Cinderella Ninja

Cinderella Ninja
Chapter 8


__ADS_3

Hari itu pun tiba dimana hari pertama kali pertemuan mereka (Bagi Shahilla) .


Shahilla akan mewawancari Restu.


Suasana kantor menjadi lebih ramai dengan berkumpul nya semua karyawan Majalah X untuk menyambut kedatangan Restu sang aktor yang sedang naik daun.


Ini bukan untuk pertama kali nya Majalah X kedatangan tamu artis untuk di wawancarai sebagai narasumber, tapi entah kenapa kali ini beda dari yang sebelum nya, mereka serasa menyambut tamu dari kerajaan inggris, tak biasa nya mereka semua hadir dan melalaikan pekerjaan mereka.


"Subhanallah Walhamdulillah walaailahaillallah waallahhu akbar (berulang kali hingga tak dapat di hitung) ".


Tak henti nya Shahilla berdzikir dan menyebut nama ALLAH agar dapat menenangkan hati nya yang sedang gugup. Seperti sedang mengikuti kompetisi di depan umum. Sekujur tubuh nya keringat dingin dan gemetar. Pikiran nya selalu negative membayangkan bagaimana dia menyambut kedatangan Restu, apa lagi mewawancarainya.


"Ya ALLAH kuat kan hamba, tenang kan hati dan pikiran hamba". Doa nya dalam hati.


"Restu udah datang". Teriak seorang karyawan yang bertugas untuk memantau kedatangan Restu dari luar.


Semua orang yang berada di dalam kantor menjadi lebih riuh dan berhamburan ingin menyambut sang aktor tampan itu. Sedang kan Shahilla hanya berusaha menenangkan diri dari jantung nya yang semakin kencang berdetak saat Restu sudah tiba. Aina menggenggam tangan Shahilla yang dingin membeku, dia paham dengan apa yang di rasakan sahabat nya itu.


"Tenang, kamu pasti bisa". Aina menguatkannya dan tersenyum di balik niqob nya terlihat jelas dari matanya.


"fuuuuuuuuuht, Bismillahhirrohmanirrohim". Shahilla menarik nafas panjang dan mengehelakannya dengan menyebut nama ALLAH, dia siap menghadapinya dan dia percaya bahwa ALLAH pasti memberikan kemudahan pada nya.

__ADS_1


Restu beserta manager dan pengawalnya pun masuk ke dalam kantor dan dis ambut oleh karyawan - karyawan kantor dengan ramah. Tak menunggu lama Restu di persilahkan masuk dan duduk di ruangan khusus untuk wawancara dan dia di perkenalkan dengan staf staf Majalah X.


"Terimakasih Bapak Restu sudah mau hadir ke kantor kami dan bersedia untuk kerja sama dengan Majalah X". General Manager Majalah X menyambutnya dengan hangat.


"Iya sama - sama Pak, saya juga berterima kasih pada majalah x karena sudah mengundang saya ke sini he he he. Mmm dan kalau boleh, saya minta jangan manggil saya bapak, panggil saja saya Restu he he he".


"Aah ha Iya iya Restu he he he he. Oh ya saya Wiguna, selaku General Manager di sini ingin memperkenalkan para staf - staf kami, ini Bapak Hermawan Manager majalah x, ini Bapak Ryanto kepala editor, ini ibu Nurul Aina editor majalah x daaan. . . . ".


"Assalamualaikum, maaf saya . . .". Shahilla tiba - tiba muncul mengagetkan mereka terutama Restu.


Karena gugup Shahilla tidak langsung masuk ke ruangan, dia malah ke toilet.


"Dan ini Ibu Shahilla az - Zahra Razaq kepala redaksi majalah X, sekaligus yang akan mewawancarai Restu". Sang GM membuat Shahilla yang baru muncul menjadi makin kikuk dan membeku.


Aina menyingkut tangan Shahilla yang sedang mematung.


"Astaghfirullahhaladzim (berkali - kali)". Seketika dia sadar dengan kelemahannya dan beristighfar dalam hatinya.


"Maafkan saya. Perkenalkan nama saya Shahilla Az-Zahra Razaq, saya kepala redaksi di majalah X dan kebetulan saya yang akan mewawancarai Pak Restu, saya harap kerja sama kita berjalan dengan lancar, Aamiin". Tanpa melihat Restu, Shahilla berusaha santai memperkenalkan dirinya pada Restu.


"Aamiin. . .". Jawab nya dan tersenyum melihat Shahilla dan menundukkan pandangannya kembali.

__ADS_1


Wawancara pun di mulai dengan pertanyaan - pertanyaan yang sudah di rangkai oleh sang editor, Aina dan di sepakati oleh seluruh staf.


Alhamdulillah wawancara berjalan dengan lancar dan berlangsung sekitar setengah jam dan di lanjuti dengan photo shoot untuk cover majalah dan sebagainya.


Pada saat wawancara, Alhamdulillah Shahilla tidak merasa gugup dan santai mewawancarai Restu meski pun jantung nya dua kali lipat berdetak dari biasanya.


"Terimakasih banyak atas wawancara hari ini, Alhamdulillah berjalan dengan lancar". General Manager alias Pak Wiguna menjabat tangan Restu.


Restu/ "Iya Alhamdulillah semua nya berjalan dengan lancar dan mudah -mudahan majalah X semakin sukses dan berjaya terus , Aamiin. . .".


"Aamiin ". Secara serentak.


"Oh ya sebelum Restu pulang, mari kita foto - foto bersama staf - staf terlebih dahulu, mereka sudah tidak sabar untuk foto bareng sama idola mereka he he he". Usul Pak Wiguna dan Restu meng - iya kan sambil tertawa kecil melihat staf - staf mereka heboh mengerumuni nya terkecuali Aina dan Shahilla yang hanya diam melihat mereka, terlebih lagi Shahilla yang sangat ingin berfoto dengan Restu namun di urungkan nya.


"Udah udah udah, gantian gantian,, sekarang giliran kepala redaksi kita foto bareng dengan Restu". Ujar istri Pak Wiguna yang tadi nya tak ikut andil tiba - tiba menarik tangan Shahilla untuk berdekatan dengan Restu. Mata Shahilla terbelalak terkejut mendengar ucapan istri Pak Wiguna, dia seperti mengetahui apa yang ada di isi hati Shahilla.


Shahilla berdiri tepat di samping Restu yang berjarak 1 meter. Dedi Sang photografer dengan sigap memotret mereka berdua yang terlihat canggung dan kaku.


"Stop . . Foto nya jangan berdua. Bu Aina dan Bu Dessy (istri Pak Wiguna) mari yuk gabung foto". Shahilla menghentikan Dedi memotret dan menarik Aina dan istri Pak Wiguna. Bersusun lah mereka berempat. Belum lagi di kasi aba - aba dari Dedi . . .


"Saya jadi enggak enak gini, saya di kelilingi dengan wanita salihah seperti ini, saya seperti perencah he he he, Aan". Restu memanggil asisten nya.

__ADS_1


Aan menager nya meng - iya kan isyarat dari Restu yang bergabung untuk berfoto dan Pak Wiguna pun juga ikut bergabung alhasil mereka ber - enam berfoto bersama dengan jarak yang renggang - renggang. Aan manager Restu - Aina - Restu - Shahilla c Bu Dessy - Pak Wiguna.


Ckreek . . . . . . . ! ! ! !


__ADS_2