
Chapter 51
Hari ini Shahilla terburu - buru menyiap kan makanan untuk Restu, dan ia juga kwalahan karena tidak ada yang bisa mengirim kan makanan itu, sehingga ia harus mengantar nya sendiri pada suami nya itu.
"Na . . . Aku titip Zahira sebentar boleh?, aku mau ngantar makanan untuk mas Restu". Shahilla menemui Aina yang sedang berdiam di dalam kamar nya.
"Iya La, tapi kenapa enggak suruh si Restu nya saja yang kemari?". Aina berdiri.
Shahilla/ "Tidak usah Na, biar aku saja yang mengantar nya, aku enggak mau tetangga - tetangga kamu mikir yang aneh - aneh kalau tahu mas Restu ke rumah kamu, jadi mending aku yang ke sana".
Aina/ "Hmm . . . Ya sudah kamu hati - hati di jalan ya".
Shahilla/ "Iya Na, oh ya nanti kalau Zahira nangis, kamu kasih saja Zahira susu yang sudah aku siap kan di dalam mesin pemanas susu. Ya sudah aku pergi, assalamualaikum".
Aina mengangguk pelan dan melihat kepergian Shahilla dengan memakai mobil Aina.
"Waalaikumussalam".
Di dalam pertengahan jalan Shahilla merasa kan ada nya kejanggalan pada mobil Aina, ia merasa bahwa ban mobil tersebut kempes. Shahilla menghenti kan mobil nya ke bahu jalan, lalu turun untuk mengecheck ban mobil itu. Benar dugaan Shahilla, ban mobil ternyata bocor. Shahilla kembali masuk ke dalam mobil dan mengambil ponsel nya untuk menghubungi Restu.
#Shahilla/ "Hallo Assalamualaikum mas".
#Restu/ "Waalaikumussalam sayang".
#Shahilla/ "Mas, ini adek mau ngantar makanan untuk mas tapi di tengah jalan ban mobil nya kempes".
#Restu/ "Ya ALLAH. Kenapa enggak bilang - bilang ke mas dari awal kalau kamu mau ngantar makanan, kan mas bisa ngambil sendiri atau suruh kurir, ya sudah ini adek lagi di jalan mana?".
#Shahilla/ "Ini adek lagi di jalaaaan . . . .".
#Praaaaaaaaank . . .
Tiba - tiba sesorang memecah kan kaca pintu mobil. Mereka hancur serta serpihan - serpihan kaca nya terlempar ke seluruh tubuh Shahilla.
"Aaaaaaaaaaaa". Shahilla menjerit histeris dan ketakutan hingga ponsel nya terjatuh.
Sedang kan Restu sangat panik ketika mendengar suara itu.
#Restu/ "Hallo dek, dek, dek . . . Sayang . . . Sayang . . .". Restu memanggil - manggil Shahilla namun tak di dengar oleh Shahilla.
Shahilla semakin ketakutan ketika pria berbadan besar itu berhasil membuka pintu mobil dan berusaha menarik tangan Shahilla.
"Kalian siapa?, kalian mau apa?, tolong . . . Tolong . . Maaaaas tolong adek maaaas". Shahilla meronta - ronta dan berteriak meminta pertolongan pada orang lain namun tak seorang pun yang melintasi jalan.
"Diam, ikut kami, kalau enggak, nyawa loe melayang". Pria itu mengancam Shahilla sembari menutup mulut dan mata nya dengan kain. Shahilla di tarik paksa masuk ke dalam mobil mereka, dan membawa Shahilla pergi.
Restu sendiri semakin panik setelah serta menangis. Secepat kilat ia meninggal kan lokasi syuting dan menghubungi Aina.
#Restu/ "Hallo assalamualaikum Na, kamu lagi dimana?".
#Aina/ "Ini aku lagi di rumah bersama Zahira. Kenapa tu?, Shahilla belum nyampek ya ke tempat kamu?".
#Restu/ "Nanti aku cerita' in ke kamu, aku minta tolong sama kamu tolong jaga' in Zahira baik - baik dan kamu jangan kemana - mana, pasti kan pintu rumah atau jendela nya ketutup rapat".
#Aina merasa kebingungan dan khawatir / "Memang nya ada apa Tu, apa terjadi sesuatu? Restu?, hallo . . Hallo".
Restu menutup panggilan nya. Ia enggak mungkin langsung mencerita nya pada Aina. Restu nge - check GPS ponsel Shahilla dan ia menemukan posisi GPS itu berada.
Dengan kecepatan tinggi Restu mengendarai mobil nya. Dari kejauhan ia sudah melihat mobil jazz hitam terparkir di bahu jalan dengan keadaan kaca nya pecah.
Restu berlari mendekati mobil namun tak menemukan Shahilla, Restu melihat semua barang - barang Shahilla masih utuh di dalam mobil, yang hilang hanya Shahilla nya saja. Restu menangis sejadi - jadi nya.
"Ya ALLAH, dimana istri ku Ya ALLAH? Sayang kamu dimana?".
Restu menghubungi Aan dan Joe, ia memberitahu mereja lalu menyuruh mereka datang ke lokasi kejadian. Mereka menderek mobil Aina sampai ke rumah Aina.
#Ting Nong . . .
"Assalamualaikum".
Aina menggendong Zahira untuk keluar dari kamar lalu mengintip di balik jendela ketika ia mendengar bunyi bel. Aina melihat yang berada di luar ialah Restu, Joe dan Aan. Aina membuka kan pintu untuk mereka. Restu langsung mengambil alih menggendong Zahira.
"Kalian ke sini?, Shahilla dimana?".
Aina melirik ke jalanan, ia melihat mobil sudah terpakir di garasi nya, lalu sekilas melihat kaca mobil nya hancur.
"Shahilla dimana?, apa yang terjadi dengan Shahilla". Aina menarik kerah baju Joe lalu melirik Restu yang sudah menitih kan air mata nya sembari menciumi wajah Zahira.
Dengan berat Joe berkata/ "Shahilla di culik".
Aina shock mendengar nya lalu jatuh pingsan, dengan sigap Joe menampung tubuh Aina lalu menggendong nya masuk ke dalam rumah. Mereka bertambah panik dan segera membangun kan Aina. Beberapa menit kemudian Aina pun sadar.
"Shahilla dimana?". Tanya kembali, Aina semakin shock.
"Kamu tenang Na, tenang, kamu minum dulu biar tenang". Joe menyodor kan segelas air putih pada Aina. Mereka hening sejenak sembari menenang kan Aina hingga Aina tertidur.
Restu/ "Sebaik nya Zahira aku bawa saja ke apartemen, karena enggak mungkin Zahira ada di sini mengingat kondisi Aina yang masih belum stabil. Joe tolong kamu jagain Aina di sini, aku mau pulang An".
Aan/ "Tapi Tu, apa enggak sebaik nya kamu lapor kan saja ke kantor polisi?".
Restu/ "Ini belum 24 jam An, percuma kalau kita melapor ke mereka sekarang".
Joe/ "Iya kamu benar Tu. Hmm aku yakin yang menculik Shahilla itu penculik yang sama dengan penculik nya Reynan".
Aan/ "Iya, aku juga mikir nya seperti itu, karena kalau memang itu rampok atau begal otomatis mereka meninggal kan Shahilla bukan malah sebalik nya".
"Huuuuh. . . Ya sudah nanti kita bicara kan ini lagi, yuk An, kami balik ya Joe, Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Restu membawa Zahira kembali ke apartemen mereka. Tiba di apartemen pun Ia masih menggendong Zahira dengan erat.
"Tu, aku langsung balik ya, aku mau minta ke Karimah untuk menjaga Zahira". Aan mengulur kan bantuan nya tanpa Restu neminta nya.
"Tidak usah An, nanti merepot kan istri kamu, aku bisa kok ngejagain Zahira". Restu menolak bantuan itu.
"Tapi Tu, kan enggak mungkin kalau kamu mencari Shahilla sambil bawa - bawa Zahira, kasihan Zahira nya Tu". Aan memaksa.
Restu/ "Fuht . . . Ya sudah, nanti kalau aku lagi keluar saja, aku minta tolong sama Karimah untuk menjaga Zahira, kalau aku lagi di apartemen aku saja yang menjaga Zahira".
Aan/ "Hmm . . . Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu, besok pagi aku ke sini lagi".
Restu mengangguk pelan.
"Terimakasih ya An".
"Iya Tu, ya sudah, Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".
Restu berjalan menuju ke kamar nya, ia meletak kan Zahira di atas tempat tidur. Ia melihat Zahira begitu aktif memain kan tangan dan kaki nya. Restu tersenyum namun menangis tersedu - sedu dan suara teriakan Shahilla masih terngiang di telinga nya.
.
.
Flash Back . . .
Haikal menghubungi orang suruhan nya.
#Haikal/ "Kalian batal kan saja menculik anak nya, sekarang kalian culik saja ibu nya, Shahilla dan bawa dia ke sini".
#OSH/ "Baik bos, siap laksana kan".
Haikal/ "Itu akan mempermudah gue untuk mendapat kan Shahilla ha ha ha". Ia mengutara kan tujuan nya di hadapan Reynan yang sudah di ikat di kursi serta mulut nya yang di bungkam oleh kain. Reynan menatap nya dengan sinis.
Kedua orang suruhan nya sudah memantau di depan rumah Aina, mereka melihat Shahilla keluar dengan terburu - buru lalu berlalu dengan mobil jazz hitam. Mereka mengikuti jalanan Shahilla.
Di dalam pertengahan jalan mobil yang di kendarain Shahilla berhenti kan ke bahu jalan, mereka melihat Shahilla turun dari mobil untuk mengecheck ban mobil nya yang bocor. Shahilla kembali masuk ke dalam mobil. Mereka menunggu Shahilla untuk keluar kembali dari mobil, namun ia tak kunjung keluar, hingga kesabaran mereka sudah habis dan . . .
#Praaaaaaaaank . . .
Tanpa basa - basi mereka nekat memecah kan kaca pintu mobil.
"Aaaaaaaaaaaa". Shahilla menjerit histeris dan ketakutan hingga ponsel nya terjatuh.
Sedang kan Restu sangat panik ketika mendengar suara itu.
#Restu/ "Hallo dek, dek, dek . . . Sayang . . . Sayang . . .". Restu memanggil - manggil Shahilla namun tak di dengar oleh Shahilla.
Mereka berhasil membuka pintu mobil dan berusaha menarik tangan Shahilla secara paksa.
"Kalian siapa?, kalian mau apa?, tolong . . . Tolong . . Maaaaas tolong adek maaaas". Shahilla meronta - ronta dan berteriak meminta pertolongan pada orang lain namun tak seorang pun yang melintasi jalan.
"Diam, ikut kami, kalau enggak, nyawa loe melayang". Pria itu mengancam Shahilla sembari menutup mulut dan mata nya dengan kain. Shahilla di tarik paksa masuk ke dalam mobil mereka, dan membawa Shahilla pergi.
Flash on . . .
Kedua preman itu mendorong tubuh Shahilla hingga berada di dekapan Haikal.
"Heh . . . Kalian jangan kasar - kasar dengan wanita". Haikal memegang bahu Shahilla, maski tak terlihat dan tangan nya pun masih terikat, Shahilla berusaha menyibgkir kan tangan Haikal.
"Bos, kita lapar nih, dari tadi pagi belum makan, malah belum ngopi lagi". Pria sangar berambut gondrong itu memegang perut nya.
"Bising banget sih loe pada, ganggu orang saja, itu sudah gue beli kan makanan untuk kalian, pergi sana". Haikal menunjuk kan ke arah drum minyak yang di atas nya terletak banyak makanan.
__ADS_1
Kedua preman itu pun berlari menyerbu makanan - makanan tersebut.
"Jangan kalian habis kan, sisa kan buat gue sama mereka berdua". Teriak nya.
"Iya booooos".
Haikal kembali fokus pada Shahilla, ia menyuruh Shahilla duduk di kursi kayu yang berada tak jauh dari Reynan. Haikal membuka penutup mulut Shahilla.
"Hah . . . Siapa kalian?". Shahilla sama sekali tidak mengenali suara Haikal di sebab kan ia memakai masker pada mulut nya.
"Kamu yakin ingin tahu siapa aku?". Haikal membisik kan pada telinga Shahilla.
"Mmmm Mmmmm Mmmm". Reynan mencoba untuk berbicara pada Shahilla.
"Heh . . . Diem kamu, jangan berisik". Haikal membentak Reynan.
Shahilla menyadari bahwa ada orang lain yang di sekap oleh mereka selain diri nya, akan tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Reynan.
"Siapa kalian?, Apa mau kalian?, lepasi aku". Shahilla meronta - ronta.
"Shahilla sayang".
Shahilla terkejut ketika Haikal memanggil nya sayang, ternyata orang itu mengenali diri nya dan memang sengaja menculik diri nya.
"Siapa kamu sebenar nya?".
"Kamu pasti tahu siapa aku, tapi janji kamu harus siap - siap untuk mengetahui nya hi hi hi". Haikal membuka masker nya lalu perlahan membuka kan kain penutup mata Shahilla.
Pandangan Shahilla masih terlihat samar dan perlahan terlihat jelas. Mata Shahilla terbelalak ketika dia melihat sosok Haukal yang berdiri di hadapan nya.
"Haikal?".
Haikal/ "Hai . . . Sudah tahu kan sekarang?".
Shahilla sangat terkejut mengetahui bahwa orang yang menculik diri nya adalah Haikal.
"Uuuummm . . . Uummm . . .". Reynan kembali berusaha berbicara. Shahilla pun menoleh ke arah kiri nya.
"Reynan?". Shahilla semakin terkejut melihat Reynan yang terikat di kursi.
"Jadi selama ini kamu yang menculik Reynan?". Shahilla berteriak.
"Ha ha ha, kamu terkejut?. Oh iya . . Kamu mau tahu kejutan lain nya dari aku?".
Haikal mengambil ponsel nya lalu memutar kan rekaman pembicaraan nya bersama seorang wartawan yang ia suruh untuk menyebar kan fitnah waktu itu.
Shahilla semakin shock dan geram.
"Kenapa kamu melakukan semua itu pada kami?, apa salah kami ke kamu?".
Haikal mendekati Shahilla dan memegang dagu Shahilla dengan paksa.
"Salah kalian?, salah kalian sudah menghancuri kehidupan aku".
Shahilla masih belum mengerti apa maksud Haikal.
"Apa maksud kamu?".
Haikal/ "Masih belum faham juga apa maksud aku?, maksud aku balas dendam dan membuat kalian menderita. Ha ha ha".
Shahilla melihat Haikal bukan seperti sosok Haikal yang ia kenal. Bahkan ia berpikir apa kah dia benar - benar Haikal atau orang lain.
"Ck . . . Balas dendam tidak akan pernah membuat kamu puas atau pun bahagia, bahkan kamu akan selama nya menderita. Kamu berusaha membuat orang lain menderita justru malah sebalik nya, kamu yang akan merasa kan penderitaan itu seumur hidup kamu". Shahilla berkata tanpa rasa takut bahkan ia menantang Haikal.
Haikal geram dan menjambak rambut Shahilla yang masih tertutupi oleh hijab nya.
"Kalau saja kamu langsung menebak bahwa surat itu untuk kamu bukan untuk Aina, Kalau saja Aina berkata jujur ke kamu mengenai surat itu, Kalau saja kamu membalas surat aku, kalau saja kamu melihat ke arah ku, kalau saja kamu mencintai dan memilih aku, semua nya tidak akan terjadi seperti ini". Haikal menetes kan air mata nya sembari tangan nya meraba ke wajah Shahilla dan ingin membuka cadar Shahilla. Shahilla pun meronta - ronta dan merintih kesakitan. Reynan pun menangis sembari meronta - ronta menghenti kan Haikal.
"Kamu tahu?, sudah lama sekali aku ingin melihat wajah cantik mu ini, sudah lama sekali aku mengidam - ngidam kan bahkan membayang kan bagaimana rupa kamu yang asli". Perlahan ia membuka cadar Shahilla.
Air mata Shahilla tak henti mengalir dan ia berusaha menghindar, namun usaha nya sia - sia. Cadar yang selalu ia jaga pun tersibak,
wajah cantik Shahilla yang hanya milik Restu seorang kini terlihat jelas oleh Haikal. Mata Haikal berbinar - binar melihat wajah Shahilla.
"Ternyata benar dugaan ku, ternyata kamu cantik bagai kan bidadari yang turun dari syurga, aku tidak salah mencintai wanita secantik kamu". Haikal menyentuh wajah Shahilla yang sudah basah karena keringat dan air mata nya.
#Cuiiiiiiih . . .
Shahilla meludahi wajah Haikal, sontak Haikal menghapus ludah Shahilla yang ada di wajah nya.
Haikal/ "Ha ha ha ha, aku rela kamu meludahi ku semau mu, asal kan kau menjadi milik ku".
Shahilla/ "Jangan mimpi kamu. Sampai kapan pun kamu enggak akan pernah bisa memiliki aku, bahkan jika aku mati lalu di hidup kan kembali aku tidak akan pernah menjadi milik kamu. Aku Shahilla az - Zahra hanya milik ALLAH dan Restu Muhammad. Ngerti kamu??".
Haikal mengambil botol kaca yang ada di dekat nya lalu melempar nya hingga pecah.
"Kalau tidak, nyawa dia akan lenyap". Ia mengancam Shahilla. Reynan meronta - ronta.
"Kamu benar - benar sudah enggak waras". Shahilla meneriakin nya.
"Terserah kamu, aku akan ngasi pilihan untuk kamu. Kamu pilih meninggal kan suami kamu dan hidup bersama ku menjadi istri ku atau nyawa anak ini dan nyawa kamu melayang?". Mata pisau nan tajam sudah lengket pada kulit leher Reynan yang tipis.
Haikal melempar kan ponsel nya pada Shahilla.
"Keputusan ada di tangan kamu, dan nyawa kalian juga ada di tangan kamu. Kalau kamu memilih pilihan pertama, kamu silah kan hubungi suami kamu dan bilang sama dia kalau kamu ingin bercerai dengan nya, kalau tidak, kamu tahu jawaban nya".
Shahilla melihat Reynan menangis ketakutan sembari menggeleng pelan.
Tubuh nya bergetar. Sungguh pilihan yang sangat kejam untuk diri nya.
Haikal melepas kan Reynan lalu mendekati Shahilla. Ia menghubungi ke nomor selular Restu dan meloadspeaker ponsel nya.
#Restu/ "Hallo siapa ini?". Terdengar suara Restu.
Haikal memaksa nya untuk berbicara karena Shahilla enggan berbicara. Shahilla melirik wajah geram Haikal sembari menelan ludah nya.
#"Mmm maas". Shahilla terbata dalam kata.
#Restu/ "Hallo sayang, sayang kamu sekarang ada dimana?". Restu terdengar panik.
#Shahilla/ "Mmmaaas hu hu hu". Ia tak mampu menahan tangis nya.
#Restu/ "Sayang, sayang, kasi tahu mas, sekarang kamu ada dimana, mas akan segera ke sana, kamu jangan takut".
"Cepat ngomong". Haikal menjambak rambut Shahilla.
"Aaauuuu". Shahilla merintih kesakitan.
#Restu/ "Sayang . . ., Heh kalian, jangan coba - coba melukai istri saya. Siapa kalian?, mau apa kalian?". Ia berteriak.
"Om Restuuuuuuuu, kami ada di gudang nya om Haikal om . . .". Tiba - tiba Reynan berteriak, ia berhasil membuka penutup mulut nya.
#Restu/ "Reynan . . .?".
"Sia**n . . .". Haikal geram, ia menjatuh kan ponsel nya lalu melempar kan sebuah kursi kayu ke arah Reynan, secepat kilat Shahilla berusaha menggerak kan tubuh nya untuk melindungi Reynan.
#Brrruuuuught . . .
Kursi itu melayang ke tubuh Shahilla dan membuat nya jatuh pingsan.
.
.
"Rey . . . Reynan . . . Sayang . . . Hallooo ". Restu berteriak pada ponsel nya.
"Ada apa Tu . . . ?, siapa yang menelpon kamu?". Aan menghampiri Restu ke dalam kamar nya ketika ia mendengar Restu berteriak.
Restu menangis dan terlihat sangat panik.
"Kamu tahu dimana alamat gudang kopi milik Haikal?".
"Tahu, tapi ada apa Tu?". Aan masih bingung.
Restu/ Shahilla dan Reynan sekarang di sekap di gudang kopi Haikal. Kalian benar bahwa yang menculik Shahilla adalah orang yang sama".
Aan/ "Apa?, kenapa mereka bisa di sekap di gudang nya Haikal?, apa jangan - jangan Haikal yang menculik mereka?".
Restu/ "Aku enggak tahu soal itu, yang pasti kita harus secepat nya ke sana. Tolong kamu hubungi Aina dan Joe, bilang ke mereka kalau Shahilla dan Reynan sudah di temu kan keberadaan nya dan juga segera hubungi polisi dan aku juga minta tolong sama Karimah untuk menjaga Zahira".
Aan mengangguk kan kepala.
"Baik".
.
.
"Shahilla . . . Shahilla sayang, bangun sayang. . ., kamu jangan ninggalin aku". Haikal berusaha membangun kan Shahilla yang masih tergeletak di lantai.
Sedang kan Reynan hanya menangis.
"Ini semua gara - gara kamu, kamu sama ibu mu sama saja, sama - sama membuat aku kesal". Haikal meneriakin Reynan.
"Om . . . Tolong jangan sakiti Onty om, tolong om". Reynan memohon pada nya.
__ADS_1
"Diam kamu!".
"Shahilla, bangun sayang . . .". Haikal tidak menyerah membangun kan Shahilla.
.
.
Kini Restu, Joe, Aan dan Aina sudah tiba di gudang kopi milik Haikal. Dengan hati - hati mereka memasuki area tersebut, sebab mereka tidak tahu ranjau apa yang akan mereka dapati.
"Kamu yakin Tu, kalau mereka ada di sini?". Joe bertanya kembali karena ia tidak begitu yakin.
"Aku yakin banget, karena aku dengar dengan jelas kalau Reynan berteriak menyebut gudang ini". Restu melirik ke seluruh area yang tak terlihat sedikit pun tanda - tanda mencuriga kan.
Aina/ "Kenapa Haikal tega melakukan ini semua?, apa salah kita pada nya?". Lirih nya.
Joe/ "Sudah beb, kita jangan pikir kan itu dulu, sekarang kita pikir kan bagaimana cara nya kita bisa menyelamat kan mereka berdua".
Aina mengangguk pelan. Dengan begitu hati - hati mereka membuka pintu gudang itu. Terlihat ruangan yang remang - remang, hanya ada sedikit cahaya dari sudut paling belakang area gudang itu. Mereka mendekati area tersebut dan berharap mereka menemu kan yang mereka cari. Sepasang mata mereka terbelalak melihat Haikal berlutut di samping Shahilla yang terbaring tak sadar kan diri dan melihat Reynan menangis ketakutan di kursi.
Emosi Restu meluap melihat Haikal menyentuh istri nya. Restu berlari menghampiri Haikal. "Kurang ajaaaaaar". Restu meneriakin nya lalu menghajar nya habis - habisan.
"Berani nya loe nyentuh istri gue".
*Gedebuk . . . Gedebuk . . Gedebuk . . .
Tinju demi tinjuan melayang ke tubuh dan wajah Haikal. Namun tak sedikit pun perlawanan dari Haikal mengingat ia sudah kehabisan tenaga.
"Mamaaa . . . .". Reynan berteriak ketika ia melihat Aina berlari mengejar nya.
"Reynan . . .". Aina melepas kan ikatan tali - tali yang mengikat kaki dan tangan Reynan.
Sedang kan Aan dengan sigap menutupi wajah Shahilla dengan cadar nya. Joe menyuruh Aina dan Aan keluar membawa Shahilla dan Reynan.
"Kalian cepat keluar, biar aku dan Restu yang menangani Haikal. Oh ya jangan lupa segera suruh polisi masuk ke dalam". Joe berlari menyergap kedua preman yang sudah mengkroyoki Restu. Ia menghajar kedua preman itu.
Beberapa menit kemudian beberapa polisi masuk ke dalam gudang dan mengepung kedua preman itu yang ingin kabur. Sedang kan Haikal masih terbaring tak berdaya lalu di geret oleh polisi untuk di bawa ke kantor polisi.
Nafas Restu dan Joe tersengal - sengal melihat mereka di bawa oleh polisi.
Restu masih belum bisa bernafas lega, ia berlari menemui Shahilla yang sudah berada di dalam mobil.
"Kita segera bawa mereka ke rumah sakit, mereka butuh perawatan".
Mereka pun secepat mungkin sampai ke rumah sakit lalu membawa Shahilla dan Reynan ke UGD. Mereka di letak kan pada ruangan yang berbeda.
Restu terus menggenggam tangan Shahilla.
"Maaf pak, kami harus memeriksa pasien, bapak silah kan keluar terlebih dahulu". Seorang perawat meminta Restu untuk keluar ruangan. Restu sangat gelisah menunggu dokter atau perawat tak kunjung keluar dari ruangan.
Setengah jam menunggu akhir nya dokter dan perawat keluar, mereka ingin menemui keluarga pasien.
Dokter/ "Siapa keluarga pasien?".
Restu menghampiri dokter itu.
"Saya dok, saya suami nya. Bagaimana keadaan istri saya dok?".
Dokter/ "Istri bapak tidak mengalami cedera parah pada tubuh bagian dalam. Hanya saja tulang kaki dan tulang tangan istri bapak ada sedikit pergeseran karena ada nya pukulan keras pada bagian tulang tersebut".
Restu/ "Tapi dok, istri saya enggak lumpuh kan?".
Dokter/ "He he he tidak pak, istri bapak tidak mengalami kelumpuhan, akan tetapi istri bapak belum bisa mengguna kan kaki dan tangan nya untuk sementara waktu, itu tidak akan lama kok, kalau istri bapak rajin - rajin untuk teraphi".
Restu/ "Alhamdulillah Ya ALLAH, jadi apa kah saya sudah boleh melihat istri saya ke dalam?".
Dokter/ "Boleh pak, silah kan. Tapi sebentar lagi istri bapak akan kami pindah kan ke ruangan rawat inap".
Restu/ "Terimakasi banyak dok".
Dokter/ "Iya sama - sama, saya permisi dulu ya pak".
Restu, Aina, Joe, Reynan yang sudah mengenakan kursi roda, Aan beserta istri dan tak lupa juga Zahira. Mereka menunggu Shahilla sadar dari pingsan nya yang cukup panjang.
"Tu, sebaik nya luka kamu juga di obatin". Aan memperhati kan luka lebam di wajah nya serta ada sedikit luka di bibir nya.
Restu/ "Enggak apa - apa An, lagian enggak terasa sakit kok he he he".
"Aaauuuuu". Tiba - tiba sebuah tangan kiri menepuk pada wajah Restu yang lebam, sentak Restu kaget dan merintih.
"Enggak sakit, enggak sakit, di sentuh saja sudah teriak". Ternyata Shahilla yang menepuk wajah nya, ia telah sadar dan mengomeli Restu.
"Sayang . . .".
"Shahilla . . .".
"Mbak . . .".
"Onty Cinderella Ninja".
Seru mereka secara serentak melihat Shahilla sudah sadar.
"Alhamdulillah sayang, akhir nya kamu sadar juga". Restu menyambar tubuh Shahilla namun Shahilla mendorong tubuh nya.
Shahilla/ "Adek enggak mau di peluk mas dengan keadaan mas kayak zombie gitu, sini Zahira nya, mungkin Zahira takut ngeliatin Abi nya kayak zombie gitu". Telunjuk kiri nya menunjuk wajah Restu lalu memangku Zahira.
"Yaaaaah Sayang, kok gitu sih?". Rengek nya.
"Ha ha ha, kasihan Om Restu". Reynan menertawai nya. Yang lain pun ikut tertawa.
Shahilla melihat ke arah Reynan.
"Reynan . . . Kamu enggak apa - apa kan nak?, setelah Onty pingsan, om Haikal tidak melakukan yang buruk pada kamu kan?".
Reynan mendorong kursi roda nya untuk mendekati tempat tidur Shahilla.
"Enggak kok Onty, setelah Onty pingsan, Om Haikal malah menangis merasa bersalah karena kursi yang om Haikal lempar mengenai onty, terus om Haikal berusaha membangun kan Onty, om Haikal enggak ngapa - ngapa'in Reynan kok, dia cuma ngebentak Reynan dan bilang kenapa Onty Cinderella Ninja yang kena kursi itu".
Restu/ "Maksud nya gimana?, mas kurang faham".
Shahilla dan Reynan pun mencerita kan semua yang terjadi.
Wajah mereka begitu seriuas mendengar kan Shahilla dan Reynan dengan seksama.
Restu/ "Astaghfirullah . . . Mas enggak nyangka kalau Haikal seperti itu. Padahal mas kenal dia dengan baik. Sejak pertemuan pertama kalian di acara Zahira, mas juga sudah curiga bahwa Haikal menginginkan kamu, tapi mas enggak pernah menyangka kalau Haikal bisa bertindak sejauh ini".
Aina/ "Iya, di saat pertama kali aku ketemu Haikal di caffe dan bercerita banyak, dia mengakui kalau dia masih memiliki perasaan itu ke kamu La, tapi dia juga bilang ke aku kalau dia akan melupakan kamu dan merelakan kamu, enggak di sangka dia sudah tenggelam pada cinta nya yang buta. Aku minta maaf dan menyesal gara - gara aku tidak mengatakan yang sebenar nya soal surat itu ke kamu, mungkin ini enggak akan terjadi pada kita semua".
Shahilla/ "Sudah lah Na, yang penting kita semua sudah melewati nya. Dan yang penting itu sebagai palajaran buat kita semua, agar kita lebih berhati - hati mengendalikan hati kita dan mencintai seseorang karena ALLAH. Kita doa kan agar Haikal segera di buka kan pintu taubat nya dan di ampuni segala dosa - dosa nya".
"Aamiin Ya Robbal' alamiin".
Seru mereka secara serentak.
"Ya sudah sekarang An, tolong kamu bawa kan si artis beranak satu ini ke IGD biar di obatin, kalau bisa sekalian saja di impus". Shahilla menyindir Restu.
"Ha ha ha ha, siap beresz ayoook". Aan menarik tangan Restu.
"Sayang . . . Mas enggak mau". Restu menahan kaki nya seperti anak kecil yang takut di suntik. Shahilla memplototi Restu.
"Ayok Tu, masa kamu enggak malu di liatin Reynan sama Zahira, kayak anak kecil kamu aah". Aan menarik nya sekuat tenaga.
"Sayaaaaaaang". Mereka berdua pun sudah keluar dari kamar rawat inap Shahilla.
Mereka tertawa melihat tingkah Restu.
"Ha ha ha ha".
#Ketika kita mendapat ujian, banyak yang menyaran kan agar kita berserah kepada ALLAH, pasrah dan mendekatkan diri pada Nya.
Apa hasil nya?
Ujian yang menimpa pun serasa rungan dan hilang.
Namun tak semua seperti itu, justru ujian semakin menjadi.
Hari demi hari semakin sulit. Jangan kan hilang, ujian seakan tak bergeser sedikit pun.
Apa iya ALLAH tidak mau membantu hamba yang sedang membutuh kan Nya?.
Apa iya ALLAH tidak menghiraukan hamba- Nya yang berserah?.
Atau apa iya ALLAH sudah enggan nendengar rintihan hamba - Nya lagi?
Dan pertanyaan - pertanyaan negative lain nya yang terus membuat takut dan cemas.
Hmm . . . Sungguh ALLAH itu Maha Mendengar, ALLAH itu Maha Menolong. Tapi ALLAH juga punya cara untuk melakukan sesuatu dengan apa yang DIA kehendak.
Bahkan yang tak pernah kita pikirkan.
ALLAH memberi kan ujian dan cobaan pada kita bukan berarti ALLAH tak sayang pada kita. Tapi ALLAH hanya ingin mengetahui kesungguhan kita mendekat kan diri pada - Nya.
Serius berserah atau hanya karena ada maunya?.
Serius mendekat atau hanya karena ada ujian?, lalu pergi lagi.
__ADS_1
ALLAH hanya tidak ingin kita berserah hanya sesaat, DIA ingin kita benar - benar mendekat oleh karena itu DIA menguji lebuh lama agar kita lebih dekat dengan - Nya.
Kita saja enggak mau di PHP' In, Apa lagi ALLAH hi hi hi.