Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
TERPUKAU KEBAIKAN


__ADS_3

Sam mengajak Dhea pulang, ia sebagai asisten Tuannya, tak bisa bicara seakrab begitu saja meski Dhea telah di rumahnya.


"Apa Kamu mau membantuku?" Dhea mulai bertanya serius


"Boleh aku minta nomor ponselmu?" Sam, mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Dhea.


'Sungguh gadis yang pemberani' berucap dalam hati.


Dhea mengambil ponsel itu dan memasukkan kontaknya Sam, ia menyimpan nomor itu dan kemudian mencoba menghubungi Sam. Seketika ponsel Sam berdering.


"Aku sampai lupa, jika nomorku telah diganti oleh mas Ramlan. Jika hanya kita berdua, kau tidak perlu memanggilku nona Sam! Nona atau nyonya, hanya pantas untuk panggilan istri sah Tuanmu. Aku hanya wanita asing yang pada masanya akan dibuangkan."


Sam sedih, jika saja ia lebih dulu memahami gadis bernama Dhea, saat pertemuan di limbah bersama Ramlan. Tidak mungkin ia menyodorkan gadis didepannya ini, entah pertemuan kedua membuat Sam terpukau saat Dhea diganggu segerombol manusia penjual manusia di sebuah club. Hanya karena salah sasaran, yang disengaja oleh orang club tepat adanya tuan Ramlan.


"Istirahatlah, pelataran rumah ini hanya diketahui tidak banyak bagi keluarga Moza. Tapi rumah utama di depan, adalah keluarga besar yang sering di singgahi sepupu dan paman Ramlan." jelas Sam, membuat Dhea mengerti. Ia paham, jika Dhea tidak boleh menginjak rumah sebelahnya.


Pagi yang sangat cerah Dhea bangun dengan semangat, dan sepertinya lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


Dhea kemudian mengemasi barang barangnya dan mengakhiri penatnya. Apalagi ia sedang hamil, maka ia benar benar harus menjaganya sebelum Ramlan murka.


Ada harapan baru dalam hidupnya tapi entah apa, hanya saja Dhea ingin menjalani semuanya dengan senang hati, mungkin saja karena ada sedikit celah dan bantuan yang diberikan oleh Sam.


Kemelut ini memang tidak bisa diselesaikan, tapi semua masalah pastilah ada solusinya.


"Bi Aku pamit ya "


"Iya non, semoga semuanya bisa terselesaikan"


"Apa Tuan Ramlan bareng sama Zia? "

__ADS_1


"Iy, pagi pagi sekali. Tapi pesan tuan Sam, katanya perintah tuan Ramlan. Non Dhea jangan pergi jauh jauh. Kalau mau ke supermarket, biar bibi antar."


Mendengar bibi di rumah! Dhea menurut, hingga beberapa jam ia memilih buah, sayuran sehat dan vitamin untuk persediaan. Entah kenapa saat ini, nafsu makan Dhea sangat drastis. Dhea pun memilih banyak buah, ditemani asistennya itu.


Sementara di kamar, berbeda Rumah. Ramlan dan Zia terlihat bersiteru, ketika Ramlan ingin menengok sebelah rumah yang di tinggali Dhea, dan seorang Art.


"Honey, kalau aku bertanya kepadamu apa kamu bisa menjawab dengan jujur pertanyaanku?”


“Ya, bukankah aku tidak pernah berbohong kepadamu selama ini?” Laki-laki itu mencomot sandwich yang sudah disiapkan di atas piringnya.


“Kamu yakin tidak ada yang kamu tutup-tutupi dariku?”


“Tidak ada, Zia Sayang,” jawab Ramlan tegas.


“Baiklah kalau begitu aku akan bertanya. Tolong jawab dengan jujur!” pinta Zia.


Melihat wajah serius istrinya membuat Ramlan meletakkan sandwich di tangannya. Tangan Ramlan berpindah menggenggam tangan Zia yang ada di atas meja.


“Sini ceritakan semuanya padaku! Jangan dipendam sendiri!”


Selama beberapa saat, Zia masih terdiam, wanita itu menatap suaminya dalam diam dan membiarkan Ramlan menggenggam tangannya.


“Mas, apa kamu selingkuh dengan sekertarismu. Bukan hanya wanita miskin itu saja?”


Genggaman tangan Ramlan merenggang seketika, senyum di wajah Ramlan perlahan-lahan hilang.


“Kamu bicara apa, Sayang?”


"Kamu selingkuh! berapa banyak wanita lagi yang aku belum tahu. Honey?"

__ADS_1


“Kamu bicara apa, Sayang?” kembali bertanya.


Zia menunjukkan video panas yang dia miliki ke suaminya.


Ramlan terkejut ketika melihat rekaman video yang ditunjukkan oleh Zia.


"Ini kamu dengan siapa?" cecar Zia.


Ramlan tidak menjawab. Dirinya tahu betul video tersebut menunjukkan dirinya 'bermain' dengan siapa. Entah istrinya dapat dari mana video itu, yang jelas saat ini dia harus membuat istrinya tidak mencurigainya lagi.


“Jawab! Jangan diam saja seolah kamu mengakuinya!”


“Sayang, apa kamu yakin itu aku? Kamu tahu sendiri betapa aku sangat mencintai kamu,” ucap Ramlan berusaha untuk merebut hati istrinya kembali dan meyakinkan Zia. Sebab itu adalah video sebelum ia menemukan Dhea, ia berkali kali ingin menyewa rahim hanya untuk mendapatkan seorang anak.


“Jelas-jelas itu wajah kamu. Masih mau berbohong lagi?” cecar Zia.


“Kamu tahu betapa hancurnya hatiku ketika melihat video itu. Aku sudah kesal ketika kamu menikah lagi, hanya karena status anak itu kelak. Dan ini apa lagi..?" ujar Zia dengan tatapan jijik.


“Itu bukan aku. Siapapun yang mengirimkan video itu aku yakin sekali pasti karena dia ingin merusak rumah tangga kita. Percaya padaku, Sayang!” bujuk Ramlan lagi.


"Honey. Jujurlah, aku mohon!" tangis Zia.


"Ok! itu video dua tahun lalu, sebelumnya aku butuh menuntaskannya. Karena selama satu tahun lebih aku menunggumu di rumah sakit. Tapi wanita itu sudah aku pecat! setahun belakangan ini, aku tidak seperti itu. Aku fokus mencintai kamu. Dan fokus anak kita." senyum Ramlan.


"Tapi nyatanya, kenyataannya anak itu bukan anak aku dan kamu Honey. Tapi anak kamu dan wanita miskin bernama Dhea." teriak Zia.


Kali ini Ramlan ilang kesabaran, ia berdiri dan pergi meninggalkan Zia seorang diri. Karena tidak ada habisnya jika ia berdebat dengan istrinya itu.


Sehingga saat ia keluar berada di teras, lalu menatap Dhea dari gerbang belakang yang terlihat manis, rambut tergerai sehabis pulang dari supermarket.

__ADS_1


"Mas Ramlan, kenapa datangi aku?" lirih Dhea terkejut, kala Ramlan menghampirinya.


Tbc.


__ADS_2