
Dua bulan sudah berlalu, sejak masuknya Laura ke dalam sel tahanan, hidup Lily dan Andre begitu damai. Karena tidak ada yang mengusik kehidupan mereka lagi.
Pagi ini, ingin memeriksakan diri ke dokter, karena selama beberapa Minggu terakhir ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Setiap hari ia tidak pernah melakukan hal berat apapun, bahkan sudah berapa hari ini tidak ke butik.
Setiap harinya Lily begitu banyak makan, namun anehnya selalu di muntahkan olehnya.
“Siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang petugas rumah sakit.
“Siang. Saya ingin memeriksakan diri ke Dokter, sepertinya asam lambung sama naik dan juga sepertinya saya kurang vitamin. Tubuh saya selalu merasa lelah setiap harinya,” ujar Lily menjelaskannya.
“Baik, saya catat keluhannya. Nanti boleh di jelaskan lagi keluhan anda pada Dokternya,” sahut petugas tersebut dengan lembut.
Lily mengangguk.
Sembari menunggu gilirannya di panggil, Lily mengirim pesan pada suaminya. Karena sudah berada di rumah sakit dan menunggu namanya di panggil.
Awalnya Andre kesal karena tidak mau menunggu dirinya, Lily langsung memberi pengertian pada suaminya sehingga Andre luluh kembali.
Lily bukan menolak di antar oleh suami ke dokter, ia hanya kasihan melihat suaminya harus pulang ke rumah. Sedangkan jarak dari kantor ke rumah mereka cukup jauh, hingga memakan waktu untuk bolak balik.
Apalagi sangat suami terlihat sibuk sekali, setelah paman Ridwan menyerahkan pekerjaannya pada Andre.
Kadang suaminya tidur dalam semalam hanya beberapa jam saja, Lily juga sering menemani suaminya bekerja bahkan ikut membantu.
“Lilyana ...” panggil seorang perawat.
Mendengar namanya di panggil, Lily langsung beranjak dari tempat duduknya melangkah masuk.
“Silahkan duduk,” ujar dokter.
“Apa keluhan anda?” tanya dokter perempuan itu.
Lily mulai menceritakan sama persis apa yang telah ia katakan waktu mendaftar diri tadi, ia bahkan menambahkan jika dirinya sudah satu bulan tidak datang bulan, hingga membuatnya khawatir penyakit apa yang sedang di deritanya.
Dokter tersebut tampak mengernyit heran, ia memeriksa denyut nadi Lily.
“Maaf, Nona. Saya sarankan anda langsung ke Dokter Obgyn,” ucapnya.
Lily mengernyit heran, karena dokter tersebut belum memeriksanya terlebih dahulu. Tapi, malah memintanya untuk ke dokter lain.
Namun, Lily menurutinya karena dirinya juga penasaran dengan penyakit apa yang di alaminya.
Tanpa menunggu giliran, Lily langsung di panggil untuk masuk menemui dokter.
Tanpa banyak bertanya, dokter tersebut langsung memintanya untuk berbaring dan mengoles sebuah pelumas di perut bagian bawah.
Dokter tersebut dengan lihat memutar alat di atas perut Lily, tidak sakit sama sekali, tapi Lily terlihat geli dengan alat tersebut.
“Apa anda tahu ini, Nona?” tanya dokternya.
Lily menggelengkan kepalanya, karena ia memang tidak mengerti yang ada di layar monitor tersebut.
Dokter itu tersenyum dengan kepolosan pasiennya dan itu hal yang biasa baginya menangani pasien yang polos seperti Lily.
Setelah selesai, dokter memintanya untuk duduk dan mulai menulis resep vitamin untuknya.
“Sebenarnya, saya sakit apa Dokter?” tanya Lily terlihat cemas.
“Anda tidak sakit, Nona hanya butuh istirahat saja. Karena Nona harus menjaga kesehatan dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Nona.”
“Iya, saya ....” Lily baru mencerna ucapan dokter tersebut.
__ADS_1
“Apa Dok? Bayi?” tanya Lily menatap wajah dokter dengan serius.
Dokter tersebut mengangguk antusias.
“Selamat ya. Usia kandungan anda sudah masuk tujuh minggu,” ujar dokter mengulurkan tangannya memberi selamat.
Dengan air mata yang menetes, Lily menyambut uluran tangan dokter tersebut.
Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, Lily melangkah ke parkiran mobilnya.
Terlihat ia sangat tidak sabar ingin menunjukkan hasil USG pada suaminya, ia meminta sopir untuk mengantarnya ke kantor suaminya langsung.
Setibanya disana Lily tidak memberi kabar, jika dirinya akan menyusul ke kantor.
Ia langsung masuk ke ruangan, tapi ia tidak mendapati suaminya di ruangan tersebut.
“Kemana suamiku?” tanya Lily lembut pada sekretaris suaminya.
“Tuan sedang berada di ruang meeting, ada pertemuan hari ini.”
Lily mengangguk mengerti.
“Jangan katakan pada suamiku, jika aku datang. Biarkan dia fokus dengan pekerjaannya,” ucap Lily.
“Iya Nona,” sahutnya.
Lily tersenyum lalu melangkah masuk lagi ke dalam ruangan suaminya, di meja kerja terdapat foto kecil dirinya dan suami.
Ia duduk di kursi kebesaran suaminya bermain seperti anak kecil memutar ke kiri dan ke kanan.
Setelah puas bermain dengan kursi, Lily mengusap perutnya yang masih rata.
“Ternyata ada kamu Sayang, kamu hadir tanpa kami duga. Semoga kamu sehat selalu dan Ayahmu pasti bahagia mendengar kabar ini,” ujarnya bergumam.
Ceklek ...
Namun, saat melihat istrinya berada di dalam ruangan tersebut. Ia langsung ceria, bahkan tidak menyangka jika istrinya datang ke kantor.
“Sayang, kamu kemari? Kenapa tidak mengabariku?” tanya Andre sembari meletakkan berkas di meja lalu memberi kecupan di seluruh wajah istrinya.
“Hm ... aku bingung di rumah sendirian. Jadi, aku kemari untuk menemui suamiku dan menemani suamiku bekerja.”
“Oh, so sweet sekali.”
Andre menarik istrinya ke sofa yang lebih besar dan memangku istrinya.
“Dokter bicara apa saja tadi? maaf aku tidak bisa mengantarmu. Apakah ada masalah serius?” tanya Andre seraya menyelipkan rambut yang mengganggu ke belakang telinga istrinya.
“Iya, sangat serius.”
Andre membulatkan matanya mendengar apa yang di ucapkan oleh istrinya.
“Kamu serius? Kita akan berobat ke rumah sakit yang cangkih, jangan menunda lagi.”
“Dengarkan dulu!” seru Lily.
Andre langsung terdiam dan membiarkan istrinya untuk berbicara terlebih dahulu.
“Perutku setiap bulannya akan membesar, hingga sembilan bulan.” Mengusap perutnya yang rata dengan tersenyum tipis.
Andre mengernyit heran, melihat istrinya malah tersenyum menceritakan penyakit yang di deritanya.
“Sayang, penyakit apa itu? Aku baru mendengarnya, apa itu penyakit varian baru?” tanya Andre penasaran dan juga terlihat cemas.
__ADS_1
Lily terkekeh melihat suaminya yang tampak serius.
“Hahah aku hanya bercanda,” ucap Lily tidak tahan lagi untuk tidak tertawa lepas.
“Kamu ini, sudah berani mengerjai suamimu!” celetuk Andre dengan mencubit pipi Lily pelan.
“Sebenarnya aku tidak sakit. Tapi, yang membuatku selalu terasa letih adalah, ini ....” Lily meletakkan tangan suaminya ke perutnya.
“Maksudnya?” tanya Andre karena memang tidak mengerti.
“Ada anak kamu di dalam sini dan kini usianya sudah masuk tujuh minggu,” ujar Lily menatap suaminya.
Awalnya Andre masih mencerna ucapan istrinya, persekian detik baru ia menyadarinya.
“Sa-sayang, kamu hamil?” hanya Andre memastikan.
“Iya, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua.”
Andre langsung memeluk istrinya dengan erat, hingga Lily memukul bahu suaminya pelan karena dirinya kesulitan bernapas.
“Maaf, sayang. Aku sangat bahagia mendengar kabar ini, terima kasih sayang.”
Mengecup wajah istrinya berulang kali, hingga membuat Lily merasa dicintai.
Perjalan pulang, Andre tidak hentinya mengecup tangan istrinya.
Andre pernah berjanji, jika istrinya mengandung dalam tahun ini. Andre akan menyumbang sebagian uangnya untuk anak yatim piatu dan fakir miskin.
Sepulang
dari kantor, mereka langsung ke panti asuhan membawa beberapa sembako untuk di sumbangkan, bahkan mereka memberikan sumbangan berupa uang juga.
Melihat wajah anak-anak yang tersenyum bahagia mendapatkan pakaian baru, sepatu sendal dan yang lainnya. Andre menggandeng bahu istrinya menatap anak-anak tersebut.
"Hai, Nona," sapa salah satu anak perempuan yang menghampiri mereka.
"Hai, siapa namamu, anak manis?" tanya Lily berjongkok agar sejajar dengan anak tersebut, Lily langsung terpesona dengan warna anak perempuan itu yang terlihat kebiruan.
"Namaku Angel. Apa Nona tidak ingin membawaku pulang? aku ingin sekali punya Ibu," ujar angel dengan suara bergetar.
Lily dan Andre saling menatap sejenak.
"Memangnya kenapa kalau disini? Apa kamu tidak betah? bukankah, kalau disini banyak temanmu," tanya Lily dengan lembut.
Angel menggeleng kepalanya dengan pelan.
"Setelah Kakakku di adopsi, aku merasa aku sendirian."
Angel langsung memeluk Lily tanpa permisi, dengan senang menyambut pelukan tersebut.
"Jika kamu mau, kamu bisa ikut bersama kami," ujar Lily pada Angel.
mendengar itu, Angel langsung melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.
"Benarkan Nona? terima kasih banyak Nona," ucap Angel dengan suara bergetar.
"Aku akan mengemas semua pakaianku," ujarnya langsung berlari masuk ke dalam.
Lily dan Andre tertawa kecil melihat angel terlihat bahagia.
"Sayang. Bagaimana, apa kamu keberatan kalau aku membawa pulang angel? untuk menemaniku di rumah," tanya Lily.
"Jika itu membuat kamu bahagia, aku tidak keberatan Sayang."
__ADS_1
Mendengar itu, Lily kembali memeluk suaminya. lalu menyusul Angel ke dalam dan mengurus semuanya.
***