Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
DENDAM DHEA


__ADS_3

Dhea terhenyak. Apalagi sakit hatinya setelah benar ia dijadikan wanita simpanan tak dianggap, apalagi mas Ramlan menyembunyikan foto mantan suami Dhea setelah pernikahan pertamanya itu, plat mobil merah dan foto kecelakaan tragis Rizal.


“Jadi, Anda menolong saya adalah untuk ini? Menjadikan saya sebagai mesin pembuat anak dan rasa bersalah karena menabrak Rizal dihari bahagia saya. Aku akan membuat anda menyesal Tuan Ramlan.” gumam Dhea lalu tersenyum miring.


Jeda sejenak. Satu sudut Ramlan terangkat samar mendekati Dhea yang berdiri mematung, lalu mengempaskan dagu Dhea dengan kasar. Sebelum akhirnya Ramlan bangkit berdiri dan menjejalkan kedua tangan ke saku celana.


“Rupanya aku tidak salah pilih orang, kamu cukup cerdas juga, Wanita,” ucap Ramlan yang terdengar seperti ejekan di telinga Dhea.


“Aku akan memberimu lima milyar di awal. Selain itu, kamu akan mendapat uang bulanan, tempat tinggal mewah dan uang kompensasi setelah melahirkan. Tapi semua itu akan kamu dapatkan kalau memilih pilihan pertama. Setelah anak itu lahir, jangan akui anak itu anakmu. Dia akan menjadi anakku dan Zia."


Dhea mengangkat tubuhnya yang semula bersimpuh di lantai. Kini dia berdiri di hadapan Ramlan seraya menatap pria itu dengan berani.


Kepala Dhea menggeleng cepat, tatapannya tertuju pada Ramlan dengan mata memerah. Bukan karena ingin menangis, tetapi akibat kemarahan dan keterkejutan yang berusaha Dhea sembunyikan.


“Anda benar-benar tidak punya hati!” desis Dhea, mengepalkan tangannya kembali.


“Apa Anda pikir nyawa adik saya sebuah mainan untuk Anda? Terlebih soal fot.. ” terpatah Dhea tak jadi bicara soal Foto yang ia temukan.


“Aku tidak peduli. Kedua adikmu bukan urusanku. Lagi pula, tidak ada yang gratis di dunia ini, Nona.” Ramlan mengangkat bahunya ringan.


“Pikirkan baik-baik. Kamu tahu resikonya kalau menolak perintahku, adikmu tidak akan terselamatkan, bukan?”


Kaki Dhea terasa melemas seketika. Hatinya terasa mencelos saat ia teringat dengan kondisi Mira yang terbaring lemah di ruang ICU.


Kemungkinan untuk sembuh sangatlah kecil jika tidak melakukan transplantasi sumsum tulang belakang secepatnya. Dhea tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini, yakni Mira dan Bagas yang masih membutuhkan nafkahnya.


Jika tidak menggunakan uang dari Ramlan, lalu harus ke mana lagi Dhea mencari pertolongan? Dhea tidak punya tempat lain untuk meminta tolong.


Kalau sudah begitu bukankah sangat egois jika Dhea, lebih mementingkan harga dirinya ketimbang keselamatan kedua adiknya?


“Saya terima,” gumam Dhea dengan terpaksa, yang membuat langkah kaki Ramlan terhenti di depan pintu.


Pria itu berbalik dan menukik sebelah alis. “Terima? Pilihan yang mana yang kamu terima?”


“Pilihan pertama.” Dhea menjawab cepat sebelum pikirannya kembali berubah. Anggap saja ia sudah gila karena menerima tawaran konyol pria itu. Tetapi Dhea tidak punya pilihan lain. Ia didesak waktu dan keadaan.


Ramlan tersenyum miring. “Bagus. Rupanya kamu tahu caranya berterima kasih kepadaku.”

__ADS_1


“Saya melakukannya bukan untuk Anda, tapi untuk kedua adik saya.”


'Dan tunggu pembalasan saya.' batin Dhea.


“Benar-benar naif.” Ramlan mendengus kasar lalu menelepon seseorang, entah siapa dan apa yang mereka bicarakan, Dhea tidak tahu dan tidak mau tahu.


“Tapi saya juga punya syarat,” ucap Dhea sesaat setelah Ramlan memasukkan ponselnya ke saku jas.


“Mau mencoba bertransaksi denganku?”


Nada suara Ramlan terdengar tidak suka. Kilatan tajam di matanya membuat napas Dhea seakan terhenti sesaat. Kemudian memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam.


‘Tidak boleh takut, Dhea. Pria itu akan merasa puas jika kamu terlihat ketakutan.’ Dhea membatin. Kemudian menatap Ramlan lagi dengan berani.


“Saya mau mengandung dan melahirkan anak untuk Anda. Setelah itu berikan saya waktu tinggal selama tiga bulan, di sisi anda dan istri sah anda. Dan nikahi saya secara resmi, bukan sirih." suara Dhea tercekat di tenggorokan.


“Baiklah, lagi pula aku tidak ingin anak itu lahir tidak jelas."


Lagi, Ramlan tertawa. Tawa yang terdengar seperti sedang mencemooh. Setelah tawanya mereda, Ramlan mendekati Dhea lantas menjepit dagu gadis itu menggunakan jemarinya.


“Kamu tahu? Pernikahan adalah hal terakhir yang akan kulakukan,” desis Ramlan, “tapi bukan dengan gadis miskin dan kucel sepertimu. Dilihat dari sisi manapun, tidak ada satu hal pun yang menarik dari dirimu. Jadi jangan pernah meminta pernikahan resmi dariku! cukup banyak aku lakukan untuk membantu hidupmu yang sulit, ingat aku mencintai Zia!"


Rahang Ramlan tampak mengetat. Ia semakin mengangkat wajah Dhea, hanya menyisakan jarak sekitar tiga inci di antara wajah mereka.


“Yang aku butuhkan hanyalah anak. Bukan kamu, apalagi pernikahan sialan itu!”


Dhea meringis saat Ramlan melepaskan dagunya dengan kasar. Ia tidak punya kesempatan untuk menimpali ucapan Ramlan. Karena pria itu sudah berlalu pergi dari hadapannya dengan begitu cepat.


Benar, ia harus menyerah untuk mendapatkan hati Ramlan, ketika istri sahnya kembali normal. Maka ia akan kasar padanya, hingga lupa apa yang telah dilakukan bersama.


***


Tok! Tok! Tok!


Dhea mengusap pipinya yang basah menggunakan lengan baju panjang yang ia kenakan. Kemudian menoleh ke arah pintu tanpa berniat membukanya.


Tak berapa lama pintu pun terbuka, menampilkan sosok wanita yang berusia 2 tahun lebih tua dari Dhea. Dia Mery. Pelayan yang sebelumnya sempat datang ke kamar ini untuk mengantar makan malam.

__ADS_1


“Kenapa makanannya tidak dimakan, Nona?”


Dhea menatap malas pada makanan di atas nakas yang sudah mendingin. “Belum lapar,” jawabnya singkat.


Ia terlalu malas berinteraksi dengan orang-orangnya pria itu. Termasuk Mery yang wajahnya tampak meneduhkan. Sayang sekali, wanita seperti Mery seharusnya tidak bekerja dengan pria iblis itu, pikir Dhea.


“Jangan mengundang kemarahan Tuan Ramlan, Nona. Lebih baik habiskan makanannya sekarang!"


Dhea tersenyum kecut. “Nama sebagus itu sangat tidak cocok dengan kelakuannya. Dia lebih baik dipanggil iblis atau lucifer.”


“Hati-hati berbicara mengenai Tuan, Nona. Lebih baik cari aman daripada mendapat masalah yang membahayakan nyawa Nona sendiri.”


“Biarkan saja kalau dia mau membunuhku.”


“Tuan tidak akan melakukan hal tersebut secepat itu.”


Dhea mendecak pelan. Sungguh, hati kecilnya berkata ia harus keluar dari tempat ini sesegera mungkin. Dhea tidak mau dijadikan mesin pencetak anak oleh pria itu apalagi tanpa pernikahan resmi.


Terlahir dan dibesarkan oleh orang tua yang harmonis, membuat Dhea selalu mendamba pernikahan. Kedua orang tuanya saling mencintai. Bahkan ibunya tidak ingin menikah lagi sejak ayahnya meninggal.


Karena alasan itulah, Dhea tidak ingin anak yang lahir dari rahimnya dilahirkan karena keegoisan dan kepentingan orang lain semata. Sebab hal itu dapat melukai hati anaknya kelak, pikir Dhea.


Manik mata Dhea yang berwarna cokelat terang memperhatikan Mery yang tengah memilih-milih botol kecil di dalam kotak. Sepertinya botol itu berisi aromaterapi. Aromanya menyapa hidung Dhea dari kejauhan, terasa harum dan menenangkan.


Lalu terlintas sebuah ponsel, Dhea ingin memencet nomor Zia, yang ia dapatkan dari Sam.


"Aku terlanjut sakit hati, dibohongi, di jual dan kali ini harus dijadikan sebagai pecentak anak. Akan aku balas sakit hatiku ini, agar hubungan kamu dengan Zia tidak baik baik saja mas." ucap Zia menahan emosi.


Tling!


Pesan dari nomor tak dikenal, Zia yang telah bergumul dengan Ramlan. Ia harus membaca pesan, dan menyembunyikan dari suaminya itu ketika datang ke acara party temannya.


[ Bisa kita bertemu? Aku adalah orang penting, yang akan membongkar siapa perempuan yang kamu curigai. Panggil saja aku Dhea, pembantu asisten Mery yang melihat semata Tuan selalu bermesraan. Percaya pada saya! Saya bisa membantu anda Nona! Tapi usahakan diam diam, karena jika Tuan tahu, ia pasti akan berkelit. ]


Zia menatap pesan, lalu mematikan hpnya dan menyembunyikan di di bawah sofa.


"Mas, makan malam sudah siap." senyum Zia, dengan perasaan tak enak. Benarkah suaminya yang pernah berjanji setia, membohonginya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2