
Dhea saat ini berada dalam swalayan. Setelah pulang bekerja, Ramlan memang memberi pesan ia akan di antar jemput oleh Sam! dikarenakan ia sedang berada di luar kota bersama Zia.
Ramlan mengancam Dhea! jika ia harus pulang dengan selamat, dan jangan berniat macam macam. Hanya Sam! Ramlan percayakan Dhea selamat sampai rumah.
"Sam, kenapa kita berhenti?" tanya Dhea.
"Seseorang akan datang nona! Bagas lima menit lagi sampai paling cepat. Ia memaksa saya, karena ingin bertemu anda. Saya akan beri waktu anda dengan adik anda lima belas menit. Jika tidak, Tuan Ramlan akan mengetahuinya."
"Ah! kenapa kau biarkan dia datang Sam?"
"Bagas Rindu, ia ingin tahu pekerjaan kakaknya dan dari mana biaya semuanya. Menurut Bagas, tidak logis orang kantoran bisa mencukupinya selama ini. Mungkin itu adalah perasaan khawatir adik laki laki anda." jelas Sam.
Dhea takut, jika bagas datang. Adiknya itu sebentar lagi akan lulus kuliah. Kini ia sedang menjalani s1 semester dua. Selama bertahun tahun, ia tidak mudah bisa berada di posisi materi yang cukup. Bahkan menjadi pemulung sampah! hingga kotoran limbah membuat Dhea hidup sulit. Bahkan ia telah menjadi sosok orangtua bagi kedua adiknya sejak umur belasan tahun.
Hanya satu hal, ia takut Adiknya tahu. Selama ini Dhea bukan bekerja kantoran saja, melainkan menyewa rahimnya otomatis menjadi istri simpanan bosnya itu.
"Bagaimana jika adikku kecewa?"
"Semua itu pilihan, meski menyakitkan. Adik anda perlahan akan mengerti." lirih Sam.
"Kau tidak tahu Sam! aku terpaksa menerima keinginan keluarga Moza Ramlan. Aku pikir ini mudah, tapi aku terikat bukan hanya karena akan hamil saja Sam. Tapi aku telah jatuh cinta pada suami yang telah beristri. Bahkan jelas aku tahu, Ramlan akan terus mencintai istrinya yang sedikit gangguan mental bipolarnya. Andai saja waktu lebih cepat aku dipertemukannya, atau aku menjadi teman kecilnya."
"Apa yang anda harapkan? Tuan Ramlan hanya seorang pria arogan, dingin dan tidak adil. Kenapa anda mencintai pria seperti dirinya nona? bahkan lebih baik hentikan lebih cepat dari awal."
"Tidak mudah Sam! aku rasa aku benar hamil, dan setelah anak ini lahir. Apakah sikap Tuanmu akan manis padaku?" ujar Dhea penuh harap.
"Sam, apakah kamu pernah kecewa. Sakit hati karena seseorang mengabaikanmu?" tanya Dhea, yang awalnya Sam diam tak ingin menjawab.
__ADS_1
"Andai nona tahu masa kelam saya. Jadi Papa muda karena Istri saya bunuh diri. Tekanan kerja saya jarang pulang, sehingga saya lalai menjaganya."
Sam, bahkan sudah hampir tak sanggup berpijar saat ia melihat wanita yang ia cintai masih membuatkannya sarapan, kini sudah teronggok bisu dengan menggantungkan diri di kamarnya.
Namun suara mungil dari bayi berusia enam bulan yang masih terbaring di atas kasur membuat hatinya semakin tersayat.
Dengan sesak yang mencekat hati, Sam itu mengambil bayi mungil itu ke dalam gendongannya.
Bayi itu lalu terdiam begitu mendengar isak tangis Sam yang memeluknya. Tangisan yang begitu menyayat hati.
"Sayang." panggilnya lirih dengan sesak.
Tangan Sam kemudian mengelus-elus pelan punggung bayi itu."Jangan nangis! dady bersamamu."
Ruangan kamar itu begitu hening. Hanya isak tangis Sam, yang memenuhi ruangan itu.
"Mama ngantuk katanya. Kamu jangan sedih ya. Papa akan menjagamu mulai sekarang!"
Ingatan Sam, saat itu menceritakan masa kelamnya bersama istrinya. Kesibukan Sam, membuat wanita melahirkan stess berat. Meninggalkan bayinya diranjang tidur dan dirinya yang baru pulang. Jujur saja Sam, akan pulang sebulan satu sampai dua kali. Hal itu membuat ia syok dan trauma mencintai wanita, apalalagi menikah.
"Jadi kamu pernah menikah? maaf Sam!"
"Tidak apa, itu hanya sepenggal cerita saya saja nona! tragisnya anak saya ikut meninggal, ditangan pengasuh gangguan mental. Yaitu .." Sam tak jadi melanjutkan, kala Bagas terlihat sampai.
"Yaitu apa ..?" tanya Dhea penasaran.
"Nanti nona akan tahu sendiri! adik nona di sana!" ujar Sam, ia meminta Dhea turun menemui adiknya itu.
__ADS_1
Dhea, akhirnya memeluk adiknya itu. Ia juga membawakan satu kantung kue yang baru ia beli untuk Bagas dan Mira di rumah sakit kelak.
"Kak, maaf aku ganggu kakak. Kak! apakah kakak tidak mau pulang ke rumah saja. Mira di rumah sakit, aku sendiri dan tak bisa mengurus rumah."
"Bagas! kakak sudah kirim suster, dan mbok buat nemenin kamu. Jadi teteplah jadi pria mandiri, kuat ya!" ujar Dhea.
"Kak! darimana kemewahan kakak berikan pada aku dan Mira. Tolong jawab pertanyaan aku ini kak! lihatlah foto foto ini, siapa Moza Ramlan!" ujar Bagas.
Dhea terdiam pasi, satu persatu ia bukan foto dan lembaran begitu saja. Sehingga Dhea yang tidak mengelak, ia berterus terang pada adiknya itu. Dengan derai sakit melihat sang kakak mengorbankan harga dirinya. Bagas menangis dihadapan Dhea.
"Kak! apa yang harus aku lakukan, pria itu tidak baik. Apalagi sudah punya istri kak. Hentikan kak! ayo kita pergi jauh dari sini."
"Bagas, mengertilah! semua akan berakhir. Kamu fokus pada kuliahmu ya. Kakak titip Mira, kelak misi kakak telah melahirkan. Kakak pasti akan pulang dan bersama kalian." sendu Dhea sedih.
Bagas tak terima, ia merasa bersalah dan berkata. "Mau tahu haknya pria beristri kak?! Dia pacari dekati satu wanita, untuk jadi pe*la*cu*r pribadinya kak. Lantas kakak terima bahagia di atas derita wanita lain. Aku dengar? berita keluarga Moza mempunyai istri bipolar yang akut. Itu bisa mengancam jiwa kakak." teriak Bagas.
"Pergilah! lanjutkan sekolahmu. Kamu tidak mengerti Bagas. Kakak minta maaf, kita harus menahan tidak bertemu. Kakak akan kembali pulang, itu pasti. Usiamu sudah sembilan belas, sekolahlah yang baik dan sukses!" ujar Dhea, ia menahan tangisan.
"Kak !tapi sejatinya pria itu. Hatinya untuk istrinya kak. Dan kakak adalah perusak, bukan masalah penting. Kakak akan menderita." ujar Bagas.
Akan tetapi Dhea pergi, ia menitipkan sebuah atm kelengan Bagas. Lalu pergi meminta Bagas bersabar. Akan tetapi saat masuk ke dalam mobil, hati Dhea amat hancur. Ia melihat Bagas adiknya, tumbuh jadi anak laki laki yang kesepian.
Hal itu ia rasakan pertama kali ditinggal ibu ayahnya. Belum lagi ia mengurus Mira dan Bagas masih kecil, sehingga ia tinggal bersama paman dan bibi yang super bawel dan matre.
"Semua pasti akan baik baik saja! nona sabar. Saya akan mencoba terus mengawasi adik anda. Lagi pula itu sudah bagian tugas saya. " ujar Ramlan.
"Tapi kau digaji oleh Ramlan. Jangan biarkan pekerjaanmu terbengkalai karena urusan pribadiku Sam. Aku tidak mau mas Ramlan akan memarahimu dengan fatal." ujar Dhea, ia mengelap air matanya yang deras begitu saja jatuh.
__ADS_1
Tbc.