
Sam mengatur nafasnya ketika latihan basket terakhir hari ini telah selesai, ia puas latihan hari ini bisa ia lalui dengan baik dengan begitu pertandingan besok ia bisa melakukannya sebaik mungkin.
"Sam."
Sam menoleh ke sisi pinggir lapangan ketika ia melihat Dhea, dengan tangan yang ia angkat keatas memegang sebuah botol minuman untuk Sam.
Sam, melengkungkan senyumannya kepada Dhea, ia benar-benar menjadi suport systemnya, ia beruntung bisa memiliki sahabat sebaik dirinya.
Ia dengan segera menghampiri Dhea yang masih setia di pinggir lapangan itu.
"For you.." ucap Dhea sembari memberi sebotol minuman yang telah ia bukakan kepada Sam.
Sam mengambil botol minuman pemberian dari Dhea, sejenak ia juga memberikan usapan lembut di puncak kepala Dhea.
"Thank's Dhea, sebenarnya kau tidak perlu menunggu hingga sore seperti ini." ujar Sam kepada Dhea yang kini tersenyum kepadanya.
"Memangnya kenapa? Lagipula aku tidak terlalu sibuk." ucap Dhea santai, justru inilah yang ingin Dhea inginkan melihat seseorang yang diam-diam ia simpan perasaannya secara langsung bahkan memberikan support yang ia miliki untuk Sam.
"Aku yang justru berterimakasih, sebelum kontrak perjanjian dengan Ramlan. Aku harusnya tahu, kau lebih tulus dan aku harusnya mempercayaimu." jelas Dhea.
"Sudahlah! Tuanku Ramlan akan selalu setia pada istrinya, setidaknya di kampungku sementara ini kau akan aman." ujar Sam.
"Sam, hidungmu."
Saat mengetahui hidungnya mengeluarkan darah, Sam segera mengusap hidungnya sendiri dengan cepat.
"Sam hidungmu mengeluarkan--"
Sam mengajak Dhea untuk menduduki sebuah bangku yang tidak jauh dari mereka berdiri lalu mereka duduki.
"Sam.."
"Aku baik-baik saja Dhea.." Sam sejenak meminum pemberian dari Dhea.
Dhea menggeleng tidak percaya, tapi bagaimana bisa kalau Sam baik-baik saja hidungnya mengeluarkan darah, sedangkan hidungnya tidak mengalami cedera atau bahkan mengenai bola basket saat latihan basket tadi.
"Aku serius, ini hanya mimisan biasa.."
"Kita ke rumah sakit saja bagaimana?" ajak Dhea dengan intonasi nada paniknya, bahkan ia berniat menarik tangan Sam, untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
Sam tersenyum kepada Dhea."Lebih baik kau duduk disini, sedari tadi kau berdiri sajakan? Aku tidak apa-apa Dhea. Ingat kau disini untuk berlibur, bahkan aku jarang punya waktu luang, ketika Tuan Moza memboyong liburan ke swiis. Dan anehnya, tuan Ramlan menitipkanmu padaku."
"Sudahlah, aku tidak mau bahas Ramlan. Lebih baik kita kedokter aja."
"Ga perlu, tenang aja Dhea."
"Tapi--"
"Besok pertandinganku sore, jangan lupa untuk datang ya."
Dhea khawatir atau bahkan mencurigai diri Sam yang sakit.
Dhea menganggukan kepalanya, wanita itu berhasil teralihkan oleh perkatan Sam barusan.
Sam mengangguk senang, ia berharap pertandingan besok bisa ia lalui sebaik mungkin, karena ia tidak tau apakah pertandingan besok merupakan pertandingan yang berkelanjutan untuknya atau pertandingan terakhir dirinya.
Di Rumah.
Keiy melirik jam dinding ruangan kerjanya tanpa membuang waktu lagi ia segera membereskan file-file yang berada diatas meja, kemudian mematikan komputer agar ia bisa segera pulang.
Ia tidak boleh menelantarkan adiknya, memang ia mengizinkan adiknya untuk 3 hari bermain basket, tapi ia juga tidak bisa melepaskannya begitu saja dari pandangannya.
Jujur sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan Sam yang memaksakan diri untuk pertandingan tersebut, apalagi free kerjanya ia luangkan bukan untuk istirahat. Tapi ia pun merasa tak tega bila melarang adiknya untuk tidak mengikuti pertandingan yang menjadi mimpinya.
Keiy mengambil tasnya setelah ia merasa ruangannya telah rapi, sebelum benar-benar sampai rumah. Keiy harus pergi ke supermarket, sejenak untuk membeli bahan makanan yang telah habis.
Keiy mendorong troli dengan separuh belanjaan yang telah ia list dimasukkan kedalam troli, yang jelas Keiy memasukkan makanan yang ia khususkan untuk Sam mulai dari daging, buah, sayuran dan makanan protein lainnya agar kondisi adiknya tetap pulih setidaknya sampai ia kembali ke rumah terlebih adiknya bicara, ia datang dengan seorang wanita bernama Dhea. Yang konon dia adalah keluarga Tuannya.
Sejenak Keiy, berhenti untuk mengambil buah Alpukat yang sempat ia cari dan hendak mengambilnya, namun tangan lain ikut mengambilnya membuat tangan mereka otomatis saling bertumpu.
"Daddy?" gumam Keiy pelan ketika ia melihat sosok yang telah lama tidak ia sapa, dan akhirnya ia muncul tepat dihadapan Keiy.
Sebuah tarikan pun langsung Abraham lakukan menjauhkan tangannya dari Keiy.
"Daddy.." gumam Keiy, kembali kini matanya pun telah menggenang air mata melihat Daddynya benar-benar ada dihadapannya.
Abraham sudah berniat ingin pergi dari hadapan Keiy, namun Keiy menahan lengan Daddynya.
"Daddy kemana saja selama 5 tahun belakangan?" ucap Keiy yang ingin tau keberadaan Daddynya selama ini.
__ADS_1
Abraham terdiam sejenak.
"Dad, semenjak pertemuan terakhir yang berakhir dengan Daddy marah dengan Sam dan Keiy, saat berusaha menemui Daddy dan keluarga baru Daddy, kenapa Daddy memutuskan untuk pergi?"
"Sebegitu marahnya Daddy dengan kami berdua menemui keluarga baru Daddy?"
"Bukankah sudah saya bilang, jangan menemui saya bila ada istri dan anak saya." ucap Abraham.
"Memangnya kenapa? Keiy dan Sam juga anak Daddy lalu kenapa Daddy menutupi hal itu dari keluarga baru Daddy?" ucap Keiy dengan menahan sesak.
"Tidak bisa, semenjak saya memutuskan untuk pergi bukankah kau seharusnya paham untuk menjaga batasan." ucap Abraham.
Batasan? mengapa Daddynya membuat batasan kepada anak kandung untuk bertemu ayahnya sendiri?
Abraham melangkah namun lagi-lagi Keiy menahan langkahnya dan Abraham pun membalas dengan melepaskan pegangan Keiy.
"Sudah saya bilang kau harus menjaga batasan, karena kau keluarga saya hampir berantakan!" ucap Abraham dengan sedikit bentakan kepada Keiy.
Sungguh hati Keiy benar-benar sakit, Ia sama sekali sudah tidak dianggap olehnya.
"Kenapa Daddy begitu membenci Keiy dan juga Sam? Apa salah kami berdua?" ucap Keiy dengan isakannya.
Abraham tak menjawab dan memilih untuk memutuskan pergi dengan langkah cepatnya, meninggalkan Keiy, seorang diri dengan air mata yang membasahi pipinya.
Sesampai di rumah, Keiy memotong sayuran namun dengan pikiran kemana-mana.
Semenjak kepulangan ia dari supermarket, ia masih memikirkan perkataan Daddynya yang begitu menyakiti hatinya, bagaimana bisa seorang Ayah berkata jahat seperti itu kepada anaknya sendiri?
Mungkinkah hanya karena ia menemui Daddynya kerumahnya dan bertemu keluarga barunya, membuat Abraham marah kepadanya dan juga Sam? wajar jika Keiy, dan Sam semenjak ditinggalkan, mereka bisa bekerja sehingga melupakan keluarga yang berantakan.
Karena memang Abraham selalu menolak bila Keiy juga ingin diperkenalkan dengan keluarga baru Daddynya, tapi Daddynya itu tidak pernah mengizinkan dan selalu marah.
Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Kalau ibu tirinya saja memperkenalkan Kakaknya, lalu kenapa Ayahnya tidak?
Memikirkan hal itu pada akhirnya membuatnya terluka, ia tak sengaja mengiris jemarinya yang tengah memegang sayur.
Keiy meringis dan langsung mengisap jemarinya yang mulai mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Kak Keiy kenapa?" ucap Sam panik yang baru saja datang dari latihannya tersebut. Ia datang bersama Dhea, yang ikut panik dan mencari kotak p3k.
Tbc.