Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
IDE GILA


__ADS_3

“Menikah?”


Ramlan mendengus kasar sambil melemparkan berkas di tangannya hingga terjatuh ke lantai. Kemudian mengempaskan tubuh di atas kursi kebesarannya.


“Sialan! Kenapa aku harus melakukan hal sekonyol itu demi gadis tidak tahu diri?” berang Ramlan penuh emosi, matanya tampak berkilat-kilat. “Bilang padanya, kalau mau mati, silahkan mati saja. Aku tidak sudi menikah!”


“Bukankah Anda sendiri yang melarangnya untuk mati, Tuan?” Sam, mengambil berkas dari lantai yang semula dilemparkan Ramlan. Dia sempat membaca berkas tersebut yang berisi biodata Dhea, lengkap dengan pas foto gadis itu di sudut kanan bagian atas.


“Itu jika dia tidak menginginkan pernikahan! Kalau dia menginginkannya lebih baik dia mati saja!” tegas Ramlan. “Dia hanya gadis miskin, tapi sudah berani meminta lebih padaku.”


“Lalu apa yang harus saya lakukan terhadap gadis itu?” tanya Sam, sambil menaruh berkas tersebut di atas meja tepat di hadapan Ramlan. “Dia masih ada di teras dan berusaha melawan penyakitnya. Bukankah lebih baik dia diselamatkan lebih dulu? Gadis itu akan mati mengenaskan di sana dalam waktu hitungan menit.”


Ramlan menatap Sam, dengan tatapan tajam. “Kamu tahu, Sam, aku tidak suka diatur-atur! Jadi berhenti mengaturku dan lakukan saja pekerjaanmu!"


Jemari Ramlan memijat pelipis sambil bersandar di punggung kursi. Tatapannya sempat tertuju pada data diri Dhea, sejenak. Lalu membuang muka dengan malas.


“Biarkan saja wanita itu mati sesuai keinginannya. Aku tidak mau peduli.”


“Maaf saya harus mengatakan ini, Tuan,” kata Sam, yang tidak beranjak sedikit pun meski Ramlan telah menyuruhnya pergi. “Bukankah Anda akan membutuhkan waktu lebih lama lagi, untuk menemukan wanita lain yang tepat? Sedangkan waktu yang Anda miliki tidak begitu banyak. Anggap saja Anda menikah demi penerus yang Anda butuhkan. Setelah dia melahirkan, ada bisa menceraikannya. Demi status anak tersebut, jika tidak ada ikatan pernikahan. Maka anda tidak kuat, nasabnya ada pada ibunya." jelas Sam.


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Ramlan tampak terdiam dengan kening berkerut. Ucapan Sam, berhasil membuat pikiran Ramlan mendadak penuh.


Ya, ucapan asisten pribadinya itu memang benar. Butuh waktu lebih dari satu tahun bagi Ramlan untuk menemukan wanita yang cocok mengandung anak laki-laki untuknya.


Dan itu berarti, kemungkinannya sangat kecil bagi Sam, untuk menemukan wanita pengganti Dhea dengan cepat. Sedangkan Ramlan harus memiliki keturunan laki-laki secepat mungkin untuk mempertahankan posisinya di perusahaan Moza Ramlan.


Ramlan adalah CEO di perusahaan milik sang kakek. Hampir semua saudaranya berusaha merebut perusahaan itu dari tangan Ramlan. Kini posisi Ramlan sebagai CEO semakin terancam karena belum memiliki calon penerus alias anak laki-laki di usia 36 tahun ini, apalagi istri sahnya sulit hamil karena gangguan mental bipolarnya.

__ADS_1


Selain itu, dengan memiliki penerus, maka perusahaan tersebut otomatis akan menjadi milik Ramlan. Sesuai wasiat sang kakek.


“Sialan.” Ramlan bergumam kala mengingat keluarga kakeknya yang nyaris semuanya menginginkan Ramlan jatuh. Sementara itu Ramlan hanya sendirian melawan mereka semua.


“Aku tidak akan membiarkan mereka mengalahkanku.” tangan Ramlan terkepal erat di atas meja.


“Anda masih punya waktu untuk menyelamatkan wanita itu dan mengabulkan permintaannya untuk menikah, Tuan,” kata Sam, dengan ekspresi datar. Padahal hatinya sakit, ingin sekali merebut Dhea dari tuannya.


“Jadi aku harus menikahi gadis rendahan seperti dia?”


Ramlan tersenyum sinis sembari meraih biodata Dhea. Membacanya kembali sambil mengusap-usap dagu.


“Menurut saya itu pilihan yang tepat.”


“Kenapa kamu seyakin itu?”


“Bukankah gadis itu sangat sesuai dengan kriteria yang Anda inginkan?”


Satu kata yang paling tidak disukai Ramlan adalah menikah.


Menurut Ramlan, pernikahan hanyalah omong kosong. Bukannya akan bahagia, tetapi para pelaku pernikahan akan berakhir sengsara dan hancur. Dan Ramlan tidak ingin menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kehancuran itu.


Maka dari itu Ramlan berusaha mencari ibu pengganti yang mau melahirkan anaknya tanpa ikatan pernikahan. Bukan sembarang wanita, tetapi wanita itu harus memiliki kriteria yang sesuai dengan keinginan Ramlan.


Selain masih suci, wanita itu harus berasal dari kaum lemah, yang mudah ‘ditendang’ kapan pun Ramlan mau, dan tidak akan bisa mengganggu kehidupan Ramlan setelah memberikan anak untuknya.


Setelah berusaha mencari ke sana kemari, Ramlan akhirnya menemukan Dhea sebagai wanita yang sesuai dengan kriterianya itu.

__ADS_1


Lebih tepatnya beberapa minggu yang lalu. Tanpa sengaja Ramlan mendengar percakapan seorang wanita dan laki-laki di basement perusahaannya, saat Ramlan akan masuk ke dalam mobil miliknya.


Saat itu Dhea, tampak dikerubuti pria nakal meminta tidur dengannya, di rampas akan dijual dan mendengar kisah Dhea yang hidup bersama kedua adiknya yang membutuhkan biaya. Saat itulah Ramlan memerintahkan Sam, untuk menyelamatkannya.


Dhea mendengus. “Walaupun aku miskin, tapi sampai kiamat pun aku nggak akan pernah mau jadi wanita simpanan kamu. Lebih baik aku miskin seumur hidup!”


Ucapan terakhir Dhea membuat Ramlan sedikit tertarik. Bukan tertarik karena suka, akan tetapi tertarik untuk menjadikan Dhea sebagai target selanjutnya. Dari ucapan gadis itu Ramlan tahu, Dhea bukanlah wanita murahan yang menjajakan tubuhnya untuk para pria. Dan bisa ditebak, Dhea berasal dari keluarga miskin.


Bukankah dua kriteria itu sesuai dengan kriteria ibu pengganti yang sedang Ramlan cari? tanpa pernikahan serius, yang menyakiti hati istrinya kelak.


Setelah hari itu Ramlan lantas menyuruh Sam untuk mencari informasi terkait Dhea. Ternyata benar, Dhea adalah gadis miskin yang hanya tinggal bertiga dengan dua adiknya yang salah satunya, mengidap penyakit kanker darah.


Hm, cukup menarik, bukan?


Latar belakang gadis itu benar-benar lemah.


Sejak saat itulah, Ramlan memutuskan untuk menjadikan Dhea target selanjutnya. Berkali-kali Ramlan gagal menemukan ibu pengganti, karena meski para wanita itu berasal dari keluarga miskin, ternyata mereka sudah tidak perawan lagi.


Sedangkan di sisi lain, Dhea pasrah dengan apapun yang akan terjadi setelah ini. Rongganya seakan tidak memiliki ruang bagi Dhea untuk bernapas.


Rasanya sangat sesak. Sekujur tubuhnya terasa dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang meringkuk di lantai.


‘Ibu… maafin aku, tidak bisa menjaga Mira dan Bagas setelah ini.' batin Dhea di sela-sela napasnya yang semakin pendek. Sudut hatinya terasa nyeri karena tidak sempat menyelamatkan. Ternyata dirinyalah yang akan pergi lebih dulu, pikir Dhea.


‘Mungkin sudah waktunya aku ketemu sama Ayah. Ibu jangan khawatir, saat aku bertemu Ayah nanti, akan aku sampaikan rindu yang selama ini Ibu pendam untuk Ayah.’ Dhea kembali membatin.


Mata Dhea perlahan meredup. Dunia tiba-tiba terlihat gelap. Semakin gelap. Dan setelah itu Dhea tidak ingat apapun lagi.

__ADS_1


Yang ia ingat Ramlan memang sangat mencintai istrinya, tapi bukan maksud Dhea ingin menghancurkan pernikahan mereka. Bukankah keluarga mereka inginkan anak laki laki, tapi jika tanpa pernikahan resmi sangat tidak logis bagi Dhea sebagai wanita. Apalagi kisah Ramlan dan Zia sangat manis, sehingga sulit bagi Ramlan menikahinya demi seorang anak.


Tbc.


__ADS_2