
Aku sangat senang mendengar kata-kata yang diucapkan Ramlan padaku. Aku pun memeluknya, dan mencium mesra bibirnya. Dua tindakanku itu ternyata membuat Ramlan terangsang. Dia mencium secara brutal bibirku, sementara tangannya bergerak menjamahi tubuhku dengan liar.
Aku tidak bisa bernafas karena bibir Ramlan mencium ganas bibirku tanpa tersisa. Aku pun menutup mataku, berusaha menikmati permainannya. Ramlan langsung menggendong tubuhku, dan membawa tubuhku ke atas tempat tidur. Dia langsung memintaku untuk bungkuk, dan dia mulai memasukkan miliknya lalu menggempur habis pertahananku.
Tubuhku terus dihujam dengan sekuat tenaga oleh Ramlan. Dia terlihat sangat kuat, memainkan miliknya di tubuhku tanpa rasa lelah. Bebagai gaya main saat menyatu telah kami coba.
Sekarang tanganku tak dapat kugerakkan. Ramlan jadi bebas menikmati tubuhku dan menggila di sana. Tubuhku digempur habis-habisan, dan bibirnya terus melahap habis bongkahan kembarku yang bergerak naik turun, karena hujaman miliknya pada tubuhku.
Tapi semua berubah, kala perlakuan suami orang itu akan kembali kaku, ketika istri sahnya datang. Zia datang, membuyarkan manisnya dirinya, sebagai istri Ramlan juga. Meski hanya sampai melahirkan. Apalagi kala Zia datang, menyindirku lagi lagi. Jika aku adalah istri simpanan.
"Sayang, kamu cinta aku kan? Aku ingin selamanya kamu tetap di sisiku. Jangan pernah ada lagi wanita lain, atau apapun itu di dalam kehidupan kita. Selamanya kamu adalah milikku," ucap Zia menatap Ramlan.
Aku yang membersihkan mulutku dengan tisu yang ada di meja. Hanya menjadi patung, kala melihat tingkah Ramlan dan Zia mesra di depanku. 'Ah, lagi pula aku memang istri cadangan.' batin Dhea.
"Ya sayang, mulai sekarang aku milikmu, dan kamu milikku. Tidak perduli aku akan menikahi siapa, aku akan tetap menjadi lelakimu," ucapnya sambil memeluk Zia yang berada di depanku.
***
Keesokan harinya, aku diajak Ramlan ke kantornya lagi. Dia kali ini tidak menjadikan aku sekertarisnya, melainkan wanitanya, wanita pemuasnya. Setelah ungkapan perasaan kami masing masing, Ramlan jadi lebih agresif. Dia selalu melakukan tatapan dalam denganku, dimanapun, dan kapanpun dia mau.
"Apakah, Zia tidak datang kemarin?"
"Zia, diantar Sam. Dia sedang pengobatan, jadi aku minta maaf. Jika di depan Zia, aku akan mengabaikanmu." ujar Ramlan, kala berbisik di ruangannya.
Karena saat ini, kantor terlihat sepi. Hanya ada dirinya dan Ramlan. Entah kenapa, pria iblis ini begitu berubah drastis. Kala tidak ada karyawan lain, dan istri sahnya. Atau karena Dhea saat ini sedang hamil anaknya. Sehingga perlakuannya berubah. Benak Dhea penat.
__ADS_1
"Ayo, aku antar pulang!" titah Ramlan, yang saat itu aku mengekor bagai karyawannya, tanpa curiga oleh karyawan lain.
Benar benar simpanan, dan rahasia bukan. Meski aku benci dengan kata istri simpanan. Aku bukanlah istri simpanan keluarga Moza Ramlan.
Seperti saat ini, kami masih ada di mobilnya. Tapi dia sudah meminta aku membuka bajuku, dan mulai menyentuh dengan beringas.
Semua berakhir setelah kami sampai di depan kantor bursa. Dhea pun kembali mengenakan pakaianku, dan Ramlan merapikan pakaiannya juga.
Aku keluar dari mobil setelah selesai bersiap. Ramlan memelukku mesra, dan membuat para karyawan iri melihat kemesraan kami.
Ramlan terlihat dominan. Sepertinya tidak mengizinkan aku untuk lepas dari pelukannya sedikitpun. Dia sangat posesif, bahkan memelukku erat-erat saat aku sedang berbincang dengan rekan-rekan lamaku di sana.
"Dhea, sekarang waktunya kamu ke ruanganku. Sudah, jangan mengobrol lagi!
Kamu harus berikan aku perhatian juga. Jangan sampai buat aku cemburu pada rekan-rekanmu ini. Bisik Ramlan sambil menuntunku masuk ke dalam ruangannya.
"Aku akan menyelesaikan dokumen-dokumen ini. Tapi aku mau kamu tetap memelukku begini selama aku mengerjakan dokumen-dokumennya. Jangan lepaskan pelukannya, atau aku akan langsung menyentuhmu lagi," ucapnya diiringi tawa licik.
"Peluk sampai kamu selesai mengerjakan dokumen-dokumen itu? Kamu mau aku pegal memelukmu berjam-jam? Ramlan, kamu sudah semalaman menyiksaku, tadi berangkat juga menyiksaku, sekarang masih ingin buat ulah lainnya? Dasar!" gerutuku kesal.
"Oh, kamu tidak mau peluk? Mau langsung praktek saja ya? Aku punya cukup stamina untuk menggempur selama 2 atau 3 ronde. Ayo, kita mulai sekarang!" ucap Ramlan menarik lembut tubuhku ke dalam pangkuannya.
Ramlan mengecup pipi, dan bibirku. Entah kenapa terasa geli. Aku benar-benar bisa merasakan tubuh itu mulai menikmati kecupan bibir Ramlan pada tubuhku.
"Tuan, ampun! Aku tidak akan memprovokasi lagi. Aku akan peluk, kamu mau seberapa banyak aku peluknya? Sini, biar sekalian aku pijat punggungmu. Aku pintar pijat loh!"
__ADS_1
"Oh ya? Coba kamu pijat punggungku sekarang!" ucapnya dengan wajah seakan menantangku.
Aku pun tak mau kalah. Aku memang sering memijat ibuku dulu. Saat beliau sakit, aku selalu membantunya memijat tubuhnya yang sakit, dan terkadang beliau baru bisa tidur setelah selesai dipijat.
Tapi tidak menyangka. Kali ini dia memijat seorang pria. Tubuh tegap, dan perkasa milik Ramlan benar-benar membuatku beberapa kali menelan air ludah.
Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria sempurna sepertinya? Sudah tampan, kaya raya, pintar merayu, dan yang pasti bisa membuat wanita jatuh cinta dalam satu kali melihatnya. Andaikan saja dia tidak punya istri, dan dia punya keberanian untuk melawan orangtuanya agar merestui pernikahan kami secara terbuka, betapa bagusnya.
Tapi sepertinya semua itu mustahil. Bagi dia mungkin aku hanyalah wanita yang dia cintai karena nafsu, dan anaknya dalam kandunganku. Tapi tidak pantas untuk dia nikahi secara resmi terbuka orang mengetahui, apalagi punya gelar sebagai istri dari anak-anaknya. Apalagi setelah anaknya lahir, hal semanis ini Dhea sadar tak akan ia dapati.
Sejauh yang kutahu dari para pria, mereka hanya cari kesenangan saja. Mereka punya istri, tapi juga punya wanita lain di luar rumah. Sama seperti yang saat ini dilakukan Ramlan padaku. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah kepincut dengan pesonanya hingga membuat aku gila, dan kehilangan harga diriku sendiri.
Awalnya aku terpaksa, tapi lama lama aku jatuh hati dari sikap Arogan, semena mena dan manis seperti ini.
"Boleh aku bertanya?"
"Apa? katakanlah! tidak ada siapapun, selain kita berdua. Jadi jangan sungkan, untuk bicara!"
"Kenapa mas Ramlan, akhir akhir ini manis?" tanya Dhea penasaran.
Helaan nafas Ramlan begitu berat, ia tidak mungkin mengatakan jika ia butuh hasrat karena istri sahnya. Sedang kambuh bipolarnya, terkadang ia akan menari memalukan, sehingga ia meminta Sam, untuk mengantar istrinya berobat theraphy.
Hal itu, tidak banyak yang tahu. Ketika Zia akan cemburu, ia akan mirip wanita gila yang sulit diredakan. Sehingga Ramlan berubah sikapnya pada Dhea, karena ia juga tidak sengaja melihat buku hamil yang berjudul suami siaga, salah satunya harus memberikan kebahagian dan senyuman untuk ibunya juga.
'Setidaknya, aku memberikan waktu untukmu bahagia Dhea.' batin Ramlan, kembali munafik.
__ADS_1
"Kok diam?" tanya Dhea.
Tbc.