Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
TERGANGGU ILUSI


__ADS_3

Pergumulan itu memakan waktu beberapa jam, kini Dhea tahu ia mencintai pria yang salah. Akan tetapi, setelah istri sah melabraknya dan tahu ia adalah wanita simpanan.


Dhea jadi teringat, sesaat Ramlan menolongnya dan menolongnya dari minuman yang diberikan preman itu.


Ingatan lalu adalah, ingatan yang tak pernah ia lupakan. Sebisa mungkin sebelum bayinya hasil dari serpihan milik Ramlan. Seberusaha itu juga ia berharap tetap tinggal, dan Ramlan tidak mengusirnya setelah ia melahirkan.


"Dhea kamu milikku."


"Tapi aku akan pergi, ketika masa itu tiba mas."


Mendengar hal itu, Ramlan langsung menahan tangan Dhea, dia menyeringai dan membalas ucapan pria yang sama sekali belum melihat wajahnya, “Dia milikmu? sayang sekali sekarang dia adalah milikku, apakah kau berani mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikku?” ketus Ramlan menarik Dhea dan menggendongnya menatap perut Dhea.


Pria yang sedang dalam amarah yang tidak karuan itu merasa tersinggung mendengar pernyataan istri simpanannya yang telah dinikahi.


Sedangkan Dhea yang sudah di gendong kedalam kamarnya telah sepenuhnya kehilangan kesadarannya, “Ahh, panas sekali, aku tidak tahan, tolong aku mas,” keluh Dhea melepaskan sendiri semua pakaian yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


Siapapun pria yang melihat tampilan Dhea saat ini maka pastinya tidak akan ada yang tahan, bukan saja wajahnya sangat cantik, namun tubuhnya pun sangat indah dan proporsional.


“Deg … Deg … Deg!” jantung Ramlan hampir copot sekarang, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi namun darahnya seperti mendidih, dia sepertinya tidak akan bisa mengendalikan dirinya lagi jika gadis itu melakukan hal-hal yang lain. Karena walau bagaimanapun dia adalah pria yang normal.


“Tolong aku, aku ingin melupakan semuanya, tolong aku, tolong!” Dhea menangis terisak begitu menyedihkan, meskipun tubuhnya dalam pengaruh obat perangsang namun sepertinya luka hati dan tekanan hidup masihlah lebih besar, karena sekarang saja dia masih merasakan nyeri di hatinya, dia tidak tahu lagi harus kabur dan pergi kemana mencari pertolongan dari ulah preman yang mengejarnya.


“Ada apa denganmu? aku akan memesankan air es untuk meredakan rasa panasmu, aku sudah punya istri, aku tidak bisa tidur denganmu!” ketus Ramlan menutup matanya, dia sedang menahan dirinya sekuat tenaga sekarang.


“Tolong lepaskan aku dari derita ini, tolong bunuh saja aku, aku ingin menghilang, aku sudah tidak bisa bertahan lagi, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, tolong akhiri penderitaanku,” ucap Dhea menangis begitu pilu.


“Apa kau gila? kau masih sangat muda, mengapa kau ingin mati! kau pasti sudah tidak waras!” ketus Ramlan menarik wajah Dhea yang sudah menuduk.


“Deg!” namun saat melihat ekspresi dan mata yang kosong itu lagi-lagi Ramlan merasakan sakit yang teramat sangat, bahkan lebih sakit dari yang sedari tadi ia rasakan.


Ramlan bahkan tidak bisa mengungkapkan betapa ngilu hatinya sekarang. Seolah mata itu memperlihatkannya dengan sorot matanya yang dahulu.

__ADS_1


“Tolong bantu aku melepaskan penderitaan ini, aku sudah tidak bisa kembali, aku ingin pergi,” dia tetap menangis deraian air mata yang membasahi pipinya, matanya sungguh memancarkan kehampaan yang akan membuat semua oarng yang melihat akan merasa iba.


Melihat ekspersi lemah dan putus asa gadis muda itu, Ramlan telah kehilangan akalnya, “Kau bermain api gadis kecil, apakah kau tahu apa yang akan terjadi jika terlihat lemah di hadapan pria?”


“Kau yang meminta ini, beraninya kau datang kepadaku dan memohon seperti ini, ini semua adalah salahmu, jangan salahkan aku!” seru Ramlan sudah tidak bisa menahan hasratnya, dia sudah roboh, yang ada dipikirannya hanyalah gadis ini seorang tidak ada yang lain lagi.


“Ummm, aneh, rasanya aneh, aku belum pernah merasakan ini, lembut,” decak Dhea yang masih dalam pengaruh obat perangsang itu, saat Ramlan menciumnya dengan sangat intens dan menuntut.


“Sayang, akan kubuat kau melupakan semua yang membuatmu kesakitan, akan kubawa kau menuju kenikmatan,” bisik Ramlan sudah sepenuhnya menjadi buas, dia benar-benar tidak bisa menahan hasratnya pada gadis ini, benar-benar berbeda dengan Zia.


Pagi Harinya.


"Besok aku tidak akan datang! Tetaplah di rumah ini, jangan temui atau tampaki dirimu pada, Zia!" ujar Ramlan, yang mengancing baju.


"Mas, tapi istri mas sudah menjambak rambutku saat dipasar, aku tidak mengadu aneh aneh. Tapi aku hampir terjatuh, jika bukan Sam kilat menjagaku. Bolehkan aku bertemu dengannya, meminta waktu untuk berbagi suaminya. Setidaknya aku ingin dicintai ketulusan mas, demi anak ini lahir dicintai." jelas Dhea, mengerutkan alis bagi Ramlan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2