
Dhea berdiri di depan pintu sambil mengatur napas. Rencananya sudah tersusun rapi, setelah berhasil keluar dari sini. Dhea akan menemui Sam, dan meminta tolong kepadanya agar meminjaminya uang. Dengan begitu ia akan terbebas dari Ramlan dan tidak harus menjadi mesin pencetak anak untuknya.
Setelah berpikir cukup lama, Dhea akhirnya membuka pintu perlahan-lahan. Ia merasa lega ketika tidak menemukan dua bodyguard yang sejak tadi berjaga di depan pintu kamar tersebut.
“Kalau tawanannya nggak mau kabur kenapa keamanannya dilonggarkan?” gumam Dhea setengah mengejek, lalu berdecak lidah.
Dhea kembali menutup pintu, kemudian berjalan mengendap-endap menuju lorong. Tapi langkahnya terhenti kala melihat seorang bodyguard sedang menelepon di ujung lorong tersebut. Dhea lantas berbalik arah dan menyusuri lorong di sebelah kanan.
Jantung Dhea terasa berdebar-debar, jemarinya terasa dingin dan berkeringat. Perkataan Sam memang benar, jika keluarga Moza Ramlan tidaklah sebaik yang ia kira. Apalagi jika benar ia hamil, dan bukan anak laki laki. Penat bagi Dhea saat ini memikirkannya.
Begitu berada di dekat tangga, Dhea terkejut karena di bawah sana para bodyguard Ramlan sedang berkumpul seperti sedang meeting. Buru-buru Dhea menghentikan langkahnya lalu mundur sambil mengendap-endap.
Karena tidak ingin berujung ketahuan, Dhea kembali berbalik dan dia menemukan jendela yang terbuka.
Oh, Tuhan, Dhea harus berterima kasih kepada orang yang membuka jendela tersebut. Dengan cepat Dhea mendekat ke arah jendela itu yang menghubungkan ruangan ini dengan balkon. Lebar balkon itu hanya selebar jendela, sedangkan balkon di lantai dua cukup lebar dan luas.
‘Gimana caranya aku turun dari balkon ini ke balkon lantai dua?’ batin Dhea dalam hati.
‘Sepertinya aku harus lompat. Oke, nggak apa-apa Dhea. Jarak dari lantai tiga ke lantai dua nggak terlalu tinggi.’
Setelah mengatur napas dan menguatkan tekad, Dhea akhirnya melompat ke balkon lantai dua.
Berhasil. Meski kakinya terasa sakit dan nafasnya mulai sesak.
Napas Dhea semakin ngos-ngosan, tampak naik turun. Ia sempat istirahat sejenak, sebelum kemudian mengulangi hal yang sama dari balkon lantai dua ke lantai satu.
BUKKK!!!
“Aaaa….” Dhea mengaduh pelan ketika lututnya membentur lantai. Ia langsung membungkam mulut, kemudian mengusap-usap lututnya yang sedikit terluka dan memar. Setelahnya Dhea melihat ke kiri dan kanan untuk melihat kondisi. Oke, aman.
Dhea lantas berdiri. Di depan sana ada halaman samping mansion yang sangat luas. Beruntung di sini ia tak melihat bodyguard yang berjaga. Dhea bergidik takut melihat pekatnya malam di kejauhan sana. Tapi ia tak boleh merasa takut. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil, Dhea menyeret langkahnya menuruni tangga ke area halaman.
__ADS_1
Namun baru satu langkah Dhea berjalan, ia langsung berhenti karena semakin terasa nyeri dan sesak. Dhea lantas menepuk-nepuk hatinya sendiri.
“Please… please… nggak boleh kambuh sekarang,” gumamnya sambil berusaha mengatur napas.
Dhea mencoba melangkahkan kakinya dengan susah payah. Namun tiba-tiba lampu di sekitarnya mati. Ruang pandang Dhea tampak gelap. Ia tidak melihat cahaya sedikit pun di sekelilingnya. Udara semakin dingin hingga membuat tubuh Dhea kian menggigil.
“Inhaler… aku butuh… inhaler,” gumam Dhea terbata-bata.
Nafasnya semakin terasa menyempit hingga deru napasnya terputus-putus. Sebelah tangannya memegangi hati, sedang tangan yang lain berusaha mencari tas di tubuhnya.
Tidak ada.
Dhea terkejut. Ia baru sadar tasnya tertinggal di kamar. Padahal di dalam tas itu ada obat yang tidak boleh tertinggal ke mana pun ia pergi. Obat yang paling dibutuhkan ketika penyakit asmanya kambuh, seperti sekarang.
Tubuh Dhea merosot ke lantai dengan napas pendek-pendek. Tanpa sadar air matanya meluruh dari manik cokelat terang itu seraya memanggil-manggil orang tuanya, berharap mereka akan menolong di saat ia tersiksa seperti saat ini.
“Ibu… Ayah… aku mau… pulang,” lirih Dhea lagi dengan napas tersengal.
“Bawa inhaler kemari secepatnya! Terlambat lebih dari dua menit, kalian aku pecat!”
Dhea kembali membuka kelopak mata saat suara bariton seorang pria terdengar menggelegar. Suaranya berat dan dalam, terdengar seksi tetapi menakutkan dalam waktu bersamaan. Derap langkah pria itu terdengar cepat dan teratur. Semakin lama semakin terdengar mendekat.
Detik berikutnya lampu kembali menyala hingga Dhea bisa melihat sosok angkuh itu sudah berdiri di hadapannya.
“Sialan! Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cepat!” berang Ramlan dengan tatapan penuh amarah.
“Kamu mau mencoba kabur dariku, heh?”
Dhea tak menjawab. Dia sibuk dengan napasnya sendiri yang terasa begitu menyakitkan.
“Gunakan itu sekarang juga!” Ramlan melemparkan inhaler yang ia ambil dari bodyguard yang baru saja tiba.
__ADS_1
“Kamu tidak boleh mati sebelum aku mengizinkannya!”
Mata Ramlan tampak berkilat-kilat. Dhea masih bisa melihatnya di tengah-tengah penderitaan yang ia alami.
Pandangan Dhea kini tertuju pada benda kecil di hadapannya. Penderitaannya akan berakhir setelah menyemprotkan obat itu ke dalam mulut.
Akan tetapi, Dhea justru memilih membiarkannya begitu saja, lalu kembali menatap Ramlan dan berkata terputus-putus.
“Saya… lebih baik… mati, daripada mengikuti… kemauanmu dan terpenjara… di sini.”
Rahang Ramlan tampak mengetat dan menatap Dhea dengan tatapan membunuh.
“Jadi kamu memilih mati?” Ia tersenyum sinis. “Baiklah, silakan mati saja. Saat kamu mati, adikmu juga akan mati.”
Dhea terhenyak. Tidak masalah jika dirinya mati sekarang, tetapi Dhea tidak mau jika kedua adiknya harus mati karena keegoisannya sendiri.
“Kalau begitu, bisakah… Anda… melepaskan saya?”
“Dalam mimpimu,” desis Ramlan, “Sekalipun kamu ingin bunuh diri, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu tidak bisa mati secepat itu sebelum mengandung dan melahirkan anak untukku.”
Dhea tersenyum miris sambil mengatur nafas. Rasa sakit dan sesaknya semakin tak tertahankan, ia merasa seperti ada di ambang kematian dan Ramlanlah malaikat pencabut nyawanya itu.
Dhea sadar, ia berada di jalan buntu yang tidak memiliki jalan lain untuk ia pilih. Entah dosa apa yang telah dilakukannya di masa lalu, sampai-sampai ia mengalami hidup yang menyedihkan seperti ini.
“Saya bersedia,” ucap Dhea pada akhirnya, menyetujui keinginan Ramlan dengan terpaksa. Masih dengan napasnya yang pendek-pendek. “Tapi Anda harus menyetujui syarat dari saya. Saya tidak mau mengandung dan melahirkan anak tanpa pernikahan resmi.”
Dhea memejamkan mata sejenak, lalu berusaha mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada lantai. Tetapi yang bisa ia lakukan hanya terduduk dengan lemah.
“Kalau Anda benar-benar tidak mau, saya akan tetap memilih mati di sini, dan menjadikan rumah Anda rumah hantu!” pungkas Dhea, sebelum akhirnya tubuhnya kembali merosot ke lantai. Tatapan Ramlan sangat kesal karena permintaan wanita di depannya itu.
Tbc.
__ADS_1