
Chapter 47
“Om . . . sudah pulang?”. Terdengar suara seorang anak laki – laki yang muncul dari kamar mandi. Anak kecil itu menghampiri Haikal. Haikal pun bangkit dari tempat tidur.
“Iya Rey”. Ternyata anak laki – laki itu ialah Reynan anak dari Aina dan Fatih.
“Om, Reynan lapar”. Dengan polos nya Reynan memegang perut nya.
“Kamu lapar?, kebetulan om bawa’ in makanan untuk kamu”. Haikal mengajak Reynan ke meja makan yang di atas nya ada beberapa bungkus makanan dari restaurant. Reynan menyantap makanan itu begitu lahap.
.
.
Flash back . . .
“Tolong . . . tolong . . .”. Reynan berteriak meminta tolong pada seseorang, namun tak seorang pun melewati kawasan yang begitu sunyi dan menyeram kan. Reynan meronta – meronta dari cengkraman tangan besar pemilik kedua orang laki – laki berbadan besar dan sangar.
“Diem kamu, kamu mau kami buat mulut kamu itu tidak bisa ngomong lagi?”. Salah satu dari mereka mengancam Reynan.
Sentak Reynan terdiam, namun ia seorang anak yang cerdik.
“Om . . . aku capek berdiri terus, aku mau duduk”.
Mereka melirik satu sama lain.
Preman 1/ “Ambil kursi itu untuk dia, nanti dia bisa pingsan, kalau dia pingsan kita juga yang repot”.
Preman 2/ “Sudah, biarin saja, lagian kan kalau dia pingsan kita enggak dengar lagi suara bising nih bocah”.
Premen 1/ “Iya kalau dia pingsan, kalau dia mati gimana?, entar yang ada kita enggak dapat uang dodol”.
Preman 2/ “Ya juga sih, ya sudah . . . Nih kursi buat loe”. Preman itu menarik kursi yang ada di samping nya, lalu memberikan nya pada Reynan.
Preman 1/ “Duduk . . . awas kalau sampai lu kabur, gue tembak isi perut lu”. Ia mendorong tubuh Reynan.
Reynan/ “Pelan – pelan lah Om, sakit tauk. . .”.
Preman 2/ “Diem lu . . .”. Bentak nya.
Reynan melirik kedua Preman itu, di saat ada kesempatan dimana kedua preman itu lengah tak memperhatikan nya, di saat itu juga Reynan melakukan rencana nya. Dengan perlahan Reynan merosot kan tubuh nya, lalu meraba pada tali sepatu kedua preman itu. Begitu hati – hati Reynan mengikat tali sepatu mereka satu sama lain lalu mengikat kan nya lagi pada kursi tersebut. Setelah selesai Reynan kembali duduk dengan tenang dan sesekali melirik ke bawah.
Preman 2/ “Eh .. . . gue lapar nih”.
Preman 1/ “Sama, gue juga lapar, tadi pagi cuma makan gorengan doank”. Sembari memegang perut.
“Sama Om, aku juga lapar nih Om, kalau Om beli makanan, beli kan juga untuk aku ya om”. Reynan menyambung pembicaraan mereka.
Preman 2/ “Ini bocah ya, udah bising malah berani lagi merintah – merintah”.
Preman 1/ “Udah . . . Elu pergi sanah, lu beli kan makanan untuk kita, sekalian juga beli kan untuk bocah ini, biar gue yang ngejagain nih bocah, kalau elu yang ngejagai bisa – bisa kalian ribut mulu, pengeng kuping gue”.
Preman 1/ “Ya sudah, gue pergi dulu, awas lu kalau macam – macam”. Preman itu mengancam Reynan.
Baru selangkah Preman 1 melangkah kan kaki nya.
#Brruuuuuuugh . . . .
Mereka ambruk karena ulah Reynan. Mereka menimpa satu sama lain.
“Ha ha ha ha . . . . Rasain kalian, emang enak aku kerja’in Lweeeeeeeek . . . .”. Reynan tertawa puas karena keberhasilan nya, ia mengejek kedua preman itu.
Preman 2/ “Dasar lu bocah tengik sia**n”. Ia mencoba berdiri namun tarjatuh lagi.
“Ha ha ha ha, lweeeeeek, Daa . . . Daa . . . Om Om jahat . . .”. Reynan mengejek mereka lagi dan berlari sekencang – kencang keluar dari tempat itu.
Preman 2/ “Ini gara – gara elu, tadi gue bilang enggak usah kasih tuh anak duduk, jadi kayak gini kita kan”. Dumel nya.
Preman 1/ “Elu juga yang salah, kenapa enggak ngikat kaki sama tangan tuh bocah”.
Preman 2/ “Aaaah . . . . Sekarang dia kabur kan”.
Preman1 / “Ya sudah sekarang lu bantu’in gue ngebuka ini tali jangan banyak bacot lu, entar tuh anak keburu jauh lari nya.
.
Dengan nafas tersengal – sengal Reynan berlari sekencang mungkin dan sesekali dia melihat kebelakang untuk memastikan apa kah penculik itu mengikuti nya atau tidak,
Setelah perjalanan lagi Reynan akan sampai ke persimpangan jalan, akan tetapi kaki Reynan sudah tak sanggup lagi untuk berlari, tubuh nya semakin melemah dan wajah nya pun terlihat pucat mengingat seharian ia belum makan sama sekali. Langkah kaki nya semakin pelan dan terasa mengambang, hingga akhir nya ia jatuh pingsan di pinggir jalan dan tak seorang pun yang mengetahui nya.
Dari kejauhan seseorang telah menghenti kan mobil nya ke pinggir jalan, ia melihat Reynan tergeletak di pinggir jalan, ia pun menghampiri nya dan membawa Reynan ke rumah sakit terdekat.
.
Perlahan Reynan membuka mata nya. Ia melihat kesekeliling nya dengan samar – samar, dan ia juga melihat sosok yang tak di kenal nya berdiri tegak memandangi nya.
“Kamu sudah sadar?, syukur lah”. Ujar nya.
Pandangan Reynan masih terlihat samar melihat sosok tersebut.
“Aku dimana?. Om siapa?”.
“Nama Om, Haikal (ternyata dia Haikal). Tadi om enggak sengaja ngeliat kamu pingsan di pinggir jalan maka nya om bawa ke rumah sakit. Oh ya nama kamu siapa?, terus kamu kenapa bisa sampai pingsan di pinggir jalan?”
Reynan/ “Nama aku Reynan Om, tadi aku di culik sama om – om jahat, aku di bawa ke tempat yang sepi dan seram om, terus aku berhasil kabur dan lari sekencang mungkin, abis itu aku enggak tahu lagi om”.
Haikal/ “Kamu di culik?, memang nya orang tua kamu dimana?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu om, mama aku kata nya kerja di Jakarta terus kalau papa kerja di Yogya”.
Haikal/ “Lah terus kalau mama dan papa kamu sama kerja, kamu jadi nya tinggal sama siapa?”.
Reynan/ “Aku di titipin sama nenek aku om”.
Haikal/ “Mereka tahu enggak kalau kamu di culik dan hampir celaka seperti ini?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu om, oh ya om bisa enggak ngantari aku ke rumah nenek aku?”.
Haikal/ “Memang nya rumah nenek kamu dimana?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu nama alamat nya tapi aku hafal jalan nya. Alamat nenek yang aku ingat cuma nama kota nya saja, kota Medan”.
Haikal/ “Medan?, kamu tahu enggak kita sekarang lagi dimana?”.
Reynan/ “Ya tahu lah Om, kita kan lagi di Medan”.
Haikal/ “Enggak sayang, kita ini lagi di Jakarta, bukan di Medan”.
Reynan/ “Jadi, om – om jahat itu bawa aku ke sini. Om tolong om bawa aku pulang ke rumah nenek, atau tolong cari kan mama aku di sini om, tolong om”.
Haikal/ “Ya sudah, nanti om bantu cari’in ya, tapi untuk sementara kamu tinggal saja dulu sama om sampai kita menemukan mama kamu”.
Reynan/ “Beneran om?”.
Haikal/ “Iya”.
“Makasih ya Om”. Reynan memeluk Haikal.
.
.
Flash On . . . .
“Om, mama belum juga ketemu ya?”. Reynan mendekati Haikal yang sedang sibuk dengan laptop dan kamera nya.
Haikal/ “Belum Rey, karena sampai sekarang belum ada yang menghubungi om atau om bos. Kalau mama kamu lihat selebaran itu, mama kamu pasti akan menghubungi kita dan mencari kamu”.
“Tapi kalau mama sama sekali enggak mencari aku gimana Om?, kalau mama sudah enggak ingat lagi sama aku gimana om?”. Wajah Reynan sedikit murung.
Haikal memegang pundak Reynan.
“Rey, mama kamu enggak akan melupakan kamu, mama kamu pasti mencari kamu karena mama kamu sayang sama kamu. Jadi, kamu harus bersabar dan yakin bahwa kamu akan bersama lagi dengan mama kamu”.
Haikal melirik Reynan yang hanya terdiam.
Haikal/ "Ya sudah, kamu tidur saja gih, sudah malam, besok om akan berusaha lebih keras lagi mencari mama kamu".
Reynan/ "Beneran ya Om . . .?".
Haikal/ "Iya, ya sudah sana". Reynan menuruti nya, Haikal melihat Reynan berjalan dengan lesu menuju kamar nya.
.
.
Flash back . . .
#Ddddrrrrtttt
Haikal menyambar ponsel nya lalu mengangkat panggilan yang tertulis OSG alias orang suruhan gue.
#OSG/ “Bos, ini kami dapat kabar kalau si Fatih akan berangkat ke Medan dengan penerbangan siang ini”.
#Haikal/ “Kalian sudah benar – benar masti’in kalau dia memang mau ke Medan?”.
#OSG/ “Iya bos, kami sudah pasti’in dengan benar, ini dia mau check out dari hotel”.
#Haikal/ “Ya sudah, kalian ikuti saja dia, nanti gue pesan kan tiket untuk kalian mengikuti dia sampai ke Medan, kemungkinan dia ke sana karena ingin bertemu dengan keluarga nya”.
#OSG/ “Baik bos. Tapi bos setelah kami ikutin dia sampai ke sana terus kami ngapain bos?”.
#Haikal/ “Lu selidiki kemana pun dia pergi dan dia bertemu dengan siapa, bagaimana pun cara nya elo harus bawa hasil yang memuas kan buat gue”.
#OSG/ “Oke siap bos”.
__ADS_1
.
.
Kini Fatih sudah berada di Bandara International Kuala Namu. Fatih memesan taxi online untuk menuju ke rumah mertua nya. Sedang kan OSH alias orang suruhan Haikal sudah siap – siap mengikuti Fatih. Agar tidak mencuriga kan, mereka bergaya bagaikan orang biasa sehingga menutupi identitas preman nya. Mereka mengikuti Fatih hingga sampai ke rumah orang tua Aina. Dari kejauhan mereka melihat Fatih menemui anak nya, yakni Reynan.
Mereka langsung menghubungi Haikal.
#OSG/ “Bos, dia ke sini untuk menemui anak nya sama mertua nya”.
#Haikal/ “Ya sudah, kalian tunggu saja, dan ikuti dia terus jangan sampai lengah. Kalau bisa kalian culik anak nya sekalian”.
#OSG/ “Oke siap bos, serah kan semua nya sama kami, kami bisa di andal kan”.
#Haikal/ “Oke sip, ya sudah, kalian jangan nelpon – nelpon gue lagi kalau kalian belum berhasil mendapat kan apa pun”.
#OSG/ “Siap bos. Beres”.
.
.
Setelah menunggu akhir nya kesempatan itu pun tiba, dimana Fatih membiar kan Reynan pulang sendiri ke rumah mertua nya, Fatih hanya mengantar nya sampai di depan pagar rumah dan pergi. Reynan hanya menatap kepergian Fatih sampai Fatih menghilang dari pandangan nya. Detik - detik akhir Reynan melangkah kan kaki nya untuk membuka pintu pagar, 2 preman itu bergerak dengan cepat menghampiri Reynan lalu membius nya hingga pingsan dan membawa nya pergi jauh, yakni ke tempat Haikal, Jakarta.
#OSH/ "Bos . . . Kita berhasil nih nyulik anak nya si Fatih dan kita juga sudah ada di Jakarta".
#Haikal/ "Bagus - bagus, kalian memang bisa gue andal kan ha ha ha, ya sudah kalian bawa dia ke tempat biasa, nanti sore abis gue shooting gue ke sana. Loe berdua jaga baik - baik itu anak, jangan sampai kabur dan jangan dampai anak itu kenapa - kenapa, kalau enggak, leher loe berdua yang akan gue pengg**".
#OSH/ "Oke siap bos, aman itu".
#Haikal/ "Hmm".
.
.
“Tolong . . . tolong . . .”. Akhir nya Reynan sadar dan ia berteriak meminta tolong pada seseorang, namun tak seorang pun melewati kawasan yang begitu sunyi dan menyeram kan. Reynan meronta – meronta dari cengkraman tangan besar pemilik kedua orang laki – laki berbadan besar dan sangar.
“Diem kamu, kamu mau kami buat mulut kamu itu tidak bisa ngomong lagi?”. Salah satu dari mereka mengancam Reynan.
Sentak Reynan terdiam, namun ia seorang anak yang cerdik. Ia mengerjain kedua preman itu.
Reynan melirik kedua Preman itu, di saat ada kesempatan dimana kedua preman itu lengah tak memperhatikan nya, di saat itu juga Reynan melakukan rencana nya. Dengan perlahan Reynan merosot kan tubuh nya, lalu meraba pada tali sepatu kedua preman itu. Begitu hati – hati Reynan mengikat tali sepatu mereka satu sama lain lalu mengikat kan nya lagi pada kursi tersebut. Setelah selesai Reynan kembali duduk dengan tenang dan sesekali melirik ke bawah.
Preman 2/ “Eh .. . . gue lapar nih”.
Preman 1/ “Sama, gue juga lapar, tadi pagi cuma makan gorengan doank”. Sembari memegang perut.
“Sama Om, aku juga lapar nih Om, kalau Om beli makanan, beli kan juga untuk aku ya om”. Reynan menyambung pembicaraan mereka.
Preman 2/ “Ini bocah ya, udah bising malah berani lagi merintah – merintah”.
Preman 1/ “Udah . . . Elu pergi sanah, lu beli kan makanan untuk kita, sekalian juga beli kan untuk bocah ini, biar gue yang ngejagain nih bocah, kalau elu yang ngejagai bisa – bisa kalian ribut mulu, pengeng kuping gue”.
Preman 1/ “Ya sudah, gue pergi dulu, awas lu kalau macam – macam”. Preman itu mengancam Reynan.
Baru selangkah Preman 1 melangkah kan kaki nya.
#Brruuuuuuugh . . . .
Mereka ambruk karena ulah Reynan. Mereka menimpa satu sama lain.
“Ha ha ha ha . . . . Rasain kalian, emang enak aku kerja’in Lweeeeeeeek . . . .”. Reynan tertawa puas karena keberhasilan nya, ia mengejek kedua preman itu.
Preman 2/ “Dasar lu bocah tengik sia**n”. Ia mencoba berdiri namun tarjatuh lagi.
“Ha ha ha ha, lweeeeeek, Daa . . . Daa . . . Om Om jahat . . .”. Reynan mengejek mereka lagi dan berlari sekencang – kencang keluar dari tempat itu.
Preman 2/ “Ini gara – gara elu, tadi gue bilang enggak usah kasih tuh anak duduk, jadi kayak gini kita kan”. Dumel nya.
Preman 1/ “Elu juga yang salah, kenapa enggak ngikat kaki sama tangan tuh bocah”.
Preman 2/ “Aaaah . . . . Sekarang dia kabur kan”.
Preman1 / “Ya sudah sekarang lu bantu’in gue ngebuka ini tali jangan banyak bacot lu, entar tuh anak keburu jauh lari nya.
Kedua preman itu berusaha mengejar Reynan namun mereka tak menemu kan nya sebab Reynan sudah sangat jauh dari mereka.
#OSH/ "Hallo Bos, anak si Fatih kabur bos".
#Haikal/ "Apa?, kalian ini gimana?, masa ngejagain anak kecil saja enggak becus".
#OSH/ "Tapi bos, anak kecil ini cerdik otak nya bos, dia berhasil ngerjain kita bos maka nya dia bisa kabur".
#Haikal/ "Kalian ini. Ya sudah gue segera ke sana".
#OSH/ "Baik bos".
Haikal bergegas menuju ke TKP, dia mengendarai mobil nya secara perlahan sembari melihat ke kanan dan ke kiri, ia berharap akan segera bertemu dengan Reynan di jalanan.
Di persimpangan jalan tanpa sengaja Haikal melihat sosok anak kecil tergeletak di pinggir jalan. Ia menghenti kan mobil nya ke pinggir jalan dan turun untuk melihat anak itu tergeletak di pinggir jalan.
"Anak ini kan?". Haikal memperhati kan wajah Reynan yang sudah kotor terkena abu dan keringat. Kedua preman itu pun muncul dengan nafas nya yang tersengal - sengal.
OSH/ "Huh . . . Huh . . huh . . . Bos . . Sorry bos Anak nya belum ketemu juga, lari nya kenceng banget".
Haikal mengkeplak kepala mereka satu per satu.
"Kerjaan kalian berdua enggak beres, di suruh jagain anak kecil saja enggak becus".
OSH/ "Sorry bos. Laaah ini kan bocah itu". Salah satu preman tersebut menujuk kan Reynan yang masih tergeletak di jalanan.
Haikal/ "Loe yakin ini dia?".
OSH/ "Yakin bos, masa iya kami lupa".
Haikal/ "Ya sudah, kalian angkat dia ke dalam mobil gue, abis tuh loe berdua cabut".
OSH/ "Emang nya mau bos apa' in nih bocah?".
Haikal/ "Bukan urusan kalian. Uang sudah gue transfer ke rekening kalian, dan ingat jangan sampai ada yang tahu soal ini".
OSH/ "Siap bos, rahasia aman".
Haikal/ "Ya sudah, gue cabut dulu".
OSH/ "Oke bos".
.
Haikal membawa Reynan ke rumah sakit yang tak jauh dari apartemen nya. Reynan pun di tangani langsung oleh dokter spesialis anak di rumah sakit itu dan di letak kan di ruangan Vvip. Perlahan Reynan membuka mata nya. Ia melihat kesekeliling nya dengan samar – samar, dan ia juga melihat sosok yang tak di kenal nya berdiri tegak memandangi nya.
“Kamu sudah sadar?, syukur lah”. Ujar nya yang sudah lelah menunggu Reynan.
Pandangan Reynan masih terlihat samar melihat sosok Haikal yang berdiri di hadapan nya.
“Aku dimana?. Om siapa?”.
“Nama Om, Haikal. Tadi om enggak sengaja ngeliat kamu pingsan di pinggir jalan maka nya om bawa ke rumah sakit. Oh ya nama kamu siapa?, terus kamu kenapa bisa sampai pingsan di pinggir jalan?”
Reynan/ “Nama aku Reynan Om, tadi aku di culik sama om – om jahat, aku di bawa ke tempat yang sepi dan seram om, terus aku berhasil kabur dan lari sekencang mungkin, abis itu aku enggak tahu lagi om”.
Haikal/ “Kamu di culik?, memang nya orang tua kamu dimana?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu om, mama aku kata nya kerja di Jakarta terus kalau papa kerja di Yogya”.
Haikal/ “Lah terus kalau mama dan papa kamu sama - sama kerja, kamu jadi nya tinggal sama siapa?”.
Reynan/ “Aku di titipin sama nenek aku om”.
Haikal/ “Mereka tahu enggak kalau kamu di culik dan hampir celaka seperti ini?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu om, oh ya om bisa enggak ngantari aku ke rumah nenek aku?”.
Haikal/ “Memang nya rumah nenek kamu dimana?”.
Reynan/ “Aku enggak tahu nama alamat nya tapi aku hafal jalan nya. Alamat nenek yang aku ingat cuma nama kota nya saja, kota Medan”.
Haikal/ “Medan?, kamu tahu enggak kita sekarang lagi dimana?”.
Reynan/ “Ya tahu lah Om, kita kan lagi di Medan”.
Haikal/ “Enggak sayang, kita ini lagi di Jakarta, bukan di Medan”.
Reynan/ “Jadi, om – om jahat itu bawa aku ke sini. Om tolong om bawa aku pulang ke rumah nenek, atau tolong cari kan mama aku di sini om, tolong om”.
Haikal/ “Ya sudah, nanti om bantu cari’in ya, tapi untuk sementara kamu tinggal saja dulu sama om sampai kita menemukan mama kamu”.
Reynan/ “Beneran om?”.
Haikal/ “Iya”.
“Makasih ya Om”. Reynan memeluk Haikal.
Flash On . . .
Haikal meletak kan setumpuk selebaran orang hilang untuk mencari ibu Reynan. Semaleman ia dan Reynan membuat selebaran itu sehingga dia kekurangan tidur dan meninggal kan rasa kantuk yang luar biasa.
"Kertas apa' an tuh kal, banyak gitu?". Manager nya melihat selebaran itu.
"Bukan apa - apa, ini cuma sampah naskah yang sudah lewat, mau gue buang". Dengan sigap Haikal mengambil selebaran - selebaran itu agar manager nya tidak melihat nya.
Manager/ "Hmm . . . Ya sudah, loe hancuri saja pakai mesin penghancur kertas atau enggak loe bakar saja, biar enggak ada yang petinggalan. Loe tahu kan gimana zaman sekarang, banyak peniru ide - ide kreatif".
Haikal/ "Rencana nya gitu, mau gue bakar saja. Cuma kalau ngebakar nya di apartemen enggak mungkin, bisa - bisa gue kenak marah sama pihak keamanan".
__ADS_1
Manager/ "Iya, oh ya. Jadi loe sekarang tinggal di apartemen saja nih?".
Haikal/ "Ya iya lah, lagian gimana gue mau balik ke rumah, rang wartawan masih saja nguber - nguber gue".
Manager/ "Sudah enggak lagi, mereka sudah tidak tertarik dengan berita itu, jadi mending lu balik saja ke rumah, ketimbang lu sendirian di apartemen".
Haikal/ "Maksud loe?".
Manager/ "Lah, jadi lu enggak tahu?".
Haikal/ "Enggak tahu apa?".
Manager/ "Maka nya lu itu harus nongkrongin update' an terkini. Jangan mentang - mentang lu lagi sibuk lu jadi kudet. Berita itu sudah kelar, mereka sudah mengklarifikasi semua nya di saat konferensi pers, kan mereka juga minta lu ikut untuk mengungkap kan pernyataan dari lu tapi berhubung karena lu mendadak ada job di Jepang maka nya pernyataan lu di anggap sama dengan mereka, terus mereka juga punya bukti - bukti kuat untuk memenjarai si pelaku".
Haikal/ "Terus pelaku nya sudah ketangkap?".
Manager/ "Denger - denger sih sudah, tapi menurut keterangan si pelaku, dia tidak sendirian, kemungkinan ada dalang nya gitu lah. Untung saja berita itu enggak membawa dampak buat karir loe, kalau enggak. Bisa tamat kita".
Haikal/ "Iya . . . Untung saja, ya sudah gue cabut ya, sekalian gue mau ngebakar ini".
Manager/ "Iya hati - hati loe, jangan sampai terkena gosip - gosip lagi loe. Waspada . .! Paparazi dimana - mana". Teriak nya.
"Iyaaaaa". Haikal pergi tanpa meninggal kan selebaran itu.
.
.
Flash Back . . .
#“Hari ini kita mendapat kan berita yang mengejut kan dari seorang actor yang baru – baru ini terjun ke dunia vloger yaitu Haikal Setyo yang kata nya sedang dekat dengan seorang wanita bercadar dan yang kata nya lagi sang wanita tersebut itu berstatus istri orang”.
#“Waaah . . . itu berita yang mengejut kan banget buat kita, apa lagi dengar – dengar kata nya wanita tersebut itu istri nya dari actor Indonesia juga yang ber-insial RM”.
#“Iya, mengejut kan banget kan, nah mereka itu tanpa sadar tertangkap oleh kamera salah satu wartawan swasta, mereka sedang duduk bareng di satu caffe gitu”.
#“Waah jadi penasaran sama berita nya”.
#“Ya sudah, dari pada kita penasaran – penasaran, lebih baik kita lihat saja langsung berita selengkap nya”.
Sebelum berangkat ke lokasi syuting, Haikal meluang kan waktu nya untuk menonton tv di rumah nya. Haikal mendapat kan berita yang mengejut kan buat diri nya di pagi hari. Dengan tekun ia menonton berita itu.
.
.
Dari Flash back ke flash back . .
“Bos . . . Apa kabar? Lama tak jumpa?”. Haikal menyapa seorang sutradara sekaligus produser film Indonesia ternama, yakni Mas Hanung. Tanpa sengaja ia bertemu beliau di PH milik nya yang kebetulan Haikal telah di undang untuk mengikuti casting film.
Mas Hanung/ “Alhamdulillah sehat Kal, kamu sehat?”.
Haikal/ “Alhamdulillah aku sehat juga bang”.
Mas Hanung/ “Oh ya, kamu sudah mengikuti casting nya?”.
Haikal/ “Sudah bang, baru saja selesai”.
Mas Hanung/ “Hmm, kamu ikut casting jadi peran siapa?”.
Haikal/ “Aku casting jadi peran nya Didi sahabat nya Gilang bang karena peran itu yang cocok buat aku, kalau peran utama nya aku enggak masuk criteria karena peran utama nya memang harus yang benar – benar penghafal Al – Qur’an, sedang kan aku enggak bisa hi hi hi”.
Mas Hanung/ “Iya, aku itu mau buat film yang real Kal, maka nya aku mau ngedapatin pemeran utama nya itu benar – benar penghafal Al – Qur’an sesuai dengan karakter nya”.
Haikal/ “Hmm iya iya, sudah dapat bang pemain nya?”.
Mas Hanung/ “Belum sih, rencana aku tuh mau nya si Restu, karena pas banget untuk dia peran ini, tapi kami masih belum dapat time nya untuk ketemu sama dia”.
Haikal/ “Hmm . . . ya sudah bang, biar aku saja yang nge- lobi Restu, aku sama Restu kan temanan tuh, jadi kemungkinan Restu enggak masalah kalau aku yang nawari peran ini”.
Mas Hanung/ “Boleh juga sih, ya sudah, kamu kasih tahu saja dulu Restu soal penawaran ini, ya kayak ngasi bayang – bayangan gitu lah, nanti selebih nya biar aku sama anak – anak yang lain nge- handle nya”.
Haikal/ “Oh oke bang”.
.
.
Haikal mengendarai mobil nya menyusuri jalanan ibu kota yang sedikit macet. Tanpa sengaja mata Haikal tertangkap satu pemandangan, yakni sosok Shahilla yang sedang duduk di caffe pinggir jalan sembari menggendong Zahira. Haikal memutar kan arah mobil menuju ke caffe tersebut untuk menemui Shahilla.
“Assalamualaikum”. Sapa nya dengan mengaget kan Shahilla.
Shahilla melihat diri nya.
“Waalaikumussalam”.
“Kamu berdua saja di sini?, Restu kemana?”. Haikal celingukan mencari sosok Restu.
“Iya, Restu masih di lokasi shooting yang tak jauh dari sini, bentar lagi dia ke sini”. Shahila menjawab tanpa melihat wajah Haikal.
Haikal/ “Ouh . . . pas banget lha kalau begitu, rencana nya abis dari sini aku memang mau jumpa’ in Restu, ada yang mau aku omongin ehh enggak tahu nya ketemu kamu di sini. Aku boleh kan sekalian nunggu’ in Restu di sini?”. Haikal melihat mata Shahilla dengan terang – terangan.
Shahilla mengangguk pelan.
“Iya, silah kan”.
“Terimakasih”. Haikal tersenyum sembari menarik kursi yang berhadapan dengan Shahilla.
Haikal tahu bahwa Shahilla risih dengan ada nya diri nya dan di tambah lagi mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung di caffe, sebab mereka curiga bahwa lelaki yang berada bersama nya adalah Haikal. Haikal melirik Shahilla yang focus pada ponsel nya.
#"Bos elo dimana?, di sini gue melihat Haikal duduk mesra bersama dengan wanita bercadar tapi gue enggak tahu wanita itu siapa, tapi kemungkinan wanita itu istri nya Restu soal nya gue sempat ngeliat anak yang wanita itu gendong, anak itu mirip banget dengan Zahira anak nya Restu. Buruan ke sini di Caffe Putih yang ada di jalan Xxxxx, nanti elo kalau ke sini pura – pura saja, jangan sampai ketahuan sama mereka kalau elo memata – mata’in mereka”. Haikal sengaja mengirim kan pesan itu kepada salah satu wartawan swasta dan berpura – pura menjadi paparazzi.
#Oke bos Misterius, gue on the way”. Wartawan itu membalas pesan dari Haikal.
Haikal gelisah melirik ke arah luar caffe, untuk memasti kan apakah wartawan itu sudah datang atau belum, akhir nya Haikal melihat wartawan itu sudah tiba di parkiran. Kini Haikal siap – siap agar terlihat dekat dengan Shahilla.
“Oh ya, kamu ingat enggak dulu waktu terakhir kali nya aku di hukum sama Mu’alim Harun?”. Haikal melirik ke arah wartawan itu yang ingin masuk ke dalam Caffe.
Shahilla/ “Ouh, waktu kamu ngerjain saya sampai jatuh pingsan?”.
Haikal mengangguk kan kepala nya.
“Iya. Waktu itu aku kesal sama kamu maka nya aku ngerjain kamu, aku kesal karena aku sering di banding – banding kan sama kamu dan kamu selalu ada setiap kali aku di hukum, aku merasa terhina, terus di saat aku sudah berhasil ngerjain kamu entah kenapa hati aku tidak merasa puas, yang ada penuh penyesalan, di tambah lagi kamu tidak menyalah kan aku bahkan kamu meminta Mu’alim Harun untuk melepas kan hukuman itu. Di saat itu aku merasa tertampar, karena orang yang sudah aku celakai malah berbuat baik sama aku dan memaaf kan aku begitu mudah nya. Aku minta maaf ya La atas perbuatan aku di masa lalu”.
Di balik cadar nya, Shahilla terlihat tersenyum. Wartawan tersebut berhasil mengambil foto di saat moment itu. Wartawan itu tiba – tiba keluar dari caffe karena mendapat kan telpon dari seseorang lalu pergi dari caffe itu.
Haikal/ “Tidak La, surat itu untuk kamu bukan untuk Aina, aku sama sekali tidak menyukai Aina, aku baik sama Aina karena Aina adalah sahabat kamu, aku berusaha mencari tahu tentang kamu melalui Aina, aku suka nya sama kamu bahkan sam . . . .”.
“Assalamualaikum sayang”. Tiba – tiba Restu muncul memotong ucapan Haikal, ia mengecup kening Shahilla. Sentak mereka terkejut dan berharap – harap cemas, terlebih lagi Haikal yang mata nya langsung melirik ke arah dimana wartawan itu berada. Haikal bernafas lega ketika dia melihat wartawan itu sudah tidak ada. Timming yang pas.
“Waalaikumussalam”. Seru mereka secara serentak.
“Maaf ya, lama nunggu’ in nya”. Restu menarik kursi yang berada di sebelah Shahilla.
“Tidur Zahira nya?”. Restu mengintip Zahira dari gendongan.
“Iya Mas”.
“Uluuuh uluuuuh sayang, gemesin banget sih kamu”. Restu mengelus pipi Zahira.
Sedang kan Haikal melihat keserasian mereka.
“Eh. . . Bro tadi kata Shahilla ada yang mau loe omongin ke gue maka nya nunggu’ in gue di sini, emang mau omongin apa’an?”. Restu beralih melihat Haikal yang berhadapan dengan nya.
. . . .
.
Haikal menjelas kan semua nya tentang penawaran tersebut/ “Ya sudah lah, gue langsung cabut saja ya, soal nya setengah jam lagi gue ada photo shoot endorse’ an ha ha ha”.
Restu/ “Ha ha ha iya iya yang sekarang sudah jadi youtubers yang endorse’ an nya banyak”.
Haikal/ “Ha ha ha. Alah lu bikin gue malu saja. Ya sudah gue cabut, La aku cabut ya. Assalamualaikum”. Haikal melirik Shahilla yang tertunduk.
“Waalaikumussalam”. Secara serentak mereka menjawab salam dari Haikal yang sudah berjalan keluar dari caffe.
.
.
Haikal merasa gelisah.
“Kira – kira wartawan itu ngeliat enggak ya pas Restu datang?, kalau dia lihat, sama saja bohong donk, percuma donk”.
Ia mengeluar kan ponsel nya dan mengirim kan pesan pada wartawan tersebut.
Haikal# “Gimana bos?, benar kan apa kata gue?”.
Wartawan# “Iya bos benar, mereka ada di caffe berdua’an. Tapi sorry bos, gue tadi enggak lama ngikuti mereka soal nya gue dapat telpon dari binik gue kalau anak gue kecelakaan, maka nya gue langsung cabut. Tapi tenang gue sudah dapat kok foto terbaik nya dan rencana nya setelah urusan anak gue selesai baru gue buat artikel”.
Haikal# “Oke sip, gue tunggu kabar loe lagi, elo kirim nomor rekening elo sekarang juga, entar gue transfer uang untuk biaya pengobatan anak loe”.
Wartawan# “Beneran bos?, Alhamdulillah”.
Haikal# “Ya sudah, pokok nya gue tunggu artikel itu, oh ya loe kirim kan juga foto mereka ke gue”.
Wartawa# “Oke siap bos”.
Flash On di saat Haikal menonton tv . . .
"Bos . . . Thanks atas kerja sama nya".
Haikal menelpon wartawan swasta itu setelah ia mendapat kan berita yang membuat hati nya senang, lalu ia tertawa puas karena rencana awal nya berhasil.
“Kita tunggu saja nanti, kita akan buat gempar seluruh Indonesia ini”.
__ADS_1