
Malam harinya, Ramlan sudah menyuruh Sam mencarikan rumah untuk Zia istrinya yang sedang berobat. Tentunya yang lebih mahal dan mewah dari rumah Dhea tinggal, sesuai permintaannya, ia mengamuk tidak ingin tinggal bersebrangan dengan madunya sampai Dhea melahirkan.
Ramlan beranjak dari kursi, berpindah untuk terbaring di atas kasur karena Dhea juga sudah bersiap untuk tidur.
Dhea terlentang di sebelah Ramlan, menghadapkan posisinya ke arah lelaki itu. Jari-jarinya menyusuri bidang Ramlan. sedang Ramlan meluruskan tangannya agar Dhea berbantal di lengannya.
"Boleh aku tanya, aku mau tanya kenapa akhir-akhir ini kau memberi ku uang, dan perhatian tidak seperti biasanya."
Sejak kemarin Dhea sudah ingin bertanya demikian, ia hanya menunggu momen yang pas. Dan Dhea rasa malam ini suasana hati Ramlan sedang tenang.
"Kemarin mobil masuk bengkel dan butuh banyak uang untuk biaya perawatan." Ramlan berdusta, padahal ia memotong bulanan Zia karena untuk membeli kebutuhan Dhea, Ramlan yakin Dhea pasti ingin membelikan keperluan untuk bayinya kelak.
Tak lama, dering panggilan telepon. Ramlan pun beranjak menjauh dari Dhea.
Terlanjur Dhea melihat siapa penelpon itu, jadi Ramlan tidak ada alasan untuk mengangkat panggilnya keluar kamar.
"Aduh, tolong. Aku mual sekali."
Suara wanita yang terdengar lemas dan gugup menyambar telinga Ramlan, yang kala itu duduk bersandar dipan kasur. Ia perlahan menuju ruang tamu, hanya ingin mengambil air hangat.
"Dhea, mual kenapa? Kau habis makan apa? Sa —"
Nyaris Ramlan menyeru kata 'sayang' padahal di sebelahnya ada Zia. Sedetik kemudian Ramlan langsung mengoreksi, kala Zia telah kembali dan menghampiri kediaman Dhea.
"Dhea, minum air putih. Aku suruh Sam ke sana ya."
Ramlan turut panik, tak ada cara lain kecuali menyuruh Sam, untuk memastikan kondisi Dhea kalau perlu membawa wanita itu ke rumah sakit.
Ramlan belum selesai berbicara, namun Dhea sepertinya sudah tidak tahan dengan rasa perutnya yang seperti ada badai di dalam sana.
Sungguh Ramlan sejujurnya panik sekali, ia cemas dengan keadaan Dhea. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun sebab ada Zia. Kecuali kalau Zia sudah tidur dan Ramlan akan mudah menemui Dhea, ia khawatir memberi perhatian lebih karena anaknya saja.
"Kenapa? Ada apa dengan Dhea. Honey?" Desak Zia mengguncang lengan Ramlan, yang wajahnya terlihat pucat namun tak menghilangkan warna aslinya.
"Dhea, muntah-muntah. Mungkin itu efek dari kandungannya."
__ADS_1
Ramlan menyandarkan kepalanya pada dinding, sekelebat ia melirik Dhea, penasaran dengan ekspresi wanita itu. Andai saja, istri sahnya yang hamil. Mungkin keadaan akan lebih baik dan tidak pusing seperti saat ini, Ramlan kebingungan menjaga hati wanita.
Zia turut prihatin, otaknya berpikir keras mencari cara agar Dhea setidaknya ada seseorang yang menjaganya di sana.
"Lebih baik kau suruh Sam, untuk antarkan Dhea kerumah sakit saja. Biar dia istirahat. Atau bawa dia kerumah kita."
Jelas Ramlan terkejut mendengar usulan konyol tersebut. Ramlan melebarkan matanya, menelan saliva dengan susah payah karena ide Zia benar-benar di luar dugaan Ramlan. Tidak sedikitpun terlintas di kepala Ramlan untuk membawa Dhea ke rumah sebelah, sekalipun kondisinya darurat seperti ini.
Namun Zia, ia selalu menggunakan perasaan. Rasanya ia tidak tega membiarkan Dhea di rumah sendiri dengan kondisi hamil muda. Terlebih harus melibatkan suaminya menengoknya terus menerus.
"Hah? Sayang, tidak usah lah. Biar aku suruh Sam, jagain Dhea di sana saja." Ramlan menolak keras.
"Aku juga pernah hamil dulu, jadi aku tau apa yang harus aku lakukan untuk Dhea, setidaknya aku bisa bantu. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan Dhea, apa lagi ini hamil anak pertama." Zia kekeh dengan putusannya. Ia tak menerima penolakan apapun dari Ramlan.
Zia menadah tangan, menagih ponsel Ramlan yang tergeletak di atas nakas.
"Kemarikan ponselnya, biar ku hubungi Sam saja. Kau lebih baik siapkan kamar sebelah untuk Dhea tempati." perintah Zia bernada tenang.
Ramlan seakan tak punya kekuatan untuk melawan keputusan Zia. Zia selalu punya cara untuk membenarkan apapun yang menurutnya baik. Dan Ramlan akan tetap kalah jika berdebat dengan Zia.
Ramlan menjawab dengan terpenggal-penggal, ia kemudian turun dari ranjang dan berlalu meninggalkan Zia yang sedang menghubungi Sam.
Setelah hampir 30 menit, Zia dan Ramlan bergegas keluar rumah karena terdengar mesin mobil berhenti di halaman rumahnya.
Tampak jelas, deru langkah Sam, yang keluar dari mobil bersama Dhea menuju pada Zia dan Ramlan yang menunggu di ambang pintu.
"Dhea, masuklah. Langsung ke kamar saja, ya. Kau harus banyak istirahat." ajak Zia. Ia beralih mengambil tas milik Dhea dari tangan Sam.
Hal itu membuat Dhea kebingungan, karena sikap istri sah Ramlan terlihat baik hari ini.
Zia sibuk mengantar Dhea ke kamar. Berbeda dengan Ramlan yang seketika seperti orang bodoh, Ramlan bahkan tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana disana istri simpanan dan istri sahnya tinggal serumah. Terlebih mereka terlihat begitu akrab.
"Zia. Terima kasih ya sudah mau mengajak ku menginap di sini. Padahal aku di rumah juga tidak apa-apa, tapi malah memaksaku," ucap Dhea setelah duduk berselonjor di atas kasur, setengah badannya dikatup selimut tebal.
"Aku tidak tega membiarkan mu di rumah sendirian, Dhea. Lagi pula kalau ditemani Sam, aku takut tetangga akan mengira hal yang tidak diinginkan."
__ADS_1
Zia merespons seraya menyemprotkan pengharum ruangan di beberapa sudut kamar demi kenyamanan Dhea, dan kandungannya.
Begitu selesai, Dhea mendaratkan pahanya duduk ditepi ranjang.
"Bagaimana perutmu? Masih mual? Aku buatkan teh hangat dulu, ya. Biar badan mu lebih enakan."
Perempuan yang mengenakan sweater rajut dan celana bahan panjang itu kemudian mengangguk mengiyakan tawaran Zia.
Disaat Zia keluar untuk membuatkan teh hangat, disitulah Ramlan masuk kamar menemui Dhea. Ramlan sengaja membiarkan pintunya terbuka lebar agar tak mengundang kecurigaan.
"Ramlan, kenapa kita bisa serumah dengan istri sah" mendadak Dhea mendekap perut Ramlan, yang mana lelaki itu tengah berdiri di sisi ranjang.
Ramlan mengumbar paksa tangan Dhea sebelum pemandangan panas itu disaksikan Zia.
"Astaga. Lepaskan dulu, jaga sikap mu selama di sini. Sebaiknya kita jangan terlalu dekat dulu." tegas Ramlan, memelototkan matanya demi Dhea patuh pada perintahnya.
Karena bisa saja, istrinya Zia akan kembali mengamuk karena penyakit bipolarnya yang suasana hatinya harus baik.
Dhea meruncingkan kedua bibir, tangannya bersedekap sedang pandangannya menatap kesal pada Ramlan.
Eheem!! tatapan Zia kembali menyadarkan, setelah apa yang ia lihat.
"Oke, aku turuti. Tapi aku juga minta agar kau tidak bersikap mesra dengan Ramlan selama aku di sini." tantang Zia.
Ramlan menelan kembali jawaban yang sudah berada di ujung lidah karena kedatangan istrinya.
"Dhea, minumlah dulu!"
Zia naik ke atas kasur, menyerahkan segelas teh hangat untuk Dhea.
"Aku bawa kau kesini, aku ingin pastikan dan lebih dekat dengan anak itu. Jangan terlalu terbang, ketika suamiku baik dan manis padamu. Karena itu, hanya akan berakhir di waktu kamu melahirkan. Bahkan bayimu, tidak boleh melihat ibu aslinya." bisik Zia senyum.
Hal itu pun membuat Dhea menahan kecewa, yang teramat dalam. 'Beginikah, rasanya mencintai suami orang lain?' batin Dhea, ia berusaha tegar menahan untuk tidak menangis, dibalik senyumannya.
Tbc.
__ADS_1