
Dhea, tidak menyangka harus bertemu Ramlan di acara reunian kantor. Hanya saja ia kecewa, karena mas Ramlan datang dengan istrinya. Sehingga ia lebih dulu pulang diantar oleh Sam.
Tapi saat malam tiba, Dhea terkejut akan seseorang datang dengan mematikan lampu. Suara itu terdengar sarkas, nafasnya berderu dan itu adalah suaminya.
"Mas kamu datang malam ini?"
“Lahirkan anak laki-laki untukku. Dhea!"
Dhea mengernyitkan dahi. “Maaf mas? Bisa ulangi ucapanmu barusan?” pintanya.
Dhea pikir, ada yang salah dengan indra pendengarannya saat mendengar ucapan Ramlan.
Sebelah alis pria itu terangkat, matanya yang menjorok ke dalam seperti mata elang, menatap Dhea dengan tatapan datar.
“Apa ucapanku kurang jelas?”
Mata Dhea membeliak. Kemudian ia mengeluarkan suara setengah mendengus dan setengah tertawa.
Dhea tersentak oleh suara Ramlan yang tiba-tiba meninggi. Ia bisa melihat mata pria itu berkilat, lurus terarah kepadanya. Membuat rasa takut tiba-tiba menyeruak di hatinya.
“Ma-maksud mas apa, aku memang sedang hamil?”
“Yang barusan aku katakan bukan permintaan, tapi perintah!” tegas Ramlan,
"Mas, tapi keluarga Moza tidak berpengaruh, aku melahirkan anak laki laki atau anak perempuan."
“Cuma ini satu-satunya cara bagimu membayar hutangmu. Kamu tidak punya pilihan lain! aku ingin kamu lahirkan anak laki laki, kamu harus ingat aku punya Zia istriku dan dia tidak boleh tahu tentang kamu!"
Tenggorokan Dhea tercekat. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain selain kepada pria yang duduk dengan angkuh di hadapannya itu.
Ramlan pun pergi, meninggalkan Dhea begitu saja dikamar! ia pikir mas Ramlan akan berbaik hati padanya.
__ADS_1
Dhea tersentak dari lamunannya, langkah kakinya seketika terhenti. Air muka Dhea tampak menegang kala melihat dua pria bertubuh kekar sedang berjaga di pintu keluar. Salah satunya adalah yang berbicara kepadanya barusan mengenal Dhea dimasa lalu.
"Sam, kau tega padaku?" teriak Dhea.
"Maafkan saya, ini hanya perintah."
Namun Dhea tidak mau peduli dengan ucapan bodyguard itu, ia tetap menghampiri pintu lalu memutar kenop pintu tersebut dengan kencang.
Terkunci.
Mata Dhea membeliak. "Tolong buka pintunya! Saya harus keluar dari tempat ini!"
"Maaf, tapi Tuan tidak mengizinkan Nona keluar." ujar Sam.
Belum sempat Dhea menanggapi kalimat tersebut, salah seorang dari mereka tiba-tiba mengangkat tubuh Dhea dan membawanya di atas bahu. Dhea memberontak, memukuli punggung pria itu dengan keras. Akan tetapi perlawanannya tidak berlaku sama sekali. Hingga akhirnya Dhea berakhir di ruangan yang tadi ia kunjungi dan Ramlan masih ada di sana.
Dengan tanpa perasaan, bodyguard itu mengempaskan tubuh Dhea ke atas lantai, tepat di hadapan Ramlan yang duduk di sofa dengan bahasa tubuhnya yang terlihat angkuh. Dhea sempat mengaduh kesakitan saat lututnya membentur marmer putih.
“Masih belum mengerti juga, wanita?”
Ramlan menyeringai miring. Ia mengurai tangan yang semula terlipat, mencondongkan tubuhnya ke hadapan Dhea seraya melemparkan tatapan mematikan.
Secara spontan Dhea menarik mundur tubuhnya. Ketakutan tiba-tiba menyeruak ketika yang ia lihat bukan lagi ekspresi datar dari wajah pria itu, melainkan air muka mengerikan yang membuat nyalinya sedikit menciut.
Seringaian pria itu tak jauh berbeda dengan iblis yang sedang tersenyum, pikir Dhea.
“Kamu lupa perintah yang tadi ku ucapkan?” Tangan Ramlan menggamit dagu Dhea, lalu menariknya ke atas hingga Dhea mendongak ke arahnya.
"Mas, aku yakin aku hamil. Tapi tidakkan kamu sedikit lebih perhatian padaku? bukan hanya sekali dua kali saja, kamu tetap datar padaku dan dingin."
"Baik, aku akan membuatnya lagi! setelah itu kita ke dokter, apakah kau hamil anak laki laki. Dan jangan berani menampilkan wajah pada Zia, jika tidak ingin kedua adikmu terancam."
__ADS_1
Dhea menggeleng. Ia memang miskin. Tapi bukan berarti rela memperjual belikan anak demi kehidupan mewah. “Saya mohon, biarkan saya keluar dari sini. Saya berjanji akan membayar semua hutang saya,” kata Dhea penuh permohonan.
Ia berharap Ramlan masih punya sedikit belas kasih dan mengizinkannya meninggalkan tempat ini.
“Dua triliun, kau tahu sudah belasan tahun aku membantumu!”
Dhea tersentak. Seruan tajam pria itu berhasil menampar Dhea, menyadarkan Dhea pada fakta betapa besarnya uang yang harus ia bayar.
“Kamu yakin sanggup membayar hutang sebanyak itu?”
Dhea terdiam.
Dua triliun.
Benar. Apakah dirinya sanggup membayarnya? Dari mana Dhea harus mendapatkan uang sebanyak itu? satu satunya cara adalah, hamil anak laki laki untuk keluarga Moza Ramlan dan pergi sejauh mungkin setelah melahirkan. Tapi apa aku sanggup?! benak Dhea berfikir.
Dhea lantas termangu.
“Kenapa diam saja? Apa kamu lupa apa fungsinya mulut?!” geram Ramlan tak sabaran.
“Jawaban saya tetap sama. Saya tidak bisa tahu apakah saya hamil anak laki laki.”
Rahang Ramlan tampak mengetat. Cengkeramannya di dagu Dhea terasa semakin kuat, membuat gadis itu meringis menahan rasa sakit. Dhea tahu sekarang dirinya berada dalam bahaya, tetapi ia tak bisa berbuat banyak di depan pria tersebut, memang ia salah bertahan dan menunggu Ramlan pria yang telah beristri.
“Sekali kamu melangkahkan kaki ke tempatku, maka tidak ada jalan keluar bagimu,” desis Ramlan, “jadi, nikmati saja peranmu di sini sampai melahirkan seorang anak laki-laki! aku akan membawamu dilihat oleh keluargaku, tapi jangan sampai istriku Zia, tahu siapa kamu disini? mengerti!" ujar Ramlan.
“Anda benar-benar tidak punya hati!”
“Memang.” Ramlan membenarkan. “Sudah kubilang, kamu tidak punya pilihan!"
“Lahirkan anak untukku, atau kamu akan kehilangan kedua adikmu. Kamu akan melihat Mira lenyap tak tertolong di rumah sakit, dan adikmu Bagas menjadi gelandangan karena dikeluarkan dari universitas, serta rumah yang aku belikan itu. Satu lagi, jika kamu bertemu Zia, ucap saja kamu adalah pembantu baru di rumah ini." ujar Ramlan, menyorot mata Dhea.
__ADS_1
Tbc.