
Ramlan tidak lekas menekan nomor Dhea, Ramlan terpaku melihat wallpaper ponsel Zia. Foto itu masih tersimpan, foto saat Ramlan dan Zia menjadi sepasang kekasih dulu.
Hal ini benar-benar membuat Ramlan kembali mengingat kata-kata Zia kemarin yang menegaskan bahwa dirinya sangat mencintainya, dan bahkan kata sandi ponsel milik Zia pun memakai tanggal lahir Ramlan.
Tak lama kemudian.
Klik!
Zia: Ya halo, selamat siang. Ini dengan siapa ya?
Ramlan amat merasa lega, mendengar suara Zia.
Ramlan: Ini aku, Sayang.
Zia: Mas Ramlan? Ini pakai nomor siapa, Honey? katakan padaku mas!
Rido: In... ini pakai nomor Dhea. Kamu di rumah baik-baik saja kan, Sayang?
Sesaat tidak terdengar suara Zia dari dalam telepon.
Ramlan : Sayang? Kamu masih di sana? Sayang?
Zia. : Iya, Sayang. Aku baik-baik saja di sini, Mas tenang saja.
Ramlan : Syukurlah, aku kangen banget sama kamu, Sayang. Hampir seharian kita gak ketemu, rasanya kaya seabad.
Zia : Lho, tadi pagi kan kita juga ketemu. Mas lupa ya?
Di telinga Ramlan, suara Zia terdengar manja seperti biasanya. Ramlan jadi tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan Zia lalu bercengkrama dengannya.
Ramlan : Mau kita ketemu setiap hari pun, kalau mas kelamaan gak lihat kamu rasanya kaya ada yang hilang, Sayang.
( Terdengar tawa kecil Zia ).
Zia : Ohh ya, ini kan masih jam 2, Mas. Pasti acaranya lagi ramai-ramainya. Kenapa Mas malah telepon? Mendingan Mas balik ke acara sekarang!
Ramlan : Iya, Sayang. Tapi aku___
"Ramlan, apa yang kamu lakukan?" tegur seseorang dari belakang.
Ramlan amat sangat mengenal betul suara tersebut.
Ramlan pun membalikkan badannya. Ny Helena sudah berdiri di belakang Ramlan dengan menampakkan wajah ketidaksukaannya.
"Ramlan, lekas kembali ke tempatmu sekarang!" perintah Ny Helena.
__ADS_1
"Iy... iya, Ma. Bentar lagi ya, aku masih___"
Tanpa permisi Ny Helena mengambil alih ponsel Dhea, dengan paksa. Ny Helena melihat layar ponsel tersebut.
"Ma. Jangan, Ma. Ramlan masih mau bicara," pinta Ramlan.
"Biar mama yang bicara sama Zia," sahut Ny Helena sambil lekas menempelkan ponsel tersebut pada telinganya.
"Halo, Zia. Tolong, mama mohon untuk kali ini saja kamu baik baik di rumah dan jangan bertingkah. Suamimu sedang sibuk, kamu paham gak sih? Ini hari pernikahan kontraknya," ujar Ny Helena.
Ramlan mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dengan gerakan kasar.
'Astaga, Mama!' omel Ramlan dalam hati.
Ny Helena tampak diam. Ramlan tidak tau apa yang Zia katakan, Ramlan takut jika Zia sakit hati dengan kata-kata Ny Helena barusan. Pasalnya Zia itu adalah wanita yang lemah lembut dan juga berperasaan, ia tidak bisa panik karena penyakit bipolarnya itu.
"Ya sudah, mama matikan sekarang," lanjut Ny Helena.
Ny Helena pun mematikan panggilan telepon Ramlan tadi.
"Kenapa mama tadi ngomong seperti itu sama Zia, Ma?" protes Ramlan. Ny Helena menggelengkan kepalanya.
"Memang harus seperti itu. Kamu mau buat mama malu ya? Kenapa kamu tinggalkan Dhea sendirian di depan? Sekarang mendingan kamu balik ke sana lagi. Sekarang, Ramlan," ujar Ny Helena.
Tanpa menunggu lama lagi, Ramlan pun ikut pergi meninggalkan toilet hendak bergabung dengan Dhea kembali.
Ramlan berjalan dengan lesu. Tanpa kata pun, Ramlan duduk di tempatnya semula. Tidak peduli Dhea yang terus memperhatikannya, kemungkinan Dhea tengah menunggu Ramlan mengucapkan sesuatu.
"Kamu kenapa?" Pada akhirnya Dhea menanyakan keadaan Ramlan juga.
"Kamu di marahin mama ya? Maaf ya, aku terpaksa kasih tau keberadaan kamu tadi, waktu mama tanya soal kamu dan akhirnya aku___"
"Sudahlah, aku harap kita segera pulang. Aku capek dan aku perlu istirahat," jawab Ramlan ketus, memotong kata-kata Dhea. Hal itu langsung membuatnya terdiam.
Ramlan pun kembali mengikuti upacara pernikahannya di waktu menjelang jam-jam terakhir dengan murung.
Beruntung, tidak sampai sore acaranya selesai juga. Ramlan amat lega, ia tidak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengan Zia.
"Ramlan," panggil Ny Helena saat berada di halaman parkir gedung yang ditujukan untuk ijab kabul serta resepsi.
Ramlan yang sudah sangat semangat hendak masuk mobil pun menengok ke arah suara Ny Helena yang nampak berlarian kecil ke arahnya.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Ramlan.
"Kamu gimana sih, kamu bisa-bisanya langsung nyelonong aja," semprot Ny Helena saat sudah berada di hadapan sang putra.
__ADS_1
"Lho, bukannya sudah selesai ya, Ma. Aku capek, Ma. Kepalaku pusing, aku mau istirahat di rumah sekarang," jawab Ramlan.
Ramlan merasa keberatan seandainya harus mengikuti acara-acara keluarga tradisi, entah apapun itu.
"Iya mama paham, tapi Dhea gimana? Kenapa kamu tinggalin begitu? Ajak dia pulang ke rumah kita," kata Ny Helena, Ny Helena menyempatkan diri menengok ke arah Dhea yang berdiri beberapa meter dari mobil Ramlan.
"Hah? Dhea?" Spontan saja Ramlan mengucapkan kata-kata tersebut.
Ny Helena mendelik.
"Dia itu istri kamu juga. Kamu jangan ngomong kalau pikiran kamu itu Dhea bakalan pulang ke rumah keluarga Moza. Dia akan ikut tinggal dengan kita, dengan keluarga kita dirumahmu," ujar Ny Helena.
"Ap... apa, Ma?" Ramlan merasa ada yang tidak beres dengan pendengarannya sendiri.
"Mulai sekarang Dhea akan tinggal di rumah kita." Ny Helena pun mengulangi kata-katanya tadi.
Ramlan amat tertekan.
'Sial! Perjanjian yang ku buat kemarin memang tidak ada poin yang mengatakan aku harus pisah rumah dengannya. Tapi kalau aku sampai pisah rumah sama dia, mama pasti minta aku untuk membagi waktu tinggal di rumah kedua, dan tentu saja aku tidak bisa bertemu dengan Zia setiap hari,' batin Ramlan.
Ny Helena menyenggol lengan Ramlan.
"Ramlan, kamu kenapa malah ngelamun? Ajak Dhea pulang sekarang, katanya kamu mau segera istirahat. Bukan hanya kamu saja yang capek, mama yakin Dhea juga capek," tegur Ny Helena.
"Iy... iya, Ma," sahut Ramlan.
Ramlan hanya diam saja saat Ny Helena melambaikan tangan ke arah Dhea, menyuruh nya untuk mendekat.
"Iya, Ma?" akhirnya Dhea pun ada di samping Ny Helena.
"Kamu pulang bareng suamimu ya, nanti kita ketemu di rumah. Mama masih mau membereskan urusan resepsi ini," pinta Ny Helena sambil menyilakan rambut Dhea.
Ny Helena tampak bahagia sekali melakukan itu, Ramlan hanya bisa menghela nafas berat.
"Ayo!" ajak Ramlan yang langsung masuk begitu saja, tidak peduli dengan Ny Helena yang menggelengkan kepalanya.
Dengan kesal Ramlan memasang tali pengamannya, supaya berkendara lebih aman. Rasanya Ramlan ingin mengamuk, tapi atas dasar apa?
Dhea pun yang melihat jendela, ia tahu jika sepasang suami istri itu saling mencintai, problemnya adalah karena perjanjian rahim demi keturunan penerus keluarga Moza. Dan Dhea membutuhkan biaya untuk kedua adiknya.
Dhea merasa bagai benalu ditengah tengah pria yang ia kagumi bernama Ramlan, awalnya arogan dan bengis. Tapi ia lembut kala tidak bisa menyakiti hati istrinya dan mamanya itu.
'Aku harus apa? bahkan enam bulan masih terlihat lama.' batin Dhea, menatap kalender yang ingin segera ia akhiri, meski ia mencintai suami orang lain, tapi ia ikut sakit hati.
Tbc.
__ADS_1