
Di Kantor.
Tangan Dhea meraih botol minum yang teronggok di dekat monitor, kemudian meneguknya dan pamit kepada Stella untuk keluar sebentar. Stella memberitahukan, jika keadaan divisi dipecat oleh bos, karena saat itu ia pernah menampar Dhea. Hal itu membuat Dhea pening, dan merasa bersalah.
Dengan ragu-ragu Dhea menekan tombol angka 17 pada panel lift. Pintu lift pun perlahan tertutup dan membawa Dhea ke lantai khusus untuk sang CEO.
Dhea merasa sedikit ragu dan takut, sebab ini pertama kalinya menginjakkan kaki di lantai orang nomor satu di perusahaan ini.
“Maaf, tapi Tuan Amroza Raden tidak bisa ditemui tanpa memiliki janji,” kata Dwi—sekretaris Ramlan. Ketika Dhea sudah tiba di depan ruangan Ramlan dan meminta izin pada wanita cantik tersebut.
“Tapi… saya harus ketemu Tuan Amroza sekarang. Ada hal penting yang harus saya—”
“Apa kamu tidak dengar?!” suara Dwi terdengar meninggi, dengan tatapan tajamnya tertuju pada Dhea.
“Tuan orang yang sibuk, beliau tidak bisa dikunjungi oleh sembarang orang apalagi karyawan seperti kamu.”
Dhea menghela napas panjang. Dia tidak merasa risih ketika Dwi menatap penampilannya dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.
“Atau mungkin Anda bisa memberitahu Tuan Amroza kalau saya ingin bertemu?” Dhea tetap bersikeras.
“Orang yang selalu bertemu Tuan adalah orang penting dan para eksekutif. Beliau tidak punya waktu menemui orang tidak penting se—”
“Ada apa?” sela Ramlan yang baru saja keluar dari ruangannya. Pria itu sempat menatap Dhea sambil menukik sebelah alisnya ke atas.
“Tidak ada apa-apa, Tuan,” kilah Dwi setelah menundukkan kepala memberi hormat.
“Orang ini sepertinya tidak ada kerjaan, makanya dia iseng dan bilang ingin menemui Anda.” ujar Dwi sekertaris.
Dhea menggeleng cepat. “Saya bukan iseng, tapi serius ingin me—”
“Bawa dia masuk!”
Dwi terkejut dan melongo. Tapi kemudian ia mengangguk patuh dan sempat menatap Dhea dengan sinis, sebelum kemudian menyuruhnya masuk.
“Ada apa? Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?” tanya Ramlan setelah menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia memperingatkan Dhea, tentang status pernikahan mereka yang tak boleh diketahui orang lain.
Ramlan langsung menutup laptop yang menampilkan rekaman CCTV, yang tadi sempat ia tonton untuk memantau tingkah laku Dhea. Apa dia bertingkah atau tidak.
“Saya tidak lupa, Tuan. Dan saya datang ke sini pun sebagai karyawan Anda,” ralat Dhea agar Ramlan tidak salah paham. Ia berdiri di depan meja pria itu.
__ADS_1
Ramlan tersenyum miring. “Baiklah. Katakan ada perlu apa?”
“Kalau memang karena divisi menampar saya, saya rasa memecat dia sangat keterlaluan, Tuan. Apa yang dilakukan dia saat itu karena dia kesal, saya sudah kurang ajar kepada Anda.. saya salah sangka pada anda, saya tidak tahu nama asli anda sehingga saya yang tidak tahu diri."
Ramlan sempat menatap Dhea dengan tatapan sulit diartikan. Sebelum akhirnya ia tertawa hingga bahunya tampak bergetar.
“Kenapa Tuan tertawa? Apa ucapan saya ada yang lucu?” Dhea menahan diri untuk tidak menggerutu di depan atasan sekaligus suaminya itu.
“Kamu pura-pura bersikap baik untuk mencari perhatianku, hah?” tanya Ramlan usai tawanya mereda.
Dhea menggeleng cepat. “Saya tidak berpura-pura baik. Kenapa Anda berpikiran bahwa saya orang yang seperti itu. Anda belum mengenal saya, saya paham. Tapi saya tidak diajarkan untuk menindas orang dan berpura pura baik untuk menarik simpatik?”
Ramlan mendengus, lalu melipat kedua tangannya. Matanya tidak sedetik pun berpaling dari Dhea, menatapnya dengan tajam.
Ramlan pikir, Dhea hanya berpura-pura polos dan baik di hadapannya. Mana mungkin ada perempuan baik yang rela memohon-mohon agar orang yang telah menamparnya tidak dipecat?
Sungguh sangat mustahil.
“Lagi pula saya tidak perlu berpura-pura baik untuk mendapat pengakuan dari orang lain,” tambah Dhea kemudian. “Menjadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan.” tambah Dhea, menatap Ramlan.
Ramlan sempat terdiam. Sejenak. Hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang asing. Ramlan sendiri tak tahu apa yang tengah ia rasakan kini.
Ramlan kemudian bangkit dan berjalan mendekati perempuan itu. Berdiri di hadapannya hingga membuat Dhea mundur secara spontan. Ramlan ikut melangkah maju. Lantas diapitnya dagu Dhea menggunakan jemarinya dan membuat Dhea mendongak menatapnya.
Wajah pria itu berada sangat dekat. Aroma maskulin dari tubuh Ramlan terasa menyapa indra penciuman Dhea dengan kuat.
“Satu hal lagi,” lanjut Ramlan.
“Aku tidak akan menarik kembali keputusanku. Divisi memang pantas dipecat. Kamu lupa, Dhea? Aku sudah membeli hidupmu sampai melahirkan anak untukku, selama itu berarti kamu milikku. Dan siapapun yang sudah berani menyentuh milikku, aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang! Camkan itu!”
Dhea mengangguk ragu sebagai tanda bahwa dirinya mengerti. Dan Dhea berharap Ramlan akan segera melepaskan tangannya dari dagu, gemetar dan menelan saliva karena gugup.
Mata Ramlan menatap Dhea dengan tatapan tajam. Pandangannya lalu turun, menatap bibir Dhea yang terlihat penuh dan merah alami. Luka lebam di sudut bibirnya pun sudah memudar.
Tanpa sadar Ramlan menelan salivanya dengan susah payah saat memandangi bibir yang belum pernah ia cecap itu.
Sial!
Ramlan langsung menghempaskan dagu Dhea dengan kasar. Mencium wanita adalah sesuatu yang haram baginya. Kecuali untuk satu nama Zia, istri sah nya.
__ADS_1
“Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi di sini,” usir Ramlan tanpa perasaan.
Sadar Ramlan tidak akan luluh dengan mudah, Dhea akhirnya mengangguk. Ia pamit pada pria itu kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Namun, belum sempat Dhea membuka pintu tersebut, seseorang sudah lebih dulu membukanya dari luar hingga terbuka lebar.
“Oh? Bukankah kamu… Dhea?”
“Raja?!”
Dhea terkejut, kala melihat pria yang sempat ia tabrak seminggu hari lalu.
“Ya, ini aku. Wah aku sangat tersanjung karena kamu masih mengingatku.” Raja tertawa.
“Sedang apa di sini?”
“Aku… em… habis bertemu dengan Tuan Amroza, ada pekerjaan yang perlu kami bahas,” kilah Dhea.
Raja sempat mengangkat kedua alisnya, lalu menatap Dhea dan Ramlan secara bergantian dengan penuh tanya. Detik berikutnya ia kembali tertawa.
“Oh, baiklah. Kamu mau keluar? Kalau begitu silahkan.”
Dhea mengangguk. Ia kembali melanjutkan langkahnya setelah pamit kepada Raja. Namun, belum sempat Dhea mencapai ambang pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti saat Raja menahan pergelangan tangannya.
Dhea pun terkejut.
“Raja, ada apa?”
“Nanti siang apa kamu punya waktu?”
Kening Dhea mengernyit heran. “Kenapa memangnya?”
Raja lantas menunjukkan lengan yang satunya lagi, yang sempat terluka oleh ordner yang dibawa Dhea.
“Luka ini belum—” lirih Raja.
"Lepaskan tangan saya!" ujar Dhea memaksa.
“Singkirkan tanganmu dari wanita itu!” teriak Ramlan, hal itu membuat Dhea menoleh dan mengumpatkan tangannya.
__ADS_1
"Pergillah! kau Raja, masuk. Jangan ganggu orangku!" sarkas suara Ramlan, membuat Dhea pergi dan pamit.
T**bc**.