
Sementara Viona sedang berjuang di dalam ruangan operasi, karena pendarahan hebat. Semua itu penyebabnya adalah Kevin memaksa istrinya untuk berhubungan, bahkan melakukannya dengan sangat kasar.
Kevin tampak frustrasi, ia merasa sangat bersalah telah mencelakai istrinya untuk memaksakan hasratnya agar tersalurkan. Namun, ia malah membahayakan janin yang di kandungan istrinya, hingga terpaksa harus di operasi, karena bayi di dalam perutnya sudah meninggal.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Kevin, hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan pada putriku? Bukankah kita sudah sama-sama menandatangani surat perjanjian itu?!” geram ayah Viona.
“Maaf, Ayah. Ini di luar kendaliku, sungguh! Aku tidak berbuat jahat padanya.” Kevin berusaha membela dirinya.
Ayah mertuanya menarik kerah bajunya.
“Kalau terjadi sesuatu dengan putriku, aku tidak akan memaafkanmu!” ancam ayah mertuanya lalu melepas kasar kerah baju Kevin.
Sebelumnya ayah mertuanya sedang melakukan operasi pada pasiennya, setelah mendengar dari rekannya ayah mertuanya langsung menyusul Kevin setelah operasi selesai.
Keesokan paginya, Kevin tertidur di samping istrinya. Viona mengusap kepala Kevin pelan, karena merasa ada pergerakan Kevin akhirnya bangun.
Entah kenapa, saat ini Viona merasa kalau Kevin benar-benar mencintainya. Terlihat jelas, saat Viona mengalami pendarahan kemarin ia begitu panik.
“Kamu sudah bangun?” tanya Kevin dengan suara paraunya.
Viona mengangguk.
Terlihat Viona meringis karena merasa nyeri perut bagian bawahnya.
“Sakit?” tanya Kevin sembari mengelus pelan perut Viona yang rata.
Semula perut Viona sudah membuncit, saat ini sudah kembali rata.
“Maafkan aku,” ujar Kevin merasa bersalah.
Viona hanya tersebut, lalu menggelengkan kepalanya.
“Maafkan aku tidak bisa menjaga anakmu, sekarang kamu bebas.”
Kevin menggelengkan kepalanya, ia langsung memeluk istrinya.
“Seharusnya aku yang minta maaf, aku sudah mencelakaimu. Jangan pergi ya, jangan memintaku untuk meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukan itu,” ucap Kevin lirih.
Mendengar itu, Viona terharu.
“Selama ini aku selalu marah-marah, karena aku benci kamu dekat dengan Andre. Aku cemburu padanya, karena kamu lebih dekat dengannya dari pada aku. Maafkan aku, karena aku juga anak kita menjadi korban!” menatap wajah istrinya dengan lekat.
Viona tersenyum, terlihat wajah Viona yang masih pucat.
Ayahnya melihat kemesraan mereka di balik pintu kaca kecil yang ada di pintu, sebenarnya ia masih kesal dengan menantunya itu. Namun, setelah melihat kemesraan anak dan menantunya membuat amarahnya langsung mereda dan tidak jadi masuk ke dalam ruang rawat inap putrinya.
Tiga hari sudah berlalu, Viona pulang ke rumahnya dan Kevin. Kevin sangat memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan Viona tidak di izinkan oleh berjalan. Saat keluar dari mobil, Viona di gendong oleh suaminya hingga ke kamar mereka.
“Sekarang kamu istirahat. Aku akan meminta Bibi untuk membuatkanmu makan siang dan setelah itu kamu harus minum obat.”
Viona mengangguk.
Selama beberapa bulan dimana Andre mengusirnya dari rumah sakit dulu, Viona mulai menjauh darinya dan berhenti untuk memikirkan Andre lagi.
__ADS_1
Apalagi setelah Kevin berubah menjadi lebih lembut padanya, walaupun dia kadang kasar, itupun jika Kevin mendengarnya menyebut nama Andre.
Seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, Kevin benar-benar mengurusnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Namun hari ini Viona tampak gelisah, karena hampir tengah malam Viona menunggu suaminya pulang. Ia sudah menghubungi pihak rumah sakit, jika Dr. Kevin sudah pulang sejak sore, dengan urusan mendadak di luar.
“Kemana dia?” gumam Viona tampak mondar mandir yang terlihat cemas.
Viona baru mengingat sesuatu, jika dirinya bisa melacak keberadaan suaminya melalui ponsel canggihnya selama Kevin masih aktif.
Hampir lima menit ia berkutat dengan ponselnya, Viona tampak menghela napas lega setelah menemukan titik lokasi suaminya.
Namun, ia menyipitkan kelopak matanya melihat suaminya berada di sebuah hotel.
“Hotel! Apa dia sedang ada pertemuan?” gumamnya dalam hati.
Viona kembali menghubungi pihak rumah sakit dan bertanya apakah suaminya hari ini ada pertemuan.
Deg ...
Viona tampak cemas, setelah mendengar jika suami tidak ada pertemuan sama sekali.
Sementara itu, Kevin meninggalkan rumah sakit secara mendadak. Apalagi saat itu masih jam dirinya untuk memeriksa pasiennya yang sudah terdaftar, karena menunggu Dr. Kevin tak kunjung datang, sehingga di gantikan oleh dokter lain.
Viona langsung bergegas untuk keluar menemui suaminya dengan membawa sopirnya.
Sesampainya disana, terlihat mobil suaminya baru saja keluar dari hotel tersebut. Viona berpikir Kevin akan kembali pulang ke rumah, tapi Kevin malah mengambil alur jalan lain membuat Viona yang membuntuti suaminya semakin penasaran ke mana suaminya pergi.
Viona mengernyit heran, suaminya berhenti di depan klub malam yang cukup terkenal di kota itu. Pakaian Kevin juga berganti dengan baju kaos dan celana pendek.
Viona ikut masuk ke dalam klub malam tersebut, Viona menggunakan masker dan topi agar tidak ada yang mengenalinya.
Namun, Viona menangkap gelagat aneh saat Kevin minum gelas yang terakhir, Kevin membuka pakaiannya terlihat ia seperti sangat kepanasan. Berulang kali Kevin mengusap tekuk lehernya, terlihat jelas jika Kevin menahan sesuatu di bawah sana.
Tak lama datang seorang perempuan yang berpakaian minim langsung duduk di hadapannya, bahkan mencium leher Kevin langsung.
Viona membelalakkan matanya melihat keberanian perempuan itu, padahal Kevin sudah berusaha menolak.
“Kurang ajar! Berani sekali wanita ini!” geram Viona mengepal tangannya dengan kuat.
Ia melangkah besar hendak menghampiri wanita yang tengah duduk di pangkuannya, namun ada seorang pria yang tengah melangkah terburu-buru hingga mereka saling bertabrakan.
Bruk ... prang!
Viona terjatuh ke lantai, bersamaan dengan gelas di tangan pria itu.
“Aduh, maaf Nona. Saya tidak sengaja, apa Nona baik-baik saja?” ujar pria itu, membantunya untuk berdiri.
“Iya aku baik-baik saja,” sahut Viona sembari membersihkan pakai yang terkena minuman tersebut.
Viona hendak kembali melangkah, tapi ia tidak melihat lagi suaminya duduk di kursi tersebut.
“Kemana mereka?” tanyanya dengan sedikit kesal, karena pria yang menabrak membuatnya kehilangan jejak suaminya.
Viona melihat seperti sebuah lorong yang tertutup tirai putih, Viona langsung melangkah tanpa menunggu lagi.
Perlahan menyusuri lorong tersebut, suara musik dari luarpun hanya samar-samar terdengar dari lorong itu. Sudah beberapa orang yang berpapasan dengannya dengan pasangannya, sudah di pastikan tempat tersebut tempat orang yang sedang memadu kasih dengan pasangannya yang belum halal tentunya.
__ADS_1
Viona melihat satu kamar, tapi tertutup rapat. Perlahan Viona memutar kenop pintu, beruntung kamar tersebut tidak terkunci.
Perlahan membuka pintu tersebut, terdapat dua pasangan di dalam yang sedang memadu kasih di atas sofa. Namun, Viona mendapati suaminya di dalam sana.
Viona menatap mereka dengan jijik, karena sudah melakukan hubungan terlarang itu.
Viona menutup kembali pintu tersebut, lalu melanjutkan langkahnya lagi. Ia mendapati kamar lagi, tapi kali ini pintu itu terbuka sebagian.
Viona mengintip pintu yang terbuka itu, karena tidak melihat apapun ia membukanya pelan agar bisa terlihat dengan sempurna, karena terdengar dari luar jika ada suara ******* wanita yang terdengar dari luar.
Viona membelalakkan matanya melihat suaminya dengan wanita yang sama, mereka tengah berciuman mesra, dengan posisi wanita itu di atas tubuh suaminya.
Tak sampai disitu, wanita itu sedang membuka celana suaminya dan terlihat jelas olehnya. Viona sampai menutup mulutnya, melihat adegan dimana wanita itu tengah menikmatinya.
Bruak!
Viona membuka pintu dengan kasar, wanita itu tampak terkejut.
Tapi tidak dengan suaminya yang tampak tersiksa dengan keadaannya yang tidak bisa menyalurkan hasratnya, Viona sudah menduga jika suaminya saat ini tengah di beri obat perangsang yang cukup tinggi.
“Sayang, tolong aku,” ujar Kevin dengan suara paraunya menahan sesuatu di bawah sana.
“Minggir kau!” bentak Viona mendorong tubuh wanita itu.
“Aku bisa membantunya, jika tidak suamimu akan mati!” ujar wanita itu dengan nada mengejek.
Tanpa peduli dengan ucapan wanita itu, Viona membenarkan celana suaminya lalu membantu Kevin untuk keluar dari tempat itu.
Wanita itu terlihat kesal melihat Kevin di bawa oleh istrinya, karena hasrat dirinya tidak tersalurkan.
Di dalam mobil, Kevin tampak tersiksa. Viona membiarkan suaminya untuk menjamah tubuhnya dari leher hingga tangan Kevin tidak bisa di kondisikan lagi.
“Pak, bisa lebih di percepat jalannya. Suaminya segera di tolong,” ujar Viona.
Sopir pribadinya sangat mengerti dengan kondisi Kevin saat ini, ia mengangguk dan mempercepat laju mobil.
Setibanya di rumah, pakaian Viona yang ia kenakan sudah tidak beraturan lagi. Viona di bantu oleh sopirnya untuk membawanya ke kamar.
Setibanya di kamar, Viona meminta pelayannya untuk membantunya mengambilkan jarum suntik di dalam tas suaminya.
Setelah semua siap, Viona langsung menyuntikkan cairan pada tangan suaminya.
Setengah jam kemudian, suaminya tampak tenang dan tertidur pulas di tempat tidur.
“Semuanya aman,” ujar Viona bernapas lega kepada pelayan di rumahnya.
Mereka juga tampak menghela napas lega, mereka keluar dari kamar tersebut.
“Kamu harus menjelaskan semuanya padaku besok, Sayang. Apa yang kamu lakukan di hotel itu?” Viona tampak kesal menatap wajah suaminya yang tertidur pulas tanpa dosa, apalagi teringat wanita tadi yang hampir saja bercinta dengan suaminya.
Menatap suaminya dengan kesal pun percuma pikirnya, karena saat ini Kevin tengah tertidur pulas.
“Huftt ... siapa wanita itu? Sepetinya dia yang sengaja meletakkan obat itu ke dalam minuman Kevin,” gumam Viona sembari membuka pakaiannya di dalam kamar mandi.
Di kaca yang berada di dalam kamar mandi, begitu banyak noda merah di leher dan bagian dada karena ulah suaminya.
Sebenarnya dirinya sangat malu, karena di lihat oleh sopir dan pelayanan yang ada di rumahnya.
__ADS_1
Tapi, mau bagaimana lagi. Semua itu karena efek obat yang suaminya minum saat di klub malam itu.
***