha ha ha ... tikus yang sudah terdesak memang selalu melakukan hal seperti itu. Jadi tidak kaget, kita sudah berpuluh-puluh tahun bergelut di dunia seperti ini. Membuat kakinya patah mungkin bisa menyadarkan laki-laki tak tau diri ini!” kekehan serta ancaman terdengar dari mulut pria berambut gondrong itu.
Dhea ingat, saat Rizal yang sudah merasa ketakutan dengan ancaman para penagih hutang itu pun langsung saja berlutut dan menyembah tepat di bawah kaki pria berambut gondrong. “Jangan Bos! Beri aku waktu lagi." Rizal memohon dengan kedua tangan.
Dhea hanya mampu mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna semua pemandangan yang kini tengah dilihatnya. Mungkinkah suaminya itu sedang memiliki hutang kepada kedua orang yang menyeramkan itu, dan sekarang mereka berusaha untuk menagih hutang.
Tapi untuk apa suaminya itu berhutang? Menafkahinya saja tidak pernah, yang ada Dhea akan diberikan cacian jika meminta uang kepada Rizal—suaminya.
“Baiklah, kami akan memberikan waktu satu hari dari sekarang untuk mengembalikan semua uang yang telah kau gunakan! Lusa kami akan kembali lagi!” ucap pria berkepala plontos.
Pria berkepala plontos itu terlihat memberikan kode untuk meninggalkan rumah Dhea dan juga Rizal. Pria berkepala plontos itu terlihat menghentikan langkahnya ketika sampai di ujung pintu.
“Jika kau tak bisa membayarnya, kami akan membawa barang berharga milik mu!” ucapan pria berkepala plontos, sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkan rumah Dhea dan juga Rizal.
Rizal yang bersimpuh sejak tadi kini mulai berdiri kembali, kemudian menghampiri Dhea dengan tatapan mata yang tajam setajam belati yang siap untuk mengulitinya hidup-hidup.
“Kok aku Mas? Aku kan nggak tau apa-apa.” tanya Dhea mengikuti Rizal di belakangnya.
“Emang hutang Mas berapa?” Dhea mencoba bertanya kepada suaminya itu. Siapa tau dirinya bisa membantu sang suami.
“200 juta!” sahut Rizal.
“200 juta ... Mas?” lirih Dhea sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Uang sebanyak itu darimana mereka bisa membayar dalam waktu 1 hari. Menjual harta benda pun tak akan bisa menghasilkan uang sebanyak itu.
“Iya 200 juta! Kenapa, kamu mau bayarinnya?”
__ADS_1
Rizal terlihat menantang Dhea kini. “ Oh ... kan tadi kamu yang bikin aku jadi susah kayak gini. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas semua ini.” kini Rizal mulai melemparkan tanggung jawabnya kepada Dhea.
“Aku Mas?” pekik Dhea bingung.
Sepertinya suaminya itu sedang melucu kepadanya. Bagaimana bisa dirinya mendapatkan uang 200 juta dalam sehari. 1 juta saja tidak mungkin ia dapatkan dalam sehari, ini malah 200 juta.
“Mas ... jangan bercanda deh. Gimana Dhea bisa dapat uang sebanyak itu?”
Dhea kembali mengikuti suaminya yang sekarang terlihat membaringkan tubuhnya, tak jadi keluar sepertinya! Karena tanggung jawab yang seharusnya dilaksanakan malah sekarang dilemparkan kepadanya.
“Pikir aja sendiri!” jawab Rizal masa bodoh.
Kini laki-laki itu sudah terlihat memejamkan matanya bersiap untuk mengarungi mimpi.
Dhea hanya bisa menatap nanar Suaminya yang terlihat acuh tak acuh kepadanya. Beban untuk membayar hutang yang seharusnya dilakukan oleh suaminya kini harus dia yang menanggungnya. Padahal hari pernikahan mereka baru saja selesai kemarin, tapi bencana mulai datang.
Dhea pun melihat Rizal kembali bangun, lalu memasuki sebuah baju ke dalam kopernya.
"Mas, kamu mau kemana?"
"Aku akan pergi, tunggu sampai aku kembali. Aku akan melunaskannya! setelah itu kita bulan madu ketempat impian kita. Tapi sebelum aku mengembalikan hutangku. Kita tunda dulu, kau tahu kan keluargamu ingin kita pesta meriah, maka aku meminjam padanya untuk kita menikah kemarin. Maka satu satunya, aku harus mencari pinjaman."
"Mas, tapi pinjam untuk bayar hutang dengan meminjam akan semakin sulit nantinya. Aku bantu mas, aset tanah mama ada pada bibi. Aku rasa itu bisa membantu." ujar Dhea.
Hal itu membuat mereka ke rumah paman dan bibi, yang saat ini kedua adiknya diasuh. Sementara ibu Dhea berada di rumah sakit karena penyakitnya.
Namun siapa sangka, hal itu membuat Rizal tewas mengenaskan. Sebelum terjadi, kecelakaan itu membuat Rizal lumpuh beberapa bulan, hidup Dhea pun berubah drama dengan kesulitan.
__ADS_1
"Dhea, kau sedang apa?" tanya Sam, menyadarkan lamunan Dhea saat itu.
Tbc.