
"Dhea.. Dhea!"
Dhea mengerjap-ngerjapkan matanya, kaget mendengar suara teriakan seorang laki-laki yang tak lain adalah suaminya.
Dhea menggulung rambut coklat miliknya sembarangan. Kakinya mulai turun ke bawah, menginjak lantai yang terasa dingin di kedua kakinya. Ternyata pagi ini Dhea masih mengenakan seragam kerjanya. Sepertinya kemarin dia tertidur dengan masih mengenakan seragam setelah lelah menangis.
Dhea berdiri di tengah-tengah pintu kamarnya yang memang tak tertutup semalam. Matanya menatap malas Ramlan, yang tengah duduk di meja makan yang terletak di depan kamar mereka, dengan kaki dinaikkan ke atas kursi.
"Baru bangun kamu! Benar-benar istri tidak berguna." Lagi-lagi Dhea mendapatkan cacian untuk sarapan paginya.
Kali ini Dhea berusaha menulikan pendengarannya. Melewati Ramlan begitu saja, menuju ke dapur. Tangannya mulai membuka kulkas, hanya tempe sepotong yang tampak mengisi kulkas milik Dhea. Tak ada lagi bahan makanan yang dapat dimasaknya pagi ini.
Ditutupnya kembali kulkas itu, lalu Dhea berjalan kembali menuju ke kamarnya.
"Aku lapar!" teriak Ramlan, menghentikan langkah Dhea yang hendak masuk ke dalam kamar mereka.
Dhea hanya melirik, menanggapi ocehan Ramlan, kemudian melanjutkan lagi langkahnya. Mata Dhea, mulai mencari-cari tas yang digunakannya untuk kerja kemarin.
"Di mana kamu?" gumam Ramlan yang tak mendapati keberadaan makanan.
"Dhea! Suami mu ini sudah lapar! Apa yang kamu lakukan di dalam sana."
Dhea memutar bola matanya malas mendengar teriakan dari Ramlan, suaminya.
Dhea mulai menundukkan kepala, mencoba melihat di bawah kolong tempat tidur, tak memperdulikan Ramlan yang terus-terusan berteriak tak jelas. Dia hanya ingin menemukan tasnya saat ini. Dan benar saja, Dhea melihat tasnya tergeletak di tengah-tengah kolong ranjangnya.
Tangan Dhea mulai terjulur dengan susah, ia berusaha mengambil tasnya. Namun usaha yang dilakukan selama beberapa menit itu tampaknya tak membuahkan hasil.
Dhea kembali berdiri lalu melangkahkan kakinya ke luar kamar, kemudian menuju ke dapur mengambil sapu lantai yang akan digunakan sebagai alat untuk membantu mengambil tas miliknya.
"Heh, kamu benar-benar ya!" omel Ramlan lagi saat mendapati Dhea berjalan melewatinya begitu saja.
__ADS_1
"Apa sih Mas?" sahut Dhea asal, agar suaminya itu tak mengomel lagi. Kali ini Dhea menghentikan langkah kakinya, hanya untuk sekedar menanggapi sang suami.
"Ngapain kamu bawa-bawa sapu? Nggak dengar kamu, kalau aku minta makan! Aku lapar, Dhea. Kamu lupa, aku dicopot dari ceo oleh daddy ku Moza ke rumah ini, hanya karena aku harus siaga sampai kamu melahirkan."
Ramlan udah marah-marah karena merasakan lapar. Cacing-cacing di dalam perutnya sudah memberontak ingin segera di isi.
"Aku mau ambil tas aku Mas."
Kembali Dhea, ia pergi meninggalkan suaminya lagi, tak peduli dengan ekspresi kemarahan yang ditunjukkan Ramlan kepadanya. Lagi pula ia yang lebih dulu merobek tiket honeymoon, yang membuat amarah Tuan Moza murka karena Ramlan tidak adil padanya yang sedang hamil.
Dhea mulai memasukkan batang sapu kedalam kolong ranjang, menggeser-geser tas miliknya sedikit demi sedikit dengan batang sapu yang dibawanya. Kemudian tangannya langsung menyaut tas yang sudah berada di depan kolom ranjangnya.
"Akhirnya ...," ucap Dhea gembira. Tangannya mulai membuka tas dan mengambil dompet kecil berwarna pink itu.
Dibukanya dompet tersebut dengan mata berbinar berharap masih ada banyak uang yang tersisa untuk menyambung hidup. Ini baru tanggal 15 dan tanggal gajian masih lama, setidaknya dia harus berhemat untuk 15 hari ke depan. Karena hidupnya benar benar gila, ketika Ramlan di copot dari jabatan tanpa sepeserpun uang.
Harapannya seketika musnah ketika melihat isi dari dompetnya. Hanya ada 3 lembar uang berwarna hijau, 3 lembar uang berwarna ungu dan 10 lembar uang berwarna hijau muda.
"Mas ...," panggil Dhea lirih. Jika boleh memilih ia tak ingin melakukan ini, tapi bukannya tadi suaminya itu meminta makan.
Jadi mau tak mau Dhea harus meminta uang untuk membeli bahan makanan. Tak ada apa pun yang bisa dimasaknya kali ini, hanya sepotong tempe yang tersedia di kulkas dan suaminya itu tak akan mau makan makanan seperti itu.
"Apa!" sahut Ramlan kesal. Tangannya terlihat sibuk mengotak atik hp keluaran terbaru.
"Aku minta uang, Mas ...."
Dhea, tak berani menatap wajah Ramlan, dia hanya melirik sebentar ponsel keluaran terbaru yang sedang dimainkan suaminya itu.
"Apa? Uang!"
Ramlan meletakkan ponsel yang tengah dipegangnya. Matanya menatap tajam Dhea yang menundukkan kepala.
__ADS_1
"I--iya Mas."
"Kamu pikir uang itu jatuh dari langit! Minta, minta. Bukannya kamu tadi nyariin tas kamu saat aku minta makan! Kenapa tas kamu? Nggak ada isinya! Kemana uang gajian kamu? Habis kamu pake buat bersenang-senang sama temen-temen kerja kamu!"
Bukannya memberikan apa yang dimintanya, Ramlan malah marah-marah tak jelas.
Dhea memejamkan matanya menahan segala amarah yang ingin sekali diluapkannya. Tangannya terlihat menggenggam erat hingga menampakkan urat-uratnya. Ia tak ingin mendapatkan perlakuan kasar lagi dari suaminya itu seperti semalam.
"Mas, ini hanya cukup buat beli tempe!" protes Dhea, mengikuti suaminya yang sudah membaringkan tubuh dan melepas baju yang dipakainya tadi.
"Ya udah sana beli tempe!" sungut Ramlan menutup wajahnya dengan bantal.
"Mas, nggak suka tempe! Nanti Mas pasti ngomel kalau aku cuman masakin Mas tempe sama sambal doang."
"Akh ...!" teriak Ramlan melemparkan bantal yang digunakan untuk menutupi kepalanya tadi, karena kesal dengan omelan Dhea.
Tubuhnya mulai terlihat bangkit dari ranjang dan mulai mendekati Dhea. "Kau tahu, aku harus dalam keadaan berubah, sampai anak itu lahir dan aku dilupakan oleh Daddy. Jadi kau tahu kan, kenapa aku hanya butuh anak itu tanpa pernikahan asli ini. Kau tahu kan, aku cinta dengan Zia istriku." ancam Ramlan.
Dhea menelan ludahnya kasar, bayangan buruk tentang perlakuan kasar Ramlan tadi malam langsung berseliweran di kepalanya.
Dhea memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit, menghindari jangkauan tangan Ramlan, yang mulai terjulur untuk meraih tubuh Dhea. Kenapa Ramlan tidak protes pada tuan Moza, kenapa Dhea selalu disalahkan.
Langkah Dhea terhenti saat kakinya membentur pinggiran pintu kamar. Matanya sudah tertutup takut saat merasakan tangan Ramlan mulai mencengkeram erat bahunya.
"Lepas mas! jangan kasar, jika terjadi sesuatu pada anak ini. Maka bukan aku saja yang disalahkan, tapi kamu tidak bisa kembali ke posisimu kan?"
"Jadi maksudmu apa?"
"Berdamailah! jika mas ingin Zia disisimu, bawa istrimu dalam keadaan rumah dan ekonomi sederhana ini. Anggap aku tidak ada, lagi pula enam bulan sedikit bagi Dady Moza melihatmu, apakah kamu sanggup melewatinya. Atau aku akan tinggal di rumah kontrakan dekat Sam. Agar mas tahu, aku hanya menurut sebagai istri kontrak mas. Jika Zia mencintai mas, kenapa dia menolak tinggal dalam keadaan sederhana ini?" tanya Dhea, membuat Ramlan terdiam.
Tbc.
__ADS_1