Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 43


__ADS_3

Chapter 43


Aina berjalan sendirian di salah satu mall terbesar di Jakarta, ia tanpa di temani oleh Joe. Di sebab kan dua hari yang lalu Joe terpaksa harus balik ke Yogya karena urusan di kantor.


Aina tak tahu kemana arah langkah kaki nya berjalan, ia hanya mengikuti nya saja.


“Aina . . . . .”. Terdengar suara laki – laki meneriakin nama nya. Langkah kaki Aina terhenti lalu menoleh ke belakang untuk melihat pusat suara. Mata Aina terbelalak ketika dia melihat orang tersebut yang ternyata adalah Fatih. Sontak Aina berlari menjauh dari nya.


“Aina . . . Aina . . .”. Teriak nya lagi dan mengejar langkah kaki Aina yang bagai kan kilat.


Aina berlari sekuat tenaga nya, ia tidak mempedulikan orang sekitar melihat nya dengan terheran – heran. Aina melirik ke belakang apa kah Fatih masih mengikuti nya atau tidak sehingga dia tidak melihat ke depan lalu tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Ternyata yang di tabrak oleh Aina ialah Haikal yang kebetulan sedang ada event di mall tersebut.


“Mbak enggak apa – apa?”. Haikal menarik tangan Aina.


Sedang kan Aina tak melirik Haikal, mata nya hanya tertuju melihat jalanan yang dia lewati.


“Mbak?”. Ulang nya. Tiba – tiba Aina menyambar tubuh Haikal, ia memeluk Haikal dengan erat tanpa berkata sepatah kata pun dan menenggelam kan wajah nya ke dada Haikal. Sentak Haikal terkejut tiba – tiba wanita itu memeluk nya. Haikal menelan ludah nya.


“Ini perempuan ada aneh – aneh nya deh, di tanya’ in enggak jawab ehh ini malah meluk gue sembarangan. Apa jangan – jangan ini cewek modus lagi sama gue”. Batin Haikal berkata – kata, ia menaruh curiga.


Aina melirik untuk memasti kan apa kah Fatih sudah pergi atau belum, dia melihat Fatih berdiri tak jauh dari nya lalu berlari mencari diri nya. Kini Fatih sudah jauh bahkan tak terlihat lagi, Aina melepas kan pelukan nya. Sedang kan Haikal terpaku karena diri nya.


“Maafin saya ya mas”. Aina tersenyum kikuk.


“Haikal?”. Hanya sekali lihat Aina langsung mengenali nya.


Tapi tidak dengan Haikal. Alis nya mengkerut menatap wajah Aina yang tak di kenali nya.


“Aku Aina, teman kamu waktu di pesantren”. Aina mencoba mengingat kan nya.


“Oh ya ampun, Aina, Nurul Aina kan?”. Haikal mengingat nya.


Aina/ “Iya, kamu apa kabar?”.


Haikal/ “Aku baik Na, ehh kita ke sana yuk, enggak enak kalau ngobrol nya di sini”. Haikal menunjuk kan caffe yang ada di ujung koridor mall. Aina mengangguk.


Mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi pojokan agar tak banyak yang melihat mereka, mengingat Haikal adalah seorang actor.


Haikal/ “Sumpah, aku sama sekali enggak mengenali kamu Na, soal nya kamu berubah banget dari yang dulu, lagian kan selama di pesantren aku enggak pernah lihat wajah kamu, jadi aku mana kenal sama kamu tadi, untung nya kamu masih ingat sama aku, kalau enggak hmm ya sudah lah bagaikan orang asing kita nya he he he”.


Aina/ “He he he iya, untung nya aku sekali lihat kamu langsung ngenalin, ternyata kamu enggak banyak berubah ya Kal, bukti nya aku langsung kenal sama kamu”.


Haikal/ “Ha ha ha iya ya, aku sama saja kayak dulu, masih buluk juga ha ha ha”.


Aina/ “Eh . . . aku enggak ada bilang gitu ya, yang bilang kamu lho he he he”.


Haikal/ “Oh ya, sejak kapan kamu berubah seperti ini?”.


Aina/ “Hemm panjang cerita nya Kal, kalau aku cerita bisa ber – episode – episode ha ha ha”.


Haikal/ “Ha ha ha bisa saja kamu, tapi kalau enggak kayak gini, sampai kapan pun aku enggak bakal tahu wajah kamu seperti apa, sama kayak Shahilla, sampai sekarang siapa yang tahu wajah nya Shahilla kecuali orang – orang yang terpilih he he he. Eh . . . tadi kamu kenapa lari – lari’ an kayak di kejar setan gitu?”.


Aina/ “He he he iya, karena kecantikan Shahilla hanya orang – orang yang terpilih yang dapat melihat nya. Maaf ya Kal karena sembarangan meluk kamu he he he. Tadi aku enggak sengaja nyenggol istri orang, terus baju nya ketumpahan es krim yang dia makan, aku sudah minta maaf sih cuma mereka malah meres aku, mereka minta ganti rugi uang 10 juta untuk gantiin baju nya, terus aku nolak donk, enak saja gara – gara es krim harga 10 ribu aku harus ganti 10 juta. Jadi nya lah aku kabur terus di kejar – kejar sama suami nya kayak ngejar maling, untung ada kamu ha ha ha”. Ia berucap bohong.


“Waahh Ya ampun Na, itu nama nya pemerasan, lagian kamu ngapain juga lari, kan kamu bisa lapor kan mereka karena sudah memeras kamu”. Haikal percaya begitu saja.


Aina/ “Ya mau gimana lagi, aku sudah keburu takut maka nya aku ngacir, tapi sudah lah, enggak penting juga. Cuma aku terimakasi banget sama kamu karena kamu aku tertolong dan maaf karena bikin kamu shock he he he”.


Haikal/ “He he he iya, untung nya itu aku, kalau orang lain, bisa nambah masalah lagi kamu nya ha ha ha, tapi tadi aku mikir nya kamu itu orang – orang yang modus”.


Aina/ “Ha ha ha Iya, ALLAH melindungi aku Kal he he he”.


Haikal/ “Oh ya dengar – dengar kamu sudah menikah ya Na?”.


Aina/ “Alhamdulillah sudah Kal dan Alhamdulillah lagi sudah punya anggota satu”.


Haikal/ “Waaah . . . mantap donk, berarti sama dengan Shahilla donk ya?, sama – sama kalian sudah punya anggota he he he”.


Aina/ “Iya Kal. Ehh tapi kok kamu tahu?”.


Haikal/ “Tahu apa?”.


Aina/ “Tahu kalau Shahilla sudah nikah dan punya anak juga”.


Haikal/ “Ya tahu lah, secara Shahilla nikah nya sama artis papan atas, berita nya kemana – mana, masa iya aku enggak tahu he he he he”.


Aina/ “Ehh iya juga sih he he he, aku lupa”.


Haikal/ “Ha ha ha, enggak Na, aku tahu bukan karena Shahilla istri dari actor terkenal juga, tapi aku tahu nya karena Restu teman aku sesama artis he he he”.


Aina/ “Jadi kamu sekarang jadi artis?. Kalau kamu teman Restu, kenapa pas di nikahan mereka kita enggak ketemu ya?”.


Haikal/ “Iya aku sekarang jadi artis. Waktu di nikahan mereka aku enggak bisa datang karena aku dapat endorse’ an ke Korea, tapi pas acara anak mereka aku datang kok dan di situ juga pertama kali nya aku ketemu lagi dengan Shahilla”.


Aina/ “Hem gitu, pantesan saja kita enggak ketemu, kalau aku malah sebalik nya, aku enggak datang di acara anak mereka he he he”.


Haikal/ “Ha ha ha cocok lah kalau gitu. Kegiatan kamu apa sekarang?”.


Aina/ “Aku sekarang jadi kepala editor di majalah x cabang Yogya, tapi ini aku lagi balik di tugas kan sementara di Jakarta”.


Haikal/ “Wah keren lah itu, kepala editor di majalah nomor satu se- Indonesia, aku saja belum pernah masuk di artikel majalah itu”.


Aina/ “Ha ha ha, berarti kamu artis kurang terkenal, bukti nya aku baru tahu kalau kamu jadi artis wk wkw kw wk”. Ledek nya.


Haikal/ “Ledek saja terus sampai kamu puas ha ha ha”.


Aina/ “Ha ha ha bercanda, nanti aku rekomendasi kan deh buat artikel tentang kamu di majalah x. Sejak tugas di Yogya kemarin, aku kurang tahu soal siapa saja yang jadi narasumber nya, karena soal itu cuma pihak pusat saja yang lebih berperan penting. Kalau dulu mah semua artis aku tahu he he he. Tapi tenang, ini kan aku sudah balik lagi ke Jakarta walau pun masih sementara, jadi sebelum aku mutasi lagi aku ngerekom kamu deh untuk jadi narasumber kami”.


Haikal/ “Ha ha ha, enggak usah repot – repot Na, tapi kalau bisa secepat nya ya ha ha ha”.


Aina/ “Ha ha ha . . . siaaaaaap. Oh ya sudah berapa binik kamu?”.


“Aiiiiih maaaaak, dia malah nanyak sudah berapa binik aku. Seorang saja aku belum punya hu hu hu”. Haikal meringis.


Aina/ “Ha ha ha, sorry sorry, nama nya juga enggak tahu”.


Haikal/ “Huffft. Oh ya aku mau nanya sama kamu, waktu aku nanya ke Shahilla soal surat yang sering aku letak di atas meja kalian dulu, nah terus kenapa Shahilla mikir nya itu surat untuk kamu ya Na?”.


Aina mendadak terdiam.


“Mmmm . . . sebenar nya aku enggak bilang ke Shahilla kalau surat itu dari kamu untuk dia. Aku malah diam saja ketika Shahilla mikir nya itu surat untuk aku, maaf ya Kal”.


“Pantesan saja surat – surat aku enggak pernah ada balasan”. Haikal sedikit kesal.


Aina/ “Sorry ya Kal, tapi Shahilla baca juga kok surat – surat itu”.


Haikal/ “Huffft, sama saja, kalau pun Shahilla juga membaca nya tapi kan dia enggak merasa kan nya jadi sama saja dengan bohong Na”.


Aina/ “Maaf”.


Haikal/ “Ya sudah lah, lagian semua kesalah fahaman sudah menemukan kebenaran nya, dan akhir nya Shahilla juga tahu soal perasaan aku, yaaa walau pun sudah terlambat”.


Aina/ “Maksud kamu?, kamu masih punya perasaan sama Shahilla?”.


Haikal mengangguk pelan.


“Sampai sekarang?”. Aina sulit mempercayai nya.


Haikal/ “Iya Na, aku masih memiliki perasaan itu, tak berkurang sedikit pun malah semakin hari semakin bertambah. Waktu aku tahu Shahilla akan menikah bersama Restu, jujur aku ngerasa sakit dan patah hati, aku mau menghindar karena aku enggak sanggup melihat mereka bersanding, tapi itu enggak mungkin secara aku teman baik nya Restu, mau enggak mau aku harus hadir. Sampai akhir nya keadaan berpihak sama aku, di hari itu juga sebuah produk parfume bermerk menawar kan aku endorse dan photo shoot nya harus ke Korea, tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran mereka, jadi aku punya alasan untuk tidak melihat mereka di hari yang berbahagia mereka. Kayak anak ABG aku nya pakai galau – galau’ an he he he”.


“Ya ampun, aku pikir perasaan kamu hanya perasaan cinta – cinta monyet yang bakal sirna dengan seiring nya waktu, enggak tahu nya hmmm”. Aina merasa salut pada perasaan Haikal.


Haikal/ “He he iya, aku pun juga berpikir seperti itu. Tapi ya sudah lah, sekarang Shahilla sudah menemu kan kebahagiaan nya bersama Restu. Aku enggak boleh menentang itu, yang harus aku lakukan sekarang aku harus belajar dan berusaha untuk menghilang kan perasaan ini”.


Aina/ “Hemm . . . kamu yang sabar ya. Aku yakin kamu bisa melupa kan perasaan kamu ke Shahilla, dan mengganti kan nya dengan wanita yang terbaik untuk kamu”.


Haikal/ “Aamiin, terimakasih ya Na. aku enggak nyangka kamu emang benar – benar berubah Na”.

__ADS_1


“Haaah, itu lagi yang di bahas, iya aku benar –benar berubah, malah nanti aku bakal berubah jadi power rangers, puas kamu”. Cibir nya.


Haikal/ “Ha ha ha, keren keren keren, nanti kamu bisa membela kebenaran dan keadilan, apa lagi kamu ntar bisa membasmi para monster – monster jahat ha ha ha”.


“Iya kamu monster nya”. Aina menatap Haikal dengan sinis.


“Wk wk wkw kwkkk, Oh ya aku balik duluan ya, soal nya bentar lagi aku ada jadwal mau nge – vlog, bil nya biar aku saja yang bayar”. Haikal melihat jam tangan nya.


Aina/ “Oh jadi kamu nge – vlog juga?”.


Haikal/ “Iya donk, kan lumayan duit nya hi hi hi”.


Aina/ “Hmm duit saja yang di pikirin, jodoh kamu tuh yang harus nya di pikirin ha ha ha”.


“Kalau itu mah gampang, kalau duit sudah gendut tuh jodoh bakal datang sendiri, bahkan jodoh jadi – jadian pun datang juga ha ha ha”. Haikal menjentik kan jari nya.


Aina/ “Ha ha ha, bisa saja kamu, ya sudah kamu pergi sanah”. Aina mendorong tubuh Haikal dengan pelan.


Haikal/ “Aih mak, di usir aku bah”.


Aina/ “Ha ha ha, kok jadi keluar batak mu?”.


Haikal/ “Ha ha ha iya, sudah rindu sekali aku sama Medan. Kapan – kapan kalau ke Medan kita barengan ya”.


Aina/ “In Sya ALLAH”.


“Ya sudah, aku jalan duluan ya, bye . . . .”. Haikal melambai kan tangan nya dan berlalu meninggal kan Aina sendirian di dalam caffe.


Aina kembali berjalan menyusuri Mall dan secepat nya berjalan menuju mobil nya yang terparkir ketika dia melihat ternyata Fatih masih berada di mall dan masih kekeh mencari nya.


.


.


Flash back . . .


“Na kira – kira kalau aku ngirim surat untuk Shahilla gimana Na?”. Haikal meminta pandapat Aina yang duduk di samping nya, dimana mereka berada di tempat persembunyian mereka di saat mereka ingin saling curhat.


“Mana aku tahu, terserah kamu mau ngirim surat untuk dia atau langsung kamu bilang ke dia”. Aina memutar bola mata nya.


Haikal/ “Ya enggak mungkin lah Na aku bilang langsung, bisa – bisa nanti Shahilla kenak hukum sama Mu’alim, kalau aku di hukum sih sudah biasa”.


Aina/ “Ya sudah terserah kamu. Aku mau balik, soal nya sejam lagi ada pemeriksaan”.


Haikal/ “Hmmm”.


Aina meninggal kan Haikal yang masih dilema.


.


.


Shahilla, Aina dan Ayu masuk ke dalam kelas mereka sebelum santri lain nya masuk. Ayu melihat secarik surat berada di atas meja Shahilla dan Aina.


“Ada surat”. Ayu mengambil nya.


“Hmmm wangi sekali surat nya, wangi permen karet, kira – kira surat ini dari siapa ya?, soal nya enggak ada pengirim nya”. . Sesegara mungkin ia membuka amplop surat itu. Lalu membaca nya.


“H. ?, siapa tuh H ?”. Ayu menaikan alis nya.


Ayu/ “Ehh . . . Tapi tunggu dulu, surat ini untuk siapa?”. Ayu melirik Shahilla dan Aina.


Shahilla/ “Mana kami tahu ini surat untuk siapa, emang di surat nya enggak ada nama yang di tuju?”.


“Enggak ada, kayak nya ini orang main tebak – tebak kan deh”. Ayu membolak – balikan surat tesebut karena mencari petunjuk.


Shahilla/ “Tapi kita enggak boleh bawa perasaan dulu, bisa jadi surat ini bukan untuk salah satu dari kita, atau bisa jadi surat ini jebakan untuk kita, kita harus hati – hati, jangan sampai orang lain tahu selain kita bertiga, kita tunggu saja lagi, kalau kira – kira pengirim ini ngeletak lagi surat lain nya di tempat yang sama berarti surat ini untuk salah satu dari kita”.


Ayu/ “Ehh kayak nya aku enggak ikutan deh, kan surat nya ada di meja kalian berdua”.


“Coba lihat surat nya”. Aina mengambil surat tersebut dan memperhatikan tulisan nya.


Shahilla/ “Kamu kenal sama tulisan nya Na?”.


“Bentar”. Aina mengambil buku nya dari dalam tas, dan membuka pada halaman buku yang sudah penuh dengan coretan tangan yang tulisan nya sama dengan surat tersebut.


“Benar, ternyata jadi si bocah tengik itu ngirim surat untuk Shahilla”. Batin nya.


Shahilla dan Ayu pun ikut meneliti kedua tulisan itu.


“Sama . . .”. Seru mereka secara serentak.


Shahilla/ “Ini tulisan siapa Na?”. Shahilla menunjuk kan tulisan yang ada di buku Aina,


“Tulisan nya Haikal waktu itu dia pernah minjam buku ini ke aku”. ia memutar bola mata nya.


Ayu/ “Jangan – jangan surat ini dari Haikal untuk kamu Na”. tebak nya.


“Apa?, enggak mungkin lah”. Aina terkejut mereka menebak diri nya lah pemilik surat itu. Padahal dia tahu jelas bahwa surat itu untuk Shahilla.


Shahilla/ “Ehh bisa jadi Na, aku baru ingat waktu kejadian dia ngerjain aku kan abis itu dia ngedatangi kamu Na dan di hari itu juga dia datang minta maaf sama aku rerus di hari itu juga hari terakhir kali nya dia di hukum di pesantren ini. Jadi kemungkinan dia berubah karena kamu Na”.


Ayu/ “Iya iya aku juga baru nalar, berarti selama ini dia ngedekati kamu karena dia suka sama kamu. Waaah so sweet banget sih kalian, bikin aku iri saja”.


Aina/ “Iih apa’ an sih kalian, enggak usah suka nya ngambil kesimpulan kayak gitu”.


Ayu/ “Kita kan menyimpul kan seperti itu berdasar kan fakta lho Na. Oh ya gimana kalau kamu balas saja surat nya, kan dari situ kita tahu gimana kelanjutan nya lebih jelas lagi, dan ngebuktiin juga kalau kesimpulan kami berdua itu benar”.


Shahilla/ “Ide bagus juga itu, sekalian kita kasi tahu ke dia bahwa cinta – cintaan sebelum waktu nya itu haram hukum nya”.


Ayu/ “Betul itu”.


“Enggak mau, enak saja kalian, kalau kalian mau, kalian saja yang balas surat itu, kalau aku mah ogah”. Aina meremuk kan surat itu lalu melempar nya ke dalam tong sampah alias membuang nya.


Aina keluar dari kelas meninggal kan Shahilla dan Ayu.


Rasa nya Aina ingin sekali bilang kalau surat itu sebenar nya untuk Shahilla, namun niat nya itu dia kubur dalam – dalam mengingat kebencian nya terhadap Shahilla dan di tambah lagi kekesalan nya terhadap Haikal karena setiap kali bertemu, Haikal hanya mencerita kan tentang Shahilla sehingga Aina merasa jenuh dan marah.


Karena rasa iri dan dengki Aina berakibat kesalah fahaman yang berlangsung hingga belasan tahun.


.


.


“Deeeek . . . tolong ambil kan handuk mas yang baru donk, soal nya handuk yang ini basah”. Restu berteriak dari dalam kamar mandi.


“Iya mas bentar”. Shahilla bergegas mengambil handuk nya di dalam lemari dan memberi kan nya pada Restu.


“Nah Mas handuk nya”. Shahilla mengetuk pintu kamar mandi, Restu pun membuka kan sedikit pintu itu. Tangan Restu meraba menggapai handuk yang ada di tangan Shahilla sehingga tangan baju Shahilla jadi basah.


Shahilla/ “Maaaas, tangan baju adek jadi basah kan”.


“He he he maaf sayang”. Restu menongol kan kepala nya dan meraih handuk itu, lalu menutup kembali pintu nya.


“Huuu, dasar. Oh ya mas, hari ini mas shooting nya sampai jam berapa?”. Tanya nya sembari merapi kan pakaian Restu yang tergeletak di atas tempat tidur.


“Hari ini mas enggak jadi shooting soal nya ada scenario yang harus di perbaiki, jadi hari ini mas free”. Restu memeluk tubuh Shahilla dari belakang.


“Ihh mas ntar melorot lho handuk nya”. Shahilla mencoba melepas kan tangan Restu dari pinggang nya.


“Biarin, kalau melorot kan yang lihat cuma kamu he he he”. Bisik nya.


“Iiiih genit kamu mas”. Shahilla mencubit pipi Restu.


“He he he biarin”.


Shahilla/ “Oh ya mas, mumpung karena mas hari ini jadwal nya kosong, gimana kalau kita jalan – jalan?”.

__ADS_1


“Jiiaaah, malas aah, rencana nya mas mau manja – manja’ an sama kamu di rumah”. Restu menarik hidung Shahilla.


“Huh . . . ck, adek bosan lah mas”. Wajah Shahilla cemberut.


Restu/ “Jadi adek bosan manja – manja’ an sama mas?”.


Shahilla berhasil melepas kan pelukan Restu dan menghadap ke wajah Restu.


“Bukan bosan itu mas, kalau itu mah adek enggak pernah bosan. Maksud adek itu adek bosan di rumah terus, paling kalau keluar ke rumah sakit, supermarket atau ke lokasi shooting nya ma situ pun bisa di hitung. Adek tuh mau nya kita quality time bertiga di luar, tanpa di ganggu sama siapa pun”.


Restu/ “Kan di rumah enggak ada yang ganggu he he he”.


“Iih mas mah, itu mah beda”. Shahilla memukul dada Restu.


Restu/ “Ha ha ha, iya iya, tapi kita mau kemana?, lagian mau kemana pun kita pergi sudah pasti ada saja yang akan mengganggu kita”.


“Hmm iya siiih, hu hu hu . . . . nasib nya punya lakik artis, mau apa – apa enggak bisa huaaaaa”. Shahilla merengek.


Restu tertawa geli melihat Shahilla.


“Ha ha ha, kamu yang sabar ya sayang, sudah kamu dan Zahira bersiap gih, biar kita cepat let’s go nya”.


Shahilla/ “Beneran mas?”.


Restu mengusap pipi Shahilla. “Iya sayang”.


“Yeaaay asyik, I love you sayang”. Shahilla mengecup pipi Restu dan segera bersiap, tak lupa juga dia menyiap kan persiapan Zahira dan Restu.


Setelah satu jam lebih Shahilla mempersiap kan apa yang harus di siap kan, akhir nya mereka berangkat.


“Bissmillahhirrohmanirrohiim, mari kita let’s go Abi”.


Restu tersenyum melihat kedua nya begitu ceria. Ia menghidup kan mesin mobil nya lalu melaju dengan kecepatan yang santai.


Shahilla begitu menikmati jalanan ibu kota yang begitu gersang, belum lagi dengan kemacetan nya.


“Kita mau kemana mas?”. Shahilla melirik Restu.


“Tapi kata nya jalan – jalan, masa pakai di tanya lagi he he he”. Restu nyengir seperti kuda.


Shahilla/ “Iiissh, iya adek tahu kita mau jalan – jalan, tapi kan ada tujuan nya sih mas”.


Restu/ “Sudah, kalian tenang saja di tempat nya, nanti kan juga tahu tujuan nya kemana he he he”.


“Abi nya Zahira sok – sok’ an mau ngasi kejutan buat kita nak”. Shahilla membisik kan pada telinga Zahira, mencibir Restu. Sedang kan Restu tertawa kecil melirik mereka.


.


Sesampai nya di tempat tujuan, Restu berjalan menggandeng Shahilla menyusuri tempat yang enggak pernah Shahilla ketahui. Shahilla melirik ke sekitar tempat, dimana tempat itu begitu sunyi bagai tak berpenghuni, yang ada hanya pekerja – pekerja yang memakai seragam, seperti nya pegawai di tempat itu. Mata Shahilla tidak hanya melirik para pegawai nya saja, dia melirik tempat tersebut begitu indah, mereka di penuhi dengan berbagai macam bunga di sepanjang jalan, Shahilla juga melihat dari kejauhan terlihat danau buatan yang menyejuk kan mata di tambah lagi banyak nya burung bangau di sekitar danau itu.


“Ini tempat apa Mas?,resort ya mas?”. Shahilla bertanya karena penasaran dengan tempat tersebut.


Restu/ “Yup . . . kamu benar sekali”.


“Hmm tapi kok sepi banget ya Mas?, apa karena bukan hari libur ya maka nya sepi?”. Ia masih melihat – lihat sekitar, di ujung jalan dia melihat satu area, dimana area tersebut khusus mini zoo.


Restu/ “Hmm mungkin, tapi bisa jadi karena kita mau datang maka nya resort nya di kosong kan he he he”.


Shahilla memukul pelan lengan Restu/ “Ahh . . . macem betul saja, mana mungkin karena kita mau ke sini mereka rela mengosong kan tempat ini. Kecuali kalau mas bela – bela’ in booking seluruh resort ini baru mereka rela mengosong kan nya, tapi kayak nya enggak mungkin, itu nama nya mubajir, buang – buang duit untuk hal yang enggak penting. Iya kan mas?”.


Restu/ “Iya sayang, lagian rugi lah rang kita cuma seharian saja di sini, ngapain mesti di booking semua, he he he”.


“Selamat siang Pak Restu, maaf saya mengganggu, saya cuma ingin memberi kan ini pada bapak”. Tiba – tiba seorang pegawai resort yang seperti nya seorang manager nya, ia menghampiri mereka dan menyodor kan satu map file untuk Restu.


Restu mengambil map file tersebut, lalu membaca nya. Sedang kan Shahilla hanya melihat mereka dengan seksama.


“Ya sudah nanti saya serah kan ke bapak, saya masih mau membaca nya lebih jelas lagi”.


“Baik pak. Oh ya, apa ada yang bapak butuh kan lagi?”.


Restu/ “Oh tidak usah, saya cuma minta ruang privasi saja agar tidak ada yang mengganggu kami, jika ada pengunjung lain yang datang tolong bapak atur agar mereka tidak masuk ke ruang privasi kami”.


“Baik pak, kalau begitu saya permisi pak”. Sang manager pun pergi meninggal kan mereka.


Shahilla melirik Restu dengan kecurigaan nya. Restu pun merasa heran dengan pandangan mata Shahilla yang tak biasa nya.


“Kamu kenapa lihatin mas kayak gitu?”.


“Nak kayak nya ada yang di sembunyi kan oleh Abi mu”. Shahilla memandang sinis pada Restu dan sekilas melirik Zahira yang sudah terbangun.


Restu mengulum senyum nya, akhir nya dia ngerti apa maksud dari Shahilla.


“Yuuk . . . kita masuk dulu ke kamar kita, mari kita lihat, ayuk ayuk”. Bukan nya menjawab, Restu malah menggandeng Shahilla menuju ke salah satu kamr di resort tersebut.


“Tuh kan nak, Abi mu sekarang sudah pintar main rahasia – rahasia’ an”. Shahilla menyindir nya, sedang kan Restu tak gentar pada sindiran Shahilla, dia tetap menggandeng Shahilla.


Restu membuka kan pintu kamar yang tertulis di pintu nya Presidential Suite.


“Silah kan masuk para bidadari – bidadari ku tercinta”. Restu mempersilah kan Shahilla dan Zahira untuk masuk.


Meski kesal, Shahilla tetap menuruti nya, Shahilla pun masuk ke dalam kamar. Kekesalan Shahilla lenyap seketika, mata nya berbinar – binar karena takjub melihat yang ada di dalam kamar tersebut.


Yang pertama kali mata Shahilla lihat yaitu sebuah dinding yang tertulis.


#Barrakallah Fii Umrik Ya Humairah


Shahilla tak mampu membendung air mata nya, mereka menetes membasahi niqob nya sehingga dia harus melepas kan niqob nya. Shahilla melihat seluruh ruangan sudah terisi dengan hiasan – hiasan balon dan bunga mawar merah.


“Barrakallah Fii Umrik ya sayang”. Restu memeluk serta menciumi Shahilla. Air mata Shahilla tak mampu untuk berhenti mengalir.


“Mas ingat?, Adek sendiri saja enggak ingat sama ulang tahun adek, mas. Terimakasih ya mas”. Shahilla menyeka air mata nya.


“Iya ingat donk, walau pun dalam agama islam kita tidak meraya kan hari ulang tahun kita, tapi mas harus ingat. Mas mau berterimakasih sama Mama, karena telah melahirkan kamu di dunia ini untuk menjadi teman hidup mas dan menjadi Ummi untuk Zahira he he he”. Restu mengelus pipi Shahilla sembari menghapus sisa air mata nya.


“Dasar sok romantis”.


Restu/ “Tapi suka kan?. He he he”.


“Banget he he he”.


Restu/ “Sebenar nya mas sengaja ngosongi jadwal mas untuk hari ini, sudah jauh – jauh hari mas ngerencanain ini untuk kamu”.


“Berarti mas bohong donk sama adek, bilang nya jadwal nya lagi kosong”.


“Sedikit, maaf ya he he he”. Restu menarik hidung Shahilla.


“Iiiish . . .”. Shahilla jadi gemes dan mencubit perut Restu.


“Aduh sakit sayang. Oh ya, satu lagi”. Restu menyodor kan map file yang barusan.


“Ini kan map file yang di kasi bapak tadi, kenapa di kasi ke adek?. Jangan bilang ini tagihan untuk semua ini terus mas nyuruh adek yang bayar”. Shahilla ngedumel sembari membuka map file itu.


“Ha ha ha ha, kok tahu?, tapi paten juga adek bisa kepikiran kayak gitu”. Restu geleng – geleng kepala melihat Shahilla.


Shahilla membaca isi file tersebut dengan teliti. Wajah Shahilla sentak berubah, ia kembali melihat Restu dengan sinis dan menutup map itu. Shahilla meletak kan Zahira di atas tempat tidur lalu ia mendekati Restu seperti ingin menerkam nya saja. Restu mulai takut, ia perlahan berjalan mundur.


“Tuh kan, benar duga’ an adek”. Shahilla memukul badan Restu berkali - kali memakai map file yang dia pegang.


“Iya ampun – ampun dek, maaf, mas minta maaf”. Restu berusaha menepis pukulan Shahilla dengan tangan nya. Pada akhir nya Restu berhasil menarik tubuh Shahilla, dengan cekatan ia mencekram tubuh Shahilla hingga tak berkutik.


“Mas jahat, kenapa baru sekarang ngasi tahu nya kalau resort ini punya mas?”. Shahilla memukul dada Restu.


Restu/ “Iya, maaf sayang, mas kan mau buat sureprise untuk kamu dan Zahira he he he”.


Shahilla malah menangis/ “Zahira kan masih kecil, dia masih belum ngerti, jadi di sini adek sendiri yang terkejut”.


“He he he, iya iya maaf sayang, sudah jangan nangis donk, enggak malu apa di lihatin Zahira, masa Ummi nya Zahira cengeng”. Restu menyeka air mata Shahilla.

__ADS_1


Shahilla/ “Abis nya mas sih buat adek jadi kayak gini”.


“Iya iya mas yang salah. Sudah jangan nangis lagi donk, jelek tauk he he he”. Restu semakin mempererat pelukan nya dan sesekali mencium ubun – ubun Shahilla.


__ADS_2