Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 46


__ADS_3

Chapter 46


Shahilla menghidang kan dua cangkir teh untuk Restu dan Aan yang baru tiba di kediaman mereka. Shahilla pun turut duduk di samping Restu untuk mendengar kan cerita Aan.


Aan/ “Tu kayak nya kita harus cepat – cepat buat konferensi pers, karena kalau tidak, kita semua akan hancur”.


Restu/ “Iya An, tapi sebelum nya kita harus punya bukti kalau berita itu tidak benar”.


Aan/ “Iya kamu benar, kita juga harus dapat pernyataan klarifikasi dari Haikal dan Aina karena kalau tanpa pernyataan mereka berdua, nanti yang ada kita di kira hanya melakukan settingan”.


Restu menganggukkan kepala nya.


“Tapi bagaimana cara nya kita mendapatkan bukti kalau foto itu tidak benar?”.


“Dari cctv saja mas, karena seingat adek di caffe itu memiliki cctv, kemungkinan rekaman cctv pada saat itu ada, di saat adek dan Haikal duduk menunggu mas sampai mas datang ke caffe itu”. Shahilla menyambung perbincangan mereka.


Restu/ “Benar juga itu, itu satu bukti kuat untuk kita melawan berita hoax itu. Karena di rekaman itu pasti merekam di saat aku ada di situ An”.


Aan/ “Tapi apa pihak caffe akan memberikan rekaman cctv itu ke kita?”.


Restu/ “Kita coba saja dulu, mudah – mudahan ALLAH melembutkan hati mereka untuk memberikan rekaman cctv itu untuk kita”.


Shahilla dan Aan/ “Aamiin”.


.


.


Restu dan Shahilla sudah bersiap untuk pergi ke caffe itu. Sedang kan Aan sudah menunggu di luar untuk mengamankan ke sekitar apartemen.


Restu/ “Sayang, lebih baik kamu enggak usah ikut saja, kamu sama Zahira di apartemen saja, biar mas dan Aan yang ke sana, kamu enggak usah ikut, mas takut terjadi sesuatu di luar kalau kita sampai tertangkap basah sama wartawan, kasihan Zahira sayang”.


Shahilla/ “Tapi mas, kalau pun adek di sini, adek enggak akan bisa tenang mikirin mas. Lebih baik adek kenapa – kenapa di luar sana asalkan adek sama mas, ketimbang adek gelisah enggak karuan di sini”.


Restu/ “Ya sudah, kamu dan Zahira boleh ikut, tapi nanti kalian di dalam mobil saja ya, enggak usah ikut kami masuk ke caffe”.


Shahilla menganggukkan kepala nya.


“Iya mas”.


“Ya sudah, yuk kita keluar, Aan bilang di luar sudah aman”. Restu menggandeng tangan Shahilla.


Dengan extra hati – hati akhir nya mereka bisa keluar dari apartemen sejak muncul nya berita hoax itu. Butuh waktu hampir setengah jam mereka bisa sampai ke caffe itu. Aan memarkirkan mobil nya tepat pas di depan caffe. Restu kembali mempersiapkan diri nya agar tidak di kenali oleh siapa pun.


“Adek sama Zahira tunggu di sini bentar ya, In Sya ALLAH kami tak akan lama, adek jangan keluar – keluar, takut entar ada yang ngelihat kita”. Restu memegang pipi Shahilla yang terbalut oleh niqob hitam nya. Shahilla mengangguk pelan.


Restu dan Aan masuk ke dalam layak nya seperti pelanggan biasa. Penyamaran Restu berhasil, tak satu pun mengenali diri nya. Aan dan Restu menghampiri salah satu pegawai laki – laki di caffe itu, mereka meminta tolong untuk di pertemukan oleh manager caffe. Alhamdulillah . . . pegawai itu dengan senang hati mengantar Aan dan Restu ke ruang manager.


“Assalamualaikum pak, permisi pak, ini ada beberapa dari pelanggan kita ingin bertemu dengan bapak”. Sebelum mempersilah kan Restu dan Aan masuk ke ruangan manager caffe, pegawai itu terlebih dahulu masuk untuk memberitahukan pak manager lalu meminta izin dari nya.


Manager Caffe/ “Waalaikumussalam, memang nya ada apa mereka ingin bertemu dengan saya?, apa salah satu pegawai kita membuat masalah hari ini?”.


Pegawai/ “Tidak pak, tidak sama sekali, semua nya aman kok pak, mereka ingin bertemu dengan bapak bukan karena ada keluhan pada caffe ini”.


Manager Caffe/ “Lantas, karena apa mereka ingin bertemu dengan saya?”.


Tiba – tiba Restu dan Aan menerobos masuk ke dalam ruangan karena tidak ingin mempersulit pegawai itu.


“Assalamualaikum”.


Pak Manager dan pegawai nya terkejut, terlebih lagi sang pegawai, ia takut dengan kelancangan Restu dan Aan akan membuat nya dalam masalah.


“Waalaikumussalam”.


“Maaf Pak, saya lancing, langsung masuk ke dalam ruangan tanpa persetujuan bapak. Sebenar nya saya . . . .”. Ujar nya, Restu membuka topi serta kumis yang ia kenakan.


“Kamu …?, Restu kan?, actor yang terkenal itu, yang sekarang sedang di terpa gossip ?”. Pak Manager itu hafal benar dengan Restu. Sedang kan pegawai itu terpelongo, ia tak menyangka bahwa yang ia antar kan ke ruangan manager nya itu Restu si actor penghafal Al – Qur’an.


Restu/ “Iya Pak, saya Restu”.


“Oh . . . silahkan duduk, silah duduk”. Pak Manager begitu antusias mempersilahkan Restu dan Aan duduk.


“Terimakasih pak”. Restu dan Aan pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja pak manager.


“Kamu kenapa enggak bilang dari awal, kalau yang datang itu Restu Muhammad, saya nge- fans banget sama dia”. Laki – laki paruh baya itu melirik pegawai nya yang masih terpaku tak percaya.


Restu/ “He he he, sebenar nya mas ini juga enggak tahu kalau itu saya, karena saya memang sengaja berpenampilan seperti tadi agar tidak ada yang mengenali saya”.


Pegawai/ “Ouh . . . pantesan saja, waktu saya dengar suara nya mas Restu, saya itu kayak familiar gitu, kayak sering gitu lho saya dengarin suara nya, tapi saya enggak nyangka lho he he he”.


Restu/ “He he he, maaf ya sudah merepotkan mas nya”.


Pegawai/ “Ouh tidak apa – apa mas, justru saya senang, kalau enggak kayak gini saya enggak akan ketemu artis idola saya he he eh”.


Restu dan Aan tersenyum simpul melihat kepolosan pegawai itu. Sedang kan Pak Manager melirik nya, sembari memberikan isyarat pada nya agar dia segera meninggal kan ruangan itu.


“Ssst . . . .Ssstt . . .”.


Pegawai/ “Yaaah bapak, belum lagi saya minta foto sama tanda tangan sama mas Restu nya, saya nge – fans banget lho pak, ini baru pertama kali lho pak, saya ketemu sama idola saya, biarin saya di sini ya pak, saya mohon banget pak”. Ia memohon untuk tetap tinggal.


Pak manager/ “Kamu mau saya skors atau mau langsung saya pecat?”. Ancam nya.


Pegawai/ “Iya iya pak, saya keluar pak, saya keluar, tapi jangan pecat saya ya pak”. Sentak ia keok dan mengurung kan mau nya demi sesuap nasi nya sehari – hari.


Restu dan Aan lagi lagi senyum –senyum melihat nya. dengan berat hati pegawai itu melangkah kan kaki nya untuk keluar dari ruangan atasan nya.


“Mas. Nanti setelah kami selesai dan sebelum saya pulang, saya akan menemui mas. Boleh kan pak?”. Restu menghenti kan langkah kaki pegawai itu dan membuat nya sembringah, lalu melirik ke arah pak manager.


Pak manager/ “Mm iya boleh, tapi ingat, sebelum saya panggil lagi kamu ke sini, kamu harus sudah memberes kan pekerjaan kamu di bawah”.


Pegawai/ “Oke siap boooos, terimakasih banyak ya pak, terimakasih banyak ya mas Restu dan mas nya”. ia menyalami atasa nya serta menyalami Restu dan Aan.


Setelah pegawai itu keluar dari ruangan dan meninggal kan kepolosan nya. Kini Restu, Aan serta Pak manager mulai mengobrol serius.


Pak Manager/ “Ngomong – ngomong apa yang membuat kalian datang ke sini untuk bertemu dengan saya?. Oh ya sebelum nya saya, turut prihatin atas musibah yang kamu alami Restu. Gara – gara berita gossip itu nama caffe saya jadi di bawa – bawa hhhmm, tapi itu enggak masalah buat saya he he he”.


Restu/ “Maaf ya pak, gara – gara berita itu sudah memberi kan dampak pada caffe itu”.


Pak manager/ “Enggak, enggak apa – apa, justru karena berita itu orang – orang pada ramai yang datang ke sini, omset caffe ini jadi meningkat hi hi hi”.


Restu/ “Alhamdulillah kalau gitu pak”.


Aan/ “Oh ya pak, maksud kedatangan kami ke sini itu, kami ingin meminta bantuan dari bapak”.


Pak manager/ “Bantuan apa itu?, selagi saya mampu, In Sya ALLAH saya siap untuk membantu”.


Restu nampak cerah/ “Alhamdulillah, terimakasih banyak ya pak”


Aan/ “Mmm . . . gini pak, kami sedang merencana kan akan membuat konferensi pers untuk mengklarifikasi soal gossip itu, jadi sebelum kami melakukan konferensi itu, kami harus sudah memiliki bukti dan saksi kalau gossip itu tidak benar, nah dari itu kami datang ke sini karena kami sangat membutuh kan bantuan bapak, kami ingin melihat rekaman cctv di caffe ini di saat istri nya Restu duduk bersama dengan Haikal, apakah kami boleh melihat rekaman cctv itu?”.


Pak manager/ “Ouh iya iya, boleh – boleh, dengan senang hati saya mengizin kan kalian untuk melihat rekaman itu”.


Restu dan Aan/ “Alhamdulillah Ya ALLAH”.


“Terimakasi banyak ya pak”. Restu menjabat tangan bapak itu.


Pak manager menepuk pelan bahu Restu.


“Jangan kan cctv, untuk jadi saksi pun saya bersedia karena saya sama sekali tidak percaya dengan gossip itu, itu pasti ada yang tidak senang pada kalian dan mau menjatuh kan kalian”.


Restu/ "Terimakasi pak".


.


.


Selama satu jam mereka berada di ruangan khusus cctv mereka mencari, melihat lalu menyalin rekaman cctv itu ke flash disk Aan.


Restu/ “Sekali lagi terimakasih banyak ya pak”.


Aan/ “Terimakasih pak karena sudah membantu kami”.


Pak manager/ “Iya sama – sama, jangan sungkan – sungkan untuk minta pertolongan saya lagi nanti”.

__ADS_1


Restu/ “In Sya ALLAH pak, ya sudah pak, kami permisi pamit dulu, dan terimakasih atas bantuan nya, oh ya sampai lupa, pegawai bapak yang tadi . . . .”.


“Oh iya, saya juga hampir saja lupa, sebentar”. Manager itu segera menelpon ke bawah meminta pegawai yang tadi untuk naik ke atas.


Dengan semangat pria itu naik ke atas untuk menemui idola nya.


#ckreeek ckreek ckreeek . . . .


Sudah entah berapa jepretan foto selfie bersama Restu yang dia ambil di camera hp nya. tak mau ketinggalan juga pak manager bergantian foto bersama dengan Restu serta Aan.


Usai sudah . . .


Restu dan Aan pun segera pergi meningal kan caffe itu dengan hati yang ceria karena ALLAH selalu memberi kan kemudahan pada mereka.


Restu/ “Alhamdulillah ya An, ALLAH mempermudah kan jalan kita dan mempertemukan kita dengan orang yang baik – baik”.


Aan/ “Iya Tu, Alhamdulillah banget. Oh ya topi sama kumis kamu . . .”. Aan menunjuk ke arah wajah Restu.


Restu menepuk jidat nya.


“Astaghfirullah, aku lupa An, kesoran karena mas - mas pegawai tadi he he he”. Secepat kilat Restu memakai nya kembali.


#Ghyuuuuuuur . . . .


Tiba – tiba seseorang menyiram wajah Restu. Sentak mereka terkejut dan menoleh ke arah orang tersebut. Mereka melihat sekumpulan ibu – ibu paruh baya dengan pandangan nya yang penuh dengan kemarahan yang sudah siap - siap ingin menerkam Restu.


“Kamu ya. . . ., alim – alim tapi suka nya maini hati perempuan, kata nya penghafal Al – Qur’an tapi tingkah nya sama saja dengan laki – laki bejat lain nya”. Ibu itu menunjuk – nunjuk kan wajah Restu yang sudah kuyup alias basah. Restu hanya tersenyum tak membalas nya sedikit pun sembari menghapus air yang ada di wajah nya.


Sedang kan Shahilla terkejut melihat Restu dan Aan sedang di maki – maki oleh beberapa ibu – ibu. Ia yang sudah sejak tadi ia merasa gelisah menunggu mereka tak kunjung keluar dari caffe kini mendapat kan pemandangan yang membuat hati nya sakit dan sedih.


“Mas”.


“Kamu itu enggak ada pantas – pantas nya di bilang alim, topeng saja itu, cocok nya kamu buka saja topeng kamu itu, enggak usah belagak sok alim. Apa lagi istri kamu itu, sudah, suruh saja dia buka itu cadar nya, kalian sama - sama sok alim enggak tahu nya, kelakuan nya sama seperti jal**g”. Ibu – ibu itu tak henti – henti nya menghujat nya. Bahkan seorang ibu – ibu yang lain nya tega meludahi Restu.


Aan mulai emosi, rasa nya ia ingin sekali membalas mereka namun di henti kan oleh Restu dengan isyarat menggeleng kan kepala nya.


“Sudah . . . kita limpari saja dia, biar tahu rasa dia”. Sahut yang lain nya, mereka pun siap – siap ingin melempar nya dengan berbagai macam barang, ada yang ingin melempari nya dengan batu, ada yang ingin melempari nya dengan ice cream dan kue, bahkan ada ibu – ibu yang ingin melempari nya telur ayam yang entah dari mana dia dapatin.


Tiba – tiba Shahilla muncul tanpa Zahira, karena dia sudah tidak tahan melihat suami nya di hujat habis – habisan seperti itu hingga akhir nya ia memutus kan untuk meninggal kan Zahira di dalam mobil dan menghadang untuk melindungi Restu dari benda – benda itu. Alhasil semua benda – benda itu mendarat ke tubuh Shahilla.


“Sayang . . . .”. Sentak Restu langsung menutupi Shahilla dengan tubuh nya.


“An . . . . tolong kamu ke mobil, Zahira sendirian”. Pinta nya.”.


“Iya . . . .”. Aan berlari menuju ke mobil untuk melihat Zahira.


“Ini dia istri sok alim nya, sudah buka saja itu cadar nya, biar kita lihat wujud asli nya gimana, belagak sok paling suci enggak tahu nya lebih parah dari ja**g”. ibu – ibu ini belum merasa puas, mereka sanggup menarik – narik hijab dan cadar Shahilla, namun usaha mereka sia – sia, ALLAH melindungi mereka, dengan nekat Aan mengancam ibu – ibu itu dengan menabrak mereka tanpa ampun.


#Teeeen . . . .Teeeen . . . .Brrrrmmmm . . .Brrrrmmmm


Mereka pun takut serta ngacir menyingkir ketepian jalan. Dengan sigap Aan membuka kan pintu mobil dan menyuruh mereka masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi meninggal kan emmak – emmak monster itu.


“Kamu kenapa turun sih sayang?, kan mas sudah bilang kamu jangan turun. Kalau mereka sampai mencelakai kamu bagaimana?, kalau mereka sampai berhasil membuka hijab dan cadar kamu bagaimana?, kalau terjadi sesuatu sama Zahira bagaimana? maka nya, perkataan suami itu di dengar”. Restu memarahi Shahilla, bukan karena dia membenci tapi karena dia sangat sayang pada Shahilla.


Aan melirik ke kaca dan melihat Shahilla tertunduk merasa bersalah, ia tak sedikit pun berucap.


Mereka hening setelah Restu memarahi Shahilla. Sesampai nya di apartemen pun Shahilla tak berkata apa pun. Ia langsung masuk ke kamar meninggal kan Restu dan Aan di ruang tamu.


Shahilla membersih kan diri nya alias mandi lalu mengganti kan pakaian Zahira serta menyusui nya.


Setelah Aan pamit pulang, Restu pun masuk ke dalam kamar, ia melihat Shahilla duduk di atas tempat tidur sedang menyusui Zahira. Restu merasa bersalah karena telah memarahi nya. ia mendekati Shahilla dan memeluk tubuh Shahilla dari belakang.


“Maafin mas ya, karena sudah memarahi kamu, mas enggak bermaksud untuk melukai hati kamu, mas marah karena mas sayang sama kamu, mas enggak mau kamu dan Zahira kenapa – kenapa. Biar kan mas yang menanggung semua nya bukan kalian”. Tutur kata nya yang begitu lembut sehingga Shahilla menetes kan air mata nya, lalu menyelesai kan menyusui Zahira dan meletak kan nya di tengah – tengah tempat tidur.


Shahilla berbalik badan menghadap Restu yang mata nya sudah basah karena air mata nya.


“Harus nya adek yang minta maaf sama kamu mas, karena adek enggak ngedengerin apa kata mas”. Lirih nya.


Restu menggenggam tangan Shahilla.


“Sudah, kita enggak usah saling menyalah kan diri kita sendiri, sekarang mas mau bawa kabar gembira buat adek”.


Shahilla/ “Kabar gembira apa itu mas?”.


“Benaran mas?, Alhamdulillah ya ALLAH”.


Restu/ “Iya sayang, ALLAH memberi kan kemudahan untuk kita dan ALLAH juga mempertemu kan kita dengan orang – orang yang baik.


Shahilla/ “Iya mas, semoga rencana kita berjalan dengan lancar dan membersihkan nama baik kita”.


“Aamiin, Setelah ini kita ke tempat Aina dan Haikal untuk meminta bantuan mereka, tapi sebelum nya mas mauuuuuu, gelitiki kamu dulu he he he he”. Restu menggelitiki pinggang Shahilla, sentak Shahilla merintih.


“Shhh Au . . . .”. Rintih nya di saat Restu menyenggol punggung Shahilla.


“Kenapa sayang?”. Restu terlihat panic.


Shahilla menggeleng kan kepala nya.


“Enggak apa – apa mas, mungkin karena pegal saja karena seharian keluar rumah".


“Coba mas lihat”. Restu sedikit membuka pakaian Shahilla untuk melihat punggung nya.


“Astaghfirullah sayang”. Restu terkejut melihat punggung Shahilla sudah lebam dan memerah bahkan ada bagian punggung nya sedikit berdarah.


“Enggak apa – apa, apa nya, ini bukan pegal nama nya, punggung kamu merah bahkan ada bagian yang berdarah dan harus di obati sayang. Ini pasti karena terkena timpukan batu ibu – ibu tadi kan?”. Restu sibuk mencari kotak p3k nya sembari mengomelin Shahilla.


“Mas makin hari makin kayak emmak – emmak, asek nak merepet saja mulut nya he he he”. Shahilla tertawa kecil, sebenar nya ia sudah tahu luka yang ia dapati di saat ia membuka baju nya dan melihat sobekan pada baju nya namun ia tidak memberitahu Restu.


“Merepet?, apa itu merepet?, bahasa apa itu?”. Restu mendekati Shahilla lalu mengoles kan salep pada punggung Shahilla.


“Merepet itu bahasa orang Medan, yang arti nya mengomel. Shhh au ”. Jelas nya, dan sesekali ia merintih karena perih nya luka yang di olesi salep. Restu meniup nya.


“Ouh itu arti nya, gimana mas nya enggak merepet abis nya kamu nya nakal”. Restu menarik manja hidung Shahilla.


“Ummm . . . mas, jangan di tarik mulu hidung nya, entar makin mancung he he he”. Shahilla menutupi hidung nya.


Restu/ “Biarin, biar kayak pinokio sekalian, panjang hidung nya ha ha ha ha”.


“Ha ha ha, enggak mauuuuuu, pinokio panjang hidung nya karena berbohong, bohong itu dosa”.


"Ha ha ha ha, ngegemesiiin banget".


Semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Ada rasa senang karena sudah mendapatkan rekaman cctv itu ada rasa sedih karena di hujat habis – habisan oleh sekelompok emmak – emmak dan ada rasa sakit karena di lempari berbagai macam benda.


.


.


# “Assalamualaikum Na”. Sebelum menemui Aina, mereka menghubungi Aina terlebih dahulu.


#Aina “Waalaikumussalam, Kamu apa kabar la?, maaf aku enggak ada menghubungi kamu dan enggak berada di samping kamu di saat kamu terkena musibah”.


#Shahilla “Enggak apa – apa Na, aku ngerti kok gimana kondisi kamu. Oh ya aku dan Restu mau minta bantuan sama kamu mengenai berita itu, apa kamu bisa membantu kami?”.


#Aina “In Sya ALLAH aku bisa la, apa pun itu aku siap membantu kamu, lagian kan membersih kan nama baik ku juga he he he”.


#Shahilla/ “Terimakasih banyak ya Na, aku enggak tahu harus bilang apa sama kamu selain terimakasih”.


#Aina/ “Ahh kamu kayak sama siapa saja he he he”.


#Shahilla/ “Ya sudah, nanti kamibakan mengabari kamu kalau kami akan ke tempat mu, tapi jangan lupa kirim alamat mu karena kan selama ini aku enggak tahu kamu tinggal dimana sekarang huft”.


#Aina/ “He he he iya iya, habis ini aku kirim alamat aku ke kamu, aku tunggu kedatangan kalian. Oh ya La, aku tutup dulu ya soal nya clien aku sudah datang”.


#Shahilla/ “Oh iya iya, maaf ya mengganggu dan merepot kan kamu”.


#Aina/ “Ahh biasa saja La, enggak usah lebay, ya sudah aku tutup ya, Assalamualaikum”.


#Shahilla/”Waalaikumussalam”.


.


.

__ADS_1


#Ting Nong . . . .


Terdengar suara bel berbunyi, dengan segera Shahilla membuka kan pintu tanpa melihat layar monitor.


“Papa . . . Mama . . .”. Shahilla histeris melihat sosok orang tercinta ada di depan nya, secepat kilat Shahilla menyambar tubuh ke dua orang tua nya dan menangis bagai anak kecil yang manja.


Kedua orang tua nya mengusap – ngusap punggung dan kepala Shahilla. Beliau faham dengan kondisi anak dan menantu mereka bagaimana sekarang.


Shahilla mempersilah kan Papa dan Mama nya masuk ke dalam apartemen serta meletak kan koper kedua nya ke dalam kamar tamu.


Papa/ “Restu dimana La?”.


Shahilla/ “Mas Restu sedang meeting Pa bersama dengan tim nya untuk mempersiapkan konferens pers nanti”.


Mama/ “Mama sedih dengan ada nya berita itu, mama sama papa khawatir pada kalian, maka nya kami ke sini. Kami enggak sampai pikir, kok tega orang yang berbuat seperti itu, dia apa enggak berpikir kalau sewaktu – waktu dia bisa merasa kan di posisi kalian?, karena ALLAH kan enggak akan diam pada orang – orang yang dzolim, ALLAH pasti akan membalas nya”.


Papa/ “Yaaa . . . . nama nya juga manusia yang masih mengejar dunia, dia mana pernah berpikir soal itu, yang dia tahu hanya mendapat kan keuntungan, apa lagi di zaman sekarang sudah banyak orang – orang yang menghalal kan segala cara untuk mencapai dunia nya”.


Shahilla/ “Iya Pa . . . kita doa kan saja ALLAH selalu melindungi kita dari orang - orang yang dzolim, Aamiin".


Papa/ “Aamiin, oh ya kalian sudah tahu siapa orang yang menyebar kan fitnah itu?”,


Shahilla/ “Belum Pa, mas Restu dan tim nya sedang menyelidiki siapa orang nya, mereka sudah melacak situs online yang menyebar kan pertama kali berita itu. Tapi terakhir mereka lihat, situs nya sudah di tutup bahkan sumber asli nya pun sudah tak terlihat lagi di social media, yang tertinggal hanya postingan – postingan ulang dari akun – akun lain”.


Papa/ “Heemm . . . mungkin dia sudah tahu kalian akan melacak nya, jadi sebelum kalian melakukan itu, dia sudah bergerak cepat untuk menghilang kan jejak nya”.


Shahilla/ “Iya Pa, kami pun berpikir seperti itu, tapi mau bagaimana pun juga In Sya ALLAH bisa di lacak Pa, apa lagi sudah banyak alat – alat yang canggih dan orang – orang jenius di Indonesia”.


Papa/ “Ya sih, mudah – mudahan kita bisa nemukan siapa orang nya dan apa tujuan dan maksud dia melakukan itu”.


Mama/ “Iya . . . awas saja kalau ketemu, Mama tepok – tepok itu pipi nya, kalau bisa Mama tunj**g dia habis – habisan, emosi orang di buat nya, enak saja dia ngebuat anak menantu sama cucu mama nangis, lihat saja nanti”. Beliau mengepal kan tangan nya karena emosi.


Shahilla dan Papa nya tertawa kecil.


“Keluar dia preman Medan nya ha ha ha ah”.


Mama tersipu malu sembari memonyong kan bibir nya.


.


.


Sebulan sudah berita itu berlalu namun tak menggentar kan para wartawan yang masih semangat memburu Restu, Shahilla, Haikal dan Aina.


Meski keadaan belum juga mereda namun Restu dan tim nya harus mengambil tindakan untuk kasus ini mengingat mereka telah memegang beberapa bukti bahwa berita tersebut tidak benar ada nya. Setelah meeting beberapa hari yang lalu di apartemen Restu, akhir nya mereka memutus kan untuk melakukan konferensi pers.


Segala persiapan telah di siap kan sesuai rencana. Karena kesulitan untuk bisa kemana – mana, akhir nya mereka melakukan konferensi pers nya di aula apartemen Restu dan Shahilla.


Restu/ “An . . . jadi pihak Haikal sama sekali enggak bisa membantu kita untuk mengklarifikasi soal ini?”.


Aan/ “Enggak bisa Tu, mereka bilang mereka masih belum bisa membicara kan soal ini karena jadwal Haikal padat dan sekarang kata nya dia lagi shooting di Jepang enggak tahu kapan balik nya”.


Restu enggak sampai pikir kenapa pihak Haikal begitu santai dengan berita ini.


“Ya sudah lah, mungkin Haikal bisa berharap pada kita, kita maju saja, mudah – mudahan kita bisa melakukan nya dengan baik”.


Aan/ “Aamiin, kalian harus semangat”.


Restu/ “Iya, sekali lagi terimakasi banyak ya An sudah banyak membantu kami, Jazakallahhu Khairan”.


Aan/ “Waiyyaka”.


.


Para wartawan dari berbagai awak media berduyun – duyun menghadiri konferensi tersebut, mereka tidak sabar untuk meliput berita panas ini. Bahkan mereka bela – bela’in menginap semalaman untuk mendapatkan hasil liputan yang akan menaikkan rating awak media mereka.


Setelah lama menunggu, akhir nya Restu dan Shahilla serta para tim management Restu muncul dan duduk di tempat yang sudah mereka atur. Tak lupa para wartawan berlomba – lomba mengambil foto terbaik mareka serta seisi aula riuh tak karuan. Sebelum memulai nya, pihak keamanan mengamankan keriuhan tersebut.


Suasana telah hening dan Aan mulai membuka suara.


Aan/ “Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh”.


“Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh”. Mereka menjawab dengan serentak.


Aan/ “Baik lah kita akan memulai konferensi pers ini dimana Restu dan Shahilla serta pihak management kami untuk angkat bicara mengenai berita ini, namun sebelum nya saya minta para wartawan untuk partisipasi nya untuk mengikuti tata cara nya agar semua nya berjalan dengan lancar, ya sudah mari kita mulai konferensi pers ini dengan mengucap kan basmallah (Bismillahhirrohmanirrohim). Terimakasih, wassalamualaikum”.


Restu mengambil mic yang terletak di atas meja. Restu memejam kan mata nya sejenak.


“Bismillahhirrohmanirrohiim, Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh”.


“Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh”.


Restu/ “Saya di sini melakukan konferensi pers ini untuk mengklarifikasi tentang berita yang jadi pusat perbincangan di seluruh Indonesia. Sebelum nya saya minta maaf karena baru ini saya menemui kalian semua dan melakukan konferensi pers inj. Saya ingin membantah dan memberi jan kebenaran soal tudingan - tudingan yang ada pada berita tersebut, dimana berita – berita itu tentang tuduhan perselingkuhan dan merusak suatu hubungan rumah tangga. Saya beritahukan bahwa Alhamdulillah hubungan saya bersama istri saya baik – baik saja tidak ada pertengkaran - pertengkaran yang terjadi di dalam rumah tangga kami, begitu juga dengan hubungan Aina bersama dengan suami nya. Sebenar nya Istri saya Shahilla, Aina dan Haikal dulu nya berteman cukup dekat pada saat mereka nyantri dan baru – baru saja ALLAH mempertemu kan mereka kembali setelah belasan tahun tidak ketemu. Perselingkuhan dan merusak hubungan itu tidak ada sama sekali, berita itu sama sekali tidak benar, kami mengakui bahwa yang ada di foto ini benar ini istri saya dan Haikal tapi berita itu di buat dari sudut pandang yang berbeda dimana foto ini di ambil pada saat istri saya dan Haikal sedang duduk bersamaan seolah – olah mereka sedang memiliki hubungan yang istimewa (Restu menunjuk kan foto Shahilla dan Haikal yang sedang duduk di caffe), coba saya tanya, apa kalian tahu sudut pandang dari sisi lain nya?, apa kalian tahu apakah yang sedang mereka bicarakan?, tidak kan?, kalian hanya melihat dari cover nya saja bukan?, lalu menyimpul kan presepsi - presepsi kalian sendiri. Lalu muncul berita berikut nya yang memperkeruh masalah sebelum kami mengklarifikasi berita pertama, dimana berita itu menuduh saya kembali pada mantan calon istri saya Aina dan menyebabkan retak nya hubungan Aina bersama suami nya, serta mengaet - ngaet kan isu perselingkuhan istri saya dan Haikal, astaghfirullah. Jujur awal nya saya masa bodo dengan berita seperti itu, karena saya tahu benar keras nya dunia hiburan ini, tapi tidak untuk istri dan anak saya, saya berusaha untuk menguatkan istri saya agar dia bisa kuat berada di samping saya dan menerima apa pun yang akan terjadi. Saya tahu pembuat artikel, berita dan informasi – informasi yang ada di dunia ini ingin mendapatkan yang terbaik untuk pekerjaan nya dan apa yang kalian berikan itu sangat bermanfaat bagi kami untuk mengetahui informasi seluruh penjuru Negara, tanpa kalian kami juga bukan apa - apa, tapi saya minta tolong, tolong berikan berita yang sebenar – benar nya, tolong jangan menyebarkan berita yang tidak benar. Apa kalian tahu dampak dari artikel – artikel yang kalian buat?, apa kalian tahu nasib seseorang yang menjadi korban artikel hoax kalian?. 20 tahun saya meniti karir saya di dunia hiburan ini, begitu banyak terjal yang saya lewati hingga saya sampai di sini . . . lalu . . . (Restu mulai terbata dalam kata) lalu . . . karena ada nya berita ini dan karena demi keuntungan kalian sendiri, saya kehilangan semua yang . . . .”. Restu menitihkan air mata nya, nafas nya terasa sesak sehingga ia menghentikan ucapan nya. Shahilla menggenggam tangan Restu untuk menguatkan nya. Sedang kan para wartawan ada yang mata nya berkaca – kaca dan ada juga yang sudah menetes kan air mata nya.


Kini ketua managemen beralih untuk berbicara.


“Oke saya Junaidi selaku ketua managemen artis. Saya di sini juga ingin memberi kan sesuatu untuk kalian agar tidak ada kesalahfahaman lagi mengenai berita ini. Harus nya ada Haikal dan Aina juga ya di sini, bersama dengan kami untuk membuktikan bahwa berita itu tidak benar, tapi berhubung karena mereka sedang sibuk dan enggak bisa ikut serta, namun saya rasa dengan ada nya kami semua, itu sudah mewakilin mereka. Kami akan menunjuk kan sesuatu untuk kalian semua”.


Aan memutar video cctv di caffe. Para wartawan siap – siap mengarahkan mata dan kamera meraka pada layar yang ada di sebelah kiri meja konferensi. Mereka begitu tekun melihat video tersebut, dimana video itu di saat Shahilla dan Haikal duduk bersama di caffe, mereka melihat jarak mereka duduk cukup jauh tidak seperti yang ada di foto, untung nya Shahilla dan Haikal duduk pas di depan cctv caffe sehingga terlihat jelas meski suara mereka tidak terdengar dengan jelas. Beberapa menit setelah adegan yang ada di foto, tiba – tiba Restu muncul menghampiri Shahilla. Sentak semua wartawan bersorak. “Wuuuuuuuuuu . . . .”. Mereka kecewa ternyata berita itu tidak benar dan akhir nya mereka mengetahui kebenaran nya. Setelah video cctv caffe di putar, Aan memutar kan video klarifikasi Aina yang ia buat sebelum konferensi pers mengenai berita nya.


#Aina/ “Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh, saya Aina, sebelum nya saya minta maaf karena saya tidak bisa hadir pada konferensi pers ini, karena saya lagi ada urusan yang enggak bisa saya tinggal kan, saya di sini, mau bilang kalau hubungan saya bersama dengan suami saya baik – baik saja, tidak ada masalah pada hubungan kami, maaf saya tidak bisa mengenalkan suami saya pada kalian, karena suami saya sekarang lagi ada perjalanan dinas di luar kota dan suami saya juga tipe orang yang sangat pemalu he he he. Sekali lagi Saya dan Restu berteman dengan baik dan sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Saya rasa ini sudah cukup, saya ucapkan terimakasi, wassalamualaikum”. Video pun berakhir.


Aan/ “Baik lah, saya rasa itu sudah cukup menjawab semua kesalahfahaman kalian selama ini. Terimakasih sudah meluang kan waktu kalian. Wassalamualaikum”.


Restu dan lain nya beranjak untuk meninggal kan aula. Para wartawan berlomba – lomba mendekati Restu dan Shahilla. Restu merangkul Shahilla untuk melindungi nya dari berdesakan.


Karena belum puas mereka memberikan beberapa pertanyaan sembari mereka berjalan berdesak – desakan.


Wartawan/ “Restu apa kah kalian tahu siapa yang telah menyebarkan berita ini?”.


Restu/ “Kami masih menyelidiki nya, mudah – mudahan orang itu segera di temu kan, doa kan ya”.


Wartawan/ “Apa kalian akan menuntut orang yang telah menyebarkan berita ini?”.


Restu/ “Kita lihat saja nanti ya, karena kita juga tidak tahu apa motif mereka”.


Wartawan/ “Mbak Shahilla kenapa sejak tadi tidak ada berkata sepatah kata pun?”.


Restu/ “Shahilla sedang kurang enak badan, ini saja dia paksa’in untuk ikut, mohon doa nya agar istri saya di beri kesembuhan ya”.


Aan/ “Pertanyaan nya sudah ya, kami mau istirahat, terimakasi atas waktu nya, terimakasi”.


Langkah kaki Restu dan Shahilla begitu cepat berjalan memasuki apartemen mereka, dan di susul oleh tim nya termasuk salah satu nya Aan.


Wartawan ingin menerobos masuk namun di hadang oleh pihak keamanan apartemen.


.


.


Semua keluarga beserta rekan kerja berkumpul di apartemen Restu dan Shahilla untuk mengucapkan rasa syukur kepada ALLAH karena mereka mampu melewati masa sulit itu. Tak terkecuali Aina yang turut bergabung dengan mereka.


Berita fitnah yang mereka terima akhir nya terungkap sudah, bahkan sang pelaku alias wartawan yang menyebarkan berita itu pun kini sudah berada di dalam jeruji besi. Awal nya Restu dan Shahilla tidak ingin menuntut nya, namun tim lain nya tidak menyetujui nya, mereka memenjarakan nya agar ada nya efek jera bagi pelaku dan tak lagi yang berbuat seperti nya, demi keuntungan, ia tega merusak hidup seseorang.


Aina/ “Alhamdulillah ya La, akhir nya kelar juga masalah ini”.


Shahilla/ “Iya Na, aku senang dan bersyukur banget bisa melewati masa sulit itu, terimakasih banyak ya Na sudah membantu, tanpa bantuan kalian semua mungkin tak akan berjalan lancar seperti ini, kamu sampai bela - belain berpura - pura akur dengan Fatih”.


Aina/ "He he he, Sama - sama La, ini berkat usaha keras kita juga, lagian untuk membantu sahabat sendiri, kita harus melakukan apa pun he he he".


"Sekali lagi terimakasih ya Na". Shahilla memeluk Aina dengan hangat.


Di tengah pembicaraan mereka tiba – tiba ponsel Aina bordering.


“La, aku ngangkat telpon dulu ya”.


Shahilla mengangguk pelan dan Aina pun menjauh dari nya.


#Aina/ “Assalamualaikum, Iya Joe?”.


#Joe/ “Waalaikumsalam, Na akhir nya aku menemukan lokasi Reynan sekarang”.


#Aina/ “Apa?, beneran kamu Joe?, terus kamu tahu siapa yang menculik Reynan?”.

__ADS_1


“Apa . . . ?, Reynan di culik. . . .?”. Shahilla terkejut mendengar ucapan Aina yang tanpa sengaja ia dengar. Sentak Aina menoleh ke arah Shahilla tepat di belakang nya.


__ADS_2