Bukan Istri Simpanan

Bukan Istri Simpanan
KEDATANGAN TIBA TIBA


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, namun Ramlan sudah tampak rapi dan juga harum.


Ekor matanya melirik sekilas ke arah tempat tidur, memastikan bahwa seseorang yang tengah bergelung di bawah selimut itu masih tertidur.


Dengan perlahan, Ramlan membuka pintu kamarnya. Melangkah secara tergesa-gesa menuju ke luar. Di sana sudah ada asisten, yang tengah menunggunya.


Alasan Ramlan pergi pagi-pagi sekali adalah Dhea. Laki-laki itu sudah hampir 2 minggu tak bertemu dengannya, bahkan Ramlan tak pernah meghubunginya melalui panggilan telepon. Rasa rindunya sudah sangat besar kepada wanita yang telah dinikahi secara siri itu.


"Apa kita langsung ke kantor, Tuan?" tanya Sam, ketika Ramlan sudah duduk di kursi belakang.


"Tidak! Antarkan aku pulang ke rumah kedua!" ucap Ramlan yang tengah sibuk dengan tablet yang ada di genggamannya.


Sam, tau betul 'pulang' yang di maksud oleh Ramlan. Rumah baru yang di beli untuk istri barunya itu, sepertinya lebih menarik dari pada rumah mewah yang dimilikinya saat ini.


Sesuai perintah Ramlan. Sam, mengantarkan tuannya itu menuju rumah barunya. Selama perjalanan tak ada percakapa yang terjadi antara mereka. Keduanya sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sam, dengan tugasnya menyetir, sementara Ramlan sibuk dengan tabletnya.


"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Sam, yang sudah menghentikan mobilnya tepat di depan rumah barunya.


Ramlan menongakkan kepala nya. Ia terlalu sibuk dengan tabletnya sehingga tak menyadarai bahwa dia sudah sampai. Wajahnya yang memang sudah tampan menjadi berkali-kali lipat lebih tampan lagi karena guratan-guratan senyuman menghiasi wajahnya.


"Kau bisa langsung kembali ke kantor. Hari ini aku tidak akan masuk, gantikan aku untuk memimpin rapat hari ini!" titah Ramlan, kemudian laki-laki berwajah datar itu langsung pergi begitu saja tanpa memperhatikan ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Sam.

__ADS_1


Ramlan mulai memasuki rumah yang baru dibeli beberapa minggu ini. Aroma harumnya masakan menyeruak di indra penciumannya. Dengan langkah lebar, Ramlan langsung saja melangkahkan kakinya menuju dapur. Di sana ia melihat, istrinya itu ternyata tengah memasak. Tanpa menimbulkan suara, Ramlan berjalan mendekat ke arah Dhea istrinya yang tengah hamil terlihat itu.


Dhea yang sibuk memasak dengan rambut yang dicepol tinggi, membuat Ramlan meneguk ludahnya. Hanya dengan melihat leher jenjang Dhea saja, Ramlan sudah dibuat panas. Belum pernah sekalipun Ramlan merasakan hal seperti ini.


"Astagfirullah!" pekik Dhea, saat tiba-tiba saja ada lengan yang melingkar di pinggangnya.


Dhea yang konsentrasi memasakpun di buat terkejud bukan main, saat mendadak ada sebuah lengan kokoh melingkar di perutnya. Dari harum parfumnya, Dhea bisa mengetahui jika yang memeluknya dari belakang saat ini adalah Ramlan–suaminya. Namun meskipun begitu, Dhea tetap saja terkejut bukan main.


"Aku merindukanmu ...," bisik Ramlan.


Bibirnya kini sudah sibuk mengendus leher istrinya, aroma mawar dari tubuh Dhea, membuat Ramlan semakin memperdalam endusannya. Membuat Dhea yang tadinya biasa saja menjadi mengeliat karena rasa geli yang dirasakannya.


"Mas ...,"


"Hem ...,"


"Ah ...," Sebuah desah kecil lolos begitu saja dari bibir Dhea, saat Ramlan kembali lagi mengecup leher serta mengigitnya.


"Apa kau tak merindukanku?" tanya Ramlan.


Tangan yang tadinya berada di pinggang, sekarang sudah menyusup masuk kedalam kaos Dhea. Menyentuh perut tidak rata istrinya, membuat Dhea semakin merasakan sensasi geli yang tak tertahankan.

__ADS_1


"Mas ...," panggil Dhea dengan suara paru.


"Hem ...," sahut Ramlan, tangannya masih asik menjelajahi tubuh Dhea.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu, Mas, menutup pintu juga." tutur Dhea di tengah rasa nikmat yang ia rasakan.


"Aku tidak melihat siapapun," sahut Ramlan yang kini sudah membalikkan tubuh istrinya menjadi menghadapnya.


Dhea dapat melihat mata Ramlan yang berkabut, menandakan laki-laki itu menginginkannya.


"Mas, aku sedang memasak, di sini terbuka," jelas Dhea sekali lagi.


Ramlan yang tak mengerti maksud Dhea. Ia terus saja melancarkan aksinya. Bahkan kini tangannya sudah menjalar ke bawah menyentuh sesuatu di sana. Dahi Ramlan menyerengit saat merasakan sesuatu pendengaran.


Mas, jangan disini! bisik Dhea, ia mematikan kompor dengan segera.


Tbc.


Delay Up, maaf ya.


Berhubung dalam masa revisi, dari bab awal kisah Dhea baru Author publikasi, masih menyusul sisanya. Mohon membaca ulang setelah Author beri tanda di pemberitahuan bab kelanjutan seperti saat ini.

__ADS_1


Baru sampai bab 10, insyallah dilanjut lagi. Karena Bukan Istri Simpanan memasuki lomba, dan Author kejar merevisi sesuai tema dari editor.


Tq -- Happy Reading.


__ADS_2