
Chapter 38
"Aina . . . ?". Restu menegur Aina, ketika dia melihat Aina berjalan ingin masuk ke dalam cafe di tempat yang sama di waktu pertama kali Restu melihat nya bersama laki - laki lain.
Aina menoleh terkejut dan tersenyum getir.
"Eh . . . Hai . . . Restu . . . Apa kabar kamu?".
Restu/ "Alhamdulillah sehat. Kamu juga apa kabar nya?, ke sini kenapa enggak ngabari Shahilla?".
Aina/ "Alhamdulillah aku juga sehat kok . . . Aku ke sini karena urusan kerja Tu he he he. Oh ya . . . Shahilla apa kabar nya?, kapan dia lahiran?".
Restu/ "Alhamdulillah dia sehat, In Sya ALLAH dalam waktu dekat ini Shahilla lahiran. Doa 'in ya Na he he he".
Aina/ "Iya . . . Aku pasti doa 'in kok, semoga di mudah kan proses kelahiran nya, Aamiin".
Restu/ "Aamiin, makasi banyak ya Na. Kamu ke sini sendirian?, suami kamu sama Reynan anak kamu kemana?, mereka enggak ikut?".
Aina/ "Mmm . . . Enggak . . . Mereka enggak bisa ikut ke sini, karena suami aku lagi sibuk sama kerjaan nya, kalau Reynan aku titip sebentar sama bunda".
Restu/ "Ouh gitu . . .".
"Restu . . . .". Seseorang dari lokasi shooting meneriakin Restu.
Restu pun menoleh dan memberi kan kode pada orang tersebut.
Restu/ "Na . . . Aku luan ya".
Aina/ "Iya . . . Titip salam untuk Shahilla ya . . .".
Restu/ "Iya In Sya ALLAH, aku sampai kan, kamu main – main lah ke rumah jumpain Shahilla, dia sudah kangen banget sama kamu".
Aina/ “In Sya ALLAH, kalau kerjaan aku sudah kelar aku akan berkunjung ke tempat kalian”.
“Oke kami tunggu kedatangan kamu. Ya sudah, aku tinggal ya, Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Restu pergi meninggal kan Aina di depan cafe. Aina pun secepat kilat masuk ke dalam cafe. Ia menemui seorang lelaki di dalam cafe tersebut.
"Hai . . .". Sapa nya kepada lelaki tampan tersebut.
"Itu tadi Restu kan si aktor yang lagi terkenal itu, yang nyaris nikah sama kamu". Laki - laki itu ternyata sudah memperhatikan mereka dari dalam cafe.
"Iya . . . Bisa enggak sih enggak usah sebut - sebut yang itu". Aina bersikap ketus pada lelaki itu dan duduk di kursi berhadapan dengan nya.
"Ha ha ha . . . Sorry lah sayang". Ia mengusap manja kepala Aina.
"Enggak usah sentuh - sentuh aku". Aina menepis pelan tangan lelaki tersebut.
"Jangan ngambek donk sayang, aku kan cuma bercanda. Masa gitu aja kamu ngambek sih". Bujuk nya sembari menarik hidung Aina. Lelaki yang di panggil Joe itu ternyata pacar nya Aina alias selingkuhan nya.
"Joe . . . Please, Don't touch me. Kita berada di muka umum. Enggak enak di lihatin banyak orang". Aina menepis tangan Joe.
"Beib . . . Come on . . . Di sini enggak ada yang mengenali kita, lagian mereka enggak bakal peduli siapa kita dan apa status hubungan kita, jadi enggak masalah donk". Joe melirik ke sekitar cafe.
Aina/ "Enggak bisa gitu juga Joe. Aku merasa enggak nyaman. Apa lagi tadi kamu sudah lihat kalau Restu tahu aku ada di sini, aku takut kalau Restu sampai melihat kita berdua di sini, kamu kan tahu gimana resiko nya".
Joe/ "Hemm . . . Oke oke . . . Iya. Jadi gimana proses perceraian kamu sama suami kamu?".
Aina/ "Fuhht . . . Masih jalan di tempat. Fatih enggak terima soal perceraian ini. Dia enggak mau kami bercerai".
Joe/ "Lho enggak bisa gitu donk dia. Egois banget dia, lagian mau gimana pun tetap saja dia yang memulai semua ini, masa dia yang enggak mau cerai".
Aina/ "Hemm . . . Iya, dia minta di kasih kesempatan untuk memperbaiki semua nya".
__ADS_1
Joe/ "Huh . . . Kesempatan?, sudah berapa kali kamu ngasi kesempatan ke dia?, tapi apa . . . Dia masih mengulangi perbuatan nya itu. Tapi . . . Ya sudah lah itu semua terserah sama kamu, karena keputusan ada di tangan kamu, aku yakin kamu tahu mana yang terbaik untuk kamu. Aku cuma bisa menerima dengan lapang dada apa keputusan kamu".
Aina menggenggam tangan Joe dengan erat, ia memandangi wajah Joe yang mata nya sedikit berkaca - kaca.
"Aku janji . . . Aku bakal ngambil keputusan yang tepat untuk kita semua".
.
.
"Tadi Mas ketemu Aina lagi di cafe yang kemarin lho sayang". Restu muncul dari kamar mandi dengan memakai baju kaos putih dan celana pendek di bawah lutut sembari mengeringkan rambut nya yang basah sehabis mandi. Ia duduk di samping Shahilla yang tengah duduk di sofa di kamar nya.
Shahilla/ "Oh ya . . .?, Mas samperin dia enggak?". Tanya nya sembari mengelus perut nya.
Restu/ "Iya, kali ini Mas sempat nyamperin Aina dan sedikit mengobrol dengan nya. Dia titip salam buat kamu dan nge doa' in semoga di lancar kan proses kelahiran kamu".
Shahilla/ "Aamiin, dia ke sini sama siapa Mas?, Reynan ikut?".
Restu/ "Enggak, dia ke sini sendirian kata nya karena urusan kerjaan, suami nya ada kerjaan nya di Yogya, sedang kan Reynan di titip kan sama bunda nya di Medan. Mas juga sempat melihat ke dalam cafe ada lelaki yang Aina temui kemarin sedang memperhatikan kami sewaktu mengobrol".
Shahilla/ "Mmm . . . Mungkin laki - laki itu rekan kerja nya kali Mas".
"Heemm mungkin. Oh ya . . . Mas perhatiin kamu dari tadi kayak merintih kesakitan gitu". Restu memperhatikan wajah Shahilla yang tak sehat dan nafas nya pun sudah ngos - ngosan.
"Iya Mas, satu harian ini perut Adek ngerasa kram semacam kontraksi gitu". Ujar nya sembari mengelus - ngelus perut nya.
"Apa sudah waktu nya Dek . . . ?". Restu pun ikut mengelus perut Shahilla.
Shahilla menggeleng kan kepala nya pelan.
"Belum Mas, kan prediksi dokter seminggu lagi. Mungkin ini semacam kontraksi palsu gitu Mas, kayak yang pernah di cerita' in sama Ummi".
"Tapi ini enggak apa - apa kan Dek?, atau kita langsung ke rumah sakit saja sekarang?, Mas takut ada kenapa - kenapa sama kalian". Restu mulai khawatir dan panik sembari mengusap - ngusap pipi Shahilla yang berkeringat dingin.
"Enggak usah Mas, enggak apa - apa kok. Paling istirahat saja, besok In Sya ALLAH rasa sakit nya hilang". Shahilla mencoba menenangkan Restu meski dia merasa sakit sekali pada perut nya.
"Mas ke dapur bentar ya, mau ngambil air hangat untuk kamu". Restu mengusap lembut kening Shahilla. Shahilla mengangguk pelan. Restu pun beranjak meninggal kan Shahilla.
Perut Shahilla semakin terasa sakit, sakit yang tak tertahan kan lagi oleh nya. Wajah yang sudah pucat pasih serta keringat berkucuran membasahi seluruh tubuh nya.
Shahilla merintih sembari mengelus - ngelus perut nya.
"Shh . . . Shhh . . . Maaaaaaaaaaas". Teriak nya sembari turun dari tempat tidur nya.
"Maaaaaas . . . . ALLAHHU AKBAR. . . Maaaaaaaaaas . . . .". Teriakan nya semakin kencang memanggil Restu yang tak kunjung muncul.
Restu yang baru muncul secepat kilat dia mendekati Shahilla yang sudah selonjoran lemas di lantai dan di banjirin dengan air ketuban nya yang sudah pecah.
"Astaghfirullah Sayang . . . Ayok kita ke rumah sakit". Restu mulai panik dan menggendong tubuh Shahilla.
Rasa panik yang luar biasa, Restu membawa Shahilla yang tak berdaya ke salah satu rumah sakit ibu dan anak terbesar di Jakarta. Shahilla langsung di tangani oleh Dokter persalinan di rumah sakit tersebut dan langsung di bawa ke ruangan. Dokter Linda memeriksa kondisi Shahilla dan kandungan nya.
"ALLAH . . . ALLAH . . . . Sshh haah ssshh haah". Rintih nya sembari meronta kesakitan, dia mencengkram tangan Restu dengan sekuat tenaga nya.
Restu mengusap kepala Shahilla mencoba menenangkan sang istri.
"Kamu yang sabar ya Sayang . . . Mas ada di sini, kamu pasti kuat".
Dokter Linda/ "Pak bisa ikut saya sebentar?".
"Iya Dok . . ., Mas tinggal bentar ya". Restu mengikuti Dokter Linda dari belakang untuk keluar dari kamar. Restu merasa khawatir.
Dokter Linda/ "Gini Pak . . . Bu Shahilla harus segera di operasi, karena ada sedikit gumpalan darah di sekitar janin, kalau tidak di tindak lanjutkan dengan segera maka gumpalan darah tersebut akan membesar dan mengakibat kan kematian pada calon bayi bahkan sang ibu, kita harus segera melahir kan sang bayi dan mengeluar kan gumpalan tersebut".
Kaki Restu terasa lemas bagai tak berpijak. Dia benar - benar shock mendengar kabar buruk dari sang dokter usai dia memeriksa Shahilla dan kandungan nya. Dada nya terasa sesak sehingga air mata nya menetes ke pipi.
__ADS_1
"Dok . . . Lakukan saja yang terbaik untuk istri saya, tolong Dok". Pinta nya.
Dokter Linda/ "Baik Pak . . . Kami akan segera menindak lanjutkan penanganan Bu Shahilla".
.
.
Dokter Linda dan para dokter bedah lain nya sesigap mungkin mempersiap kan untuk operasi besar Shahilla, tak ketinggalan para suster yang juga sigap mendampingi.
Restu kembali masuk ke dalam kamar, dia menghampiri Shahilla yang masih meronta kesakitan. Restu menggenggam tangan Shahilla dengan erat dan memberikan semangat pada nya sembari menyeka keringat yang bercucuran di wajah Shahilla.
“Kamu yang kuat ya sayang, kamu harus selalu ingat dan sebut nama ALLAH”. Restu membisik kan di telinga Shahilla. Mata Restu terlihat jelas berkaca – kaca menatap sang istri berjuang menahan rasa sakit nya.
“Ya ALLAH . . . Kuat kan lah istri ku melewati ujian ini, beri lah istri ku kemudahan dalam proses melahirkan titipan dari Mu Ya ALLAH, tolong selamat kan kedua nya”. Restu berdoa dalam hati nya dan tanpa sadar air mata nya menetes ke pipi nya. Dia mengusap wajah Shahilla yang pucat pasih bagai kehilangan darah yang begitu banyak.
“Pak, kami akan membawa Bu Shahilla ke ruang operasi”. Dokter Linda mengagetkan Restu.
“Iya Dok”. Restu mengangguk pelan. “Oh ya Dok, saya boleh berada di samping istri saya?”.
Dokter Linda terdiam sejenak. “Iya Pak, boleh, tapi bapak harus steril terlebih dahulu, nanti suster akan memberikan persiapan untuk bapak”.
“Terimakasih Dok”.
Shahilla di bawa ke ruang operasi dan Restu mendampingi nya. Tangan Restu tak lepas menggenggam tangan Shahilla yang sudah membeku. Harap – harap cemas, para dokter dengan lihai menangani operasi tersebut. Restu yang menyaksikan nya secara langsung berusaha untuk tegar, meski rasa nya dia tak sanggup. Restu memandangi wajah Shahilla yang sudah setengah sadar karena obat bius yang di suntikkan sang dokter sebelum operasi berjalan.
“Tekanan darah nya menurun Dok, detak jantung nya juga melemah”. Ujar dokter pendamping.
Dokter Linda dengan sigap melakukan yang terbaik untuk Shahilla. Restu semakin lemas, air mata nya pun menetes menyaksikan layar detak jantung.
“Ya ALLAH . . . tolong lindungi istri dan calon bayi ku, selamat kan kedua nya Ya ALLAH, aku mohon pada mu”. Kali ini tumpuan kaki Restu sedikit roboh sehingga tubuh nya tak seimbang dan dia hampir jatuh.
Salah satu suster di dalam ruangan tersebut memperhatikan Restu.
“Pak . . . Sebaik nya bapak duduk saja di situ”. Suster itu menunjuk kan kursi yang berada di pojok ruangan. “Karena saya lihat bapak sudah lemas dan kekurangan cauran, lebih baik bapak duduk saja”.
“Tidak usah Sus, saya tidak apa - apa, saya di sini saja mendampingi istri saya”. Tolak nya sembari menggeleng pelan berusaha untuk kuat.
Seiisi ruangan tersentuh dengan kesetiaan Restu pada Shahilla. Suster itu meletak kan kursi di samping Shahilla untuk Restu. “Silahkan pak, karena sudah hampir dua jam bapak berdiri, nanti bapak kelelahan”.
“Terimakasih Sust”.
Setelah dua jam berlalu . . .
“Oweeeek … oweeeek …. Owek ….”. Suara tangisan bayi pecah di ruangan operasi. Seorang bayi perempuan yang cantik lahir ke dunia. Air mata Restu tak terbendung lagi, mereka pecah ketika melihat buah cinta nya bersama Shahilla hadir. Dokter Linda langsung meletakkan sang bayi di atas dada Shahilla yang tak sadar kan diri.
“Alhamdulillah Ya ALLAH”. Seru nya.
“Selamat ya Pak . . .”. Seru mereka.
Perasaan Restu bercampur aduk antara bahagia dan sedih.
“Sayang . . . anak kita sudah lahir, lihat … dia anak yang cantik, sama seperti kamu”. Restu menangis tersedu – sedu sembari menciumi wajah Shahilla yang terbujur kaku dan membelai lembut tubuh bayi mungil yang sibuk mencari ASI sang ibu.
Mereka kembali menyaksikan suasana sedih itu dan tak mampu membendung air mata mereka. Dokter Linda segera menyuruh salah satu suster untuk membersihkan bayi mungil mereka. Dan kembali menangani Shahilla.
Usai membersihkan sang bayi. Suster pun memberikan bayi nya pada Restu dan di sambut Restu dengan lembut. Dalam gendongan nya Restu menatap bayi mungil nya dengan mata nya yang masih basah karena air mata. Restu menarik nafas nya yang begitu sesak dengan pelan, ia memejamkan mata sembari mendekatkan bibir nya pada telinga bayi mereka.
“Allahhu Akbar Allahhu Akbar, Asyhadu Allailaahaillallah, Asyhadu Annamuhammaddarrasulullah . . . .”. Restu mengumandang kan iqomah pada telinga sang bayi dengan sedikit terisak. Bayi perempuan mereka begitu pintar, ia merespon iqomah sang Abi dengan mengeluarkan lidah nya serta tenang menatap Restu. Usai itu Restu menciumi wajah bayi mungil itu sembari menangis sedu.
#Engkau yang begitu hebat, yang mengorban kan seluruh hidup dan mati mu demi malaikat kecil titipan ALLAH.
Engkau yang begitu hebat, segala upaya, kau memperjuang kan malaikat kecil kita hadir ke dunia ini.
Engkau yang begitu hebat, yang mampu menanggung rasa sakit yang teramat luar biasa sakit nya demi melahirkan kehidupan baru dan rela menggantikan posisi mu untuk nya, aku pun mungkin tak akan pernah sanggup berada di posisi mu itu.
__ADS_1
Engkau yang begitu hebat, engkau istri ku sekaligus Ibu dari anak – anak ku.