Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
MURKA ISTRI SAH


__ADS_3

Sementara itu di ruangan CEO, Ramlan menatap malas pada Raja, yang kini berdiri di hadapannya.


“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Keluarlah,” usir Ramlan tanpa basa-basi.


“Ayolah, sepupu, biarkan aku melihat-lihat ruangan yang nantinya akan jadi milikku.”


Tawa Raja, terdengar menggema, kemudian memutar tubuhnya untuk melihat setiap sudut ruangan mewah tersebut.


“Waah! daebak. Interior putih ini sangat tidak cocok denganku. Aku lebih suka perpaduan abu dan hitam.” Raja, mengusap-usap dagu seolah tengah berpikir.


“Dan bunga-bunga itu, aku akan menyingkirkannya dan menggantinya dengan patung elang buatanku. Bukankah itu lebih cool dan ..”


BRAKKK!!!


Raja, sedikit tersentak ketika Ramlan menggebrak meja dengan sangat keras. Rahang Ramlan tampak mengetat dan menatap Raja dengan tatapan membunuh.


“Teruslah bermimpi, Raja,” desis Ramlan.


“Ruangan ini dan perusahaan ini tidak akan pernah menjadi milikmu! adikku, kau hanya status dan akan terus menjadi sepupu jauh. Tidak ada milikmu di perusahaan ini."


“Begitukah?” Raja, tersenyum miring dan berjalan mendekati Ramlan.


“Sepertinya kamu lupa, Ramlan. Apa perlu aku ingatkan lagi tentang wasiat dari kakek tercinta kita?”


Kepalan tangan Ramlan tampak bergetar dan urat-uratnya tampak menonjol. Ia berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada Raja, untuk menghilangkan senyuman menjijikan di wajahnya itu.


Di antara sekian banyak orang di dunia, Raja adalah orang ke tiga yang Ramlan benci setelah ayah dan ibunya sendiri.


“Kakek bilang, perusahaan ini akan menjadi milikmu kalau kamu mempunyai penerus, bukan?” Raja tersenyum licik.


“Dan lihat sekarang! kamu bahkan belum memiliki keturunan. Maka bersiaplah, sekarang semua paman kita sedang berunding untuk menjatuhkanmu dari posisimu sekarang.”


“Aku tidak peduli,” desis Ramlan dengan nada suara lebih dingin dan tajam daripada sebelumnya. Rahangnya tampak berkedut dan gigi-giginya saling bergemeretak.


“Kamu dan mereka semua tidak akan bisa menjatuhkanku dan melawanku. Ancamanmu sama sekali tidak berpengaruh bagiku.” ujar Ramlan dengan pede.

__ADS_1


“Sial,” desis Raja, dengan perasaan kesal. Hari ini ia kembali gagal membuat Ramlan terintimidasi dan terancam. Ramlan seakan tidak punya rasa takut sama sekali.


“Jangan percaya diri dulu, Ramlan. Satu lawan lima, mana menurutmu yang lebih kuat, hem?”


Raja terkekeh-kekeh. Saat itu juga ia langsung berlalu pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Ramlan yang tampak murka.


“Sialan!” berang Ramlan penuh amarah.


Ia mengempaskan seluruh barang yang ada di atas meja dengan kasar. Matanya tampak berkilat-kilat dan napasnya terasa memburu.


“Satu lawan lima?” Ramlan tersenyum sinis.


Bayangan wajah empat pamannya dan Raja yang bersatu melawannya, membuat Ramlan muak dan marah.


Ya, selama ini Ramlan hidup dalam lingkungan yang tak pernah mendukungnya sama sekali. Mereka iri dengan pencapaian Ramlan yang di usia 30 tahun sudah menyandang jabatan CEO.


Selama bertahun tahun, Ramlan harus menjalani hidup dalam keluarga yang tidak harmonis.


Ia kerap kali melihat pertengkaran orang tuanya yang tidak pernah memperhatikan Ramlan. Ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Sementara ibunya sibuk dengan selingkuhannya.


Sejak saat itulah Ramlan tinggal bersama kakeknya dan menjadi cucu kesayangan sang kakek. Sebelum meninggal, kakeknya sempat memberikan jabatan CEO kepada Ramlan alih-alih kepada anak-anaknya atau cucunya yang lain. Dan hal itu membuat Ramlan menjadi dibenci oleh hampir seluruh keluarga. Dan ia hidup di atas kakinya sendiri setelah sang kakek meninggal.


Ramlan menghela napas panjang, lalu mengempaskan tubuhnya di sofa. Di saat sedang frustrasi seperti ini hanya satu nama yang dapat menenangkan Gavriel. Zia kekasih hatinya, yang menjadi istri satu satunya.


Tangan Ramlan terulur, mengambil ponsel dari atas meja sofa, lalu menghubungi nomor Zia.


“Zia, bisa kamu datang kemari?!”


Hingga saat itu, Ramlan menatap istrinya dan berbicara empat mata. Hati Zia amat terkejut, menatap pengakuan suaminya yang telah menikah lagi. Tatapan sorot mata kekecewaan, kekesalan pada nama Dhea membuat hati Zia teriris.


“Apa?! Jadi maksudmu, kamu menyuruh wanita itu hamil bukan karena inseminasi atau bayi tabung?!”


"Ya, karena saat itu gagal."


Zia memelototkan mata ke arah Ramlan. Kemudian langsung beranjak dari pangkuan pria itu dengan perasaan marah.

__ADS_1


“Ya, aku minta maaf sayang!" Ramlan mengangguk.


“Begitu lebih baik,” jawabnya singkat sambil menatap wanita yang dicintainya itu dengan lekat.


Suasana hati Ramlan, sudah membaik sejak kedatangan Zia ke ruangannya. Dan ia langsung menceritakan rencananya yang akan memiliki anak dari ibu pengganti.


"Aku nggak suka kamu menyentuh wanita lain! Sudah cukup aku bersabar saat kamu tidur dengan para ****** selama ini! aku depresi, khawatir karena kamu terus menuntutku mempunyai anak. Sementara kamu bicara masalah ini, dengan mudah. Aku harus hampiri wanita itu, aku tidak suka dia." teriak Zia.


Helaan napas santai terdengar dari Ramlan. Ia menyandarkan punggung dan menggenggam satu tangan Zia. “Bukankah kamu sudah tahu resikonya kalau kamu tidak mau memberiku anak?”


“I-itu….”


“Aku sudah meminta padamu berulang kali, Zia. Tapi aku bisa memaklumi kalau kamu tidak mau memiliki anak. Jadi please, jangan rewel. Aku mengerti penyakitmu panik, tapi setelah dia melahirkan aku akan menceraikannya. Jangan sentuh dia, jika terjadi sesuatu dia hamil, aku akan menceraikanmu. Karena aku kehilangan banyak waktu!" ujar Ramlan.


"Honey, kamu berani menceraikanku?" ungkap Zia, dengan hati pedih. Ia menjedotkan keningnya ke tembok berkali kali, lalu Ramlan memberikan obat agar istrinya itu minum.


"Hey! tidak perlu ditakutkan, aku dan dia tidak seperti kamu. Aku mencintaimu, dari hatiku hanya namamu. Tapi jika aku tidak punya keturunan, bagaimana aku bisa mempertahankan pencapaian semua perusahaan kakek. Aku ingin kamu tidak tahu, tapi aku sudah pikir matang. Bicara padamu, karena kamu selalu mendukungku Zia."


Hari ini, bagai disambar petir. Istri sah seorang ceo, harus mengetahui pengakuan dirinya dimadu. Namun ia tak bisa berbuat apapun, lalu ia hanya terus minum obat. Tangannya mencengkram hebat, mengepal dengan amarah.


'Aku pastikan, wanita itu akan menyesal. Karena telah merebut suamiku.' batin Zia, meluapkan emosinya dalam hati.


Sementara Ramlan, menenangkan dan memeluk istrinya. Ia meminta maaf, karena tidak ada jalan lain. Belum lagi sepupunya yang terus saja datang, seolah ingin merebut kursinya. Ramlan tidak suka, hasil pencapaiannya setelah sukses direbut begitu saja.


"Benarkah, kau hanya menyentuhnya demi anak. Kalau begitu, aku ingin tinggal di singapore. Aku tidak sanggup, melihat wanita itu. Apalagi dia nantinya hamil, dan aku melihatnya honey."


"Of course! maafkan aku Zia. Rahasiakanlah semua ini, aku akan mengunjungimu sesering mungkin. Dan aku pastikan, dia anak kita. Bukan anak wanita itu, aku hanya meminjam rahimnya saja demi kita." bisik Ramlan, membuat hati Zia sakit tertusuk duri tak bisa hilang.


Ada kelegaan hati Ramlan, karena istrinya telah tahu. Sehingga ia bisa terus melanjutkan misi sampai tuntas.


"Berapa lama lagi, aku tidak tersakiti honey?"


"Secepat mungkin, satu tahun kita butuhkan. Setelah dia melahirkan, hanya kamu yang pantas menggendongnya! dia, tidak akan aku perlihatkan melihat anaknya." ujar Ramlan. Membuat hati Zia tersenyum.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2