
Dua jam sebelum terjadi, Dhea menuju ruangan kerja Ramlan, berusaha menaruh surat berkas itu. Akan tetapi ia tidak tahu, jika di rumah keluarga Moza kedatangan Zia yang ia tahu, masih menjalani pengobatan.
Belum lagi banyak botol alkohol kosong, Dhea yakin jika Ramlan dan Zia habis minum. Yang ia takuti adalah, Ramlan akan berubah sikap menjadi buruk bagai musuhnya.
Entah jika bukan karena anak dalam rahimnya, ia tak mungkin masih bertahan berada dalam keluarga Moza Ramlan, yang telah membantunya membiayai rumah sakit Mira, dan pendidikan untuk Bagas.
"Ah ..., lebih cepat sayang!"
"Tentu honey! Milikmu sungguh membuat ku gila!"
Suara ******* dan erangan terdengar lagi dan lagi di telinga Dhea. Kali ini suara itu lebih mengelikan dari pada malam-malam sebelumnya.
Suara decitan ranjang yang memang sudah usang itu terdengar begitu nyaring di telinga Dhea. Entah se--liar apa mereka tengah bermain. Dhea hanya bisa meremas tali tas yang tengah di pakainya. Meluapkan segala kekesalan yang ia rasakan.
Dia hanya ingin beristirahat dengan tenang setelah pulang kerja. Namun, nyatanya Dhea malah harus mendapati suaminya kini tengah berpacu untuk meraih kenik-matan dunia bersama Zia.
Ini bukan kali pertama Dhea mendengar Ramlan-suaminya membawa Zia ke dalam kamar mereka, dan melakukan kegiatan panas yang membuat pelakunya mendapatkan sebuah kepuasan. Padahal jelas kamar itu tempatnya tidur, bisa bisanya mereka bermain bukan dikamar mereka saja.
Setelah beberapa bulan berlalu, hingga akhirnya Dhea memergoki lagi Ramlan, tengah berada di bawah kungkungan Zia dikamarnya.
Pernah Dhea berusaha untuk pergi meninggalkan Ramlan, namun yang ada Ramlan malah mengancam akan menyebarkan vidio tak senonoh mereka. Hingga akhiranya Dhea memutuskan untuk bertahan meski hatinya menangis, apalagi mencabut pengobatan Mira, ia pasti akan sedih.
"Terimakasih ya, Sayang ..., aku puas banget kamu nuruti aku, kita buktikan jika kita bahgia. Aku ga mau, Dhea merasa menang hanya karena dia hamil!" puji Zia berwajah glowing itu kepada Ramlan.
Mereka berdua seolah menutup mata akan kehadiran Dhea, yang tengah duduk di meja dengan wajah yang sudah merah padam.
"Sama-sama Honey. Saya juga enak karena punya kamu sempit banget dan selalu cinta bertambah!" puji Ramlan vulgar tanpa di saring.
Dhea sudah sangat muak mendengar setiap ucapan yang sama, dari mulut laki-laki yang berstatus suaminya itu, kepada setiap wanita yang selalu dapat memuaskannya hanya karena ia dipilih keluarga Moza untuk melahirkan seorang anak.
__ADS_1
"Ya udah aku pulang dulu! Itu kamu sudah ada yang nungguin! Pelanggan kamu kali ini masih muda dan cantik. Eh, aku lupa kalau dia itu istri tak dianggap." tawa Zia pecah.
Zia berwajah glowing itu mengedipkan sebelah matanya kepada Dhea, sebelum meninggalkan kamar Dhea dan Ramlan.
"Kenapa?"
Ramlan sudah membulatkan matanya ke arah Dhea. Tangan kanannya berdecak pinggang menatap tajam, agar Dhea tidak berkomentar. Bagaimanapun dia berkuasa, jadi Dhea hanya menumpang sampai bayi itu lahir.
"Kamu nggak suka!" tuding Ramlan yang tak sepenuhnya salah.
"Apa aku berhak untuk tidak suka, Mas!"
Dhea seolah menantang suaminya itu. Hatinya benar-benar sudah sangat lelah. Berbulan menjalani kehidupan rumah tangga bersama dengan Ramlan membuatnya seolah-olah hidup bagaikan di neraka.
Kebahagiaan yang ia rasakan hanya di awal-awal pernikahan mereka saja. Selebihnya Ramlan seolah-olah menampakkan jati dirinya yang selama ini, jika awal manis ia hanya memancing agar setuju melahirkan anak untuknya.
Namun Ramlan tahu, segala kesopanan dan kebaikan Dhea yang menolong keluarganya, tak pernah dianggap sebagai istri kedua hanya selalu mengungkit pernikahan kontrak saja, entah karena apa kedua orang tua Ramlan seolah menutup mata terhadap segala sikap tidak adil Ramlan padanya.
Jika bisa memilih, Dhea ingin mendengar apa kata kedua mertuanya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Dhea tak mungkin menjadikannya nasi lagi. Yang perlu Dhea lakukan hanyalah menambah toping dan juga kerupuk agar bubur itu terasa nikmat. Tapi keinginan serta usaha Dhea sepertinya hanyalah usaha yang sia-sia dan tak berarti. Suaminya itu semakin menjadi setiap harinya.
"Oh ... kamu sudah berani melawan ya, sekarang!" Ramlan mencengkeram erat dagu Dhea hingga terlihat kesakitan.
"A--aku le--lah Mas--!" Dhea berusaha bersuara meski terasa susah, karena cengkeraman yang dilakukan oleh Ramlan-suaminya, membuat mulut Dhea terasa kebas dan sakit secara bersamaan.
Ramlan melepas cengkeraman tangannya dengan kasar. Terlihat bekas kuku yang menancap di permukaan kulit Dhea yang putih.
"Lelah! Jadi sekarang kamu sudah lelah hidup bersamaku? Lalu mana janjimu akan yang berucap akan setia mendampingiku, apa pun yang terjadi?"
"Tak ada ceritanya istri yang sanggup melihat suaminya tidur dengan wanita lain, Mas! AKU JUGA!" Dhea mengusap dagunya yang terasa perih sama seperti hatinya saat ini.
__ADS_1
"Itu karena kamu tidak berguna!" dalih Ramlan, ia beranjak pergi masuk ke kamar, lalu beberapa menit kemudian laki-laki itu sudah keluar dengan pakaian rapih dan parfum yang menyengat indera penciuman.
Tidak berguna!
Sebuah kalimat yang kerap kali menjadi santapan telinga Dhea, hingga rasanya telinga itu seakan kebas oleh cacian itu.
"Mau kemana, Mas?" tanya Dhea penuh selidik. Suaminya itu pasti akan ke kamar Zia.
"Kenapa? Apa kamu akan melarangku juga kali ini!"
Bentakan terlontar begitu mulus dari mulut Ramlan. Dia merasa tak suka karena kini Dhea mulai menjadi wanita yang begitu cerewet.
"Seharusnya aku tidak menyuruhmu bekerja diperusahaan Daddy! Bekerja membuatmu menjadi wanita yang sangat cerewet sekarang!"
Lagi-lagi hanya omelan yang keluar dari mulut Ramlan untuk Dhea, tak ada lagi kata-kata manis yang terucap. Kini seolah menikah dengannya adalah sebuah beban untuk Ramlan.
"Kenapa selalu Dhea yang Mas salahin! kenapa mas Ramlan sehabis mabuk, selalu ucap kata kata kasar dan diluar Dhea ga ngerti sih mas." jelas Dhea.
Dhea mulai meninggikan suaranya. Geram juga lama-lama selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Dhea memang bekerja menjadi buruh pabrik dulu. di salah satu pabrik limbah, yang kerap kali di gunakan orang-orang untuk menemani keseharian mereka. Bahkan produk dari pabrik tersebut sudah melalang buana hingga negeri tetangga seperti korea selatan.
"Oh ... jadi kamu mau perhitungan sama Aku sekarang! Bagus kamu ya, dasar wanita tak tau di untung!"
Ramlan menarik kerah baju seragam Dhea yang bahkan belum digantinya karena kegiatan panas suaminya tadi. Ramlan melemparkan Dhea ke atas ranjang, kemudian dengan gerakan kasar Ramlan membuka sabuk miliknya.
Dhea yang melihat suaminya seperti orang yang sedang kesetanan langsung meringkuk di pojokan dengan badan yang sudah bergetar menahan takut. Takut jika nantinya ia akan mendapatkan pukulan atau sabetan dari sabuk yang kini sudah terlepas dari tempatnya. Ini kali pertama Dhea melihat suaminya semarah ini, biasanya jika marah suaminya hanya akan mencacinya.
Ramlan yang melihat Dhea berusaha menghindarinya, langsung saja menarik kaki Dhea, lalu membuka kaki itu lebar lebar.
__ADS_1
Tbc.