Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
PERCOBAAN


__ADS_3

"Sssshh!"


'Siapa sih yang menendang-nendang kakiku?'


Dhea Menggeliat, membalikan badannya di tempat tidur ketika kakinya seperti di usik oleh seseorang yang menggoyangkannya.


"Apa masih mau tidur?"


Suara yang terdengar di telinganya tapi Dhea enggan untuk bangun, dia masih saja memejamkan matanya.


"Ssssshhh! Dingin!"


Dhea pun membuka matanya karena es batu yang digerakkan dari pangkal kakinya membuatnya terusik dan Dhea refleks membelalakan mata menatap orang dihadapannya.


"Kau?"


"Aku?" tanya orang itu lagi.


"Eh, maaf, Mas maksudku ... Kapan Anda kembali?" tanya Dhea agak gusar, dan dia pun mengusap wajahnya sambil menyugar rambutnya ke belakang, agak salah tingkah menghadapi pria yang memegang gelas kosong seperti habis minum, dan menaruh di atas nakas.


"Aku membangunkanmu sulit sekali, seperti orang mati! Dari kapan kau tidur? Hmmm?"


"Kapan ya?"


Dhea bukan menjawab, malah mengulang pertanyaan dari pria yang melipat tangan, bersedakep. Pria itu berdiri di samping tempat tidurnya. Dhea masih mencoba berpikir sambil mengurangi pening di kepalanya, 'setelah kepergiannya apa yang aku lakukan?'


Dhea meruntun kejadian. 'Kemarin dia pergi meninggalkanku, lalu aku memakinya sampai puas, mulai marah-marah sendiri sampai akhirnya aku kehausan, niatku untuk mencari minuman ke dapur. Tapi aku melihat pantry berisi full minuman, aku tergoda dan Heish, aku sepertinya banyak sekali minum tadi malam!'


Dhea belum menjawab pertanyaan Ramlan, matanya justru mencari sesuatu, 'Ah, ketemu ... botol itu ... uuugh, aku minum banyak sekali, habis satu botol? Mati aku! Haaah, dia datang dan aku belum siap?' Dhea menelan salivanya, menunjukkan wajah penuh kekhawatiran dan semakin tak berani menjawab Ramlan.


"Sssssh!" hanya ringisan yang terdengar dari bibirnya yang menggoda.

__ADS_1


"Ehem!"


"Maafkan aku, Mas!" jawab Dhea yang langsung refleks memindai Ramlan.


"Sudah ingat tadi malam kau tidur jam berapa?" Ramlan dengan intonasi yang dinaikkan satu oktaf bertanya ulang.


"Tidak Mas." Jawaban yang diberikan Dhea bukanlah jawaban yang diinginkannya.


"Kau minum?" Pria di hadapan Dhea, kembali bertanya sambil memicingkan matanya.


"Maaf!" Dhea mengangguk takut.


"Aku menghabiskan satu botol itu! Aku harap Anda tidak keberatan. Aku haus sekali tadi malam," ucap Dhea, lalu mendongakkan kepalanya menatap pria di hadapannya.


"Haus? Apa minuman begitu meredakan dahagamu?"


"Aku tidak tau itu bir, dan rasanya. Uuuueeek."


"Semalam apakah terjadi sesuatu?" tanya Dhea.


"Cepatlah pakai bajumu dan bersiap! kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Ramlan, saat ia telah memakai kemeja dan dasi.


Tanpa banyak bertanya, Dhea bergegas membersihkan diri. Rasa mual dan sakit merasakan yang tak ingat semalam. Sehingga satu jam berlalu, Ramlan meminta Dhea tidak berbicara satu patah kata pun saat bersamanya.


"Semalam, apakah aku dengannya ..?"


"Hanya semalam melihatmu, tidak ada untuk kedua kalinya. Jadi lupakan!" ujar Ramlan.


"Lupakan, mas semalam aku minta maaf! tapi aku bisa bertanya. Akan kemana kita saat ini?"


"Sudah sampai rumah sakit Tuan!" ujar supir..

__ADS_1


"Ikuti aku Dhea!"


Angkuhnya Ramlan, membuat Dhea tidak merasakan menjadi istri seutuhnya. Apalagi ia harus mati matian menunggu kontrak habis.


'Bagaimana aku akan hamil, setelah melahirkan bukankah aku bisa bebas dari keluarga Moza.' batin Dhea.


Lift, berhenti di lantai lima. Tanpa persetujuan apapun lagi, seluruh dokter datang menyambut. Tak lama Ramlan meminta Dhea mengikuti aturan.


"Mas apa ini?"


"Ikutilah bersama dokter! jangan bertanya lagi, ingat apa yang aku bilang!" Dhea menurut.


Sehingga beberapa saat Dhea putus asa, kala dalam enam jam kedepan. Ia merasakan kakinya letih, perutnya kram. Dan terlihat Ramlan tersenyum dan meminta Dhea tenang rileks di kursi roda.


Ramlan membawa Dhea ke ruangan lain, sesaat Dhea terdiam menahan tangisan air mata.


"Semalam hanya untuk yang pertama dan terakhir, aku menemanimu karena terpaksa. Dan pagi, aku mengambil benihku untuk dimasukan ke dalam indung telurmu. Di sana istriku sedang proses penyembuhan mental! aku tidak akan memperlakukanmu sebagai istri ku yang sah! karena aku mencintainya dan aku punya anak laki laki dari istriku."


"Jadi lekaslah mengandung anakku, jika berhasil akan aku bawa kau keluargaku, tapi ingat sembunyikan identitasmu!" bisik Ramlan, membuat mata Dhea membatin.


"Jadi aku hanya alat percobaan, agar bisa melahirkan penerusmu. Mas"


"True. Jangan meminta lebih, apa yang kamu minta sudah aku berikan bukan? adik adikmu juga terjamin bukan?" Dhea terdiam.


Jika ingin mempunyai anak, bukankah istrinya punya anak juga. Kenapa harus mati matian, menikahiku dengan alibi menolongku. 'Apa semua ini kesulitanku? kenapa aku harus melahirkan anak untuknya, dan kenapa aku dibohongi, dinikahi pria beristri dan telah mempunyai anak. Sebenarnya keluarga macam apa, pria macam apa yang menikahiku. Apa alasannya, aku bingung?' batin Dhea ingin menangis.


"Jangan melamun, cepat masuk. Ikuti perintah dokter di dalam!"


Suara itu membuat Dhea menurut, Ramlan pergi begitu saja saat pintu rumah sakit tertutup rapat.


'Kenapa harus aku, aku menjadi sarangnya pria diluar, pria itu telah beristri yang akan sulit di gapai.'

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2