
Tok . . . Tok . . . Tok . . .
Terdengar suara orang sedang mengetuk pintu.
Dengan segera Aina membuka pintu untuk mengetahui siapa orang yang pagi - pagi buta sudah mengetuk pintu rumah nya.
"Assalamualaikum . . . " . Seru seorang wanita bercadar yang langsung menyambar memeluk tubuh Aina, yang tak lain wanita itu adalah Shahilla yang baru kembali dari Medan di puasa ke 3 untuk melanjut kan rutinitas keseharian nya di Jakarta.
"Waalaikumsalam ". Jawab nya dengan tampang terkejut dan merasa tak senang Shahilla kembali.
"Uuuuuh . . . Aku rindu banget sana kamu, padahal cuma seminggu tapi rindu nya kayak enggak ketemu lama he he he " . Shahilla merangkul Aina menuntun masuk ke dalam rumah sembari membawa barang - barang bawaan nya.
Aina tersenyum getir.
"Ouh iya bunda sama ayah kamu nitip ini buat kamu, terus mereka nitip salam, kata nya rindu sama kamu ". Shahilla menyodorkan sebuah kotak yang enggak tau apa isi nya sebab dari orang tua nya Aina tuh kotak emang sudah terbungkus rapi sebelum di titipkan ke Shahilla.
"Hmm . . . Iya makasi ". Singkat nya.
"Kok kamu kayak enggak happy gitu, kamu marah ya sama aku karena aku ninggalin kamu sendirian selama seminggu ? " Shahilla ternyata memperhatikan raut wajah Aina.
"justru aku enggak happy kalau kau terlalu cepat kembali nya, kalau bisa enggak usah balik sekalian " . Malah hati nya yang menjawab.
"Iya kan . . . Kamu marah kan sama aku ? ".
"Iya lah aku marah sama kamu. Karena kamu ninggalin aku sendirian di sini, kan aku jadi nya kemana - mana sendiri, sahur sama buka puasa nya sendiri ". Pura - pura . . .
"He he he maaf, lagian kamu di ajak balik bareng kamu bilang sayang uang nya kalau bolak - balik ntar, tapi kan sekarang aku udah di sini, jadi kita bisa sahur dan buka puasa nya sama - sama he he he ". Shahilla memeluk Aina dan menempel kan pipi kiri nya ke pipi kanan nya Aina.
Sedang kan Aina memutar bola mata nya, terlihat jelas dari raut wajah nya kalau dia tidak senang namun tidak di sadari oleh Shahilla.
Usai membereskan koper dan barang - barang lain nya, Shahilla bersiap untuk berangkat ke kantor.
Aina/ " Jadi hari ini kamu langsung ke kantor ? ". Sambil memakai cadar nya di depan kaca.
Shahilla/ " Iya donk . . Udah rindu kerja he he he " . Ujar nya sambil memasuki barang - barang nya ke dalam tas nya.
"Hmm . . Orang mah rindu nya liburan ini kamu malah rindu sama kerja, aneh kamu ". Aina menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
Shahilla/ " he he he . . . Oh ya . . . Ada berita apa selama aku enggak ada dis ini ? ".
Aina menghenti kan tangan nya yang sedang merapikan cadar nya.
"Enggak ada ". Aina berkata bohong padahal ada sesuatu yang terjadi bahkan sudah gempar 1 kantor.
"Ouhmm . . . Bagus lah kalau gitu, ya udah yuk kita berangkat ".
Setiba nya di kantor, semua mata karyawan tertuju pada Shahilla dan Aina yang baru memasuki pintu utama kantor.
Shahilla merasa heran dan risih di lihat tidak seperti biasa nya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi ya di kantor ?, kok aku ngerasa dari tadi mereka ngeliatin ke arah kita ya ? ".
"Enggak ada apa - apa . Mungkin karena baru lihat kamu masuk kantor kali, lagian kan emang udah biasa mereka ngeliatin kita ". Aina berusaha menyembunyikan yang terjadi sembari melihat sekeliling kantor.
Shahilla / "Hmm . . . . ".
"Ehh . . . Buk Shahilla udah balik dari Medan ?, kapan sampek nya ? ". Seorang wanita rekan kerja nya tiba - tiba menghampiri mereka berdua.
"He . . Iya buk Tika, subuh pagi tadi saya sampek ke sini ". Shahilla menyambut nya.
"He he he . . . Oh ya . . Ini ada sedikit ole - ole buat buk Tika kue bika ambon ". Shahilla menyodor kan sekotak kecil kue bika ambon khas Medan.
"Ya ampun . . . Buk Shahilla baik banget sudah bawa - in ole - ole, pas banget untuk buka puasa nanti sore he he he, makasi banyak ya Buk ". Tika menyambut pemberian Shahilla.
Shahilla / "Iya sama - sama buk Tika ". Ramah nya.
"Oh . . Iya . . . Buk Aina, maaf kemarin saya belum sempat ngucapin ke Buk Aina soal lamaran Buk Aina sama Restu Muhammad, selamat ya buk Aina . . Semoga lancar sampek hari H nya, semua orang lagi membicarakan tentang ini lho, lagi trending topik he he he ". Tika memeluk Aina yang sejak tadi hanya diam, Aina enggak menyangka bakal secepat itu berita nya.
"He he he i . . Iya terimakasi ya Buk Tika ". Ujar nya melirik ke arah Shahilla.
Sedang kan Shahilla nya sendiri terpaku lemas dan shock berat mendengar nya.
Tas dan barang bawaan nya seakan tak berasa di genggaman. Hati dan jantung nya seakan berhenti bekerja dan bingung harus pergi atau tetap berdiam di situ mendengar kan mereka.
"Pagi buk Shahilla, ibu di minta ke ruang Pak Wiguna sekarang juga ". Sekretaris Pak Wiguna yang tiba - tiba muncul menyelamat kan Shahilla untuk pergi dari mereka.
__ADS_1
"Eh . . Iya . . Emm saya tinggal dulu ya, Assalamualaikum ". Shahilla pamit.
Aina dan Tika / "Waalaikumsalam ".
Aina melihat Shahilla yang mengenal nya dengan jelas bahwa dia shock mendengar berita ini dan dia tersenyum kemenangan merasa puas.
Setelah bertemu dengan Pak Wiguna di dalam ruangan nya, Shahilla meminta asisten nya untuk membagi - bagikan ole - ole yang dia bawa dan berdiam sendirian di dalam ruangan nya.
"Ya ALLAH . . . Apa kah ini mimpi . . ?. Kenapa hati aku sangat sedih dan terasa sakit mengetahui kabar ini ?. Apa karena ini tadi pagi Aina terlihat murung, Apa larena dia takut aku sakit hati kalau dia memberitahu hal ini ke aku maka nya dia berbohong ?. Aku enggak tau harus berbuat apa Ya ALLAH karena hati aku benar - benar sakit, Ya ALLAH berikan aku kekuatan untuk bisa menerima dan melewati takdir dan kenyataan ini, menerima kenyataan bahwa lelaki yang selalu aku pinta pada Mu di dalam doa ku bukan menjadi milik ku ".
Air mata Shahilla mengalir membasahi cadar nya.
.
.
2 hari sejak saat itu Shahilla menyibukan diri nya agar dia bisa menenang kan hati nya dan bisa menerima kenyataan itu, bahkan Aina pun tak bertemu dengan nya selama 2 hari karena Shahilla tidak pulang ker umah alias menginap di hotel tanpa sepengetahuan Aina, dan di kantor pun dia berusaha menghindari Aina.
Seperti nya hati nya sedikit lebih tenang dan berusaha untuk seperti biasa nya. Shahilla pun sudah pulang ke rumah, dia menyiapkan santap sahur untuk nya dan Aina.
"Kamu kemana aja La tiga hari enggak kelihatan ? ". Aina yang sudah terbangun mengagetkan Shahilla yang sedang meletakkan makanan di meja makan.
"Eh . . . Iya lagi dapat banyak tugas dari Pak Wiguna maka nya aku enggak pulang, sahur yuk . . Aku udah nyiapin untuk kita berdua ". Shahilla tersenyum dan duduk di kursi meja makan .
Mereka menyantap makan sahur mereka. Shahilla tetap fokus dengan makanan yang dia suapkan ke mulut nya.
Tapi tidak dengan Aina yang merasa tidak tenang dengan diam nya Shahilla
"Hmm . . La . . kamu marah ya sama aku soal lamaran aku dengan Restu ?". Aina membuka suara dan menghenti kan tangan Shahilla menyuap kan makanan ke mulut nya.
"Aku tau aku salah karena enggak ngasi tau kamu dari awal, soal nya aku takut kamu akan makin marah karena Restu lebih memilih aku jadi istri nya dari pada kamu, sedang kan kamu sangat menyukai Restu ".
Hati Shahilla sebenar nya mendidih mendengar nya namun dia tetap meredam nya.
"Aku rela kok ngebatalin pernihakan aku sama Restu asalkan kamu enggak marah sama aku".
Mata Shahilla terbelalak melihat aina yang memasang wajah sedih nya padahal palsu.
__ADS_1
"Kamu apa - apaan sih, aku memang marah sama kamu tapi bukan karena siapa yang akan menjadi pasangan kamu, aku marah sama kamu karena kamu enggak pernah mau jujur ke aku kalau kamu suka sama Restu dan aku juga bakal marah besar kalau kamu ngebatali pernikahan kamu. Aku sama sekali enggak marah kok sama kamu, masa sahabat aku bahagia aku marah sih, lagian aku itu cuma sekedar nge - fans aja sama Restu. Kan seru itu aku nge - fans sama calon suami kamu ha ha ha, udah kamu jangan sedih gitu donk, aku enggak marah sama kamu, aku sahabat kamu, sekarang aku bakal ngebantuin kamu ngurusi semua keperluan untuk hari pernikahan kamu sama Restu " Shahilla tersenyum dan memeluk Aina meski hati nya udah hancur banget.