
Hari ini Dhea menghadiri meeting, entah berapa lama ia terdiam. Kala melihat istri sah suaminya datang, tepat menghadiri di hari kebesaran perusahaan. Terlihat juga Raja, pria yang beberapa waktu lalu menatapnya dengan senyum lebar.
Sementara Dhea merasa risih, karena tatapan istri sah Ramlan sinis seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Ia berjalan seperti menuju meja, kursinya saat ini.
“Boleh ikut gabung?”
“Hm?”
Dhea menghentikan kunyahannya begitu mendengar suara yang tak asing di telinga. Ia lantas mendongak dan mendapati Raja tengah membawa nampan berisi makanan.
“Semua kursi di sini sudah penuh,” keluh Raja.
“Lagi pula aku tidak kenal dengan yang lain, aku hanya kenal kamu di sini. Boleh?” ujar Raja, yang disisinya adalah Zia istri sah Ramlan.
'Bagaimana bisa, istri sah Ramlan datang bersama sepupu, musuh mas Ramlan?' batin Dhea.
Dhea sempat berpikir sejenak. Ada dorongan besar dari dalam dirinya untuk menolak Raja. Pasalnya, Dhea khawatir Ramlan akan melihat mereka dan membuat suaminya itu menjadi salah paham. Bagaimana pun juga Dhea sudah bersuami sekarang, terlebih di depannya ada istri sah Ramlan seolah menatap sinis ikut bergabung.
Akan tetapi Raja, benar. Sudah tidak ada kursi kosong di café ini, hal itu Dhea menatap sekelilingnya.
“Ayolah… aku harus meminta tanggung jawab kamu dengan luka ini.” Raja sengaja menunjukkan lengannya yang sempat terluka oleh Dhea dua hari yang lalu.
“Bertanggung jawab? Bukannya kemarin saya sudah menutupinya dengan plester?” tanya Dhea. Ada rasa bersalah menyelinap ke dalam hatinya ketika teringat dengan kejadian itu.
“Hanya menutupi. Bukan mengobati.”
Raja duduk di hadapan Dhea meski perempuan itu belum mempersilahkannya.
“Jadi sebagai gantinya, kamu temani aku makan siang sekarang. Dengan begitu kamu tidak perlu membayar biaya pengobatan rumah sakit.”
Dhea mengeluarkan suara setengah mendengus dan setengah tertawa.
"Wow, ternyata Anda orang yang pintar memanfaatkan situasi ya.” mata Dhea terpicing pada Raja.
Raja hanya tertawa. Lalu mulai melahap nasi dan fried chicken miliknya. Sikapnya itu membuat Dhea tidak tega jika harus mengusir Raja dari meja ini.
“Anda sepertinya bukan orang biasa-biasa, tapi kenapa nggak makan di restoran itu?”
Dhea menunjuk restoran di seberang café ini, yang terbiasa dipenuhi oleh para karyawan yang berdompet tebal.
__ADS_1
“Karena... tadi dari depan aku melihat kamu, makanya aku masuk ke sini. Sekaligus aku membawa istri sah bos mu."
Dhea melanjutkan lagi makannya tanpa terganggu sedikit pun dengan kehadiran Raja. Seakan teringat sesuatu, Dhea lantas menatap Raja. Namun Zia meminta Raja, meninggalkan dirinya seorang diri bersama wanita yang diduga akan mengandung anak suaminya.
"Ok, aku akan pesan dulu. Sekaligus menambah menu makanan dimeja ini. Ide bagus bukan?" lirih Raja, seolah tawa menyindir Dhea.
Dhea terdiam kaku, lalu Zia menyodorkan sebuah cek untuk Dhea berpikir dua kali.
Detik itu juga Dhea, ingin langsung berlari meninggalkan café tersebut. Ia tahu, jika keberadaannya telah diketahui. Akan tetapi Zia menarik tangan Dhea dan mencengramnya. Bagai kuku yang tajam, seoleh menusuk pergelangan tangan kulit Dhea, sehingga Dhea menahan rasa sakit.
"Kenapa, tidak berani berteriak?" lirih Zia.
"Maksud ibu apa ya?"
"Ingat, jika kamu bermain sesuatu, ada hubungan dengan suamiku. Maka aku tidak akan diam."
"Aku ga ngerti maksud bu Zia. Apa yang bisa saya bantu?" gagap Dhea.
Melepas cengkraman Dhea, terlihat berdarah dan membekas. Itu adalah harapan awal Zia yang terlihat puas dipermulaaan. "Tinggalkan suamiku, aku tidak suka anak itu hadir! aku beri waktu kau satu minggu, pergi sejauh mungkin. Terima cek ini, sebagai pelarianmu!" senyum Zia.
Dhea tidak habis pikir, ia segera mengeluarkan dompet. Membayar pesanan yang ia makan, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Zia yang memaksanya pergi dari kehidupan Ramlan.
"Ada apa?" tanya Raja, akan tetapi Zia tak menjawab dengan wajah datarnya.
***
Esok Harinya.
Memar tusukan kuku itu, membuat Dhea menahan rasa sakit. Ancaman istri sah Ramlan, membuat Dhea berpikir dua kali. Jika ia adukan pada Ramlan, pria itu tidak mungkin percaya. Hanya satu dalam benak Dhea, kenapa istri sah Ramlan menolak anak yang notabane akan menjadi penerus posisi Ramlan.
Kedua kenapa istri sah Ramlan, jalan bersama Raja, yakni sepupu Ramlan, yang diyakini musuh berat. Hal itu Dhea tahu, beberapa lalu dari kejadian dan cerita Sam.
'Ah, penat. Sakit aku memikirkannya.' batin Dhea.
Begitu tiba di depan ruang divisi keuangan, Dhea lantas membuka pintu setelah sebelumnya mengatur napas terlebih dulu.
Terlihat semua karyawan divisi itu sedang berdiri dengan kaku dan menunduk hormat di depan Ramlan. Suasana terasa hening dan mencekam.
Dhea ikut bergabung dengan mereka dan sempat menyapa Ramlan dengan hormat. Tatapan Dhea dan Ramlan sempat bertemu tidak lebih dari tiga detik. Sebelum akhirnya Ramlan membuang muka, seakan akan tidak mengenali Dhea.
__ADS_1
“Siapa yang sudah membuat laporan keuangan ini?” tanya Ramlan sembari mengangkat sebuah berkas di tangan kanan.
Mata Dhea sedikit membulat begitu melihat cover berkas tersebut yang sangat ia kenali. Ia lantas mengangkat tangan.
"Saya, Tuan.”
“Oh. Benarkah?”
“Benar.” Dhea mengangguk.
Sebelah alis Ramlan, terangkat seraya menatap Dhea dengan tatapan dingin. “Kalau begitu, saat mengerjakan laporan ini, di mana kamu taruh otakmu?”
Suara Ramlan yang terdengar pelan namun penuh ancaman itu sontak membuat Dhea terhenyak. Semua mata langsung terarah pada Dhea dengan ekspresi yang hampir sama terkejut.
“Tuan, apa ada yang salah dengan laporan itu?” tanya Raja, direktur keuangan yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Diam! Saya tidak sedang bicara denganmu.” Ramlan sempat melemparkan tatapan tajam ke arah Raja, sebelum kemudian menatap Dhea lagi.
“Laporan yang kamu buat sama sekali bukan standar perusahaan! Bahkan anak TK saja bisa membuat laporan semacam ini!” ujar Ramlan emosi menatap Dhea.
Tangan Dhea terkepal, meremas kain celana hitamnya dengan erat. Entah di mana letak kesalahan yang ia buat? Padahal Dhea sudah mengikuti contoh format sesuai dengan yang sering divisi ajarkan.
Ini memang pertama kalinya Dhea membuat laporan semacam itu. Ia hanya mengerjakan tugas dari Raja saat manajernya itu cuti beberapa hari yang lalu.
Dhea menatap Ramlan, ada rasa tak percaya kala pria itu seolah senang, menertawakannya.
Dhea jadi yakin, kejadian ini adalah persekongkolan antara Raja, dan istri sah Ramlan. Agar Ramlan terus membencinya dan menyingkirkannya.
"Saya, akan memeriksa dan perbaikinya lagi pak."
“Cukup!” desis Ramlan seraya mengetatkan rahangnya. Terlihat sekali pria itu semakin murka karena Dhea melawannya dengan berani.
Detik itu juga Ramlan melemparkan map di tangannya ke udara, hingga satu bundel laporan dan beberapa kertas pendukung lainnya berhamburan ke lantai. Sebagian mengenai wajah Dhea.
Alhasil dengan ekspresi gemetar, Dhea menatap Raja seolah membuat video saat Ramlan memarahinya habis habisan.
'Jadi musuhku adalah pria yang berpura pura baik, kenapa aku dalam dilema. Kenapa mereka jahat padaku. Apakah bu Zia yang menyuruhnya, atau karena ia sudah tahu siapa aku?' batin Dhea menahan tangis, sebelum merapihkan berkas yang bercecaran tersebut.
Tbc.
__ADS_1